
Jadi, jika Lembah Manah ingin mengantar kedua temannya pulang, dia harus pergi ke barat untuk menuju Desa Lapan Aji. Dan setelah sampai di Desa Lapan Aji, pemuda itu harus pergi ke utara untuk menuju Desa Kedhung Kayang.
“Emm, sebaiknya kita berpisah di sini. Aku sudah rindu ibu!” seru Lembah Manah hendak berlalu begitu saja.
“Ehem, ehem, apakah ada seorang pemuda yang tega membiarkan seorang perempuan dan anak kecil berjalan di sore hari, sedangkan mereka baru saja lepas dari dua makhluk aneh!” sahut Nawang melirik ke arah Lembah Manah.
Dasar Lembah Manah memang kurang peka pada perempuan, pemuda itu hanya menganggap sebagai gurauan yang dibuat-buat oleh Nawang.
“Hehehe, anu, baiklah kalian aku antar pulang!” kilah Lembah Manah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nah, gitu dong kak Lembah,” protes Sati dengan sedikit tersenyum.
Mereka berjalan meninggalkan gapura desa untuk pergi ke arah barat menuju Desa Lapan Aji. Lembah Manah meminum sedikit ramuan pemulihan tenaga, karena staminanya yang terkuras melawan makhluk-makhluk aneh di dalam Lorong Alam Lelembut.
“Hoi! Bocah Gendeng!” seru Ki Gendon dari relung kepala Lembah Manah yang menghentikan langkah pemuda itu. “Aku akan kembali ke dalam kitab kuno untuk beberapa waktu. Panggil saja jika kau butuh bantuan!”
“Ada apa kak Lembah. Kok berhenti!” ucap Sati menyadari Lembah Manah menghentikan langkah kakinya.
“Emm, tidak apa-apa Sati. Ini reaksi ramuan kakak!” sahut Lembah Manah kembali melangkahkan kakinya.
Tampak hamparan sawah luas milik warga desa yang ditanami padi, diselingi dengan perkebunan palawija. Dan setelah berjalan beberapa saat menyusuri sawah, ada bantaran sungai yang tidak terlalu lebar yang menjadi pembatas desa, antara Desa Kedhung Wuni dan Desa Lapan Aji.
Sungai itu bernama Sungai Putih, karena mungkin bebatuannya yang berwarna putih hingga warga desa menyebutnya dengan nama demikian.
Air yang terlihat jernih membuat Lembah Manah ingin membasuh muka, sesekali bergurau melempari Nawang dan Sati dengan cipratan air. Sungai itu tidak terlalu dalam, hanya setinggi betis orang dewasa yang memudahkan mereka untuk menyeberanginya.
Memasuki desa Lapan Aji, mereka disambut dengan area perkebunan penduduk yang ditanami aneka tanaman sayur. Ada tanaman cabai dan tomat yang menjadi hasil utama Desa Lapan Aji.
Hamparan perkebunan berakhir pada sebuah gapura masuk desa yang menjadi pertanda memasuki wilayah desa. Dilanjutkan jalan berbatu dengan pepohonan besar di kanan dan kiri yang membuat hawa menjadi asri.
__ADS_1
“Lembah, Sati, nanti mampir ke rumahku ya. Sudah dekat kok,” ucap Nawang memecah keheningan.
Lembah Manah dan Sati hanya menganggukkan kepalanya pertanda mereka setuju apa yang Nawang inginkan. Tak lama berselang mereka telah sampai di rumah Nawang, rumah itu sederhana memiliki teras dan empat tiang soko guru di tengah ruang tamu.
Mereka bertiga berdiri di halaman depan rumah Nawang yang cukup luas dengan di pagari anyaman bambu. Terlihat nenek Nawang—Nyi Ampel tengah duduk di teras rumahnya sembari meneteskan air mata.
“Nenek!” Nawang berteriak, tetapi Nyai Ampel masih terpaku dalam lamunannya. “Nenek, ini Nawang Nek!”
Nawang berlari menghampiri Nyi Ampel meninggalkan Lembah Manah dan Sati yang masih di luar halaman.
“Nawang! Kamu Nawang cucu nenek!” seru Nyi Ampel menoleh ke arah Nawang.
“Iya nek ,ini Nawang. Maafkan Nawang nek, Nawang berjanji akan selalu menuruti perintah nenek!” sahut Nawang memeluk Nyi Ampel dengan mata berkaca-kaca.
“Nenek sudah memaafkan Nawang, ini juga untuk pelajaran bagimu Nawang. Beruntung kamu masih bisa pulang,” ucap Nyi Ampel masih dengan tangisnya.
“Sudah seminggu kamu diculik makhluk itu, apa kamu terluka atau diganggu makhluk itu? Bagaimana kamu bisa melarikan diri?”
