
Di barisan belakang medan perang, semua terkejut ketika melihat Lembah Manah yang ternyata memiliki Pedang Naga Maruta. Selama ini, pemuda itu memang menyembunyikan pedang tersebut karena memiliki alasan tersendiri.
Dan kini, mungkin adalah saat yang tepat untuk menggunakan pedang tersebut. Karena mungkin Lembah Manah berniat untuk melindungi Negeri Yava dari serangan Eyang Angkoro Murko.
Jika dibiarkan, tentu saja pemimpin Lowo Abang tersebut akan sepenuhnya menguasai Negeri Yava. Dan ini sangat berbahaya, mengingat kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Ki Badra.
Terlebih lagi, Keris Memolo harus berada ditangan yang tepat. Jikalau mungkin bisa, alangkah baiknya Keris Memolo kembali dipecah menjadi Lima Kitab Pusaka Negeri Yava.
Eyang Angkoro Murko melesat ke arah Lembah Manah dan menghujani pemuda tersebut dengan tebasan pedangnya. Lembah Manah masih bisa menangkis, sembari bergerak ke belakang dan berusaha menjaga jarak dengan lawan.
Namun, Eyang Angkoro Murko terus menekan Lembah Manah tanpa memberi jeda. Dari kejauhan, yang terlihat dari dua pertarungan itu hanya sekelebatan cahaya hijau dan biru saja.
Eyang Angkoro Murko melakukan gerakan aneh, kedua tangannya menggenggam pedang yang berada di depan dadanya. Lalu cahaya hijau menyelimuti pedang itu yang semakin lama, semakin redup.
Eyang Angkoro Murko menebaskan pedangnya ke arah Lembah Manah dari jarak dua puluh langkah. Semula, Lembah Manah hendak menghindari serangan itu, tetapi pemuda itu masih mempertimbangkan rakyat Sokapura yang berada di belakangnya.
Mau tak mau, Lembah Manah mencoba menangkis serangan Eyang Angkoro Murko.
DYAR
Lembah Manah menghalau serangan Eyang Angkoro Murko dan terlempar beberapa depa jauhnya. Dari mulutnya mengeluarkan seteguk darah dan mencoba bangkit dengan menopang tubuhnya menggunakan Pedang Naga Maruta.
“Kau akan mati, bocah!”
Setelah berkata demikian, Eyang Angkoro Murko melesat cepat ke arah Lembah Manah. Tanpa disadari oleh pemuda itu, Eyang Angkoro Murko telah berdiri di belakang dan menebaskan pedangnya, hingga membuat punggung Lembah Manah terkena serangan.
Lembah Manah terhuyung ke depan, lagi-lagi darah keluar dari mulutnya. Ditambah luka robek yang menganga, stamina pemuda itu semakin terkuras.
Meski telah menggunakan seluruh kekuatannya, nyatanya Lembah Manah kesulitan untuk menghadapi Eyang Angkoro Murko.
__ADS_1
“Apalagi yang bisa kau lakukan, bocah!” ucap Eyang Angkoro Murko memandangi Lembah Manah yang mulai kepayahan.
Lembah Manah duduk bersila dan sejenak berpikir. Pemuda itu mencoba berinteraksi dengan Ki Gendon, tetapi percuma saja, Ki Gendon juga tidak memberi solusi.
Namun, tiba-tiba di dalam kepalanya ada bayangan Ni Luh yang tersenyum kepadanya. Lembah Manah mencoba untuk menghilangkan pikiran itu, tetapi tetap saja, bayangan Ni Luh tersenyum tak bisa hilang di dalam ingatannya.
“Ni Luh, melupakanmu adalah hal yang sulit. Dan semakin aku mengingatmu, membuat hatiku menjadi sakit!” lirih Lembah Manah yang perlahan meneteskan air matanya. “Jika kita bertemu di alam sana, aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Ni Luh!”
Setelah berkata demikian, seluruh tubuh Lembah Manah diselimuti oleh aura tenaga dalam berwarna hitam. Tunggu! Kedua mata pemuda itu juga sepenuhnya hitam, diikuti Pedang Naga Maruta yang menghitam.
Pedang yang biasanya bercahaya biru, kini diselimuti oleh cahaya berwarna hitam. Tidak salah lagi, Lembah Manah membuka Gerbang Ketiga, atau disebut Gerbang Kematian. Dirinya yakin, dengan cara inilah Eyang Angkoro Murko dapat dikalahkan. Namun, nyawanya bisa menjadi taruhan, efek penggunaan ajian tersebut.
“Kekuatan apa ini!” lirih Eyang Angkoro Murko mengerutkan keningnya.
Setelah menyadari ada yang berbeda dari lawannya, Eyang Angkoro Murko memasang kuda-kuda. Namun, tiba-tiba Lembah Manah telah berada di hadapannya dan mendaratkan satu tebasan pedang.
