KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pergerakan (3)


__ADS_3

Sementara itu di Pulau Iblis, pada sebuah bangunan yang lebih mirip dengan istana, tetapi sedikit lebih kecil, Cakara telah ditunggu oleh empat pendekar pedang lainnya, ditambah dengan satu orang yang tampaknya seorang anggota kerajaan dan selalu memakai jasa salah satu dari mereka.


Dari lima Pendekar Pedang ini, Cakara yang paling dihormati oleh empat anggota lainnya. Itu dikarenakan, Cakara selalu bisa memberi jalan keluar atau pun ide yang membangun reputasi Lima Pendekar Pedang itu.


“Lama sekali kau Cakara!” seru salah satu pendekar pedang berbadan mungil dan pendek yang tak lain adalah Bayu Amerta.


“Maaf saudaraku. Aku banyak urusan!” sahut Cakara menundukkan kepala untuk memberi hormat pada perkumpulan itu. “Segera saja dimulai. Aku ada berita bagus untuk kalian!”


Cakara menyampaikan bahwa Lima Pendekar Pedang diberi tawaran untuk bergabung dengan Ki Badra. Dengan bergabungnya mereka, tentu ambisi menyatukan tiga kerajaan akan semakin mudah.


“Tentu kita tak perlu repot-repot lagi untuk menjadi pembunuh bayaran!” ujar Cakara menjelaskan. “Kita akan menerapkan pajak tinggi dan sebagian hasil rakyat diberikan kerajaan. Kita hanya menjadi anggota keamanan saja, tanpa perlu berpindah tempat untuk menjadi berandal!” lanjutnya sembari menekuk dua lengan di depan dadanya.


“Sepertinya aku tertarik!” Bayu Amerta menjawab pertama tanpa pikir panjang. “Aku sudah lelah bersembunyi dari kejaran prajurit kerajaan atau bahkan pendekar yang lebih kuat dariku!” lanjutnya dengan nada berapi-api.


“Sebagai seorang wanita, aku juga setuju!” sahut Agni Ageng, satu-satunya perempuan dari empat pendekar pedang lainnya. “Karena di bawah naungan orang yang lebih kuat, keselamatanku akan terjamin!”


“Aku juga setuju!” sambut Cayapata tanpa banyak berkomentar.


“Baiklah! Jika kalian setuju, aku juga ikut kalian!” timpal Samudro Aji yang jarang berbicara. “Dengan bersatunya Negeri Yava di bawah satu pemimpin, tentu pajak yang dihasilkan semakin besar. Tanpa bekerja pun, kita akan tetap hidup dari penghasilan rakyat!”


“Bagaimana dengan Anda? Pangeran?” tanya Cakara kepada salah satu anggota kerajaan yang ternyata adalah Pangeran Tirta Banyu—putra pertama Raja Perwita Agung dari Kerajaan Indra Pura.


“Aku akan memudahkan langkah kalian—!”


Tirta Banyu mengusulkan lebih baik mereka bergerak ketika Pertandingan Besar, karena semua kalangan tengah berkumpul di tempat itu. Dan itu memudahkan langkah mereka untuk melumpuhkan tiga raja sekaligus.


“Bagaimana? Apa kalian tertarik dengan rencanaku?” seru Tirta Banyu tersenyum sinis.


“Baiklah! Akan aku sampaikan kepada pimpinan!” sahut Cakara menyetujui rencana Tirta Banyu. “Sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini. Untuk informasi selanjutnya, akan kita bicarakan pertemuan berikutnya!”


“Kapan Pertandingan Besar berlangsung, pangeran?” tanya Agni Ageng memegangi dagunya.

__ADS_1


“Kurang lebih tiga bulan dari sekarang!” jawab Tirta Banyu tegas.


“Baiklah! Aku akan menepi di Pegunungan Mahendra sisi selatan!” sahut Agni Ageng tertawa kecil. “Sepertinya tempat itu bagus untuk merampok hahaha!”


“Tiga bulan lagi, jika pimpinan menyetujui rencana kita, kita akan menyergap saat Pertandingan Besar di Kerajaan Indra Pura!” tutup Cakara.


Demikian pertemuan Lima Pendekar Pedang yang setuju bergabung dengan pria bermata satu. Mereka membubarkan diri dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bergerak tanpa diketahui pihak kerajaan.


***


Kembali ke Pertandingan Pendekar Muda di kerajaan. Babak empat besar segera dimulai, para penonton sangat antusias menyaksikan pertarungan selanjutnya. Bahkan semakin banyak dari dua putaran sebelumnya. Mereka rela berdesak-desakan memasuki area pertandingan untuk melihat jagoan mereka masing-masing.


