KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (3)


__ADS_3

“Lembah Manah!” seru Nastiti terkejut, lalu gadis itu menyerang beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu menggunakan pedangnya.


“Berhati-hatilah, Tuan Putri!” sahut Lembah Manah seraya mendaratkan pukulan pada beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu.


Satu tebasan pedang hampir saja mengenai tubuh Nastiti, beruntung Lembah Manah meraih tubuh gadis itu.


Dengan cepat, Lembah Manah mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat di dada kiri prajurit pembawa pedang itu, hingga terlempar beberapa meter ke belakang dan mengenai lima prajurit yang lainnya lagi.


“Awas pangeran!” seru Lembah Manah mendorong tubuh Kusumawijaya ketika lima anak panah melesat ke arah pangeran dari Indra Pura itu.


Jika tidak ada Lembah Manah, mungkin saja Kusumawijaya telah meregang nyawa terkena anak panah itu. Namun, tindakan Lembah Manah membuat Tirta Banyu bertambah geram. Dari kejauhan, Tirta Banyu mengisyaratkan prajurit pemanah untuk menyerang Kusumawijaya.


Benar saja, puluhan anak panah melesat ke arah mereka bertiga—Lembah Manah, Kusumawijaya dan Nastiti. Lembah Manah menggigit kecil lidahnya dan seketika itu juga cairan hijau keluar dari pori-porinya menyelimuti seluruh tubuh si kacung kampret itu.


Dengan mengentakkan kaki kanannya, Lembah Manah menyambut puluhan anak panah yang siap menghujaninya. Namun, baru saja menangkis lima anak panah dengan lengannya bagian luar, tiba-tiba saja sebuah kapak bercahaya kuning melesat menghabisi puluhan anak panah yang menyerang Lembah Manah.


“Wanapati!” ucap Lembah Manah menyadari pemilik kapak itu berdiri pada tembok pagar istana. Lalu cairan hijau itu menghilang melalui pori-pori tubuh Lembah Manah.


Dengan lima jari tangan kanannya, Wanapati mengendalikan Kapak Pembelah Langit sesuka hatinya. Sepertinya pemuda itu telah menyatu dengan senjatanya, hingga membuat puluhan anak panah itu terpotong rapi menjadi dua.


“Berhati-hatilah, Lembah!” sahut Wanapati tersenyum kecil.


Kusumawijaya menyadari, jika ilmu kanuragannya masih jauh di bawah para pendekar yang tengah bertarung di medan perang. Dia hanya berada pada tingkat Madyo tahap menengah, bahkan masih jauh di bawah putrinya sendiri yang berada pada tingkat Inggil tahap awal.


Meskipun begitu, Kusumawijaya memiliki tenaga dalam yang cukup besar dan teknik berpedang yang sedikit mumpuni. Jadi, setidaknya pangeran itu masih mampu melindungi dirinya sendiri.


Sejauh ini, belum terlihat siapa yang akan menjadi pemenang dalam medan perang ini. Pendekar aliran putih masih mampu menahan gempuran dari para pendekar aliran hitam. Sepertinya keduanya masih berimbang.


Terlihat seorang pria tua memakai ikat kepala bergambar kelelawar berwarna merah keluar dari pintu gerbang istana. Diraihnya saku bajunya bagian dalam dan potongan besi pendek telah berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Tangan kanan pria tua itu mengepal ke atas dan potongan besi pendek itu berubah menjadi tongkat. Benar, Rambak Selah membawa Tongkat Naga Merah mencoba turun ke medan perang, sepertinya tubuhnya telah pulih dari luka yang dibuat oleh Lembah Manah.


Diputarnya tongkat itu dan ditebaskan ke depan, sekelebat cahaya merah melesat ke depan dengan cepat. Tunggu, siapa yang akan diserang Rambak Selah?


Cahaya merah itu melesat horizontal tepat di atas para prajurit yang tengah bertarung, hingga membuat prajurit itu sedikit membungkukkan badannya karena serangan itu mengandung tenaga dalam yang sangat besar.


Gawat! Sepertinya Rambak Selah mengincar Kusumawijaya yang hendak menuju bukit kecil di belakang istana.


Lembah Manah hendak menghentikan serangan itu, tetapi dirinya masih bertarung dengan tujuh prajurit bawahan Tirta Banyu. Sedangkan Wanapati masih disibukkan dengan anak panah yang melesat ke arah Kusumawijaya.


Mau tak mau, Nastiti memasang badan di depan ayahnya dengan pedang menyilang di depan tubuhnya.


“Celaka! Serangan itu sangat cepat!” seru Lembah Manah seraya mendaratkan satu pukulan pada lawannya.


