KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Empat Besar (2)


__ADS_3

Lembah Manah berhasil menghindari pisau pipih itu dengan bergeser ke kiri. Namun, belum sempat dia mengambil kuda-kuda, Wulan kembali menebaskan kipasnya ke bagian wajah Lembah Manah.


Pemuda itu menangkis dengan menyilangkan kedua tangannya pada tangan Wulan yang menggenggam kipas. Wulan membuka kipasnya, tanpa Lembah Manah sadari, dari dalam kipas itu keluar seperti serbuk putih yang menyebar ke sekitar wajah Lembah Manah.


Lembah Manah yang mendongak ke atas melihat kipas milik Wulan, tentu saja terkena serbuk putih itu dan melompat ke belakang sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Pemuda itu merasakan perih dan tak bisa membuka kedua matanya. Jika sedikit saja membuka matanya, maka terasa semakin perih dan semua tampak putih. Wulan tersenyum sinis dari balik cadar, melihat lawannya yang terganggu penglihatannya.


“Ohh tidak, bukankah itu kecurangan!” seru Ni Luh khawatir.


“Tidak Ni Luh, itu adalah salah satu strategi dalam bertarung, dan itu diperbolehkan dalam pertandingan ini!” sahut Jayadipa menjelaskan.


“Kak Lembah! Jangan sampai kalah!” teriak Sati tampak khawatir.


Sembari melangkah ke belakang untuk menjauh dari Wulan, Lembah Manah teringat perkataan Buto Ijo tentang Jurus Mabuk yang mempunyai empat tingkatan. Tanpa ragu lagi pemuda itu mengusap kedua matanya dengan kedua telapak tangannya bagian dalam.


Beberapa detik kemudian, pemuda itu bisa melihat semua yang ada di depannya meski dengan mata terpejam, sekaligus mengaktivasi jurus mabuknya.


Wulan yang mengira lawannya kehilangan penglihatan, dengan senyum sinis melangkah mendekati Lembah Manah dan melipat kembali kipasnya lalu mengarahkan pada leher.Lembah Manah.


Namun ketika kipas itu hampir menyentuh leher Lembah Manah, pemuda itu mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat di dada kiri bagian atas Wulan. Gadis bercadar itu terhuyung ke belakang beberapa langkah dan kembali mengambil kuda-kuda.


Penonton pun bersorak dan bertepuk tangan, sekali lagi mereka dibuat terkejut oleh jurus aneh milik Lembah Manah yang membuat jalannya pertandingan menjadi semakin menarik.


Raja Brahma sedikit khawatir akan keadaan putrinya, beliau tampak berdiri dari singgasananya.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin! Serbuk sari itu seharusnya mengaburkan pandangannya beberapa waktu!” ucap Wulan lirih.


“Apa! Matanya terpejam tapi masih bisa mendaratkan pukulan!” ucap salah satu penonton.


Kini tubuh Lembah Manah sempoyongan, ciri khas kuda-kuda dari jurus mabuk yang tak bisa ditebak. Wulan kembali melesat dan menebaskan kipasnya mencoba meraih wajah Lembah Manah.


Dengan tangan kanannya, Lembah Manah menangkis serangan kipas milik Wulan dan mendaratkan beberapa pukulan pada perut Wulan, bergantian tangan kanan dan kiri.


“Jurus Mabuk Tingkat Satu, Pemabuk Melempar Seloki!” seru Lembah Manah asal bicara memberi nama jurusnya.


“Apa! Jurus Mabuk. Padahal dia tak meminum arak atau semacamnya, tapi gerakannya seperti benar-benar mabuk!” ucap Wulan lirih.


Jurus Mabuk milik Lembah Manah adalah efek dari Batu Kecubung Hijau milik Buto Ijo yang telah diserapnya. Meski tak meminum arak atau minuman yang memabukkan, tetapi tetap saja pemuda itu bisa melakukan gerakan khas Jurus Mabuk, tanpa mabuk terlebih dahulu.


Lembah Manah menghentakkan kaki kanannya ke lantai arena pertarungan, dan seketika beberapa kerikil sebesar kelereng melayang mengitari tubuhnya. Pemuda itu melemparkan kerikil itu satu per satu ke arah Wulan dengan isyarat kedua telapak tangannya bergerak ke depan, bergantian kanan dan kiri.


