KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Cambuk Api (5)


__ADS_3

Sejenak para pendekar itu mencerna perkataan Lembah Manah. Ini bukanlah ucapan seorang pemuda yang berusia tujuh belas tahun, tetapi ini lebih mirip dengan sebuah nasihat dari seorang sesepuh.


Meski Lembah Manah masih muda, tetapi dengan pengalaman yang dia dapat dari perjalanannya, pikirannya selalu terbuka dan tidak mengambil keputusan hanya dari melihat satu sisi saja. Pemuda itu banyak belajar dan mengambil hikmah dari setiap perjalanannya.


Tak membutuhkan waktu yang lama, rombongan Kartala telah sampai pada pelataran halaman Joglo Kadipaten. Meski dijaga ketat oleh beberapa bawahan Lokadenta, tetapi mereka berhasil melumpuhkannya tanpa kesulitan.


“Lokadenta!” teriak salah satu pendekar aliran putih yang membawa pedang. “Menyerahlah! Tempat ini sudah dikepung!”


Tampak Lokadenta menyambut kedatangan para pendekar aliran putih itu. Dengan cambuk pusaka ditangan kanannya, pria berkepala plontos itu berdiri membusungkan dadanya.


“Berani sekali kalian menentangku!” sahut Lokadenta. “Apa kalian mau mengantarkan nyawa, hahaha!”


Sementara itu, rombongan Darma Jaya juga telah memasuki pelataran halaman Joglo Kadipaten. Dengan membawa pendekar aliran putih yang tersisa, pria itu yakin dapat menghentikan Lokadenta.


“Ohh, rupanya kau berpihak pada mereka!” seru Lokadenta melihat kedatangan Darma Jaya dan bergabung dengan Kartala dan Lembah Manah.


“Kurang ajar!” Darma Jaya melesat ke arah Lokadenta dengan menebaskan pedangnya untuk memberikan serangan kejutan.


Namun, serangan Darma Jaya dapat dihindari Lokadenta hanya dengan menggeser tubuhnya ke kiri.


Pertarungan tak terhindarkan, para bawahan Lokadenta melawan para pendekar aliran putih. Diawali dengan Darma Jaya yang menyerang Lokadenta dengan beberapa jurusnya.


Meski Pedang Sabayu milik Darma Jaya merupakan jurus level menengah, tetapi setiap serangannya mengandung tenaga dalam yang besar.


Melihat Darma Jaya menyerang, Lembah Manah segera bergeser ke samping kanan untuk melayani beberapa bawahan Lokadenta. Tubuh pemuda itu mulai diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam, yang menandakan telah membuka Gerbang Kehidupan.


Lembah Manah melesat secara zig-zag, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam saja. Setiap lawan yang dilewati pemuda itu, selalu berteriak kesakitan karena menderita cedera patah tulang yang sedikit parah.


Dalam waktu beberapa detik saja, pemuda itu telah melumpuhkan lima bawahan Lokadenta. Namun, tanpa mereka sadari, para pendekar aliran hitam yang memegang beberapa wilayah kadipaten, datang membantu Lokadenta.


Semula hanya Karang Wilis dari wilayah utara—Bunga Merah yang datang membantu Lokadenta. Namun, tak lama berselang, Brajah Geni dari wilayah barat dan Sayekti dari wilayah selatan turut membantu Joglo Kadipaten yang tengah diserang.

__ADS_1


“Rupanya kalian telah datang!” seru Lokadenta melihat kedatangan para bawahannya.


Sementara itu, Kartala bergeser ke kiri untuk melawan pendekar aliran hitam yang bergabung dengan Lokadenta. Brajah Geni yang baru saja datang, turut melawan pria tua pemabuk itu. Sedangkan Karang Wilis dan Sayekti, melawan para pendekar aliran putih.


“Aku ingin mencoba kehebatan Pemabuk Dari Gua Lawa!” seru Brajah Geni yang tengah bersiap menghadapi Kartala. “Apakah bisa menghindar dari Tinju Api milikku!”


Brajah Geni meninju ke arah depan dengan tangan kanannya, diikuti bola api sebesar kepalan tangan melesat ke arah Kartala. Bola api itu mengandung energi tenaga dalam yang sangat panas.


Namun, pria pemabuk itu mudah saja menghindar dengan melompat dan berguling ke samping. Belum juga berdiri dengan sempurna, Brajah Geni telah menghujani Kartala dengan beberapa bola api yang melesat cepat.


Tanpa kesulitan, Kartala masih bisa menghindari setiap lesatan bola api Brajah Geni yang malah mengenai rerumputan dan membuatnya terbakar. Kartala memperlebar jarak dengan salto ke belakang.


Kartala menenggak kendi labu dari pinggangnya dan mengambil kuda-kuda sempoyongan khas jurus mabuk. Dengan cepat Kartala melesat ke arah Brajah Geni, jurusnya tak terduga dan tak bisa ditebak yang membuat lawannya kesulitan menghindar.


