
Setibanya di dalam kamar, Wanapati langsung merebahkan tubuhnya seakan melepas semua lelah. Satu kamar untuk bertiga, dan satu kamar lagi untuk Ni Luh.
“Tuan, makan malam sudah siap,” seru pria penjaga penginapan dari luar pintu kamar mereka.
“Ohh, baiklah paman, kami segera ke meja makan, terima kasih,” sahut Wanapati dari dalam kamar.
Malam menjelang, setelah membersihkan seluruh badannya, mereka menikmati hidangan penginapan sembari saling bertukar cerita. Lembah Manah menceritakan tentang semua ilmu yang dia dapat, kecuali saat bertemu dengan Naga Maruta dan Ki Gendon.
“Bagaimana kau bisa tahu ilmu pengobatan dan racun?” tanya Wanapati penasaran.
“Emm, aku membaca buku pengobatan dan racun saat membersihkan perpustakaan, mungkin itu yang membuatku tahu tentang ilmu tersebut,” jawab Lembah Manah sembari menyantap tumis kangkung kesukaannya.
“Tapi, bukannya buku itu kan sangat tebal. Bagaimana kau bisa hafal dengan sekali membaca?” Kembali Wanapati bertanya penuh penasaran.
“Emm, aku juga tidak tahu Wanapati, hehehe. Tiba-tiba hanya sekali membaca, aku bisa mengingat semua isi buku itu,” sahut Lembah Manah menghentikan makannya, lalu meminum teh hangat dari bumbung bambu.
“Lalu, bagaimana saat kau jatuh ke jurang, bukankah jurang itu sangat dalam?” Kini berganti Jayadipa yang bertanya kepada Lembah Manah.
“Emm, anu Jayadipa, aku sedikit meringankan tubuhku, jadi aku masih bisa selamat,” jawab Lembah Manah sekenanya.
“Bagaimana kamu keluar dari jurang itu?” Kini Ni Luh ganti bertanya.
“Begini Ni Luh, aku melihat lubang angin pada dinding dasar jurang. Dan seperti ada portal, aku memasuki lubang itu, saat aku keluar, emm, aku sudah berada di gapura batas desa!” sahut Lembah Manah asal menjawab.
“Ohh, jadi begitu ceritanya,” ucap Wanapati.
“Kau sangat beruntung ya Lembah,” sahut Jayadipa.
“Hmm, kamu memang istimewa,” imbuh Ni Luh.
“Ohh iya, bagaimana kabar guru dan murid yang lainnya?” Berganti Lembah Manah yang bertanya pada tiga temannya.
__ADS_1
“Semua baik-baik saja Lembah,” jawab Ni Luh.
“Ohh, begitu,” sahut Lembah Manah menyantap makanannya.
Lembah Manah tak ingin semua orang mengetahui keberadaan sang naga. Pemuda itu telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan bekerja sama dengan Naga Maruta hanya saat terdesak atau melindungi orang yang penting baginya.
Wanapati yang mendengar cerita Lembah Manah sedikit menyesal, kenapa dia tak mempelajari ilmu pengobatan sedari dulu. Namun, Lembah Manah menjelaskan, jika ilmu pengobatan itu sangat sulit dipelajari, dan membutuhkan ilmu kanuragan khusus.
Karena Lembah Manah memiliki titik pusat tulang belakang yang langka, itulah sebabnya dia mahir dalam pengobatan dan racun. Di tambah lagi Lembah Manah seorang yang mudah menghafal dengan sekali membaca ataupun melihat, jadi dia dapat dengan mudah untuk mengingatnya.
Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh masih bingung bagaimana caranya Lembah Manah bisa keluar dari Jurang Pengarip-Arip, yang jika di lihat dari atas, jurang itu tak kelihatan dasarnya. Dan juga jurang itu terkenal karena sangat mistis.
Lembah Manah menceritakan pada tiga temannya bahwa, dia bisa keluar dari jurang karena tanpa sengaja memasuki lubang angin pada dinding tebing dan harus melewati Lorong Lima Alam yang dihuni makhluk-makhluk aneh berilmu tinggi.
Lembah Manah juga tak menceritakan pertemuannya dengan Ki Gendon, itu adalah perintah Ki Gendon karena sang guru takut jika nantinya akan timbul sifat iri dari semua murid perguruan. Lagi pula hanya Lembah Manah yang dipilih oleh Ki Gendon sendiri dan bisa melihat gurunya tersebut.
