
“Tapi, emm bagaimana kamu bisa mengalahkan perempuan bertopeng itu?” tanya Lembah Manah penasaran.
“Ohh itu rahasia wek,” jawab Nawang menjulurkan lidahnya.
“Hoi! Awas kau ya!” sungut Lembah Manah sembari sedikit tertawa.
“Hahaha, biasanya kau yang mengerjai, sekarang kau yang dikerjai oleh Nawang, oh Lembah!” sela Wanapati dengan tawa kerasnya.
Ni Luh hanya terdiam melihat kedekatan Lembah Manah dan Nawang. Mukanya memerah sembari memeras ujung bajunya sendiri.
***
Hari beranjak sore, Lembah Manah bersama rombongan telah sampai di kediaman Ki Demang dengan membawa perempuan bertopeng yang berlutut di tengah pelataran rumah Ki Demang.
Bersama istrinya—Dyah dan putrinya—Andini, Ki Demang juga didampingi dua abdi dalem dan beberapa petinggi desa.
“Terima kasih nak Lembah. Berkat nak Lembah dan teman-teman semua, Andini berhasil diselamatkan,” ucap Ki Demang tersenyum.
Perempuan bertopeng masih tak mau membuka topengnya seperti yang di perintahkan Ki Demang. Setelah ikatannya dilepas oleh Lembah Manah, dia pun secara perlahan membuka topengnya sendiri.
Tampak perempuan cantik dibalik topeng merah itu. Namun Ki Demang dan istrinya kaget seakan tak percaya, pelaku keributan itu adalah Dian Lasmini, adik dari Dyah Sekar Ayu, yang telah pergi dari rumahnya beberapa tahun yang lalu.
PLAK PLAK PLAK
Dyah menampar wajah Dian tiga kali pada bagian pipi, bergantian kanan dan kiri dengan tangan kanannya. Dian hanya pasrah menerima tamparan sang kakak sembari menangis.
“Keterlaluan kau Dian!” ucap Dyah sembari meneteskan air matanya.
“Maafkan aku kak!” sahut Dian yang juga menangis.
“Setelah sekian lama kau pergi. Kau malah membuat malu keluarga,” lanjut Dyah.
__ADS_1
“Apa!” teriak semua orang yang berada di tempat itu.
Dian hanya berlutut menangis memegangi tangan kakaknya yang berdiri di hadapannya. Berulang-ulang Dian mengucapkan kata maaf kepada Dyah, tetapi Dyah masih terpaku dalam tangisannya.
“Apa yang membuatmu tega berbuat seperti ini Dian?” tanya Dyah masih dalam isak tangisnya.
“Maafkan aku kak—!”
Dian bercerita kalau dulu saat awal perjodohan Ki Demang dengan kakaknya, dia diam-diam menyukai Ki Demang. Secara terang-terangan Dian mengungkapkan perasaannya, bahwa dia sangat mencintai Ki Demang dan bersedia bila harus dijadikan istri kedua.
Saat Dian mengungkapkan perasaannya, tanpa sengaja abdi Ki Bondan mendengar percakapan mereka. Namanya Mbok Darmi, dia adalah juru masak di kediaman Ki Bondan.
Tak mau menyakiti hati calon istrinya dan tak mau mengingkari perjanjian, Ki Demang menolak perasaan Dian secara halus.
Namun penolakan dari Ki Demang membuat Dian sakit hati. Perempuan itu merasa patah hati, kenapa harus kakaknya yang dijodohkan dengan pria sebaik Ki Demang ketimbang dirinya. Padahal kecantikan mereka berdua bisa dibilang sama.
Dian menemui Ki Demang untuk yang kedua kalinya. Pertemuan kedua terjadi saat Ki Demang berkunjung ke kediaman Ki Bondan, untuk mengantar hasil panen warga desanya. Dian sengaja menarik tangan Ki Demang menuju dapur.
Perempuan itu menyatakan perasaannya untuk yang kedua kalinya. Dan lagi-lagi Ki Demang menolaknya secara halus. Mbok Darmi tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka berdua, tetapi hanya bersembunyi dari balik pintu dapur.
Sontak, perkataan Dian membuat Ki Demang terkejut. Namun Ki Demang tidak memedulikannya dan akan tetap menikahi Dyah Sekar Ayu.
Kecewa karena cintanya di tolak oleh pria idaman dan rasa kecemburuan kepada sang kakak, membuat Dian sakit hati dan merasa sudah tidak ada lagi yang peduli padanya. Dian memutuskan untuk pergi dari rumah. Tak ada yang tahu kapan dan kemana Dian pergi.
