KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Ahli Racun (1)


__ADS_3

Raja mempersilakan tamu istimewanya dan menunjukkan dimana kamar istrinya. Raja, Wulan dan Lembah Manah memasuki kamar ratu, lalu dipersilakan duduk di kursi dan sedikit berbasa-basi memberi salam.


“Emm, maaf Yang Mulia, bolehkah hamba memeriksa pergelangan tangan kiri Yang Mulia!” ucap Lembah Manah yang diikuti anggukan ratu pertanda setuju. “Hmm, bolehkah hamba melihat leher ratu!”


Lembah Manah mengerutkan keningnya dan berkata lirih, “tidak salah lagi, emm, ini racun belenggu hitam!”


Raja tampak terkejut mendengar penyakit yang di derita istrinya, tabib mana pun tidak ada yang tahu tentang penyakit istrinya. Namun, dengan sekali periksa Lembah Manah dapat mendeteksi dengan baik.


Lembah Manah meminta beberapa peralatan yang sama saat dia menyembuhkan Wulan sewaktu babak empat besar pertandingan antar pendekar muda.


“Maaf Yang Mulia, bisakah Yang Mulia duduk membelakangi saya, emm sebentar saja!” pinta Lembah Manah kepada ratu.


Ratu duduk bersila membelakangi Lembah Manah, dengan tempayan berisi air di depannya. Mulailah pemuda itu mengobati ratu, jari telunjuk dan jari tengahnya dialiri sedikit tenaga dalam, lalu menekan bagian punggung ratu.


Dan ketika sampai di tengkuk leher belakang, Lembah Manah sedikit menghentakkan kedua jarinya, diikuti ratu memuntahkan darah yang berwarna merah kehitaman.


“Emm, Yang Mulia mohon diminum. Ini adalah ramuan pemulihan tubuh, sebentar lagi Yang Mulia akan sembuh,” ucap Lembah Manah sembari menyerahkan potongan ruas bambu yang diambil dari saku bajunya bagian dalam.


“Terima kasih anak muda,” lirih ratu.


“Maafkan hamba Yang Mulia. Bagaimana Yang Mulia Ratu bisa terkena racun belenggu hitam?” Lembah Manah memberanikan diri bertanya kepada Raja.


Saat Raja Brahma hendak menjawab pertanyaan Lembah Manah, tiba-tiba Wulan memotong pembicaraan ayahnya dan bercerita tentang bagaimana ibunya sampai terkena racun belenggu hitam.


Ratu terkena racun saat menikmati makan malam bersama keluarga kerajaan. Tanpa disadari oleh juru masak istana, seorang pria memasuki dapur dan memberi racun pada minuman ratu.


Saat itu, Wulan melihat pria itu mempunyai gelagat yang aneh, tetapi Wulan menganggap itu hanya juru masak istana yang baru.


Pada saat makan malam selesai, keadaan ratu semakin memburuk dan hanya terbaring di ranjangnya. Wulan yang penasaran dengan pria aneh sewaktu di dapur, mencoba mencari informasi pria itu.


Wulan bertanya kepada juru masak yang lain, ada salah satu yang melihatnya keluar istana beberapa saat setelah makan malam selesai. Wulan keluar istana dan mencarinya, rupanya keberuntungan masih berpihak kepada Wulan. Pria aneh itu berlari dari lorong diantara rumah para petinggi kerajaan.

__ADS_1


Wulan mengikutinya perlahan, hingga tiba di tepi luar kerajaan pria itu berhenti pada sebuah rumah yang dikelilingi pohon rimbun. Setelah beradu argumen, Wulan menyerah dan membayar penawar racun dengan harga yang tinggi.


Setiap seminggu sekali, Wulan menebus penawar racun pada pria aneh itu. Hingga dia justru malah membeli racun dari pria itu untuk senjatanya dalam pertandingan antar pendekar muda.


“Maafkan aku, ayah,” ucap Wulan lirih.


“Seharusnya kau memberitahukannya padaku Wulan,” sahut raja sedikit geram. “Tak akan aku biarkan pria itu bertindak seenaknya!”


Raja Brahma berencana menangkap pria pembuat racun untuk diadili, beliau mengutus Patih Ragas dan Wulan ditemani beberapa prajurit untuk melakukan penyergapan. Wulan yang merasa bersalah, menyarankan dirinya sendiri sebagai umpan supaya pria itu tak menaruh rasa curiga.


