
Hadyan terlempar beberapa langkah ke belakang dan jatuh telentang dengan mulut mengeluarkan darah. Hadyan tak bergerak, napasnya terhenti dengan mata terbelalak.
“Rawa Rontek!”
Wanapati terlambat mendekati Hadyan, karena jeda yang terlalu lama, hingga pemuda berambut putih itu kembali bangkit dari kematiannya.
“Sial! Aku terlambat beberapa saat saja!” umpat Wanapati menggaruk kepalanya dan menoleh ke arah Lembah Manah. “Hehehe, maafkan aku!”
Wanapati mundur dan menjauh dari tubuh Hadyan, lagi-lagi semua tertegun dengan jurus aneh milik pemuda berambut putih itu, yang membuatnya bisa hidup kembali.
“Tinju Delapan Mata Angin!”
Tiba-tiba, Nata melesat ke arah Hadyan yang baru saja bangkit dari kematiannya yang sekejap. Nata mengaktifkan jurus istimewanya untuk menyerang Hadyan.
Dengan kecepatan pukulan di aras rata-rata, Nata menghajar habis tubuh Hadyan, hingga seluruh titik meridian pria berambut putih itu hancur. Dan satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, Nata daratkan pada dagu Hadyan dengan kekuatan penuh, seperti mendorong beban berat di hadapannya.
Hadyan terlempar beberapa langkah ke belakang dan tubuhnya terhenti melayang setelah menghantam pohon besar.
Hadyan terdiam, tubuhnya tidak bergerak, tidak ada darah yang keluar dari tubuh Hadyan. Namun, tentu saja organ dalamnya hancur karena jurus milik Nata.
Nata mundur beberapa langkah, dengan napas terengah-engah berharap Hadyan tak lagi bangkit dari kematiannya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima!” Lembah Manah menghitung jeda waktu, seberapa lama Hadyan bangkit kembali.
“Rawa Rontek!”
Teriak Hadyan kembali bangkit dari kematiannya yang sesaat. Dan lagi-lagi membuat semua yang ada di kediaman kepala desa tertegun akan jurus aneh itu.
“Sial! Aku terlambat lagi!” umpat Wanapati yang hendak mendekat ke tubuh Hadyan dengan niat mengikat pria berambut putih itu. “Ini terlalu cepat, aku kesulitan untuk mendekat. Ahh, sial!”
“Jadi lima detik!” lirih Lembah Manah tersenyum dan menoleh ke arah Wanapati yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Ingat! Kau memiliki jeda waktu di bawah lima detik!"
Lembah Manah menggunakan Bola Alam Semesta yang telah dicengkeramaya dengan tangan kanan. Lalu kembali mengalirkan energi alam pada kedua kakinya. Pemuda itu melesat cepat ke arah Hadyan dengan memanfaatkan tanah sebagai pijakan.
__ADS_1
Lembah Manah mendaratkan energi bola bening sebesar buah jeruk itu tepat pada perut Hadyan. Namun, pemuda berambut putih itu hanya tersenyum menyepelekan Lembah Manah. Lalu dengan cepat Lembah Manah kembali mendaratkan satu pukulan lagi dengan telapak tangan terbuka tepat mengenai bagian jantung Hadyan.
Hadyan terlempar beberapa langkah ke belakang dan menghantam pohon besar di belakangnya. Tak ingin mengulangi kesalahannya, dengan cepat Wanapati melesat ke arah Hadyan, dan mengikat leher pemuda berambut putih itu.
Wanapati melemparkan tali ke atas, tali itu melompati bagian dahan yang besar dan menangkap ujung tali yang dilemparnya melewati dahan besar tersebut.
“Nata! Bisa bantu aku!” pinta Wanapati kepada Nata yang berdiri di samping Ki Rogojambang.
Menyadari hal itu, tak hanya Nata, Ki Rogojambang, Bergas Lukito dan beberapa murid lainnya membantu Wanapati menarik tali kekang Hadyan dan membuat pemuda berambut putih itu menggantung pada pohon besar.
“Tamatlah riwayatmu! Penganut jurus aneh!” umpat Wanapati memaki Hadyan.
Tubuh Hadyan tak bergerak, darah keluar dari mulutnya. Napas pemuda berambut putih itu juga terhenti, sepertinya Hadyan benar-benar tewas dengan mata terbelalak.
Menyadari rekannya telah tewas, Kagendra meraih putri kepala desa dan mengancam mereka semua.
“Serahkan Kitab Bunga! Atau gadis ini akan mati!” seru Kagendra dengan nada berat dan pelan.
Ki Rogojambang tertegun sejenak. Di satu sisi, beliau tidak ingin kehilangan Kitab Bunga, tetapi di sisi lain, keselamatan putri kepala desa tengah terancam. Mau tak mau, Ki Rogojambang memberikan kitab itu kepada Kagendra.