Kepergiannya membuat seluruh keluarga kaget. Namun Dian meninggalkan sebuah pesan tertulis di dalam kamarnya, bahwa dia pergi dari rumah dengan alasan untuk berkelana dan meminta sang ayah untuk tidak mencarinya.
Secara diam-diam Dian pergi menuju Bukit Pinus dan meminta ilmu kepada sesepuh penunggu hutan di bukit itu.
Dengan niat ingin mencari ilmu secara jalan pintas, akhirnya Dian pergi ke Bukit Pinus. Tanpa berpikir panjang, Dian yang sakit hati dan menaruh dendam pada Ki Demang, ingin menuntut balas suatu saat nanti.
Dian berlatih dengan niat untuk membalas pada Ki Demang, dalam hatinya hanya ada kebencian. Terbukti dengan Ajian Halimun Wening, Dian menguasainya dengan mudah dan sayangnya, jurus yang diterima bertolak belakang dengan ajaran kebaikan.
__ADS_1
“Apakah yang dikatakan Dian ini benar kakang?” tanya Dyah pada suaminya—Ki Demang.
“Iya, semua yang dikatakan Dian benar. Aku menolaknya demi kebaikan kita, rakyatku dan hubungan baik dengan Desa Kedhung Kayang,” jawab Ki Demang.
“Lalu kenapa kau menculik Andini?” bentak Dyah pada Dian.
“Maafkan aku kak—!”
Dian melanjutkan ceritanya, dia mencoba untuk membalas sakit hatinya pada Ki Demang dengan menculik putri dari Ki Demang, Pramitha Andini, agar Ki Demang mau menerima Dian. Dian sengaja memakai topeng agar identitasnya tidak diketahui oleh siapa pun.
Topeng yang menutupi bagian mulut ke atas, dengan dua lubang pada bagian mata dan satu lubang yang sedikit menutupi hidung. Topeng itu diikatkan ke belakang menjadi satu dengan ikat rambutnya yang tidak begitu panjang. Topeng berwarna merah yang mewakili perasaannya, marah sekaligus penuh kebencian.
Sore itu Dian mulai mengintai kediaman Ki Demang, memahami situasi dan menunggu saat yang tepat untuk membawa pergi Andini. Mengendap-endap melewati pagar rumah tanpa ada satu pun yang melihat kedatangannya. Setelah mengetahui keadaan rumah Ki Demang, Dian memutuskan untuk mundur dan melanjutkan rencananya esok pagi.
Dan saat Dian hendak kembali ke Bukit Pinus, Kenanga, Kanthil dan Cempaka mengikuti hingga ke Puncak Pinus Kembar dan bertarung dengan Dian. Namun ketiga perempuan itu kalah dan menjadi bawahan Dian.
“Ternyata benar ucapanmu, Kenanga. Padahal aku sempat meragukannya, kemungkinan kalian bertiga berbohong,” ucap Wanapati pada mantan bawahan Dian—Kenanga, Kanthil dan Cempaka yang hanya dibalas oleh senyuman mereka bertiga.
“Baiklah, aku akan mengampunimu dan besok aku akan mengantarmu pulang ke desa,” ujar Dyah kepada Dian.
“Terima kasih kak, aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” sahut Dian mengusap air matanya.
Mereka berdua berpelukan selayaknya kakak-beradik yang lama tidak bertemu. Diiringi dengan senyuman dari semua yang hadir di kediaman Ki Demang. Tak berlama-lama lagi, Ki Demang mempersilakan mereka semua untuk menerima jamuan makan sore yang telah disiapkan oleh Mbok Darmi di aula pertemuan bagian depan.
“Wah, makan lagi. Ini acara yang aku tunggu-tunggu, hahaha!” teriak Lembah Manah kegirangan.
“Kau ini, kalau soal makan nomor satu,” umpat Wanapati.
“Ya nggak apa-apa toh, Ki Demang sudah mengizinkan kok. Wek!” ucap Lembah Manah menjulurkan lidahnya.
“Awas kau ya kacung kampret,” sungut Wanapati sembari menjitak kepala Lembah Manah dan berlari menuju aula tempat makan.
__ADS_1
“Aduh!“ teriak Lembah Manah memegangi kepalanya lalu berlari mengejar Wanapati.
“Hei, sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil,” ujar Ni Luh menengahi keributan kecil itu.