KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (5)


__ADS_3

Garu Langit tak menyangka jika dalam posisi tertekan, Wanapati masih bisa melakukan serangan balasan dengan tebasan kapaknya. Itu adalah salah satu cara cerdik Wanapati dalam melihat momentum. Meski mendapat serangan, tetapi masih bisa melancarkan serangan balasan.


Dalam jarak dua puluh langkah, Garu Langit menebaskan tongkatnya secara vertikal dari atas ke bawah, diikuti cahaya putih melesat cepat ke arah Wanapati.


Sembari memutarkan tubuhnya, Wanapati menyambut serangan Garu Langit dengan menebaskan kapaknya secara horizontal dari kanan ke kiri, diikuti cahaya kuning melesat ke arah Garu Langit.


BOOM


Terjadi ledakan yang membuat asap debu mengepul akibat dua ajian yang beradu. Garu Langit terpukul beberapa langkah ke belakang seraya memegangi dadanya sebelah kiri. Sedangkan Wanapati masih berdiri memasang kuda-kuda.


Entah kenapa, setelah menyerap ekstrak penempaan tubuh yang didapat dari Keraton Agung Sejagat, stamina pemuda itu seakan tidak ada habisnya. Terlebih lagi, kontrol tenaga dalam ketika mengendalikan kapaknya juga sangat baik.


“Tampaknya aku telah meremehkanmu!” geram Garu Langit bangkit dari keterpurukannya.


Digenggamnya dengan dua tangan tongkat miliknya itu dan diangkat setinggi mungkin. Sesaat setelah cahaya putih menyelimuti tongkat itu, Garu Langit menebaskan ke arah Wanapati, diikuti cahaya putih melesat cepat secara vertikal.


Senada dengan Garu Langit, Wanapati mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dengan tangan kanannya. Beberapa saat kemudian, Wanapati menebas ke depan, seakan membelah sesuatu, diikuti cahaya kuning melesat vertikal ke arah Garu Langit.


DYAR


Dua serangan beradu menimbulkan gelombang kejut bertekanan sedang yang menghamburkan kerikil di sekitar mereka. Asap debu mengepul sesaat setelah kilatan cahaya putih dan kuning bersinggungan.


Wanapati terpukul mundur beberapa langkah sembari memasang kuda-kuda. Sedangkan Garu Langit terlempar ke belakang dan tubuhnya menabrak pagar tembok istana. Dari mulutnya mengeluarkan seteguk darah, Garu Langit menutup matanya, sepertinya pingsan.


***


Nata masih menghindari tebasan pedang Condro Mowo yang mengandung tenaga dalam cukup besar. Meski pemuda itu berusaha mengambil jangkauan jarak serang, tetapi Condro Mowo tetap menjaga jarak dengan dirinya.


Sudah puluhan jurus dikeluarkan Condro Mowo, tetapi belum juga berhasil memberi luka pada tubuh Nata. Pemuda bermata istimewa itu sepertinya telah berhasil mengontrol tenaga dalamnya dengan cukup baik.

__ADS_1


Pada satu kesempatan, Nata mengeluarkan Wesaran ketika satu tebasan pedang hampir mendarat pada tubuhnya. Putaran tenaga dalam yang cepat, membuat Condro Mowo terlempar beberapa langkah ke belakang, tetapi bawahan Garu Langit itu masih mampu menguasai tubuhnya.


Tak menunggu waktu lebih lama lagi Nata melesat ke arah Condro Mowo dengan tujuan menjangkau jarak serang untuk melancarkan jurusnya. Namun, tanpa diduga Condro Mowo menghindar dengan melompat ke atas pagar tembok istana.


“Sial! Orang ini sungguh licin!!” geram Nata memandangi Condro Mowo.


“Aku telah mempelajari jurusmu itu bocah, hahaha!” Condro Mowo tertawa keras seakan mengejek Nata.


Namun sedetik kemudian, tawa itu berubah menjadi teriakan kesakitan setelah sekelebat cahaya kuning melewati tubuhnya. Sesaat setelah berputar di depan tubuh Condro Mowo, cahaya kuning itu kembali ke arah pemiliknya.


“Wanapati!” ucap Nata membelalakkan matanya mengetahui cahaya kuning itu adalah kapak milik Wanapati.


“Jangan sampai lengah, Nata!” sahut Wanapati mengibaskan kapaknya, agar noda darah Condro Mowo segera lenyap.


Wanapati memang pandai dalam mengatur strategi dalam bertarung. Berbeda dengan Nata yang bisa dibilang masih minim dalam hal seperti ini. Meski mata istimewanya adalah senjata utama, tetapi tanpa strategi, itu sama saja dengan mengantar nyawa.


