KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Puspa Ayu


__ADS_3

Dengan tangan kanannya, Puspa Ayu menampar wajah dua orang pemuda yang sedang latih tanding dengan dikelilingi murid lainnya yang duduk melingkar.


“Puspa A—!”


PLAK


Satu pemuda menerima lima tamparan hingga tak bisa melanjutkan perkataannya. Semua murid terkejut melihat kedatangan putri dari pemimpin perguruan yang menurutnya sudah tewas di dalam Alas Mentaok.


Sementara Lembah Manah hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba merasa gatal sembari melihat ke sekelilingnya penuh dengan rasa heran. Ahh, pemuda ini tampak bodoh, hehehe.


“Maafkan aku, Puspa Ayu. Aku tak bermaksud—!”


“Sudahlah, aku tak mau mendengar alasan kalian berdua!” sahut Puspa Ayu memotong pembicaraan seorang pemuda berbadan tegap. “Ayo Lembah, ikut aku!”


Lembah Manah hanya ikut saja dengan Puspa Ayu yang mencengkeram tangan kanannya hingga kemerahan. Namun, pemuda itu menuruti permintaan teman barunya itu sembari berlalu dari pelataran halaman dan menuju sebuah ruangan, tampaknya itu adalah ruangan khusus tamu.


“Duduklah di sini, aku akan kembali sebentar lagi!” pinta Puspa Ayu kepada Lembah Manah yang melihat gadis itu seperti singa yang sedang marah.


Bagaimana tidak marah, ditinggal dua temannya sendirian dalam hutan, apalagi menghadapi makhluk menakutkan—Durgabahu.


“Jangan kemana-mana, tetap di tempat ini!” lanjut gadis itu pergi meninggalkan Lembah Manah.


“Perempuan kalau sudah marah benar-benar mengerikan!” lirih pemuda itu menggelengkan kepalanya.


“Selamat datang di Perguruan Tombak Putih tuan pendekar!” Seorang wanita tua tiba-tiba saja keluar dari pintu ruangan bagian dalam dengan membawa beberapa makanan dan minuman.


“Saya adalah pelayan di tempat ini. Nama saya Mbok Damari, jika ada perlu panggil saja saya di dapur!” lanjut wanita tua berbadan gemuk itu.


“Te-terima kasih Mbok!” sahut Lembah Manah melihat banyak makanan di mejanya. “Ini sudah cukup kok!”


Segera saja pemuda itu melahap habis beberapa makanan, maklum saja, beberapa hari ini Lembah Manah hanya makan seadanya tanpa merasa kenyang.

__ADS_1


“Makanan ini enak sekali!” seru Lembah Manah sesaat setelah meminum teh, hingga terdengar suara ‘ah’ dari mulutnya dan meletakkan bumbung bambu lalu menatap ke arah Mbok Damari. “Ayo Mbok, ikut makan sini?”


Mbok Damari hanya memandang pemuda di hadapannya itu dan berkata, “simbok sudah makan kok tu—!”


“Panggil saja saya Lembah Manah!” sahut Lembah Manah memotong perkataan Mbok Damari.


Selang beberapa waktu, Puspa Ayu kembali ke tempat dimana gadis itu meninggalkan Lembah Manah bersama seorang pria yang kira-kira berusia lima puluh tahunan, dengan memakai jubah berwarna putih yang bergambar tombak pada bagian punggungnya.


“Ayo makan Puspa Ayu, ini enak seka—!”


Perkataan Lembah Manah terhenti ketika melihat seorang pria di belakang Puspa Ayu yang baru saja datang. Wajah pemuda itu tampak merah menahan malu, karena menurutnya pria di belakang Puspa Ayu adalah seorang yang berwibawa.


“Lembah Manah memberi hormat!” seru pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan menyilangkan tangan kanan di depan dada dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“Oh, jadi ini pendekar yang bernama Lembah Manah itu!” sahut pria yang memakai jubah bergambar tombak putih itu. “Terima kasih anak muda, kau telah menyelamatkan putriku dari Durgabahu!”


Lembah Manah tercengang mendengar perkataan ayah Puspa Ayu. Pemuda itu menatap Puspa Ayu, lalu menatap pria berjubah  putih, lalu kembali menatap Puspa Ayu dengan menunjuk tangan kanannya dan berkata, “jadi kau ini—!”


“Maafkan saya, saya tidak tahu kalau—!”


“Tenang saja Lembah Manah, lanjutkan saja makanmu!” sahut Ki Jaladara memotong perkataan Lembah Manah.