“Nawang tidak di ganggu Gandarwa nek, di hari kelima di persembunyian Gandarwa, ada seorang pendekar yang mengalahkan Gandarwa dan membebaskan Nawang, hingga Nawang pulang!” cerita Nawang pada Nyi Ampel.
“Benarkah? Pasti pendekar itu sangat hebat Nawang. Sekarang dimana pendekar itu?” tanya Nyi Ampel penasaran dan menyapukan pandangannya ke halaman rumah.
“Itu nek, pendekar yang menyelamatkan Nawang,” seru Nawang seraya menunjuk Lembah Manah yang masih berdiri di halaman.
“Kemarilah pendekar, aku sangat berterima kasih padamu. Kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasib cucu kesayanganku ini,” ucap Nyi Ampel pada Lembah Manah.
“Iya nek, emm, sudah sewajarnya kita semua saling membantu,” jawab Lembah Manah mendekati Nyi Ampel dan menyambut punggung tangan kanan nenek tua itu.
Hari menjelang petang, Lembah Manah dan Sati menerima jamuan makan dari Nyi Ampel yang malam itu memasak istimewa untuk menyambut kepulangan cucu kesayangannya.
__ADS_1
“Nak Lembah, untuk malam ini sebaiknya nak Lembah dan Sati menginap dulu di tempat nenek. Lagi pula, nak Lembah masih kelelahan kan, menghadapi makhluk aneh itu!” ucap Nyi Ampel pada Lembah Manah yang mengetahui tenaganya memang telah banyak terkuras dengan kantung mata menghitam karena kurang tidur.
“I—iya nek, emm terima kasih!”
“Emm, nak Lembah, apa nak Lembah tidak tertarik dengan cucu nenek. Sepertinya kalian berdua cocok loh!” seru Nyi Ampel meledek Lembah Manah.
Lembah Manah hanya tersenyum sembari batuk karena mulutnya penuh dengan makanan, sedangkan Nawang mukanya memerah tersenyum tersipu karena malu atas gurauan neneknya.
Malam hari, Lembah Manah dipersilakan menempati bangunan samping rumah yang dikhususkan untuk tamu bersama Sati. Sementara Nyai Ampel dan Nawang, berada pada bangunan utama rumah sederhana itu.
Keesokan paginya Lembah Manah berencana untuk mengantar Sati pulang. Setelah selesai sarapan mereka berdua berpamitan pada Nyi Ampel dan tentu saja Nawang.
“Nek, Nawang, terima kasih. Emm, saya mau pamit mengantar Sati, setelah itu Lembah hendak pulang ke rumah untuk persiapan mengikuti pertandingan pendekar muda yang diadakan oleh pihak kerajaan, tiga bulan lagi!” seru Lembah Manah.
“Pertandingan pendekar muda!” sahut Nyi Ampel mengerutkan keningnya. “Bukankah pertandingan itu dimajukan menjadi satu bulan lagi. Aku mendengar dari pembicaraan beberapa warga yang lewat depan rumah!”
“Ohh, benarkah!” Lembah Manah terkejut membelalakkan matanya. “Emm, sebaiknya Lembah segera mengantar Sati!”
“Nenek, kak Nawang, Sati pamit, terima kasih kak!” Sati menyela pembicaraan.
“Iya Sati, kamu hati-hati, jangan lupa main ke tempat kakak,” ucap Nawang.
“Sekali lagi terima kasih Lembah. Kalau tidak ada kamu, entah jadi apa aku sekarang. Rumahku akan selalu terbuka untukmu. Aku pasti menyaksikan kamu bertanding!” lanjut Nawang sembari menggenggam tangan Lembah Manah.
Lembah Manah dan Sati beranjak dari rumah Nawang, meski Nawang berat melepaskan genggaman tangannya, tetapi Lembah Manah tetap saja melangkahkan kakinya menjauh dari Nawang.
Desa yang menjadi tujuan selanjutnya adalah Desa Kedhung Kayang—tempat tinggal Sati. Mereka berdua berjalan ke arah utara, melewati tepian desa sebelah timur. Jalan yang dilalui berupa tanah berbatu kecil dengan pepohonan besar di samping kanan dan kiri.
Hingga sampai gapura pintu keluar Desa Lapan Aji, mereka disambut dengan hutan rakyat yang ditanami satu jenis tanaman saja.
__ADS_1
Setelah memasuki Desa Kedhung Kayang, Lembah Manah memilih berbelok ke kiri melewati jalan tepian desa sisi selatan. Mungkin itu sedikit menyingkat waktu, karena jika mereka melewati pusat Desa Kedhung Kayang, itu akan memakan waktu yang lama.