KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Diserang


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya ke pusat kadipaten, akhirnya Lembah Manah kembali ke perguruan dengan selamat. Pagi itu, tampak para murid tengah uji tanding di tengah pelataran halaman perguruan bersama Wanapati sebagai tetua.


Terlihat Wanapati tengah mengajari beberapa murid yang lain dengan serius. Pemuda yang biasanya selalu usil itu kini sedikit berubah setelah mengetahui Ki Badra mulai melakukan pergerakan.


Wanapati ingin lebih kuat untuk melindungi salah satu kitab pusaka peninggalan Ki Gendon yang kini tengah disimpan rapi oleh Ki Tunggul.


Sementara itu, Jayadipa dan Nata juga tampak berlatih lebih keras pada sudut pelataran yang lain. Kedua pemuda itu juga ingin bertambah kuat, sejalan dengan Wanapati. Sedangkan Lembah Manah, setelah memberi makan ternak, pemuda itu menghadap Ki Tunggul.


“Guru, selama perjalanan Lembah menuju kerajaan, Lembah punya berita dari Desa Tritis!” ucap Lembah Manah yang seketika membuat Ki Tunggul mengerutkan keningnya.


“Apa itu, Lembah!” sahut Ki Tunggul seakan ingin tahu informasi dari Lembah Manah.


Lembah Manah menceritakan tentang perjalanannya menuju kerajaan. Dari membasmi perampok Pegunungan Wukir, kelompok aliran sesat Girisi, hingga kemunculan anak buah Ki Badra yang menamakan dirinya Berandal Suro Menggolo.


“Apa!” Ki Tunggul terkejut membelalakkan matanya, seakan tak percaya dengan yang Lembah Manah katakan. “Baru beberapa hari kita membahas masalah ini pada pertemuan para petinggi, kenapa sekarang mereka muncul?”


“Benar, guru. Tampaknya mereka sudah mulai bergerak!” sahut Lembah Manah.


Ketika Lembah Manah bercerita mampu mengalahkan Berandal Suro Menggolo, Ki Tunggul semakin terkejut. Para bawahan Ki Badra terkenal memiliki anggota dengan ilmu kanuragan tinggi, tetapi kenapa bisa kalah oleh pemuda seperti Lembah Manah?


Tentu saja banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepala Ki Tunggul. Namun, pria tua itu masih memendamnya, berharap suatu saat nanti melihat sendiri kemampuan Lembah Manah.


Lembah Manah tidak terduga, ilmu kanuragannya tak bisa diukur dari segi mana pun. Meskipun ada tingkatan ilmu kanuragan di jalur kependekaran, itu tidak bisa menjadi patokan kekuatan Lembah Manah. Pemuda itu bisa menyembunyikan tingkat ilmu kanuragannya, atau berada pada tingkat paling tinggi. Sungguh, pemuda yang penuh kejutan.


“Ohh, iya guru!” seru Lembah Manah menyadarkan Ki Tunggul dari keterkejutannya dan memberikan gulungan milik Adipati Wirayuda. “Ini gulungan balasan dari Adipati Wirayuda!”


“Terima kasih, Lembah!” sahut Ki Tunggul menerima gulungan milik Ki Wirayuda dari tangan Lembah Manah.


Ketika mereka berdua tengah berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara keributan di tengah pelataran halaman perguruan. Terlihat Wanapati, Jayadipa dan Nata tengah menghadapi dua orang pria tak dikenal mengenakan pakaian serba hitam.

__ADS_1


“Siapa mereka sebenarnya!” seru Ki Tunggul keluar dari pondokannya dan menuju pelataran halaman, diikuti Lembah Manah berdiri di belakangnya. “Kenapa mereka menyerang perguruan ini?”


BOOM


Sekelebat cahaya hitam mendarat pada atap aula pembelajaran hingga membuatnya runtuh sebagian. Itu adalah sebuah serangan dari salah satu pria yang tengah bertarung dengan Wanapati.


Satu pukulan mendarat pada perut Wanapati, hingga membuat pemuda itu terlempar beberapa langkah ke belakang dengan darah keluar dari mulutnya.


“Serahkan kitab pusaka kalian, maka aku pastikan perguruan ini baik-baik saja!” seru salah satu pria yang menggenggam pedang.


“Meski nyawa taruhannya, aku tak akan menyerahkan kitab pusaka itu pada kalian!” sahut Ki Tunggul menggertak dua pria itu. “Siapa kalian, beraninya menyerang perguruan kami!”


“Tak perlu aku jelaskan, kalian juga pasti sudah tahu!” ucap pria bersenjata pedang memasang kuda-kuda. “Yang jelas, kami menginginkan kitab pusaka kalian!”