Akhirnya, Jaladara dan Puspa Ayu ikut bergabung dengan Lembah Manah untuk menikmati makan sore. Sembari menyantap hidangan buatan Mbok Damari, mereka saling bercerita, dari asal-usul Lembah Manah, hingga kemana arah tujuan pemuda itu.


Jaladara juga mempersilakan Lembah Manah untuk tinggal beberapa hari lagi sebelum melanjutkan perjalanannya. Menurutnya, untuk menuju pusat kerajaan, masih melewati banyak desa kecil lainnya.


Seminggu sudah berlalu setelah Lembah Manah keluar dari Lorong Alam Lelembut. Jika ingin mengikuti pertandingan, pemuda itu hanya memiliki waktu tiga minggu lagi untuk sampai ke pusat kerajaan.


Tanpa terasa, hari menjelang petang, Lembah Manah diantar menuju pondokannya oleh Mbok Damari.


“Jika tuan pendekar membutuhkan sesuatu, panggil saja Simbok di dapur!” seru Mbok Damari seraya meninggalkan Lembah Manah dari kamar khusus tamu.

__ADS_1


“Terima kasih Mbok!” sahut Lembah Manah membungkukkan badannya. “Emm, panggil saja Lembah Manah ya Mbok, hehehe!”


Mbok Damari berlalu meninggalkan Lembah Manah dalam kamarnya.


Malam harinya, Lembah Manah keluar dari kamar dan hendak berjalan-jalan keliling sekitar perguruan. Ketika sampai di pelataran halaman, Puspa Ayu mengagetkan pemuda itu dari belakang.


“Hei! Sendirian saja!” seru Puspa Ayu menepuk pundak Lembah Manah, yang membuat pemuda itu menoleh ke belakang ke arah gadis itu. “Bolehkah aku menemanimu?”


“Silakan tuan putri!” sahut Lembah Manah dengan seutas senyum di bibirnya.


Mereka berdua duduk pada sebuah gubuk yang memang disediakan untuk tempat beristirahat atau sekadar mencari angin. Dengan diterangi obor pada kedua tiang di kanan dan kiri penyangga gubuk, mereka saling bercengkerama menikmati indahnya bulan purnama.


Banyak yang mereka bicarakan tentang urusan pribadi mereka. Tentang Lembah Manah yang dikeluarkan dari perguruan, sampai pemuda itu terdampar di Perguruan Tombak Putih ini. Namun, pemuda itu masih menyembunyikan tentang Ki Gendon dan Naga Maruta.


Puspa Ayu hanya mendengar cerita Lembah Manah, sepertinya gadis itu semakin tertarik dengan pemuda yang telah menyelamatkannya itu.


Kini giliran Puspa Ayu bercerita kepada Lembah Manah, gadis itu menceritakan bahwa, salah seorang murid ada yang menaruh hati padanya. Puspa Ayu tak pernah menyukai pemuda itu, karena sikapnya yang arogan, selalu menggunakan kekuatannya untuk menindas murid lainnya.


“Dia adalah salah satu pemuda yang aku tampar tadi siang!” seru Puspa Ayu sembari mendekatkan duduknya pada Lembah Manah. “Namanya Panji Giri, salah satu tetua di perguruan ini!”


Pada satu kesempatan tiba-tiba Puspa Ayu mendekatkan wajahnya pada wajah Lembah Manah yang tengah memandangi bulan purnama. Ini pertama kalinya bagi Puspa Ayu, entah kenapa gadis itu merasa ada gejolak di dalam dirinya, Puspa Ayu ingin menahannya, tetapi hatinya tidak.


Menyadari tak ada perkataan dari gadis di sebelahnya, Lembah Manah menoleh ke arah Puspa Ayu dan alangkah terkejutnya pemuda itu. Puspa Ayu memejamkan matanya dan wajahnya semakin dekat ke wajah Lembah Manah.


“Hei! Apa yang kau lakukan Puspa Ayu!” seru Lembah Manah bergeser menjauhi Puspa Ayu dan menahan wajah gadis itu dengan tangan kanannya.


Puspa Ayu membuka matanya sembari tersenyum, wajahnya merah merona menahan malu. Jika siang hari, mungkin saja wajah gadis itu akan tampak jelas, tetapi karena malam dan hanya diterangi obor, jadi tak terlalu terlihat.


“Aku ingin membelai wajahmu Lembah!” sahut Puspa Ayu tersenyum tanpa menutupi niatnya.


“Ahh, pamali!” ucap Lembah Manah dan hendak beranjak dari duduknya untuk menuju kamarnya. “Sebaiknya kau juga istirahat, emm, ini sudah larut malam!”

__ADS_1


__ADS_2