Karena saking asyiknya mengobrol melepas rindu, tanpa terasa malam pun semakin larut. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, padahal mereka masih ingin berbincang-bincang untuk lebih lama lagi.
Jendela itu berada pada lorong menuju kamar mereka. Tanpa memberitahu tiga temannya, Lembah Manah berniat memeriksanya karena dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Emm, teman-teman aku permisi sebentar. Anu, aku mau mencari angin, hehehe,” ucap Lembah Manah memohon izin pada tiga temannya.
“Kamu mau kemana Lembah?” Wanapati berbalik bertanya.
“Awas jangan menghilang lagi,” seru Jayadipa.
“Emm, jalan-jalan sebentar, hehehe,” sahut Lembah Manah sembari berjalan keluar meninggalkan tiga temannya.
“Hati-hati Lembah,” seru Ni Luh menundukkan kepalanya. “Aku tak ingin kehilanganmu lagi!”
“Ehem, ehem!” seru Wanapati dan Jayadipa masuk kamarnya.
__ADS_1
Ni Luh mukanya sedikit memerah karena malu atas gurauan Wanapati dan Jayadipa, lalu menutup pintu kamarnya.
Lembah Manah keluar dari penginapan, pemuda itu menoleh ke arah sosok hitam yang dilihatnya dari jendela penginapan. Lembah Manah menurunkan aktivasi ilmu kanuragannya dan menekan tenaga dalamnya pada titik nol agar tidak terdeteksi oleh sosok hitam itu.
Pemuda itu mengendap-endap dari pojok satu rumah ke pojok rumah yang lain, mengikuti sosok hitam itu yang melompat bergerak cepat dari satu atap rumah ke atap rumah yang lainnya.
Hingga sampai pada sebuah rumah kecil, yang dikelilingi pepohonan rimbun di tepi luar area kerajaan, Lembah Manah menghentikan langkahnya dan mengintip dari semak-semak.
Sepertinya sosok hitam itu adalah seorang perempuan, karena sosok hitam itu membuka penutup kepalanya yang juga memakai pakaian serba hitam.
Terlihat perempuan itu mengetok pintu, Lembah Manah melihat jelas wajah perempuan itu karena terkena sorot lentera dari dalam rumah. Dan dari dalam rumah itu keluar seorang pria tua dengan rambut dan berewok yang sudah memutih.
Pria tua itu memberikan bungkusan kepada perempuan itu, lalu si perempuan memasukkan bungkusan kecil itu pada saku bajunya bagian dalam.
“Aku ingin yang lebih manjur,” ucap perempuan itu.
“Ini sangat manjur tuan putri. Bahkan bisa melumpuhkan seekor gajah,” sahut pria tua itu.
“Jadi, berapa harganya?” tanya perempuan itu lagi.
“Untuk tuan putri seperti Anda, tidak usah terlalu mahal. Beri aku dua puluh keping koin emas saja,” jawab pria tua itu lagi.
“Apa! Ini terlalu mahal Ki,” protes si perempuan, tetapi dengan memberi beberapa keping pada pria tua itu.
“Aku beri lima belas, sisanya nanti kalau aku sudah jadi juara,” lanjut perempuan itu sembari pergi meninggalkan rumah kecil milik sang pria tua.
Lembah Manah dapat mendengar pembicaraan itu dengan jelas, pemuda itu masih membungkukkan badannya agar tidak ketahuan oleh kedua orang itu. Lalu berjalan mengendap-endap membuntuti perempuan itu yang meninggalkan rumah pria tua dengan cara melompat dari satu atap ke atap rumah yang lain.
Namun, Lembah Manah kehilangan jejak perempuan itu setelah sampai pada sebuah rumah mewah dekat kediaman Raja Brahma. Pemuda itu pun kembali ke penginapan untuk beristirahat dan meminum ramuan pemulihan tubuh, agar esok siap untuk mengikuti putaran kedua pertandingan.
***
__ADS_1
“Selamat datang kembali para hadirin dan selamat pagi. Terima kasih atas antusias Anda menyaksikan pertandingan antar pendekar muda yang memasuki putaran kedua,” seru Patih Ragas dengan penuh semangat.