Terlihat Nawang berjalan menuju bangku penonton, gadis itu sengaja datang sendiri ke ibukota kerajaan karena ingin menyaksikan pendekar muda bertanding.


Salah satu alasan dia datang ke tempat ini adalah, karena dia mendengar pembicaraan penduduk bahwa Lembah Manah lolos empat besar.


Tak ketinggalan Sati yang jauh-jauh datang dari desa juga ingin menyaksikan Lembah Manah berlaga di pertandingan itu. Anak itu datang bersama ibunya satu hari setelah putaran kedua selesai.


“Kak Nawang!” teriak Sati memanggil Nawang yang berjalan sendirian tak jauh di depannya.


“Siapa nak, apa kamu mengenalnya?” Ibu Suci bertanya keheranan.


“Hai, Sati. Bagaimana kabarmu?” Nawang menghampiri Sati dan Ibunya.


“Kabar Sati baik kak. Bagaimana kabar kak Nawang? Ohh, iya kak, ini ibu Sati,” ucap Sati seraya memperkenalkan ibunya kepada Nawang.


“Kabar kakak baik juga. Ohh, bibi, saya Nawang,” jawab Nawang mencium punggung tangan kanan Ibu Suci.


Pertemuan Nawang dan Sati mengandung makna tersendiri. Karena mereka sama-sama berhasil lolos dari sekapan makhluk aneh yang menculik mereka. Sikap mereka berdua juga berubah setelah apa yang menimpa mereka, dan itu semua berkat pertolongan Lembah Manah sewaktu berada di Lorong Alam Lelembut.


Sati pun menggandeng tangan kiri ibunya dan menggandeng tangan kanan Nawang untuk mencari tempat duduk dalam arena pertandingan.

__ADS_1


Tak lama berselang mereka pun mendapat tempat duduk barisan kedua dari depan.


Di dekat tempat duduk Nawang dan Sati adalah tempat duduk para peserta pertandingan. Baik peserta yang sudah lolos maupun peserta yang telah gugur untuk sekadar menyaksikan pertarungan dan mendukung teman mereka.


Mara dan ibunya ternyata juga duduk di dekat rombongan Nawang, hanya selisih beberapa bangku saja.


Raja Brahma telah duduk pada singgasananya didampingi para petinggi kerajaan dan prajurit yang berjaga. Para peserta pertandingan juga memasuki area dan duduk di bangku peserta.


“Kak Lembah!” teriak Sati dan Mara bersamaan, ketika melihat Lembah Manah memasuki area pertandingan. Diikuti Ibu Suci, Nawang dan Ibu Mara menengok ke arah Lembah Manah.


“Loh, kamu mengenal kak Lembah?” Sati bertanya kepada Mara.


“Loh, kamu juga mengenal kak Lembah?” Mara bertanya balik kepada Sati.


Mereka berdua saling berkenalan dan bercerita bagaimana keduanya bisa mengenal Lembah Manah. Tak kecuali Nawang yang juga ikut nimbrung pembicaraan kedua anak seumuran itu, yang tengah menceritakan kehebatan Lembah Manah.


“Hai Sati, Nawang, Mara, bibi, kalian semua,” jawab Lembah Manah dengan melambaikan tangan pada mereka.


Nawang mencoba menghampiri Lembah Manah yang telah duduk tak jauh dari tempat duduknya. Melewati beberapa peserta yang lain dan langsung duduk di samping kiri pemuda itu.


“Hei Lembah, Bagaimana kabarmu? Aku mendengar kamu lolos babak empat besar?” seru Nawang menghujani Lembah Manah dengan beberapa pertanyaan sembari mendekatkan tubuhnya pada pemuda itu.


“Emm, iya Nawang, aku lolos empat besar. Kabarku baik, bagaimana kabarmu?” ucap Lembah Manah sedikit grogi karena tubuhnya ditempel oleh Nawang.


Ni Luh yang duduk di samping kanan Lembah Manah tampak mengalihkan pandangannya ke arah yang lain dengan mukanya yang sedikit memerah.


“Ehem, ehem, hoi Jayadipa, apakah kamu tahu sebentar lagi akan ada perang besar,” ucap Wanapati menyela pembicaraan Lembah Manah dan Nawang sembari melayangkan pandangannya pada Ni Luh.


“Ohh, benarkah Wanapati. Bukankah Lembah Manah yang akan menang besar hahaha,” imbuh Jayadipa menggoda temannya.


Lembah Manah salah tingkah dan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari mengarahkan pandangannya pada Ni Luh dan sesekali menoleh pada Nawang.

__ADS_1


__ADS_2