KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Lorong (8)


__ADS_3

Lembah Manah perlahan bangkit dengan napas terengah-engah. Buto Ijo masih berdiri dengan senyum sinis memandangi tubuh lawannya yang mulai kepayahan.


“Gerbang Kehidupan, terbukalah!” teriak Lembah Manah yang membuka gerbang kedua dengan aktivasi kanuragan tingkat Madyo tahap akhir.


Kini seluruh tubuh Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Buto Ijo tak mau kalah, makhluk itu melapisi tubuhnya dengan cairan berwarna hijau yang perlahan keluar dari pori-pori tiap bagian tubuhnya.


Lembah Manah melesat cepat ke arah Buto Ijo, pemuda itu menghujani beberapa pukulan pada bagian perut Buto Ijo. Namun, makhluk itu sengaja memasang badan, agar menerima serangan Lembah Manah, tanpa menghindar sedikit pun.


Dan lagi-lagi, tubuh Buto Ijo tidak terluka sedikit pun, tubuhnya tampak baik-baik saja, walaupun telah dihujani banyak pukulan oleh Lembah Manah. Makhluk itu tersenyum sinis pada Lembah Manah yang mulai kehabisan tenaga.


Tak ada pilihan lain, lagi-lagi Lembah Manah menoleh ke arah Ki Gendon yang berada di bawah pohon besar, tampaknya pemuda itu kembali meminta saran dari gurunya.


Ki Gendon yang mengerti maksud Lembah Manah, segera melesat mendekati muridnya dan berbisik, “udah ngopi belum?”


“Guru! Ini bukan waktunya bercanda!” protes Lembah Manah menggelengkan kepalanya.


“Baiklah, serang tengkuk lehernya bagian belakang, tepat pada batu hijau yang mengkilap!” ucap Ki Gendon serius.


Lembah Manah menganggukkan kepala dan mempunyai rencana. Pemuda itu mencoba untuk melesat cepat mengitari Buto Ijo untuk membuyarkan konsentrasi makhluk hijau tersebut.


Buto Ijo mulai kebingungan menebak arah serangan Lembah Manah. Beberapa kali makhluk hijau itu mencoba mendeteksi gerakan Lembah Manah, tetapi itu tak bisa dilakukan karena gerakan lawannya yang begitu cepat.


Pada satu kesempatan, Buto Ijo lengah, sementara posisi Lembah Manah tepat di belakang makhluk besar itu. Saat itu pula Lembah Manah mengarahkan satu pukulan tepat di tengkuk leher Buto Ijo dengan tenaga dalam berwarna hitam yang mengalir di tangannya.


BRAK!


Buto Ijo terhuyung ke depan, Lembah Manah semakin gencar melancarkan beberapa pukulannya dan satu serangan terakhir, Lembah Manah menggunakan siku bagian belakang tangan kanannya hingga membuat Buto Ijo mengeluarkan darah dari mulutnya.


Buto Ijo jatuh tengkurap dengan napas terengah-engah. Sementara Lembah Manah menurunkan aktivasi ilmu kanuragannya pada tingkat Andhap tahap awal diikuti aura tenaga dalam yang berwarna hitam itu menghilang dari tubuhnya.


“Ampun pendekar, aku mengaku kalah. Mohon ampuni aku!” seru Buto Ijo sembari menyatukan kedua telapak tangan di atas kepalanya, seakan meminta ampunan dari Lembah Manah.


“Aku akan mengampunimu, tapi tunjukkan jalan keluar dari lorong ini!” pinta Lembah Manah berjalan mendekati Buto Ijo.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan memberitahumu!” ucap Buto Ijo yang masih meringis kesakitan. “Arahkan tenaga dalammu pada batu hijau pada tengkuk leherku, nantinya pada pohon besar itu akan terbuka portal untuk keluar dari Lorong Kalimo ini!”


“Emm, baiklah, aku akan menuruti perintahmu!”


“Tapi tunggu dulu, pendekar. Kau harus tahu tentang satu hal ini!” sahut Buto Ijo menghentikan Lembah Manah yang bersiap mengarahkan tenaga dalamnya kepada tengkuk leher Buto Ijo.


Buto Ijo menjelaskan kepada Lembah Manah bahwa, setelah Lembah Manah berhasil menyerap batu berwarna hijau pada tengkuk leher Buto Ijo. Pemuda itu akan mewarisi kekuatan milik Buto Ijo.


Buto Ijo juga memberitahu Lembah Manah, jika batu itu adalah Batu Kecubung Hijau. Lembah Manah juga bisa melapisi tubuhnya dengan cairan berwarna hijau seperti yang dilakukan Buto Ijo.