“Baiklah! Akan aku serahkan Kitab Bunga. Sebagai gantinya, lepaskan gadis itu!” pinta Ki Rogojambang pada Kagendra yang tengah menggendong putri kepala desa di pundak kirinya.
Ki Rogojambang meraih saku bajunya bagian dalam secara perlahan dan hendak memberikan kitab itu. Semua merasa tegang atas tindakan Ki Rogojambang.
“Jangan, Ki!” seru Nata.
“Aku mohon, jangan Ki!” timpal Wanapati.
“Guru—!” Bergas Lukito tertunduk dan tak mampu melanjutkan perkataannya.
Namun, sesaat sebelum Ki Rogojambang meletakkan Kitab Bunga ke tanah. Tiba-tiba Lembah Manah melesat ke arah Kagendra, berniat untuk merebut anak kepala desa dari gendongan Kagendra yang juga hendak meletakkan tubuh gadis itu ke permukaan tanah.
Kagendra yang telah memperhatikan gerakan Lembah Manah, bisa menebak kemana pemuda itu melesat. Tubuh Kagendra sengaja terhuyung ke belakang, pada saat itu juga pria itu menghindari sergapan Lembah Manah.
__ADS_1
“Apa! Bagaimana mungkin dia bisa menghindari gerakanku!” lirih Lembah Manah sesaat setelah mendaratkan kakinya.
“Jangan coba-coba mengingkari kesepakatan, anak muda!” geram Kagendra dengan suaranya yang terdengar berat. “Aku peringatkan kalian jangan melawan! Cepat serahkan Kitab Bunga!”
Kembali Kagendra meminta Ki Rogojambang untuk melakukan pertukaran. Keduanya berjalan ke tengah pelataran halaman rumah kepala desa. Kagendra meletakkan putri kepala desa pada hamparan tanah, begitu juga Ki Rogojambang yang menyerahkan Kitab Bunga.
Pertukaran pun terjadi, Ki Rogojambang mendapatkan putri kepala desa, dan Kagendra mendapat Kitab Bunga. Tanpa penyesalan Ki Rogojambang melepas salah satu kitab pusaka itu.
“Aku juga tak ingin melakukan tugas bodoh ini!” seru Kagendra menunjuk ke arah jasad Hadyan. “Aku hanya mendampingi bedebah itu, atas perintah Ki Badra!”
“Satu lagi! Aku menyekap gadis yang kuculik di gua pesisir pantai utara desa ini—Gua Sriti!”
Setelah mengucapkan itu, Kagendra pergi dari kediaman kepala desa dengan membawa Kitab Bunga ditangan kanannya.
Kepala desa meraih putrinya dari gendongan Ki Rogojambang, sepertinya kesedihannya telah berlalu karena seutas senyum tersungging di wajahnya.
Setelah hari beranjak siang, Ki Prono meminta kepada para pendekar untuk memasuki aula pertemuan. Ki Prono meminta maaf atas jatuhnya Kitab Bunga kepada Kagendra, dan juga berterima kasih karena teror hilangnya para gadis telah berlalu. Dan sepertinya, jasad Hadyan akan dibiarkan menggantung pada pohon di dekat kediamannya.
“Ki, sepertinya tugas kami juga telah selesai. Untuk masalah para gadis yang ditawan, kami serahkan kepada Saudara Bergas!” ucap Wanapati. “Untuk itu, kami mohon pamit!”
“Apa tidak ingin tinggal lebih lama lagi di desa kami?” sahut Ki Prono.
“Kami sangat berterima kasih kepada kalian!” seru Ki Rogojambang. “Untuk Kitab Bunga, biarkan perguruan yang mengurusnya!”
Wanapati juga menyampaikan informasi kepada Ki Rogojambang. Pada saat Pertandingan Besar nanti, seluruh perguruan dari Kerajaan Sokapura akan mengirim telik sandi untuk mengantisipasi pergerakan Ki Badra.
“Jadi begitu! Aku akan membicarakan hal ini bersama empat pimpinan perguruan dari Kerajaan Tanjung Pura!” sahut Ki Rogojambang menganggukkan kepalanya.
Meski sepertinya sulit untuk menyatukan keempat perguruan di Kerajaan Tanjung Pura, tetapi Ki Rogojambang akan mencobanya, mengingat ini adalah masalah seluruh Negeri Yava.
Sore hari rombongan Lembah Manah berpamitan dan hendak pulang ke perguruan. Mereka mendapat beberapa keping koin emas sebagai ucapan terima kasih dari Ki Prono.
Mereka bertiga bergerak ke timur menyusuri pesisir pantai utara Desa Sumber Agung. Butuh sekitar sepuluh hari untuk sampai kembali ke perguruan mereka.
__ADS_1