KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perguruan Anggrek Hitam (3)


__ADS_3

Dua orang pria melompat dari atap rumah penduduk berpindah ke atap yang lain, lalu mendarat di sebuah rumah mewah tepat di tengah desa. Satu orang di depan mengibaskan tangannya, lalu terbukalah pintu depan rumah mewah itu.


Pria yang berdiri di belakang segera memasuki rumah yang tak lain adalah rumah salah satu petinggi desa. Seorang gadis yang tengah tidur dengan ibunya, digendong dan dibawa kabur dari rumah petinggi desa itu. Salah satu penculik melemparkan kertas pada tempat tidur gadis itu yang bertuliskan peringatan kepada warga desa.


“Gadis yang cantik!” lirih penculik yang berdiri di depan pintu.


Dalam sekejap saja, dua penculik itu telah keluar dari desa dengan membawa seorang gadis, yang merupakan anak dari petinggi desa.


***


“Sial! Dimana aku sekarang. Kenapa tempat ini sangat bersih!” seru Wanapati sesaat setelah terbangun dari tidurnya.


Wanapati beranjak dari tempatnya dan mendapati Lembah Manah dan Nata masih terlelap di sampingnya. Pemuda itu menduga, warga yang tengah berpatroli menemukan mereka di atas bukit kecil dan membawanya ke tempat bersih ini.


Tiba-tiba Bergas Lukito memasuki ruangan itu membawa banyak makanan dengan senyum di wajahnya. Segera Wanapati membangunkan dua temannya yang masih terlelap, dengan menggoyangkan bahu mereka.


“Ini adalah perguruan kami!” ucap Bergas Lukito sembari meletakkan makanan di meja kamar khusus tamu itu.


“Lalu! Apa yang terjadi?” seru Wanapati masih kebingungan.


“Mereka menggunakan Ajian Panyirepan!” sahut Nata sesaat setelah bangun dari tidurnya. “Aku yakin, penculik itu membuat semua warga tertidur dengan ajian itu!”


Lembah Manah bangun dari tidurnya dan berkata, “Bergas, ayo kita segera menuju tempat korban!”


PLAK!


Wanapati menampar kepala Lembah Manah dan berkata, “hoi makan dulu, Lembah! Baru kita mengunjungi rumah korban! Biasanya soal makan kau nomor satu?”


“Aduh! Baiklah!” protes Lembah Manah sembari memegangi kepalanya.


Mereka berempat segera menuju rumah korban penculikan, setelah membereskan makanannya. Rupanya di sana sudah ada Ki Rogojambang, Ki Prono dan para petinggi desa, lalu ada juga beberapa murid perguruan.


“Bergas menghadap!” seru Bergas Lukito membungkukkan badannya diikuti tiga pemuda di belakangnya. “Mereka bertiga adalah utusan dari Perguruan Jiwa Suci. Wanapati, Lembah Manah dan Nata!” ucap Bergas Lukito menunjuk satu per satu tiga pemuda di belakangnya itu.


“Ohh, terima kasih telah datang dari timur jauh!” sahut Ki Rogojambang. “Kami berharap, saudara-saudara ini bisa memecahkan masalah yang terjadi di desa kami!”

__ADS_1


Nata menjelaskan secara garis besarnya kepada semua yang hadir di kediaman korban. Pelaku menggunakan Ajian Panyirepan, yang membuat seluruh penduduk desa terlelap. Pemuda itu bisa melihat jelas dengan mata Byakta miliknya.


“Ajian Dipa adalah penangkal Ajian Sirep itu!” lirih Ki Rogojambang mengelus jenggotnya. “Tapi di Negeri Yava ini, sudah tidak ada pengguna Ajian Dipa ini!”


“Lalu apa hubungannya dengan Kitab Bunga?” sahut kepala desa—Ki Prono.


“Mengenai itu—!”


Wanapati berspekulasi, jika penculik itu ada hubungannya dengan Ki Badra. Ya, sang penculik berniat merampas Kitab Bunga lalu memberikannya kepada Ki Badra dan tidak akan membuat teror lagi di desa itu.


“Kurang ajar si Badra itu!” geram Ki Rogojambang mengepalkan tangan kanannya. “Lalu, apa rencana saudara Wanapati selanjutnya?”


“Begini Ki—!”


Wanapati meminta Ki Rogojambang memilih beberapa muridnya untuk bersiap menghadapi penculik itu. Namun, sebelum bersiaga malam hari, para murid yang terpilih itu diminta untuk meminum ramuan buatan Lembah Manah yang mungkin sebagai penangkal Ajian Sirep itu.


