KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Jurang


__ADS_3

Rumah Lembah Manah berada di ujung timur desa dan berada di dekat sungai. Di belakang rumahnya, ada kebun cabai yang tidak begitu luas, tetapi jika sekali panen, hasilnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan Lembah Manah dan ibunya.


Sedangkan ayah Lembah Manah telah meninggal ketika banjir melanda desa, saat itu Lembah Manah berusia lima tahun. Selain tanaman cabai, Lembah Manah juga memelihara beberapa ekor kambing yang jika ada kebutuhan mendadak, ternak itu bisa dijual.


Selesai memetik cabai, Lembah Manah hendak mencari rumput di sekitar tepian hutan, sudah lama sejak dihukum di perguruan, pemuda itu tak lagi merawat ternak peliharaannya. Kini Lembah Manah telah mengasah sabitnya hingga tajam.


“Ibu, emm, Lembah Manah pergi dulu mencari rumput di dekat hutan,” ucap Lembah Manah sesaat setelah menyelesaikan sarapannya.


“Hutan mana Lembah?” tanya ibunya keheranan.


“Emm, itu hutan yang dekat Jurang Pengarip-Arip,” jawab Lembah Manah keluar dari pintu belakang.


“Oh ya, hati-hati Le,” tutup Purwandari.


Lembah Manah berlalu membawa keranjang rumput dan tentu saja sabit miliknya yang sudah sangat tajam. Pemuda itu melangkah dengan bersiul sepanjang jalan, sembari menikmati udara yang sejuk karena di sepanjang perjalanan menuju hutan, tumbuh pohon-pohon besar di kanan dan kirinya.


“Wah sudah dekat nih,” gumamnya lirih.


Tak menunggu lama, Lembah Manah mencari rumput dengan menebas-nebaskan sabitnya. Pelan tapi pasti, keranjang rumput mulai terisi beraneka jenis rumput.


Namun, saat meraih rumput di tepi Jurang Pengarip-Arip, pemuda itu hilang keseimbangan lalu terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang yang tak terlihat dasarnya.


“Aahhkk, guru Gendon!” teriaknya saat terjatuh.


Lembah Manah jatuh terlentang menuju dasar jurang, tetapi ketika melayang, pemuda itu mencoba mengaktivasi tenaga dalamnya hingga tingkat Madyo tahap akhir dan meringankan tubuhnya.


KRAK


Terdengar suara seperti ranting yang patah, dan ternyata itu adalah suara tulang belakang milik Lembah Manah.


Meski telah meringankan tubuhnya, tetapi Lembah Manah tetap merasakan efek saat mendarat di dasar jurang.


“Kenapa kau memanggilku, Lembah!” seru Ki Gendon sesaat setelah menyaksikan Lembah Manah mendarat di dasar jurang dan terlentang tak berdaya.


“Emm, guru terlambat. Aku hampir mati!” gerutunya.

__ADS_1


“Hahaha. Lha kamu masih hidup toh!” kilah Ki Gendon tertawa melihat Lembah Manah meringis kesakitan.


“Guru, sepertinya tulang belakangku patah, meski aku sudah meringankan tubuh, tapi efeknya sangat sakit guru!” ucap Lembah Manah dengan nada kesakitan.


Ki Gendon hanya tertawa mendengar erangan Lembah Manah.


“Kenapa guru malah tertawa, aduh!” seru Lembah Manah kesakitan.


Dengan perlahan, Ki Gendon menjelaskan kepada Lembah Manah. Menurutnya, itu bukan tulang patah, melainkan terbukanya titik pusat tenaga dalam yang kedua. Tubuh Lembah Manah sangat istimewa, karena punya dua titik pusat tenaga dalam.


Yang pertama dan sudah diaktifkan oleh Lembah Manah, letaknya di tulang belakang bagian bawah. Dan kini tanpa sengaja saat Lembah Manah terjatuh, titik pusat tenaga dalam yang kedua telah terbuka, letaknya di tulang belakang bagian atas. Tinggal Lembah Manah bisa apa tidak untuk mengaktivasinya.


“Apa! Apakah ini benar!” lirih Lembah Manah kebingungan mendengar penjelasan Ki Gendon.


Pemuda itu hanya terdiam, masih mencerna setiap perkataan dari gurunya. Suasana di dasar jurang sangat hening, hanya terdengar suara air yang menetes melalui dinding jurang dan jatuh di genangan kecil.


“Lalu bagaimana mengaktivasi titik pusat tenaga dalam yang kedua milikku guru?” tanya Lembah Manah memecah keheningan.


