KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Lorong (4)


__ADS_3

Mereka pun mencari batu berwarna merah itu untuk keluar dari lorong yang kedua.


“Mau dicari kemana-mana sepertinya juga tak ketemu, huh!” gerutu Lembah Manah pada dirinya sendiri.


“Sabar Lembah, pasti ketemu. Aku bantu ya!” ucap Nawang menawarkan bantuan.


Cukup lama mereka berdua mencari batu itu. Dari ujung kanan hingga ujung kiri tak ketemu juga. Hingga mereka mendengar tangisan anak kecil dari atas pohon besar.


“Hei, adik kecil, emm, kenapa kamu menangis?” tanya Lembah Manah mendapati anak itu diikat pada salah satu dahan pohon besar.


“Kakak tolong aku, aku diculik Lampor saat aku bermain petak umpet bareng teman-teman!” jawab anak itu menghentikan tangisnya.


“Ayo ikut kakak, kita pulang, tetapi kita harus mencari batu yang berwarna merah di lorong ini!” balas Lembah Manah kepada anak itu. “Siapa namamu adik kecil?”


“Namaku Sati kak!” jawab anak laki-laki itu.


Lembah Manah melanjutkan pencariannya, pemuda itu juga turut mengajak Sati untuk membantunya agar segera menemukan batu berwarna merah.


“Huh, tidak ketemu juga!” Lembah Manah mulai kesal dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kakak, di tempat ini tidak ada warna lain, selain warna hijau!” seru Sati memecah keheningan.


“Emm, lalu mengapa Lampor menyuruh kakak mencari batu yang warnanya sama dengan matanya!” sahut Lembah Manah kebingungan.


“Batu itu ya mata Lampor kak!” ucap Sati seperti memberi petunjuk kepada Lembah Manah.


“Benar juga,” lirih Lembah Manah menganggukkan kepalanya.


Mereka pun kembali ke tempat dimana Lembah Manah meninggalkan Lampor. Makhluk aneh itu tengah duduk bersila memulihkan tubuhnya, ternyata makhluk itu menyadari jika Lembah Manah telah mengerti apa yang dia maksud.


“Apakah kau menemukan batu berwarna merah itu pendekar?” ucap Lampor dengan duduk bersila memegangi perutnya.


“Emm, jangan coba-coba mempermainkanku Lampor!” geram Lembah Manah sedikit kesal.


“Hahaha, ternyata kau sudah menyadarinya!” Lampor tertawa mengejek Lembah Manah.


“Aku akan mengalirkan tenaga dalam pada kedua matamu, apa kau sudah siap!” ucap Lembah Manah memperingatkan Lampor.


“Terserah kau saja pendekar,” seru Lampor masih memegangi perutnya. “Dan kau anak kecil, patuhilah nasihat ibumu, jangan bermain di luar rumah saat hari mulai petang, atau aku akan menculikmu lagi!”

__ADS_1


Sati hanya bersembunyi di balik tubuh Nawang dengan memegangi tangannya. Sepertinya setelah kejadian ini, Sati berjanji akan selalu menuruti nasihat ibunya, agar tak terjadi lagi hal serupa.


Dengan mengalirkan tenaga dalam di tangan kanannya, Lembah Manah mengarahkan pada kedua mata Lampor, lalu terbukalah portal menuju lorong yang ketiga, tepat di belakang tubuh Lampor.


Mereka bertiga memasuki portal itu dan lagi-lagi, mereka terisap pada portal itu.


Memasuki lorong yang ketiga mereka bertiga merasa kepanasan, suhu di alam ini berbeda dari dua alam sebelumnya. Warna alam di lorong ini jingga kemerahan, lebih mirip dengan nyala api.


Mereka berjalan selangkah demi selangkah sembari mengusap keringat yang mulai menetes dari pelipis mereka.


“Kak Lembah, kenapa lorong ini terasa panas?” tanya Sati mengibaskan tangan kanan di depan wajahnya.


“Emm, kakak juga belum tahu Sati,” jawab Lembah Manah.


“Hahaha, hoi, anak manusia, kenapa kalian memasuki Lorong Katelu milikku?”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang diikuti dengan datangnya bola api melesat sebesar genggaman orang dewasa. Bola api itu melayang beberapa meter di depan Lembah Manah.


“Maaf tuan. Kami hendak menumpang lewat!” seru Lembah Manah memperhatikan bola api itu melayang di depannya.


“Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan kalian lewat!” sahut bola api itu yang kini terbang menuju ke arah Lembah Manah.


Baju milik Lembah Manah sedikit terbakar, pemuda itu segera melepasnya lalu memadamkan api yang menyala itu dengan diinjakkan ke tanah. Setelah padam, Lembah Manah kembali memakai bajunya.