Wulan membuka kipas bajanya dan menangkis kerikil yang melesat ke arahnya dengan gerakan memutar. Untuk sementara kerikil itu berhasil ditangkisnya.


Kembali Lembah Manah melemparkan kerikil di sekitar tubuhnya dengan kedua telapak tangannya. Kembali Wulan dapat dengan mudah menangkis semua kerikil yang dilemparkan Lembah Manah, dengan gerakan memutar.


Setelah kerikilnya habis, kini giliran Wulan menyerang, seperti biasa gadis bercadar itu mengibaskan kipasnya dari jarak sepuluh langkah diikuti dengan melesatnya pisau pipih ke arah Lembah Manah.


Dengan kuda-kuda sempoyongan, Lembah Manah menangkis pisau pipih itu satu per satu. Bergantian tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kaki kiri. Lalu mengembalikan satu pisau pipih dengan tendangan kaki kanannya ke arah Wulan yang melesat dua kali lebih cepat dari lemparannya sendiri.


Wulan menangkis dengan kibasan kipasnya, hingga pisau pipih miliknya sendiri terlempar keluar arena. Wulan tak mengira jika lawannya setangguh ini dan mulai kesulitan. Gadis itu berpikir sejenak, jika satu serangan seperti kemarin, mungkin dirinya akan berhasil.

__ADS_1


Kembali Wulan mengibaskan kipasnya dari kiri ke kanan, diikuti beberapa pisau pipih yang melesat ke arah Lembah Manah. Dengan mudah pula Lembah Manah menangkis pisau pipih itu, karena telah membaca pola serangan Wulan dengan baik.


Namun, saat Lembah Manah disibukkan dengan beberapa pisau pipih yang dia tangkis dengan kedua tangan dan kakinya. Wulan melemparkan satu pisau pipih dari saku lengan kirinya bagian dalam, untuk mengincar lengan kanan Lembah Manah.


Dan selangkah sebelum mengenainya, Lembah Manah menendang pisau pipih itu dengan kaki kanannya ke arah Wulan. Lagi-lagi Wulan dibuat kaget dan harus menangkis pisau miliknya sendiri hingga pisau itu terlempar keluar arena.


Wulan mengalirkan tenaga dalam berwarna hitam pada tangan kanannya yang menggenggam kipas terlipat, lalu melesat mengincar bagian atas tubuh Lembah Manah.


Kali ini, Wulan mencoba serangan jarak dekat. Lembah Manah hanya menghindari dengan gerakan sempoyongan khas jurus mabuknya. Sesekali pemuda itu mengunci tangan kanan Wulan, lalu melepaskannya kembali saat Wulan melancarkan pukulan dengan tangan kirinya.


Cukup lama mereka beradu pukulan yang membuat kagum semua yang hadir di area pertandingan.


“Ni Luh! Bolehkah aku meminjam pedangmu!” teriak Lembah Manah untuk mengulur waktu, karena bagaimanapun juga dia ingin menguji jurus mabuknya.


Ni Luh mencabut pedang dari sarangnya dan melemparkan ke tengah arena pertarungan. Sesaat sebelum pedang itu jatuh ke lantai arena, Lembah Manah melompat dan meraih pedang milik Ni Luh dengan gerakan salto ke depan.


“Aktivasi Jurus Mabuk Tingkat Dua. Pemabuk Menggenggam Senjata!” seru Lembah Manah asal bicara memberi nama jurusnya. Dalam hati dia tertawa kecil, sampai jurus itu diberi nama yang aneh.


Wulan melesat ke arah Lembah Manah dengan menggenggam kipas yang telah dialiri tenaga dalamnya. Dengan sigap Lembah Manah menangkis serangan Wulan yang dirasa tak ada variasi sedikit pun dan hanya itu-itu saja. Lalu dari sinilah permainan senjata dimulai.


Singgungan pedang dan kipas membuat percikan api kecil menari-nari di dalam arena pertarungan. Lembah Manah hanya menangkis masih dengan gerakan sempoyongan, tanpa menyerang Wulan.


Sementara Wulan mundur beberapa langkah dan kembali mengibaskan kipasnya yang telah dialiri tenaga dalam.


Beberapa pisau pipih kembali melesat ke arah Lembah Manah dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan penglihatannya yang lebih tajam dari biasanya, Lembah Manah mampu menangkis semua pisau pipih itu dengan pedang yang dipinjamnya dari Ni Luh.

__ADS_1


__ADS_2