KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Rencana


__ADS_3

Pria memakai ikat kepala berwarna putih itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu duduk di samping Ki Jaladara. Namun, Ki Jaladara mengerutkan keningnya ketika menatap Lembah Manah yang tengah asyik memilah jubah Kalajengking Merah.


“Kalau boleh tahu, untuk apa jubah-jubah ini nak Lembah?” seru Ki Jaladara.


Lembah Manah menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Ki Jaladara, lalu berkata, “ini adalah cara kita membasmi Kalajengking Merah!”


“Apa!”


Semua terkejut mendengar jawaban Lembah Manah yang keluar begitu saja dari mulutnya tanpa halangan apa pun.


“Bagaimana mungkin!” sahut Kadaka.


“Ya, kita akan memakai jubah ini!” Lembah Manah mengangkat salah satu jubah Kalajengking Merah dengan tangan kanannya. “Lalu kita menyusup memasuki Pendopo Desa Tambak. Dan sepertinya saudara sekalian pasti sudah tahu yang saya maksud!”


“Apakah kita akan menyamar sebagai anggota Kalajengking Merah!” sahut Janabadra membelalakkan matanya.


“Tepat sekali, paman!” Lembah Manah mengacungkan jempol kirinya ke arah Janabadra.


“Aku tak menyangka, saudara Lembah Manah begitu rapi dalam menyusun rencana!” Ki Jaladara memuji Lembah Manah sembari mengelus jenggot dengan tangan kanannya.


“Guru terlalu memuji!” sahut Lembah Manah merendahkan diri.


Begitulah pembicaraan sore itu untuk merencanakan penyerangan ke Desa Tambak. Dengan cara menyamar sebagai anggota Kelompok Kalajengking Merah, mereka akan langsung memasuki pendopo dan meringkus Badraya.


***


Keesokan harinya, semua berkumpul di pelataran halaman perguruan. Mereka semua hendak melakukan penyerangan ke Pendopo Desa Tambak. Ki Jaladara kembali menyampaikan rencana yang sudah diputuskan kemarin sore.


“Kadaka dan Lembah Manah!” seru Ki Jaladara yang disambut oleh kedua pemuda itu dengan menyilangkan tangan kanan di depan dada lalu membungkukkan badannya. “Kalian bersama Lesmana dan Samaruti, bawalah lima murid untuk menyerang serambi paling depan!”


“Baik guru!” sahut Kadaka dan Lembah manah bersamaan.


“Soka! Pimpinlah lima murid di serambi kiri!” ucap Ki Jaladara yang dijawab dengan anggukan kepala Soka. “Soma! Kau pimpin lima murid di serambi kanan!”

__ADS_1


Soma hanya menjawab dengan tangan kanan yang disilangkan di depan dadanya lalu membungkukkan badannya.


“Lalu kau Janabadra! Pimpin kelompokmu, untuk menyergap serambi belakang!” lanjut Ki Jaladara.


“Baik, Ki!” sahut Janabadra membungkukkan badannya.


Mereka bergerak ke barat menuju Desa Tambak dengan menggunakan jubah Perguruan Kalajengking Merah. Agar tak dicurigai oleh sesama anggota kelompok, mereka menggunakan cadar dan caping penutup kepala.


Rombongan Kadaka bergerak lebih dahulu, selang satu jam kemudian disusul oleh rombongan Soka. Lalu satu jam setelah rombongan Soka berangkat, disusul rombongan Soma. Dan terakhir setelah rombongan Soma berangkat, selisih satu jam kemudian rombongan Tali Putih bergerak. Mereka bergerak dengan selisih satu jam dari setiap rombongan.


Hingga sampai di perbatasan desa, rombongan pertama dihadang oleh petugas penjaga gerbang. Namun, hanya dengan melihat jubahnya saja, rombongan pertama diizinkan memasuki Desa Tambak. Tak lupa memberitahu penjaga itu, bahwa kurang lebih ada tiga rombongan lagi di belakang mereka.


Para penjaga gerbang tak menyadari jika rombongan pendekar aliran putih telah memasuki wilayahnya. Berkat ide penyamaran Lembah Manah, dengan mudah mereka melewati perbatasan desa.


Memasuki pendopo desa, Lembah Manah berinisiatif untuk membuka pembicaraan dengan Badraya. Meski banyak anggota Kelompok Kalajengking Merah berada di pendopo desa, tetapi pemuda itu memberanikan diri melancarkan rencananya.