“Sama seperti kau mengaktivasi titik pusat tenaga dalam yang pertama, lalu salurkan ke titik pusat tenaga dalam yang kedua,” ucap Ki Gendon menjelaskan.


“Begitu juga sebaliknya, jika kau hanya ingin mengaktivasi titik pusat yang pertama, tinggal kau alirkan udara bersih dari otak menuju tulang belakang bagian bawah tanpa melewati tulang belakang bagian atas!” tambahnya.


“Dan apabila kau ingin mengaktivasi keduanya, kau bebas memilih keduanya, mengalirkan udara dari otak ke titik pusat yang kau inginkan!” jelas Ki Gendon mengelus jenggotnya. “Apa kau mengerti Lembah?”


“Woy, bocah gendeng!” geram Ki Gendon menatap Lembah Manah. “Diberi arahan malah tidur!”


Lembah Manah sedikit terlelap, tetapi telinganya masih mendengar apa yang dijelaskan oleh Ki Gendon.


“Anu, maaf guru, hehehe!” jawabnya.


“Ona anu ona anu, dasar bocah gendeng!” gerutu Ki Gendon sembari memukul kepala Lembah Manah.


“Wek, tidak kena!”


“Sekarang coba kau aktivasi kedua pusat tenaga dalammu!” perintah Ki Gendon.

__ADS_1


“Baik guru!”


Lembah Manah mengikuti arahan dari Ki Gendon sesuai dengan apa yang diucapkan. Pemuda itu berusaha bangkit dari posisinya saat jatuh terlentang, mencoba duduk bersila dengan mata tertutup di depan gurunya. Lalu mengaktivasi kedua titik pusat tenaga dalam secara bersamaan.


“Guru, emm aku merasakan tubuhku hangat, pendengaranku semakin tajam!” ucap Lembah Manah yang masih memejamkan matanya.


“Emm, anu guru, penglihatanku sepertinya juga semakin tajam!” tambahnya sembari membuka matanya perlahan.


“Bagus Lembah, kau cepat mengerti dan kau memang anak yang pintar,” puji sang guru. “Sekarang coba kau lemparkan tenaga dalam pada kedua tanganmu dengan sekuat tenaga!”


Kembali Lembah Manah menuruti perintah sang guru. Dengan posisi masih duduk bersila, pemuda itu mengarahkan pukulannya ke sebuah batu besar yang jaraknya sekitar sepuluh langkah darinya.


Sekelebat cahaya berwarna biru keluar dari tangannya dan menghantam batu besar itu, hingga batu itu hancur menjadi serpihan kecil.


“Emm apa aku tak salah lihat guru!” seru Lembah Manah membelalakkan matanya.


“Tidak Lembah, itu adalah hasil menggabungkan dua titik pusat yang ada di dalam tubuhmu!” Ki Gendon menjelaskan.


Lembah Manah mengangguk tanda mengerti apa yang diucapkan Ki Gendon. Namun, satu masalah lagi yang masih hinggap di kepalanya. Ya, pemuda itu tidak tahu bagaimana caranya keluar dari dalam jurang ini.


“Guru, emm, bagaimana caranya Lembah keluar dari jurang ini guru?” tanya Lembah Manah mengurut keningnya.


“Aku sendiri juga tidak begitu paham dengan jurang ini Lembah!” sahut Ki Gendon menoleh sekeliling dasar jurang. “Tapi sepertinya aku pernah mendengar, jika ingin keluar dari tempat ini, harus melewati sebuah lorong yang berisi berbagai macam lelembut!”


“Apa, lorong alam lelembut!” sahut Lembah Manah menelan ludah.


“Ya benar, lorong alam lelembut adalah sebuah lorong yang mempunyai lima alam di dalamnya!” ucap Ki Gendon menjelaskan. “Dan di setiap lorong, ada makhluk penunggunya!”


“Lalu di mana letak lorong itu guru, emm, aku tak melihatnya!” Lembah Manah menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri di sekitar dasar jurang.


“Terlebih dahulu kau harus mengalahkan makhluk yang sebentar lagi akan datang!” tutup Ki Gendon.


Belum selesai Ki Gendon berbicara tentang makhluk yang sebentar lagi akan datang, tiba-tiba angin berembus kencang, rumput-rumput di sekitar jurang tersingkap tak kuat menahan desakan angin itu.


"Ada apa ini guru!" ucap Lembah Manah seraya membungkukkan badannya.

__ADS_1


__ADS_2