
“Menyerahlah! Kalian sudah terkepung!” seru salah satu pendekar aliran hitam bawahan Badraya sembari memutar-mutarkan pedangnya.
“Tidak semudah itu!” sahut Kadaka menyapu pandangannya ke arah pintu samping pagar luar pendopo dan tersenyum.
Kadaka dan rombongannya mulai terpojok dan hampir dilumpuhkan oleh para anggota Kelompok Kalajengking Merah. Namun, rombongan Soka dan Soma datang tepat waktu, mereka berhasil membalikkan keadaan dan unggul dalam jumlah.
Belum juga menyerah, Kelompok Kalajengking Merah menambah kekuatan dari para pendekar aliran hitam lainnya yang datang dari belakang pendopo. Pertarungan kembali terjadi di dalam kompleks pendopo desa.
Banyak dari kedua belah pihak yang menjadi korban, entah tewas, atau terluka karena tebasan pedang. Masih belum terlihat siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan itu, mengingat kedua kubu masih sama kuatnya dalam bertahan maupun menyerang.
Beberapa waktu berlalu, kelompok Pendekar Tali Putih telah datang dan segera menyergap dari serambi belakang pendopo desa.
“Paman Janabadra!” teriak Kadaka yang disambut dengan senyuman rombongannya.
Mereka menyatukan kekuatan dan berhasil mengepung para pendekar aliran hitam bawahan Badraya tepat di tengah-tengah bangunan pendopo desa. Satu per satu para anggota Kelompok Kalajengking Merah itu menjatuhkan senjata mereka dan berlutut menyerah.
Di luar pelataran pendopo desa, pertarungan sengit masih terjadi antara Lembah Manah dan Badraya. Terlihat Badraya menebaskan pedangnya secara membabi buta dengan mengeluarkan cahaya kuning dari setiap tebasannya.
Kali ini Badraya mencoba peruntungan dengan melesat ke atap bangunan pendopo desa. Pria itu berkali-kali menebaskan pedangnya ke arah Lembah Manah yang melesat berpindah-pindah tempat untuk mengacaukan konsentrasi Badraya.
Semakin gencar Badraya menyerang Lembah Manah, semakin menurun pula stamina pria itu. Tidak ada satu serangan yang berhasil mengenai tubuh Lembah Manah, pemuda itu bergerak berpindah tempat hingga yang terlihat hanya sekelebat cahaya hitam saja.
Serangan Badraya menghancurkan tembok-tembok pagar pendopo, atap pendopo bahkan hampir mengenai rombongan Kadaka di dalam pendopo desa.
“Kurang ajar!” geram Badraya mendongakkan kepalanya. “Bertarunglah secara jantan!”
“Baiklah! Jika itu maumu!” Lembah Manah datang dengan cepat, mendaratkan satu pukulan pada perut Badraya, lalu menjauh ke atap pendopo untuk mengambil ancang-ancang dan bersiap melancarkan serangan berikutnya.
__ADS_1
Badraya semakin terpojok karena serangan tak terduga dari Lembah Manah. Pemuda itu datang lagi dari sudut lain dan melepaskan tendangan tepat mengenai wajah Badraya, lalu melesat ke atap bangunan pendopo dan kembali menyerang Badraya.
Dan mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada bagian dada kiri Badraya. Badraya terhuyung ke belakang dan menopang tubuh dengan pedangnya. Darah menetes dari sudut bibirnya, lalu diusap dengan tangan kiri pria itu.
“Apakah kau mau menyerah!” Tanpa menunggu jawaban dari Badraya Lembah Manah datang dari arah depan dan lagi-lagi mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat mengenai dagu lawannya itu.
Badraya terlempar beberapa langkah ke belakang, pedang terlepas dari genggamannya dan tubuhnya berhenti melayang setelah menabrak salah satu sudut tembok pendopo desa. Tubuhnya masih bergerak, tetapi napasnya sedikit berat, sepertinya Badraya pingsan.
“Seharusnya kau pantas mendapatkan yang lebih dari ini!” seru Lembah Manah.
Namun, tanpa ada yang menduga dan tidak ada yang mengira, Lesmana berlari ke arah Badraya dan menusuk pria yang telah membunuh ayahnya itu dengan pedangnya.
“Apa yang kau lakukan, Lesmana!” seru Lembah Manah dengan wajah penuh kekecewaan. “Dia sudah tak berdaya, kenapa kau membunuhnya?”