“Lapor ketua!” ucap Lembah Manah membungkukkan badannya. “Sisi timur desa telah kami kuasai bersama tiga rombongan yang lain. Sebentar lagi kita memasuki wilayah Desa Gembong!”


“Tugas kalian selanjutnya adalah!” ucap Badraya sembari mengetukkan kuku telunjuk kanan pada singgasananya. “Ambil upeti dari tiap kepala desa, jika ada yang melawan, bunuh!”


“Siap laksanakan!” sahut Lembah Manah yang masih memakai caping penutup kepala dan cadar sembari berjalan membelakangi Badraya di singgasananya.


Namun, tiba-tiba Lembah Manah berbalik badan, diikuti Kadaka yang mengerti maksud pemuda di sampingnya itu.


“Kau tahu apa yang aku pikirkan Kadaka!” seru Lembah Manah menoleh pada Kadaka yang dijawab dengan anggukan kepala oleh pemuda di samping kirinya itu.


Menyadari ada yang aneh dengan beberapa anggota di depannya, Badraya bersiaga untuk menghadapi hal yang tak diinginkan. Tidak biasanya para bawahan mereka mengenakan cadar, bahkan caping penutup kepala.


Benar saja, Lembah Manah melepas caping penutup kepala dan melesat ke arah Badraya dengan melepaskan satu pukulan tangan kanan meraih wajah Badraya.


Badraya menahan tangan Lembah Manah dan melemparkan tubuh pemuda itu hingga menghantam soko guru pendopo desa.


Sementara itu, Kadaka, Lesmana, Samaruti dan lima murid perguruan menghadapi pendekar bawahan Badraya dan Kelompok Kalajengking Merah.

__ADS_1


Lembah Manah melesat keluar dari pendopo dan menuju pelataran halaman. Badraya tak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja, dengan jurus meringankan tubuhnya, pria itu berhasil menghadang Lembah Manah.


Lembah Manah sengaja membawa Badraya keluar pendopo, agar bisa bertarung dengan leluasa tanpa menimbulkan kerusakan. Perlahan Lembah Manah melepas cadar yang menutupi wajah dan hidungnya.


“Beraninya kau menentang diriku!” seru Badraya sesaat setelah berhasil menyusul Lembah Manah. “Siapa kalian sebenarnya?”


“Meski aku memberitahumu, emm, kau juga tak akan mengerti siapa diriku, hahaha!” sahut Lembah Manah memancing emosi Badraya.


“Kurang ajar!”


Badraya melesat ke arah Lembah Manah dengan pukulan tangan kanan yang mengandung tenaga dalam. Lembah Manah hanya bergeser beberapa langkah ke kiri dan meraih tangan Badraya.


Namun, Badraya berhasil terlepas dari cengkeraman Lembah Manah dan salto ke belakang untuk menjauh dari pemuda itu. Badraya kaget untuk sesaat, melihat serangannya dengan mudah dihalau oleh Lembah Manah.


Cukup lama mereka berdua bertarung, saling bertukar jurus, beradu pukulan dan tendangan. Meski telah mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja Badraya tak dapat melukai Lembah Manah, bahkan menyentuh helai rambut pun tidak mampu.


Pada satu kesempatan, Badraya berhasil memperlebar jarak dengan Lembah Manah. Pria itu menarik pedang dari sarungnya yang diikatkan pada punggungnya. Satu tebasan mengarah Lembah Manah, diikuti cahaya kuning melesat cepat.


“Tamatlah riwayatmu!” seru Badraya merasa serangannya akan berhasil melumpuhkan pemuda di depannya.


Lembah Manah melesat untuk menyambut serangan Badraya dengan menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya, dan sedikit membungkukkan badan. Tubuh pemuda itu bercahaya hitam, menandakan telah membuka Gerbang Kegelapan.


WUSH


Dua jurus beradu menimbulkan gelombang bertekanan rendah yang mengakibatkan asap debu mengepul ke atas. Kerikil di sekitar mereka berdua terangkat dan terlempar beberapa langkah.


“Apa! Bagaimana mung—!”


Perkataan Badraya terhenti, melihat kecepatan Lembah Manah dan terlambat untuk menghindar. Lembah Manah masih melesat, mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada bahu kiri Badraya.


Badraya terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan seteguk darah.


Sementara itu di dalam pendopo, rombongan Kadaka kesulitan menghadapi kelompok Kalajengking Merah yang ilmu kanuragannya di atas mereka. Dan yang jelas karena mereka kalah jumlah dari para pendekar aliran hitam itu.

__ADS_1


__ADS_2