Sementara pria yang satunya lagi tengah melawan Jayadipa dan Nata pada sudut lain pelataran halaman perguruan. Meski menghadapi dua lawan sekaligus, tetapi pria tangan kosong itu masih mampu mengimbangi Jayadipa dan Nata.


Namun, tidak dengan Nata, pemuda itu memasang kuda-kuda dan berharap musuh mendekatinya. Benar saja, pria tangan kosong melangkah pelan ke arah Nata, pada saat itu juga, dalam jarak lima langkah, Nata melancarkan jurusnya.


“Tinju Delapan Mata Angin!”


Kedua mata milik Nata memutih, pertanda pemuda itu bisa melihat titik meridian dari lawannya. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Nata menghujani lawannya menggunakan pukulan kedua tangannya, sesekali kedua kakinya juga mengarah pada celah pertahanan lawan yang terbuka.


Beberapa saat berlalu, Nata telah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Lalu satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, Nata mendaratkan pada perut bagian bawah lawannya, hingga pria tangan kosong yang menjadi lawan Nata terlempar beberapa langkah ke belakang.


Tidak ada darah yang keluar dari tubuh lawan Nata, tidak ada. Namun, seluruh titik meridiannya telah rusak, pria tangan kosong itu tak mampu lagi mengaktifkan tenaga dalamnya untuk jangka waktu yang tidak sebentar.


“Apa!” seru pria berpedang terkejut mendapati rekannya jatuh terkapar tak berdaya terkena jurus milik Nata. “Nariya! Nariya! Bangunlah Nariya!”


Pria berpedang itu menoleh ke arah Nata dan berkata, “kurang ajar! Aku, Taraka akan menghajarmu!”

__ADS_1


Pria berpedang yang mengaku bernama Taraka itu melesat menebaskan pedangnya ke arah Nata yang mulai kehabisan tenaga dalam, karena Jurus Tinju Delapan Mata Angin begitu menguras staminanya.


Namun, tepat satu langkah sebelum mata pedang Taraka mendarat pada tubuh Nata, sekelebat bayangan hitam menyambar Nata dan membawanya ke dekat Ki Tunggul bersama murid lainnya.


“Terima kasih, Lembah!” seru Nata menyadari sekelebat bayangan hitam itu adalah Lembah Manah dan mendaratkan Nata di samping Ki Tunggul.


Bukan tanpa alasan Nata kehabisan staminanya, pemuda itu belum sepenuhnya menguasai jurus miliknya. Ditambah penggunaan Mata Byakta yang begitu menguras tenaga dalam.


Sementara itu, Wanapati dan Jayadipa mendapat perawatan dari Ni Luh yang sedikit menguasai ilmu pengobatan. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, gadis itu membuat keadaan dua kawannya sedikit lebih baik dari sebelumnya.


“Kurang ajar!” teriak Taraka mendongakkan kepalanya. “Lawan aku, jangan hanya menjadi pengecut!”


“Lawanmu adalah aku!” sahut Lembah Manah yang telah membuka Gerbang Kehidupan.


Ki Tunggul tersenyum melihat tekad Lembah Manah dengan berani melindungi perguruan miliknya. Sekaligus ingin menyaksikan sendiri kekuatan pemuda yang dipanggil kacung kampret itu.


Lembah Manah melesat dengan cepat, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam. Satu pukulan hampir mengenai wajah Taraka, jika saja pria berpedang itu tidak menarik kepalanya ke samping kiri.


Sembari berputar menghindari pukulan Lembah Manah, Taraka menebaskan pedangnya meraih tubuh Lembah Manah. Dengan mudah Lembah Manah menghindari serangan Taraka, pemuda itu salto ke belakang dan memperlebar jarak dengan Taraka.


“Lalang Hitam!”


Satu cahaya hitam melesat horizontal ke arah Lembah Manah yang mengandung tenaga dalam sangat besar. Lembah Manah sempat berpikir sejenak, jika serangan itu dihindari, tentu akan menyebabkan kerusakan pada bangunan perguruan.


Dengan pergerakannya yang cepat, Lembah Manah menangkis serangan Taraka menggunakan lengan kanannya. Serangan hitam itu berbelok arah dan mengenai pohon beringin di luar perguruan, hingga menimbulkan satu dahan tumbang.


Namun, Lembah Manah tetap melesat ke arah Taraka dan mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada wajah Taraka, hingga menyebabkan pria berpedang itu terhuyung ke belakang.


“Apa! Hanya terhuyung!” lirih Lembah Manah terkejut. “Kuat sekali pria ini!”

__ADS_1


__ADS_2