***


Di depan pintu gerbang istana, Tirta Banyu terlihat semakin geram. Bagaimana tidak? Pada awalnya, dirinya yakin akan mudah menghabisi para pendekar aliran putih karena menang dalam jumlah. Namun, kenyataannya, lebih banyak prajurit yang gugur dipihaknya.


Salah satu alasannya adalah, para pendekar aliran putih berhasil menekan pergerakan para petinggi aliran hitam yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Jadi mungkin saja mental mereka semakin menurun.


“Ki, bagaimana ini Ki?” ucap Tirta Banyu mengurut keningnya.


“Kau tenang saja pangeran. Ini baru permulaan!” sahut Ki Badra tenang.


“Aku sudah bosan menunggu!” Seorang pemuda dengan tangan kanan menyerupai kayu pelontar jarum berdiri di samping Tirta Banyu. Ya, Sarira hendak turun ke medan perang, diikuti beberapa anggota Lowo Abang di belakangnya.


“Kalian!” Ki Badra membelalakkan matanya dan menatap wajah para anggotanya itu. “Lakukanlah sesuka hati kalian!”

__ADS_1


Sarira melesat ke arah kerumunan pendekar aliran putih yang terus menekan prajurit bawahan Tirta Banyu. Baru saja satu kali menyerang, pemuda bertangan aneh itu telah dihadang oleh pria tua yang merupakan mantan gurunya.


“Kau belum juga jera, Sarira!” geram Ki Bayu Maruto menunjuk ke arah mantan muridnya tersebut.


Setelah berkata demikian, Ki Bayu Maruto menarik tangan kanannya ke belakang. Terlihat pusaran angin berkumpul pada telapak tangan pemimpin Perguruan Teratai Putih itu. Dengan sekali sentakan, telapak tangan Ki Bayu Maruto mengarah ke depan, diikuti pusaran angin melesat cepat ke arah Sarira.


Sarira menghindar dengan melompat ke samping kiri sembari melepaskan serangan balasan. Tangan kanan pemuda itu lurus ke depan, diikuti puluhan jarum berwarna hitam melesat ke arah Ki Bayu Maruto.


Dengan sigap, Ki Bayu Maruto menghindar, berputar dan melompat ke awang-awang. Jarum beracun milik Sarira tepat mengenai prajurit bawahan Tirta Banyu hingga membuat puluhan prajurit itu tewas seketika.


“Sial! Aku salah membidik!” umpat Sarira membelalakkan matanya.


Saat Sarira masih dalam keterkejutannya, Ki Bayu Maruto melepaskan serangan pusaran angin dari telapak tangannya, bergantian tangan kanan dan kiri. Lima pusaran angin melesat cepat, tetapi masih bisa dihindari Sarira seraya melompat ke belakang.


Serangan Ki Bayu Maruto menyapu debu pada permukaan tanah dan membuat debu itu berhamburan menutupi Sarira. Ini kesempatan Sarira untuk menyerang, dari dalam kepulan debu, pemuda bertangan aneh itu melontarkan beberapa jarum ke arah Ki Bayu Maruto yang masih melayang di awang-awang.


Ki Bayu Maruto menukik dan menyambut puluhan jarum beracun dengan embusan pusaran angin dari dua telapak tangannya.


Berhasil! Puluhan jarum berhamburan tak tentu arah, Ki Bayu Maruto mendekati Sarira dan melepaskan beberapa jurus. Pukulan dan tendangan tak terlewatkan mengarah tubuh Sarira. Namun, Sarira hanya menangkis menggunakan dua tangannya sembari bergerak mundur.


Dalam serangan jarak dekat, Ki Bayu Maruto lebih unggul karena memiliki jurus level tinggi. Terlihat dari setiap telapak tangannya seperti keluar pusaran angin tetapi dalam wujud yang lebih kecil.


Jika saja Sarira tidak menghindari setiap jurus Ki Bayu Maruto, mungkin saja pemuda bertangan aneh itu sudah terlempar jauh, karena efek pusaran angin yang keluar dari telapak tangan Ki Bayu Maruto.


Pada satu kesempatan, Sarira berhasil mengunci tangan Ki Bayu Maruto. Tangan kanan Sarira tepat di depan wajah Ki Bayu Maruto dan pemuda itu tersenyum tipis.


“Tamatlah kau, kakek tua keparat!”


Setelah berkata demikian, dari kayu pelontar tangan kanan Sarira keluar satu jarum sebesar lidi dengan panjang satu jengkal. Jarum berwarna hitam itu melesat cepat menuju wajah Ki Bayu Maruto yang tengah terkunci.

__ADS_1


“Gawat!” Ki Bayu Maruto membelalakkan matanya.


__ADS_2