“Dia pantas mendapatkannya!” sahut Lesmana menatap wajah Badraya dengan perasaan lega.
“Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah!” Lembah Manah memegang pundak Lesmana dari belakang. “Jika ada yang tidak terima dengan kematian Badraya, mereka akan balas dendam kepadamu!”
“Dan jika saja kau tewas karena dibunuh oleh orang yang tidak terima karena kematian Badraya, mungkin Samaruti juga tidak terima dengan kematianmu!” Lembah Manah memegang kedua pundak Lesmana dari depan dan dipandangnya wajah pemuda itu. “Lalu Samaruti akan membalas dendam pada orang yang membunuhmu!”
“Itu akan menjadi siklus berantai yang tidak akan ada habisnya!” tutup Lembah Manah.
Lembah Manah meninggalkan Lesmana dan meminta para murid Perguruan Tombak Putih untuk menggiring Kelompok Kalajengking Merah ke ruang tahanan yang terletak di belakang rumah tugas Eyang Kabalani.
Tak lama berselang, mereka telah sampai pada sebuah bangunan dengan jeruji besi pada bagian depannya. Yang membuat mereka terkejut adalah, para pejabat dan petinggi desa ditahan di dalam ruang tahanan itu.
“Ketua Kadaka!” Salah satu murid menghadap Kadaka. “Para petinggi desa ditahan di ruang belakang. Apa yang harus kita lakukan?”
__ADS_1
“Apa! Segera bebaskan mereka!” sahut Kadaka dan mengajak Lembah Manah menuju ruang belakang.
Kadaka meminta salah satu anggota Kalajengking Merah untuk memberikan kunci ruang tahanan itu. Dilihat dari tubuhnya yang tegap, sepertinya pria dengan kumis itu salah satu tangan kanan Badraya.
Awalnya, salah satu anggota kelompok itu enggan untuk memberikan kunci ruang tahanan. Namun, setelah dipaksa dengan sedikit ancaman nakal, pada akhirnya salah satu anggota kelompok itu menyerahkan sebuah kunci dari saku bajunya bagian dalam.
Kini, para petinggi desa yang mendekam di dalam ruang tahanan dikeluarkan dari tempat itu. Dan berganti dengan para anggota Kelompok Kalajengking Merah yang memasuki ruang tahanan itu.
“Sebaiknya kita memakamkan Badraya dengan layak dan membersihkan seluruh area pendopo ini!” seru Lembah Manah yang disetujui oleh semua yang berada di tempat itu.
Mereka bekerja sama menyingkirkan puing pendopo dan tembok pagar yang hancur akibat serangan Badraya.
***
Keesokan harinya, Pendopo Desa Tambak telah kembali seperti semula. Tampak para petinggi desa telah bekerja diikuti para abdi dalem yang menjalankan tugasnya.
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Lesmana?” seru Kadaka yang duduk melingkar bersama Samaruti dan Lembah Manah di sebuah paseban tak jauh dari pendopo desa.
“Aku akan kembali ke Perguruan Mawar Merah bersama kakang Samaruti!” jawab Lesmana mengepalkan tangan kananya. “Aku yakin, Perguruan Mawar Merah akan bangkit dan menyangga keamanan Kadipaten Kabaman bersama Perguruan Tombak Putih!”
Sontak perkataan Lesmana membuat Samaruti, Kadaka dan Lembah Manah melemparkan senyum dari wajahnya. Sepertinya pemuda itu banyak belajar dari kejadian pahit yang menimpanya.
“Dan kau Lembah Manah, apakah masih ingin mengikuti pertandingan di kerajaan?” Kadaka menoleh ke arah Lembah Manah.
“Tentu saja. Meski langkahku pelan, tetapi aku tidak akan berhenti!” sahut Lembah Manah.
“Tempat kami akan selalu terbuka untukmu, Lembah Manah!” Lesmana memegang pundak Lembah Manah. “Kami sangat berterima kasih atas bantuanmu!”
__ADS_1
“Baiklah, sepertinya aku harus melanjutkan perjalananku!” Lembah Manah beranjak dari duduknya. “Jaga diri kalian baik-baik!”
Lembah Manah melesat, melompat ke atap pendopo dan menghilang di telan rimbunnya pohon beringin samping rumah tugas pemimpin desa. Pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat kerajaan dan berharap tidak terlambat dalam mengikuti pertandingan.