
Mereka saling berkenalan satu sama lain dan semakin akrab dengan tertawa bersama mendengar gurauan hangat sebelum pertarungan. Kecuali Ni Luh yang mukanya memerah, dalam hatinya dia ingin sekali menjitak kepala Lembah Manah.
“Hadirin sekalian, selamat datang kembali di pertandingan pendekar muda. Terima kasih atas antusias dari Anda menyaksikan pertarungan demi pertarungan. Sebentar lagi babak empat besar akan segera dimulai!” seru Patih Ragas memusatkan perhatian.
“Panitia akan mengacak empat peserta yang lolos. Dan peserta yang dipanggil, harap menuju arena, terima kasih!” lanjut patih berbadan kekar itu.
Ketika perkataan Patih Ragas terhenti para penonton saling bertepuk tangan dan saling bersorak. Patih Ragas berjalan menuju pihak panitia yang tengah mengacak undian peserta. Tak berselang lama, dia kembali ke tengah arena setelah mengetahui hasil dari undian tersebut.
“Pertarungan pertama babak empat besar, Giandra dari Perguruan Bambu Wulung melawan Wanapati dari Perguruan Jiwa Suci!” seru Patih Ragas yang diiringi tepuk tangan dan teriakan penonton.
Mendengar namanya dipanggil, Giandra langsung menuju arena pertarungan diiringi teriakan dari penonton yang mendukungnya. Terlihat Gantala memberi dukungan kepada temannya itu.
“Semoga kamu menang Wanapati,” seru Jayadipa dari tempat duduknya.
Ni Luh juga memberi dukungan kepada Wanapati ketika hendak berjalan maju ke depan menuju arena pertarungan.
“Serang lengan kanannya bagian dalam!” ucap Lembah Manah yang melihat tubuh Giandra.
Giandra dan Wanapati membungkukkan badannya memberi hormat Raja Brahma, lalu mereka berdua saling hormat satu sama lain.
“Mulai!” seru Patih Ragas memberi aba-aba.
Mengingat perkataan Lembah Manah, Wanapati maju terlebih dahulu mencoba meraih lengan kanan Giandra. Giandra pun menyadari, pemuda berbadan kekar itu sedikit terkejut karena tiba-tiba Wanapati menyerang titik lemahnya. Giandra mundur beberapa langkah dan mencabut pedang dari sarangnya.
Tak mau kalah, Wanapati juga mengambil kapaknya yang disisipkan pada pinggang kirinya. Wanapati maju menebaskan kapaknya dari atas ke bawah mengarah wajah Giandra, tetapi Giandra dengan mudah menangkis dengan pedangnya walaupun menggunakan satu tangannya.
Bagaimana pun juga, aktivasi kanuragan mereka selisih satu tingkat. Jika Giandra berada pada tingkat Madyo tahap awal, sedangkan Wanapati hanya berada pada tingkat Andhap tahap akhir. Jadi perbedaannya sangat terlihat jelas, mengingat Giandra memiliki tenaga dalam yang besar.
Namun, Wanapati tak juga menyerah, kembali pemuda itu maju mengarahkan kapaknya untuk menyerang bagian perut Giandra. Meski lengan kirinya masih terasa sakit apabila menggerakkan tangannya, tetapi Wanapati tetap menyerang Giandra.
Lagi-lagi Giandra menangkis dengan pedangnya. Cukup lama mereka beradu senjata, pedang dan kapak yang menimbulkan percikan api saat bersinggungan.
__ADS_1
Wanapati terhuyung ke belakang beberapa langkah saat hendak meraih lengan kanan Giandra bagian dalam. Pemuda itu terkena pukulan tangan kiri Giandra tepat di dada kanannya. Tak menunggu lama lagi, seakan ingin mengakhiri pertarungan, Wanapati mulai menggunakan jurusnya sesaat setelah mengambil kuda-kuda.
“Kapak Pembelah Langit!”
Wanapati menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri yang diikuti dengan keluarnya cahaya berwarna kuning melesat cepat ke arah Giandra. Giandra hanya menangkis dengan tangan kirinya yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hitam.
“Apa! Kuat sekali orang ini!” ucap Wanapati terkejut.
Giandra melesat ke arah Wanapati dan menebaskan pedangnya dari kanan ke kiri. Wanapati masih bisa menangkis tebasan Giandra, tetapi tubuh beserta kapaknya terlempar beberapa langkah, efek dari tebasan yang menggunakan kekuatan penuh.
