KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perampok (1)


__ADS_3

Lembah Manah teringat akan pesan Ki Tunggul kepada dirinya pada saat menimba ilmu di perguruan. Ekstrak penempaan tubuh bisa meningkatkan level kependekaran seseorang. Ekstrak penempaan tubuh itu bisa berupa sari buah, batu mulia, atau bahkan dibuat oleh tabib yang andal.


Tanpa berpikir panjang lagi, Lembah Manah mengambil batu mulia siluman itu.


“Kemana anak itu!” seru salah satu nelayan mengitari perahu Lembah Manah. “Apakah siluman ikan itu telah memakan anak itu?”


Berbagai pendapat mulai menghinggapi pikiran para nelayan itu. Mereka menganggap Lembah Manah telah ditelan oleh siluman ikan, atau mungkin tewas dan tenggelam di dasar danau.


Di saat para nelayan kebingungan, tiba-tiba Lembah Manah muncul ke permukaan dan meraih perahunya, diikuti air sekitarnya berwarna merah dan berbau amis. Melihat Lembah Manah selamat, semua merasa lega, terlebih lagi siluman ikan itu berhasil dikalahkan.


“Akhirnya! Selesai juga!” seru Lembah Manah duduk di perahunya.


“Hoi bocah! Aku akan mendayung perahumu ke dermaga!” sahut seorang nelayan melompat berpindah dari perahunya ke perahu Lembah Manah dan meraih dayung perahu itu.


“Syukurlah Lembah Manah berhasil mengalahkan siluman ikan itu!” lirih Sekar dari tepi danau.


Sesampainya di dermaga, Lembah Manah menyerahkan batu mulia siluman ikan pada kepala desa. Ki Daroyokso tak menyangka jika siluman ikan itu memiliki sebuah batu mulia yang mungkin baru pertama kali dilihatnya.


“Terima kasih nak Lembah!” seru Ki Daroyokso sembari tersenyum. “Berkat nak Lembah, para nelayan bisa tenang mencari ikan di Danau Wadas ini!”


“Sudah sewajarnya kita saling membantu, Ki!” sahut Lembah Manah membungkukkan badannya.


“Ambillah, ini untukmu nak Lembah!” Ki Daroyokso menyerahkan batu mulia siluman kepada Lembah Manah. “Benda ini tak berguna untukku, Nak Lembah!”


“Emm, baiklah, terima kasih, Ki!”


Sekar tampak senang melihat Lembah Manah kembali dengan selamat, sepertinya gadis itu selalu memperhatikan Lembah Manah sejak kedatangan pemuda itu di rumahnya.


“Maaf, Ki. Karena siluman ikan sudah bisa dikalahkan, emm, saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan!” seru Lembah Manah yang membuat Ki Daroyokso terkejut, tak terkecuali Sekar dan para nelayan lainnya.


“Nak Lembah! Ini sudah lewat dini hari!” ucap Ki Daroyokso mendekati Lembah Manah. “Apa tidak sebaiknya kembali dulu ke kediamanku. Lagi pula, pakaian nak Lembah basah kuyup begini. Takutnya nak Lembah nanti jatuh sakit!”


Lembah Manah terdiam menatap Ki Daroyokso dan para nelayan yang berharap dirinya tidak segera pergi. Dengan menganggukkan kepalanya Lembah Manah berkata, “kalau begitu, baiklah. Saya akan kembali ke kediaman Ki Daroyokso!”


Perkataan Lembah Manah membuat Ki Daroyokso dan para nelayan menjadi lega. Mereka tak ingin pahlawan mereka begitu cepat meninggalkan desa. Mereka ingin lebih dekat dengan Lembah Manah.

__ADS_1


Terutama Sekar, lagi-lagi gadis itu tak mengalihkan pandangannya dari Lembah Manah.


***


Keesokan paginya, Lembah Manah hendak berpamitan kepada Ki Daroyokso, tetapi Sekar mencegah niat pemuda itu. Sekar ingin Lembah Manah tinggal beberapa hari lagi di rumahnya.


“Kau ingin pergi kemana?” tanya Sekar yang duduk mendekati Lembah Manah.


“Aku harus pergi ke kerajaan, Sekar!” jawab Lembah Manah menggeser duduknya agar lebih jauh dari Sekar. “Aku ingin mengikuti pertandingan antar pendekar muda!”


“Ohh!” lirih Sekar.


Mendengar jawaban itu, Lembah Manah tahu jika Sekar tak ingin berpisah dengannya. Karena dilihat dari raut wajah Sekar, Lembah Manah juga bisa menebak, kalau gadis itu kecewa dengan keputusannya melanjutkan perjalanan.


“Kamu juga harus kembali ke Perguruan Pedang Putih, bukan!” ucap Lembah Manah memecah keheningan. “Jika waktu mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi!”