“Itu tidak masalah, selama tidak menentang norma kebaikan!” tegas Lembah Manah.


“Dan satu lagi, pendekar. Kau bisa menggunakan jurus mabuk, meskipun kau tidak meminum arak terlebih dahulu!”


“Apa! Jurus mabuk!” Lembah Manah kaget.


“Ya, jurus mabuk empat tingkatan!” ucap Buto Ijo dengan napas terengah-engah.


“Tunggu, tunggu, bagaimana caraku untuk mengaktivasi dua jurus milikmu itu?” tanya Lembah Manah penasaran.


“Baiklah, terima kasih Buto Ijo!” tutup Lembah Manah.


Nawang dan Sati berlari menghampiri Lembah Manah, mereka tengah bersiap untuk keluar dari lorong alam yang kelima ini.


Lembah Manah mengarahkan tenaga dalamnya setelah Buto Ijo duduk bersila membelakanginya. Sesaat kemudian Batu Kecubung Hijau terserap oleh pemuda itu, diikuti dengan terbukanya portal pada sebuah batang pohon besar.


Sesaat setelah menyerap Batu Kecubung Hijau, seluruh tubuh Lembah Manah terasa panas, lagi-lagi persendian tulangnya seakan terlepas satu per satu. Namun, pemuda itu mampu menahan rasa sakit itu yang hanya berlangsung dalam dua puluh detik saja.


Tanpa mereka sadari, portal pintu keluar lorong alam ini terbuka. Nawang dan Sati yang sudah berdiri di depan portal itu segera menyadarkan Lembah Manah dari rasa sakitnya.


“Lembah! Ayo kita keluar!” seru Nawang melambaikan tangannya.


Mereka bertiga berdiri di depan portal dan terisap masuk portal tersebut.

__ADS_1


“Siapa namamu, pendekar?” ucap Buto Ijo sesaat sebelum tubuh Lembah Manah terisap sepenuhnya oleh portal itu.


“Namaku Lembah, Lembah Manah!” sahut pemuda itu dengan suara yang semakin lenyap karena masuk ke dalam portal pintu keluar.


Beberapa saat setelah keluar dari portal itu, tubuh mereka bertiga seolah terjatuh dari tempat yang agak tinggi.


“Ahh, syukurlah kita sudah keluar dari lorong aneh itu!” seru Lembah Manah menghela napas lega.


“Iya Lembah, ini semua berkat kau, aku sangat berterima kasih!” ucap Nawang tersenyum.


“Iya kak Lembah, terima kasih,” tambah Sati.


“Iya, iya, sudah sewajarnya kita saling membantu!” sahut Lembah Manah menolehkan kepala ke sekelilingnya. “Emm, aku masih bingung, kita berada dimana?”


Lembah Manah merasa kebingungan dengan tempat mereka keluar yang tampak asing baginya. Pemuda itu belum pernah melihat tempat itu sebelumnya, karena memang jarang keluar dari desanya.


“Emm, Nawang, Sati, apa kalian tahu tempat ini?” tanya Lembah Manah kebingungan.


“Coba lihat tulisan pada gapura itu kak,” jawab Sati menunjuk sebuah gapura di dekat mereka.


“Apa! Desa Kedhung Wuni. Emm, ini kan tempat tinggalku!” seru Lembah Manah kaget sembari memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Ternyata, mereka bertiga berada di bawah gapura masuk Desa Kedhung Wuni—tempat tinggal Lembah Manah berada yang berbatasan dengan Desa Lapan Aji, tempat tinggal Nawang.


Mereka berdua hanya tetangga desa, karena jarang keluar dari desa, jadi mereka tidak mengenal satu sama lainnya.


“Wah, berarti kita tetangga desa Lembah. Rumahku di Desa Lapan Aji!” sahut Nawang dan menoleh ke arah Sati. “Kalau rumah kamu mana Sati?”


“Rumahku di Desa Kedhung Kayang kak!” jawab Sati.


“Wah, kita juga tetangga desa Sati!” seru Nawang dengan memegangi kepala Sati.


Desa Kedhung Wuni terletak di ujung paling timur dari Kerajaan Sokapura. Dengan di kelilingi lautan di sebelah utara, timur dan selatan.

__ADS_1


Sedangkan Desa Lapan Aji berada di sebelah barat Desa Kedhung Wuni. Dan Desa Kedhung Kayang berada di sebelah utara Desa Lapan Aji.


__ADS_2