Satu tebasan pedang meraih punggung pemimpin Lowo Abang tersebut, yang membuat raungan kedua semakin keras. Kecepatan Lembah Manah tidak bisa dilihat oleh mata biasa, bahkan mata Byakta milik Nata tidak mampu mengikuti ke mana arah serangan Lembah Manah.
Eyang Angkoro Murko menebaskan pedangnya ke segala arah, diikuti kelebatan cahaya hijau melesat entah ke mana, berharap dapat memberikan luka pada lawannya. Namun, tetap saja, serangan itu hanya menambah kehancuran pada bukit kecil belakang istana.
Dari barisan belakang medan perang, Wanapati, Jayadipa dan Nata meneteskan air matanya. Mereka bertiga sepenuhnya tahu, jika Gerbang Kematian akan membahayakan nyawa Lembah Manah.
“Lembah Manah, kau memang bocah penuh kejutan!” ucap Jayadipa meneteskan air matanya.
“Jika kau selamat, aku akan selalu berada di sampingmu, Lembah!” lirih Nata yang juga tak kuasa menahan air matanya.
“Aku berharap, kau tidak menyusul Ni Luh!” sahut Wanapati merangkul dua temannya.
Di sisi lain, semua pendekar dari aliran putih tidak mengetahui apa yang dilakukan Lembah Manah. Yang mereka tahu hanya, Lembah Manah membawa pedang legendaris milik Resi Kamananta.
__ADS_1
Sayatan demi sayatan mendarat pada tubuh Eyang Angkoro Murko. Lembah Manah tidak membiarkan lawannya dapat bernapas lega, dan berusaha untuk membuat luka sebanyak mungkin.
Eyang Angkoro Murko hendak menjaga jarak, untuk memulihkan lukanya. Namun, setiap Eyang Angkoro Murko bergerak, satu tebasan pedang mendarat pada tubuhnya.
Hingga pada akhirnya serangan Lembah Manah semakin melambat, barulah Eyang Angkoro Murko berusaha memberikan luka pada lawannya. Lembah Manah memegangi dada kirinya, sembari badannya yang membungkuk.
Gerbang Kematian hanya berlangsung selama beberapa saat saja, dan setelah itu, tubuh pengguna akan merasakan sakit yang luar biasa, atau bahkan bisa menimbulkan kematian.
Dengan tubuh penuh luka sayatan pedang dan darah yang berwarna hijau, Eyang Angkoro Murko hendak melancarkan serangan terakhirnya. Tubuhnya berputar beberapa kali, lalu sedetik kemudian, Eyang Angkoro Murko menebaskan pedangnya, diikuti cahaya hijau melesat cepat ke arah Lembah Manah.
Lembah Manah yang belum juga menguasai tubuhnya, berusaha untuk menyambut serangan Eyang Angkoro Murko. Dengan tertatih dan sisa-sisa tenaganya, Lembah Manah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan cairan hijau milik Batu Kecubung Hijau, setelah menggigit kecil lidahnya.
Sedetik kemudian, dengan mengaktifkan dua titik pusat tenaga dalam, Lembah Manah mengaliri Pedang Naga Maruta dengan aura tenaga dalam berwarna biru. Sembari memutarkan tubuhnya, Lembah Manah menebaskan pedangnya ke arah Eyang Angkoro Murko.
DYAR
Dua serangan beradu, menimbulkan gelombang kejut bertekanan tinggi, hingga menumbangkan pohon tersisa di sekitar bukit kecil tempat pertarungan mereka. Tanah Sokapura berguncang, membuat seluruh pendekar aliran putih membungkukkan badan, efek tekanan tenaga dalam yang sangat besar.
Langit yang semula senja dan hampir gelap, berubah menjadi terang untuk sesaat setelah dua serangan itu beradu. Asap debu mengepul tinggi menyelimuti bukit kecil tempat mereka bertarung.
Jasad para korban perang berhamburan tak tentu arah, akibat ledakan itu. Puing reruntuhan istana juga tak luput dari efek ledakan, hingga membuatnya terlempar tak beraturan.
Di barisan belakang medan perang, tidak ada yang bisa menebak siapa pemenangnya. Bahkan, mata Byakta milik Nata juga tak bisa menembus pekatnya dua tekanan tenaga dalam yang beradu.
Butuh waktu hingga matahari terbenam agar asap debu tebal itu sepenuhnya menghilang. Perlahan, para petinggi pendekar aliran putih mengibaskan tangan di depan mukanya, agar debu segera lenyap.
Ada yang batuk kecil, ada juga yang napasnya sesak karena terlaku banyak menghirup debu tebal itu. Mereka keluar dari barisan belakang medan perang dan hendak memeriksa seluruh tempat itu.
“Perasaanku tidak enak!” lirih Wanapati menundukkan kepala dan kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1