Ucapan Lembah Manah membuat Sekar tersenyum dan tanpa sadar tangan gadis itu menggenggam tangan kanan Lembah Manah. Namun, Lembah Manah segera melepaskan genggaman tangan Sekar dan mengalihkan pandangan ke arah yang lain.


Setelah berpamitan, Lembah Manah berjalan ke arah barat untuk menuju pusat kerajaan. Namun, pemuda itu harus melewati beberapa kadipaten-kadipaten kecil lainnya yang saling bersebelahan. Butuh waktu yang cukup lama bagi Lembah Manah untuk sampai tujuannya.


***


“Sebaiknya aku mencari kedai makan!” lirih Lembah Manah memegangi perutnya yang berbunyi.


Kedai Makan Simpang Tiga, Lembah Manah memasuki kedai makan itu. Meski tidak semewah dari beberapa kedai makan yang ada di sampingnya, tetapi terbilang cukup ramai karena terkenal masakannya yang enak. Tampak penuh sesak di dalam kedai makan yang berukuran sepuluh kali sepuluh meter itu.


“Paman!” seru Lembah Manah menghampiri pelayan kedai makan. “Aku mau pesan paket tumis kangkung dan teh manis!”


“Baiklah tuan muda!” sahut pelayan itu berlalu menuju dapur.


Segera saja pelayan kedai makan menyiapkan semua yang dipesan Lembah Manah. Meski semua meja telah penuh, Lembah Manah tidak kehabisan akal, pemuda itu duduk di lantai, tepat di pojok belakang meja.


Banyak yang tertawa kecil dan banyak pula yang mencibir, melihat Lembah Manah dengan lahap, menyerang habis pesanannya.


Hingga selesai melakukan ritualnya, pemuda itu bersendawa keras yang membuat gadis di sebelahnya merasa jijik.

__ADS_1


“Pemuda tampan, tetapi kelakuannya bikin orang hampir muntah!” lirih gadis di sebelah pemuda itu.


“Masakan ini sangat nikmat!” seru Lembah Manah memegangi perutnya yang kini membuncit.


Kali ini Lembah Manah tak perlu khawatir akan lapar dan mencari ikan di sungai. Karena, Ki Daroyokso telah memberinya beberapa keping koin emas sebagai ucapan terima kasih telah membasmi siluman ikan.


“Serahkan harta kalian!” teriak salah seorang membawa pedang diikuti beberapa orang lagi memasuki kedai makan itu mengancam para pengunjung.


Semua pengunjung tampak ketakutan mendengar peringatan salah satu perampok itu. Namun, berbeda dengan Lembah Manah, pemuda itu masih saja duduk di lantai sembari meneguk teh manis pesanannya yang belum habis.


Terlihat para pengunjung yang berada di dalam kedai makan menyerahkan barang berharga miliknya kepada salah satu perampok yang berdiri di depan meja kosong yang berfungsi sebagai tempat meletakkan rampokannya.


“Hoi kau yang duduk di lantai!” seru salah satu perampok itu mengarahkan pedangnya kepada Lembah Manah. “Cepat berdiri dan serahkan harta yang kau miliki!”


“Kalau aku tidak mau. Kalian mau apa!” sahut Lembah Manah dengan wajah datar.


“Kurang ajar!” geram perampok itu menebaskan pedangnya ke arah Lembah Manah.


Namun apa yang terjadi? Lembah Manah menahan tebasan perampok itu dengan gerakan cepat, hingga pedang perampok itu terlempar dari genggamannya.


“Sial!” umpat perampok itu yang tampaknya mulai ketakutan. “Jangan coba-coba melawanku!”


“Aku tidak melawan paman!” sahut Lembah Manah berdiri dari lantai. “Justru kalianlah yang membuat onar!”


Setelah berkata demikian, dengan gerakan cepat Lembah Manah meraih pergelangan tangan perampok yang pedangnya telah terlempar, lalu memuntir ke belakang dan membuat pergelangan tangan itu patah.


“Kembalikan apa yang sudah kalian rebut dari para pelanggan ini!” seru Lembah Manah mengunci tangan perampok itu yang meringis kesakitan.


Namun, perkataan pemuda itu tidak diindahkan oleh para perampok yang lainnya. Para perampok itu mungkin berjumlah sepuluh orang, bahkan lebih. Mereka menyerang Lembah Manah secara bersamaan.


Pada saat itu juga Lembah Manah menggunakan Ajian Tapak Harimau. Dengan gerakannya yang cepat, pemuda itu melumpuhkan para perampok dengan menyerang organ vitalnya tanpa membunuh para perampok itu.


Beberapa perampok berhasil dikalahkan Lembah Manah hanya dengan sekali serang saja. Namun, salah satu perampok berhasil meloloskan diri dan berlari keluar kedai makan meninggalkan kawanannya.


“Akan aku laporkan pada ketua!” teriak perampok yang lolos itu.

__ADS_1


__ADS_2