Tepat satu depa sebelum serangan Rambak Selah menyentuh tubuh Nastiti, tiba-tiba Patih Ragas menangkis cahaya merah itu dengan tebasan Pedang Pethit Sawa.


Cahaya merah dibelokkan menuju awang-awang dan meledak. Sontak ledakan itu sejenak memusatkan perhatian medan perang dan sedetik kemudian mereka kembali bertarung.


Tubuh Patih Ragas mundur beberapa langkah dan menabrak Nastiti dan juga Kusumawijaya. Sepertinya patih berbadan kekar itu telah menyempurnakan jurusnya, hingga mampu menahan serangan Rambak Selah.


Tak lama berselang, Rambak Selah telah berada di dekat rombongan Patih Ragas.


“Kita bertemu lagi, Rambak Selah!” seru Patih Ragas menyunggingkan senyum, lalu menoleh ke belakang dan berkata, “Anda baik-baik saja? Pangeran, Tuan Putri?”


Keduanya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan segera berlari menuju bukit kecil di belakang istana.


“Aku sudah tak peduli lagi dengan pedangmu!” ucap Rambak Selah menghunuskan tongkatnya ke depan. “Kali ini kau harus mati di tanganku!”


Setelah berkata demikian, Rambak Selah melesat ke arah Patih Ragas dengan menghunjamkan tongkatnya. Patih Ragas menyambut serangan Rambak Selah dengan satu tebasan pedangnya. Pertukaran jurus terjadi beberapa saat.

__ADS_1


Rambak Selah mengeluarkan jurus tingkat tinggi yang dimilikinya, mencoba untuk melumpuhkan Patih Ragas. Namun, dengan pedang pusaka yang telah dikuasainya, Patih Ragas mampu meladeni setiap jurus Rambak Selah.


“Menjauh dari mereka berdua!” seru salah satu prajurit bawahan Tirta Banyu.


Setelah berkata demikian, prajurit itu terlempar beberapa langkah akibat gelombang kejut dari benturan tongkat milik Rambak Selah dan pedang milik Patih Ragas. Prajurit itu kembali berdiri, tetapi sebuah tombak milik prajurit Sokapura menembus perut dan membuatnya tewas.


Patih Ragas melompat beberapa langkah ke belakang untuk menjaga jarak dengan Rambak Selah. Benar saja, dengan dua tangan menggenggam tongkatnya, Rambak Selah mengangkat tingi-tinggi tongkatnya. Cahaya merah menyelimuti tongkat itu, lalu Rambak Selah menebas ke depan, seolah membelah sesuatu di depannya.


“Tongkat Naga Merah!” seru Rambak Selah diikuti cahaya merah melesat cepat ke arah Patih Ragas.


Kali ini serangan Rambak Selah menggunakan tenaga dalam yang lebih besar, hingga tanah yang dilewati serangan itu membentuk cekungan kecil memanjang. Patih Ragas berpikir sejenak, jika tidak mampu menghindari serangan itu, lebih baik menghancurkannya.


Patih Ragas memutar pedangnya, diikuti cahaya biru menyelimuti Pedang Pethit Sawa.


DYAR!


Dengan sekali tebasan, Patih Ragas menyambut serangan Rambak Selah. Benturan itu menciptakan gelombang kejut hingga membuat beberapa prajurit yang telah menjauh terlempar tak karuan.


Patih Ragas mundur beberapa langkah, di sekitar tubuhnya masih ada sedikit cahaya merah yang masih tersisa. Sementara Rambak Selah terlempar beberapa langkah ke belakang, tetapi berhasil menguasai tubuhnya kembali.


Semua yang menyaksikan pertarungan itu terlihat takjub, mengingat keduanya sama-sama memiliki tenaga dalam yang sangat besar. Dan tampaknya pertarungan masih berlanjut.


Bukan hanya percikan api yang tampak dari dua senjata yang bersinggungan, melainkan dua cahaya saling beradu, merah milik Rambak Selah dan biru milik Patih Ragas. Sepertinya belum terlihat siapa yang akan menjadi pemenangnya.


Pola serangan juga berganti, terkadang Rambak Selah meraih bagian atas Patih Ragas. Kadang pula Patih Ragas yang menahan bagian bawah dengan pedangnya. Ilmu meringankan tubuh keduanya juga sama baiknya, terlihat mereka berpindah tempat ke salah satu atap rumah petinggi kerajaan.


Beberapa bagian rusak akibat serangan yang meleset dari tongkat milik Rambak Selah. Sedangkan Patih Ragas hanya menghindar sembari bergerak mundur.


“Kurang ajar! Mereka menghancurkan rumahku!” seru Tirta Banyu di depan pintu gerbang istana yang melihat pertarungan Rambak Selah dan Patih Ragas.

__ADS_1


__ADS_2