“Apa! Jurus Mabuk!” Brajah Geni terperanjat melihat serangan Kartala.


“Apa kau terkejut, ha!” Kartala terus menyerang dengan tinjunya.


Kembali Brajah Geni terhuyung ke belakang, tetapi pria itu sengaja untuk memperlebar jarak dan kembali mengambil kuda-kuda. Kedua tangannya bergantian meninju ke arah Kartala, diikuti puluhan bola-bola api melesat ke arah pria pemabuk itu.


Semula, Kartala mampu menghindar dengan gerakan sempoyongan khas jurus mabuk. Namun, sebelum bola api terakhir dihindari Kartala, Brajah Geni telah mengeluarkan satu bola api lagi yang melesat lebih cepat dari sebelumnya.


Kartala terkena satu hantaman bola api pada bagian dada kirinya. Pria tua itu terhuyung ke belakang, tetapi masih bisa menguasai tubuhnya dengan gerakan sempoyongan.


Beberapa tegukan arak membuat pria tua itu kembali bangkit, Kartala melesat ke arah Brajah Geni. Kali ini tak hanya menggunakan pukulan, beberapa tendangan juga melayang ke wajah lawannya.


Brajah Geni semakin terpojok hingga menerima satu tendangan pada perutnya yang membuat pria itu jatuh berguling dan menyemburkan darah dari mulutnya.


Sementara itu, Lembah Manah telah melumpuhkan puluhan bawahan Lokadenta dan pendekar aliran hitam. Pemuda itu menyerang, lalu menjauh dari hadapan lawan-lawannya, lalu datang kembali dengan serangan kejutan.


Luka yang ditimbulkan juga hanya melumpuhkan lawannya, tak sampai membunuh mereka. Teriakan demi teriakan kesakitan menurunkan mental lawannya, itu adalah salah satu strategi Lembah Manah.

__ADS_1


“Apa! Cepat sekali!” seru salah satu bawahan Lokadenta.


“Tidak mungkin! Aku hanya melihat sekelebat cahaya berwarna hi—aahhkk!”


Ucapan pendekar aliran hitam itu terhenti dan berganti dengan teriakan kesakitan, ketika merasakan pergelangan tangan kirinya patah. Ya, Lembah Manah melakukan itu dengan cepat, membuat mental lawan terganggu kemudian datang untuk melumpuhkannya.


Di kubu Lokadenta, Karang Wilis dan Sayekti tampak dengan mudah melumpuhkan para pendekar dari aliran putih. Dengan goloknya, Karang Wilis membuat luka mengerikan pada tubuh lawannya.


Sedangkan Sayekti menggunakan pedang untuk melumpuhkan pendekar aliran putih.


“Kalian tak akan mungkin menang melawanku, hahaha!” Karang Wilis membusungkan dadanya sesaat setelah menebas salah satu pendekar aliran putih dengan goloknya.


Kedua pria bersenjata itu semakin membabi-buta melumpuhkan para pendekar aliran putih. Pada satu kesempatan, Karang Wilis hampir memenggal kepala seorang pendekar aliran putih, tetapi pendekar itu masih selamat ketika Lembah Manah menyerobot tubuhnya.


“Terima kasih, pendekar!” seru pendekar aliran putih itu yang diselamatkan Lembah Manah.


“Lawanmu adalah aku!” Lembah Manah memasang kuda-kuda dan bersiap menghadapi Karang Wilis.


Karang Wilis menebaskan goloknya ke arah Lembah Manah, mengincar kepala pemuda itu. Meskipun terlihat berat, tetapi Karang Wilis tak masalah mengayunkan golok besar miliknya. Dengan dialiri tenaga dalam membuat serangannya semakin cepat.


Hampir saja kepala Lembah Manah terkena tebasan Karang Wilis, jika tidak menghindar ke belakang. Dengan gerakan cepat, Lembah Manah melesat ke arah Karang Wilis, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam meraih tubuh Karang Wilis.


Satu serangan mendadak membuat Karang Wilis terkejut, pria itu tak mampu menghindar ketika sebuah pukulan mendarat di wajahnya hingga terhuyung ke belakang.


Lembah Manah menjauh dari hadapan Karang Wilis, pemuda itu memanfaatkan kerumunan pertarungan pendekar yang lainnya untuk bersembunyi.


Bahkan, pemuda itu sempat memberi serangan kepada salah satu pendekar aliran hitam yang tengah bertarung dengan pendekar aliran putih, lalu pemuda itu kembali muncul di belakang Karang Wilis.


“Aku di belakangmu!” seru Lembah Manah hingga Karang Wilis menoleh ke arah pemuda itu.


Lembah Manah mendaratkan satu tendangan yang membuat hidung Karang Wilis mengeluarkan darah.

__ADS_1


“Kurang ajar!” umpat Karang Wilis menyadari Lembah Manah kembali lenyap dari hadapannya.


__ADS_2