KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Mendapat Kemenangan


__ADS_3

Jayadipa dan Wanapati kembali ke bangku peserta, sedangkan Patih Ragas memberitahu aturan pertandingan pada Lembah Manah, karena sedari awal, pemuda itu tak berada di arena. Setelah itu Lembah Manah bersiap menghadapi Suropati yang telah berdiri di hadapannya.


Penonton berteriak dan bertepuk tangan menyambut kedatangan Lembah Manah, diikuti Raja Brahma yang juga terlarut dalam keramaian penonton.


“Maaf kalau membuatmu terlalu lama menunggu!” seru Lembah Manah membungkukkan badannya memberi hormat pada Suropati.


“Mulai!” teriak Patih Ragas.


Tak lupa mereka berdua membungkuk pada sang raja.


Lembah Manah mengambil kuda-kuda, mengepalkan tangan kanannya ke depan bersiap menghadapi serangan Suropati. Dan benar saja, Suropati melesat ke arah Lembah Manah dengan pukulan tangan kanannya yang telah dialiri tenaga dalam.


Lembah Manah menghindar dengan mudah, hanya bergeser selangkah ke kanan sembari meraih tangan kanan Suropati lalu mencoba membanting tubuh Suropati salto ke depan.


Namun, Suropati mendaratkan kaki kirinya dan langsung melancarkan tendangan dengan kaki kanannya. Lembah Manah menghindar mundur beberapa langkah dan mengambil kuda-kuda.


Penonton berteriak dan bertepuk tangan melihat pertarungan terakhir yang tak kalah menegangkan.


“Suropati, kamu pasti menang,” teriak salah satu penonton yang selalu rajin berkomentar.


“Bagaimana mungkin Lembah Manah memiliki ilmu kanuragan tingkat Andhap tahap menengah!” seru Wanapati kepada Jayadipa.


“Aku juga tak menyangka, anak itu mengaktivasi ilmu kanuragannya!” balas Jayadipa sembari tersenyum.


Lembah Manah sengaja menekan ilmu kanuragannya pada tingkat Andhap tahap menengah, agar sama dengan tingkatan ilmu kanuragan Suropati.


Suropati kembali melesat ke arah Lembah Manah dan melancarkan pukulan dengan kedua tangannya, bergantian kanan dan kiri. Lembah Manah menangkisnya juga dengan kedua tangannya sembari melangkah mundur pelan.


Suropati melompat salto ke belakang untuk merencanakan serangan selanjutnya.


Mereka terdiam beberapa saat, saling berpandangan dalam jarak sepuluh langkah. Suropati mengeluarkan senjatanya berupa tongkat, sementara Lembah Manah masih saja dengan tangan kosong.


Suropati maju menebaskan tongkatnya dengan gerakan dari atas ke bawah seakan membelah tubuh Lembah Manah. Lagi-lagi Lembah Manah hanya bergeser ke kanan dan meraih tongkat Suropati, lalu menghempaskan tubuh Suropati bersamaan dengan tongkatnya.


Suropati jatuh berguling beberapa meter, tetapi pemuda itu langsung berdiri menguasai tubuhnya dan mulai menggunakan jurusnya.


“Tongkat Kidang Kencana!”


Suropati menebaskan tongkatnya mendatar dari kanan ke kiri, yang diikuti dengan cahaya putih terang melesat ke arah Lembah Manah. Tak ingin kalah, Lembah Manah mengalirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.

__ADS_1


“Pukulan Tapak Harimau!”


Lembah Manah mengarahkan telapak tangan kanannya ke depan, diikuti dengan meluncurnya cahaya biru ke arah Suropati.


DYAR


Terjadi ledakan setelah kedua tenaga dalam itu bertabrakan yang menimbulkan getaran di sekitar arena pertarungan dan membuat penonton bersorak-sorai. Raja pun juga ikut bertepuk tangan dan menganggukkan kepalanya.


“Jurus apa itu!” seru salah satu penonton yang selalu berkomentar.


“Efek ledakannya luar biasa!” sahut penonton yang lainnya.


“Apa! Pukulan Tapak Harimau!” ucap Ki Sabdo Bujono yang duduk bersama Barani dan Rahmawati.


“Memang kenapa guru dengan Pukulan Tapak Harimau?” tanya Barani pada gurunya.


“Jurus itu sudah lama menghilang dan hanya satu pemiliknya, yaitu Ki Gendon yang mungkin guru dari pemuda itu!” jawab Ki Sabdo Bujono.


Asap masih mengepul efek dari kedua serangan yang beradu. Lembah Manah masih berdiri dengan memasang kuda-kuda. Sedangkan Suropati memegangi tongkat dengan kedua tangannya.