Namun, Lembah Manah beserta rombongan menawarkan diri untuk membantu penyergapan, takutnya terjadi hal yang tak diinginkan, mengingat pria itu sangat ahli dalam berbagai racun.


Hingga malam semakin larut, Lembah Manah memohon diri untuk kembali ke pondokannya. Penyergapan akan dilakukan esok pagi dengan berkumpul di halaman istana kerajaan.


***


Pagi menjelang, suasana kerajaan ramai dengan lalu-lalang prajurit yang tengah menjalankan tugasnya. Lembah Manah beserta ketiga temannya berkumpul di halaman kerajaan seperti yang dijanjikan sebelumnya.


“Selamat pagi Yang Mulia!” seru Lembah Manah menyapa sembari membungkukkan badannya diikuti Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh di sampingnya.


“Apakah kau sudah siap melakukan penyergapan?” jawab Raja Brahma.


“Hamba selalu siap Yang Mulia!” sahut Lembah Manah.


“Biarkan Patih Ragas dan putriku Wulan, mendampingi kalian!” ucap raja yang dibarengi dengan senyuman Wulan menatap wajah Lembah Manah.


“Yang Mulia, emm jika tugas ini selesai, hamba beserta teman-teman mohon pamit undur diri!” lirih Lembah Manah.


“Baiklah, berhati-hatilah kalian!” tutup raja mengakhiri pembicaraan.


Wulan sengaja bergerak paling depan, diikuti Patih Ragas dan rombongan Lembah Manah dengan jarak seratus langkah di belakangnya, agar target mereka tak merasa curiga akan kedatangan rombongan.

__ADS_1


Tak lama berselang, mereka tiba di pintu gerbang kerajaan yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit. Prajurit itu pun memberi hormat saat Wulan membuka cadarnya hendak melintas.


Kembali Wulan bergerak paling depan. Kali ini dia meringankan tubuhnya dan melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya. Begitu juga rombongan di belakangnya yang berjarak seratus langkah.


Tak ada pembicaraan dari rombongan, hingga Wulan sampai pada rumah pria ahli racun itu dan langsung mengetok pintu. Tak lupa dia berpakaian serba hitam dengan membenarkan posisi penutup wajahnya.


Rombongan Patih Ragas bersembunyi di balik semak-semak, sementara Lembah Manah memilih untuk tetap di dahan pohon agar lebih jelas mengamati pergerakan musuh.


“Ini, aku beri lima keping lagi. Jadi hutangku lunas!” ucap Wulan kepada pria itu.


“Ohh, Tuan Putri. Ternyata kau menepati janjimu,” jawab pria itu.


“Meskipun aku tak menjuarai pertandingan, tapi aku harus menebus penawar untuk ibuku!” Wulan berpura-pura seolah dia membeli obat penawar untuk ibunya, dan itu adalah bagian dari strateginya.


“Baiklah Tuan Putri, tapi kali ini kau harus membayar mahal. Karena salah satu bahan penawar ini sudah mulai langka,” ucap pria itu.


SRET


Tanpa berkata-kata lagi, Wulan menebaskan kipasnya tepat mengenai lengan kiri pria itu.


“Tamatlah riwayatmu Ki Jalmo. Kipas ini sudah aku lumuri racunmu, hahaha!” teriak Wulan sembari mundur beberapa langkah.


Pria ahli racun itu bernama Ki Jalmo, yang sengaja mengambil keuntungan dengan menjual berbagai macam racun. Dia juga memeras warga yang diracuninya untuk membeli penawar dengan harga yang tinggi.


Penawar itu juga bersifat sementara, bukan obat untuk menyembuhkan. Dengan begitu, Ki Jalmo bisa menguras harta korbannya selama masih bisa membeli penawar dengan harga tinggi.


Lengan kiri Ki Jalmo berdarah, tetapi tak ada efek racun dari kipas pisau milik Wulan. Pria tua itu melangkah mendekati Wulan, tuan putri semakin menjauh dari Ki Jalmo.


“Racun apa pun tak akan mempan padaku Tuan Putri!” seru Ki Jalmo dengan senyum sinisnya.


“Karena akulah sang ahli racun, hahaha!” lanjut Ki Jalmo sembari mendongakkan kepalanya ke atas. “Sekarang terimalah akibatnya jika berani melawanku!”

__ADS_1


Ki Jalmo mencabut pisau yang diselipkan pada pinggang kirinya, lalu melemparkan pada Wulan. Namun, sebelum  pisau itu mengenai tubuh Wulan, sebuah kapak melayang menangkis pisau milik Ki Jalmo.


__ADS_2