Wanapati bangkit kembali dan langsung melesat ke arah Giandra, pemuda itu berhasil meraih dan mendarat tepat di belakang kepala Giandra.
Dengan kaki yang menjepit kepala Giandra, Wanapati berhasil mencengkeram lengan kanan Giandra. Giandra sedikit terhuyung ke belakang, pemuda kekar itu mengibaskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan tujuan agar Wanapati terjatuh, tetapi tetap saja Wanapati masih mencengkeram lengan Giandra dengan erat.
Penonton dibuat kagum dengan kehebatan Wanapati. Sebelumnya belum pernah ada yang membuat Giandra kesulitan seperti saat ini.
Pada pertarungan sebelumnya, Giandra mengalahkan musuhnya dengan mudah, tetapi kali ini melawan Wanapati, pemuda berbadan kekar itu mendapat kesulitan.
“Ayo Giandra, kamu harus sampai final!” teriak salah satu penonton.
“Aku tak pernah melihat Giandra sampai kesulitan seperti ini!” seru Gantala berkata pada Ki Pethuk Cemeng.
Raja Brahma terlihat berdiri dari singgasananya dan memfokuskan pandangan pada kedua peserta yang tengah saling mengunci.
Giandra terhuyung ke belakang dan mendekati garis pembatas arena pertarungan. Saat selangkah sebelum garis pembatas arena, Giandra mengeluarkan jurusnya.
Pemuda berbadan kekar itu melapisi tubuhnya dengan aliran petir yang membuat Wanapati seperti tersengat listrik tegangan tinggi dan melepaskan cengkeramannya dari lengan kanan Giandra.
Wanapati terjatuh dan keluar arena pertarungan, pemuda itu tak berdaya setelah menerima sengatan petir dari tubuh Giandra. Giandra masih berdiri dan melangkah ke tengah arena sembari menghilangkan energi petir dari tubuhnya.
“Pemenangnya Giandra dari Perguruan Bambu Wulung!” teriak Patih Ragas yang diikuti dengan tepuk tangan dan teriakan para penonton.
__ADS_1
Raja Brahma terlihat bertepuk tangan sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Apa! Jurus petir!” seru Lembah Manah terkejut melihat kemampuan Giandra.
Giandra membungkukkan badan memberi hormat kepada Raja Brahma dan kembali ke tempat duduknya dengan melambaikan tangan ke arah penonton.
Sedangkan Wanapati telentang tak berdaya ditandu ke kamar perawatan oleh beberapa prajurit yang bersiap di tepi arena pertarungan.
“Pertarungan kedua babak empat besar, Gadis Bercadar melawan Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan dari para penonton.
Lembah Manah sedikit curiga, setiap Patih Ragas menyebut nama Gadis Bercadar, tak disertai dengan asal perguruan atau desanya. Namun, tentu saja pemuda itu tak memedulikan lawannya dan menuju arena pertarungan diiringi tepuk tangan dan teriakan dari penonton.
“Kamu pasti menang Lembah!” seru Jayadipa memberi dukungan kepada temannya.
“Jangan sampai terkena pisau beracunnya, Lembah!” sahut Ni Luh mengingatkan Lembah Manah.
Kedua peserta membungkukkan badan pada Raja Brahma, lalu saling hormat satu sama lain.
“Mulai!” seru Patih Ragas.
Lembah Manah mengambil kuda-kuda dengan tangan kosong untuk antisipasi serangan mendadak dari Wulan. Pemuda itu juga menekan aktivasi kanuragannya pada tingkat Andhap tahap menengah.
Wulan mengeluarkan kipas bajanya dan bersiap menyerang Lembah Manah, gadis bercadar itu melesat cepat ke arah Lembah Manah dengan mengarahkan kipasnya pada perut lawannya.
Lembah Manah bergeser ke kiri dan meraih tangan kanan Wulan lalu menghempaskannya ke lantai arena, Wulan hanya berguling dan kembali berdiri.
Lembah Manah kembali bersiap menerima serangan Wulan sembari mengamati pola serangan Wulan, lalu mengatur strategi untuk menyerang.
Kembali Wulan melesat, tetapi beberapa jengkal sebelum kipasnya mendarat pada perut Lembah Manah, gadis bercadar itu melemparkan sebuah pisau beracun dari saku lengan baju tangan kirinya untuk mengincar lengan kanan Lembah Manah.
Itu adalah salah satu strategi Wulan, kipas baja yang digenggam di tangan kanannya hanya untuk pengalihan saja. Sementara dirinya mengeluarkan satu pisau lagi dari tangan kirinya.
__ADS_1