“Aku tak percaya, Lembah Manah bisa mengaktivasi ilmu kanuragannya!” lirih Wanapati berbicara sendiri.


Suropati bersiap untuk serangan selanjutnya, sementara Lembah Manah hanya bersiap memasang kuda-kuda tanpa menyerang terlebih dulu.


“Silakan!” balas Lembah Manah dengan tenang.


“Ajian Kidang Sewu!”


Suropati menebaskan tongkatnya dari atas ke bawah, seakan membelah sesuatu di depannya, diikuti cahaya berbentuk seribu tongkat melesat ke arah Lembah Manah.


Dengan cepat Lembah Manah menaikkan aktivasi ilmu kanuragannya satu tingkat menjadi tingkat Andhap tahap akhir. Pemuda itu mengalirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.


“Pukulan Tapak Harimau!”


Lembah Manah melepaskan cahaya biru di tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka. Cahaya biru itu melesat bertabrakan dengan cahaya seribu tongkat milik Suropati.


DYAR


Ledakan yang kedua lebih keras dari sebelumnya, hingga menimbulkan getaran dan asap yang mengepul karena debu di sekitar arena pertarungan. Namun, cahaya biru milik Lembah Manah tetap melesat setelah cahaya seribu tongkat milik Suropati lenyap.

__ADS_1


Cahaya biru itu mengenai tubuh Suropati yang membuatnya terlempar beberapa langkah dan keluar dari arena pertarungan.


“Siapa yang menang, aku tidak bisa melihat, asap ini terlalu tebal,” ucap salah satu penonton.


“Ayo Suropati kamu pasti menang,” teriak penonton yang lainnya.


“Tamat sudah kau, Suropati!” ucap Ki Sabdo Bujono yang tetap bisa melihat meski arena diselimuti asap debu tebal.


“Apa!” sahut Barani dan Rahmawati bersamaan.


Sesaat setelah asap menghilang, Lembah Manah tampak masih berdiri tegak. Sementara Suropati jatuh telentang dengan darah keluar dari mulutnya.


“Pemenangnya Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas yang diikuti tepuk tangan dan teriakan dari penonton yang sangat menikmati pertandingan terakhir pada putaran pertama.


Lembah Manah membungkukkan badannya ke arah raja, lalu ke arah penonton dengan berputar empat arah. Sedangkan Suropati mendapat perawatan dari beberapa prajurit yang berada di tepi arena.


“Kau hebat Lembah!” ucap Jayadipa sembari menepuk pundak Lembah Manah yang telah duduk di sampingnya.


“Emm, terima kasih Jayadipa,” jawab Lembah Manah singkat.


Mereka bertiga tertawa merayakan kemenangan Lembah Manah. Entah kenapa Lembah Manah langsung bergabung dengan rombongan Wanapati, mungkin saja tidak ada orang lain yang dikenalnya selain hanya mereka berdua.


Patih Ragas mengumumkan jika putaran kedua akan diadakan besok pagi, karena hari ini putaran pertama telah selesai.


“Para hadirin yang terhormat, putaran kedua atau delapan besar, akan diadakan besok pagi, mengingat putaran pertama telah selesai. Terima kasih,” ucap Patih Ragas menutup putaran pertama.


Penonton membubarkan diri setelah putaran pertama usai, perlahan dengan rapi mereka meninggalkan arena pertarungan diikuti para peserta pertandingan yang kembali ke penginapannya.


Raja Brahma juga turun dari singgasananya dan hendak menuju istana diikuti para petinggi kerajaan.


Namun, berbeda dengan Lembah Manah, Wanapati dan Jayadipa yang masih terduduk di bangku peserta, mereka terlihat asyik melepas rindu yang sesekali diselingi tawa dan canda.


“Emm, aku tak melihat Ni Luh. Kemana dia? Apakah tidak mengikuti pertandingan ini?” tanya Lembah Manah kepada dua temannya.


Namun, Lembah Manah tak langsung mendapat jawaban dari dua temannya itu. Wanapati dan Jayadipa terdiam menundukkan kepalanya, seperti tak berani menjawab pertanyaan Lembah Manah.


“Kok, malah pada diam. Emm, apa hanya kalian berdua yang mewakili perguruan?” lanjut Lembah Manah bertanya lagi penuh kecurigaan.


“Begini Lembah!” sahut Jayadipa menghela napas. “Ni Luh terkena racun dari lawannya saat pertarungan pertama!”

__ADS_1


“Apa!” teriak Lembah Manah membelalakkan matanya. “Lalu, dimana Ni Luh sekarang?”


“Ni Luh berada di kamar perawatan!” tutup Jayadipa.


__ADS_2