“Jadi begitu. Baiklah, aku akan segera meminta beberapa murid untuk bersiaga malam ini!” sahut Ki Rogojambang.


***


Mereka berempat kembali memantau situasi dari atas bukit di perbatasan desa. Sedangkan Ki Rogojambang membagi beberapa murid menjadi kelompok kecil untuk berjaga-jaga di atap rumah penduduk, semak-semak, ataupun kandang ternak.


Malam berganti dini hari, terlihat para warga yang bersiaga mulai mengantuk dan terlelap pada pos penjagaan yang mereka buat.


“Byakta!” seru Nata menggunakan mata istimewanya. “Sepetinya mereka mulai bergerak!”


“Apa kau melihatnya, Nata?” selidik Wanapati penasaran.


Nata melihat dua orang berdiri di atap rumah kepala desa. Satu orang mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengeluarkan Ajian Panyirepan.


Mereka berempat masih tetap pada tempatnya di bukit batas desa. Wanapati meminta jangan terburu-buru untuk menyergap pelaku, karena jarak mereka terlalu jauh, takutnya jika pelaku mengetahui kehadirannya, rencana mereka akan gagal.


“Kita tunggu sebentar!” ucap Wanapati.


Kedua pelaku mendarat di depan rumah, dan salah satu dari mereka membuka pintu hanya dengan mengibaskan tangan kanannya. Lalu pria yang satunya memasuki rumah dan menggendong seorang gadis yang tengah tertidur bersama ibunya.

__ADS_1


“Semoga saja dengan menghilangnya anak kepala desa, mereka mau memberikan Kitab Bunga!” seru salah satu pelaku itu.


Namun, kedua pelaku tiba-tiba terkejut melihat seorang pemuda membawa kapak berdiri di depan pintu kamar. Diikuti Lembah Manah duduk di jendela, lalu Nata berada di pintu ruang tengah dan Bergas Lukito berdiri di pintu depan.


“Jadi kalian pelakunya!” seru Wanapati.


“Ba-bagaimana mungkin kalian tidak tertidur!” ucap salah satu pelaku yang hendak meninggalkan pesan pada tempat tidur gadis itu.


“Itu mudah saja!” sahut Lembah Manah tersenyum. “Aku membuat penangkal Ajian Panyirepan buatanmu!”


Kedua orang itu panik dan mundur beberapa langkah. Lembah Manah bersiul di depan jendela tempatnya duduk untuk memanggil Ki Rogojambang dan para muridnya agar mendekat. Dan semua sesuai rencana, jika Lembah Manah bersiul berarti mereka harus segera berkumpul.


Dalam waktu sekejap, rumah kepala desa telah dikepung oleh mereka, sedangkan Ki Prono sedikit khawatir akan keselamatan putrinya.


“Serahkan Kitab Bunga! Atau gadis ini aku bunuh!” ancam salah satu pria yang menggendong korbannya.


Perkataan itu tak dipedulikan oleh mereka semua, Wanapati langsung menyerang pria yang menggendong putri kepala desa, sedangkan Lembah Manah berhadapan dengan pria yang hendak meninggalkan pesan.


“Siapa kalian ini? Berani-beraninya berbuat onar di desa ini!” seru Wanapati sesaat setelah keluar dari kediaman kepala desa.


“Jadi, kalian ingin tahu siapa kami?” sahut pria yang menggendong putri kepala desa.


“Bukankah kalian—!” Perkataan Ki Rogojambang terhenti karena terkejut setelah melihat kedua pelaku. “Bocah pembawa sial, Hadyan! Dan kau anak kepala desa terdahulu, Kagendra!”


“Ohh! Rupanya aku terkenal di desa ini!” kilah Hadyan—pria yang menggendong putri kepala desa. “Kagendra! Bantu aku menghentikan mereka!”


Namun, tidak ada jawaban dari Kagendra yang terdiam pada tempatnya dan membuat Hadyan kembali berteriak dengan nada lebih keras, “hoi, Kagendra!”


Berbeda dengan Hadyan yang banyak bicara, Kagendra lebih sering berdiam diri mengamati sekelilingnya. Hadyan memiliki rambut yang putih, dan memakai kalung dengan liontin berwarna merah, usianya sekitar dua puluh lima tahunan.


Sedangkan Kagendra, memakai kerudung kepala dan terkesan pendiam, usianya kurang lebih sama dengan Hadyan.


“Tidak! Kau selesaikan urusanmu sendiri!” sahut Kagendra.


“Hoi! Bedebah kau Kagendra!” umpat Hadyan memaki rekannya. “Baiklah! Jika ini mau kalian!”

__ADS_1


__ADS_2