Pemuda itu menoleh ke arah Ki Gendon yang berdiri di bawah sebuah pohon berwarna merah, tengah asyik mengelus-elus jenggotnya.


Ki Gendon yang mengetahui muridnya dalam kesulitan,  mendekati Lembah Manah dan menyarankan untuk membuka gerbang kedua. Dengan begitu tangan dan kakinya aman saat menyerang bola api itu.


“Baiklah, aku tak akan bermain-main lagi!” seru bola api itu dengan mengubah wujudnya.


Seluruh tubuh makhluk itu diselimuti api yang menyala, dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


“Makhluk apa ini!” ucap Lembah Manah lirih.


“Aku Kemamang, aku akan membunuh kalian bertiga, hahaha!” teriak makhluk itu yang mengaku bernama Kemamang.


Lembah Manah mengernyitkan dahinya sembari mengambil kuda-kuda.


“Gerbang kedua, terbukalah!” teriak Lembah Manah, diikuti dengan seluruh tubuhnya diselimuti tenaga dalam berwarna hitam.

__ADS_1


Kemamang melesat terlebih dulu, makhluk aneh itu mengarahkan pukulannya meraih wajah Lembah Manah. Pemuda itu menangkis dengan tangan kirinya sembari tersenyum tipis, tangannya tidak terbakar karena telah diselimuti oleh aura tenaga dalam berwarna hitam.


Lembah Manah mencoba menyerang dengan tangan kanannya mengarah pada perut Kemamang. Namun, tangan kiri Kemamang menahannya sembari melompat ke belakang, untuk memperlebar jarak dengan Lembah Manah.


Kini Kemamang berdiri mengambil kuda-kuda, ada beberapa api dengan nyala kecil yang memisahkan diri dari tubuhnya. Ada sekitar sepuluh nyala api kecil seukuran kelereng yang melayang mengitari tubuh Kemamang.


Tangan kanannya mengarah ke depan, seolah mengisyaratkan sesuatu, diikuti nyala api kecil itu melesat cepat ke arah Lembah Manah.


“Apa ini!” seru Lembah Manah tercengang.


Lembah Manah menangkis nyala api kecil itu dengan kedua tangannya. Gerakannya cepat dan beberapa api kecil yang berhasil ditangkisnya terlempar ke segala arah, hingga api kecil itu padam lalu menghilang dengan sendirinya.


“Jurus yang aneh!” lirih Lembah Manah mengerutkan keningnya.


Kemamang mengarahkan tangan kirinya ke depan, lagi-lagi muncul api kecil beterbangan melesat cepat menyerang Lembah Manah. Kali ini Lembah Manah menangkis dengan mengangkat tubuhnya, lalu kedua kakinya menendang dengan gerakan cepat, bergantian kaki kanan dan kiri.


Nyala api kecil itu terlempar ke segala arah, dan lagi-lagi api kecil itu padam lalu menghilang.


Kemamang semakin geram karena serangannya mudah dipatahkan. Makhluk aneh itu mencoba memperbanyak nyala api kecil yang dia pisahkan dari tubuhnya yang menyala.


Ada sekitar seratus nyala api kecil yang mengitari tubuh Kemamang, hingga membuat nyala api yang menyelimuti tubuhnya menyusut tipis dan hampir padam.


Lembah Manah tercengang melihat banyaknya butiran api itu dan berencana memanggil Pedang Naga Maruta. Tangan kanannya mengepal ke atas.


“Naga Maruta, Naga Maruta, Naga Maruta!” ucap Lembah Manah lirih.


Seketika Pedang Maruta ada di genggamannya, Lembah Manah mengalirkan tenaga dalam yang berwarna hitam dari tangan kanannya untuk menyelimuti Pedang Naga Maruta dan bersiap memasang kuda-kuda.


“Apa! Kau memiliki pedang legendaris Resi Kamananta!” seru Kemamang membelalakkan matanya.


Sementara itu Nawang dan Sati bersembunyi di balik pohon besar, mereka berdua kepanasan hingga mengeluarkan banyak keringat yang mulai membasahi bajunya. Nawang meminta Sati untuk tetap tenang dan memastikan bahwa Lembah Manah akan mengalahkan lawannya.


Kemamang mengarahkan kedua tangannya ke depan dan butiran-butiran nyala api kecil itu melesat cepat menyerang Lembah Manah yang jaraknya tiga puluh langkah.


Lembah Manah melesat ke depan menyambut serangan Kemamang. Pemuda itu memutarkan Pedang Naga Maruta ke bagian depannya, seperti membuat perisai dari pedang yang digerakkan dengan cepat.


Dalam waktu setengah menit saja, butiran-butiran nyala api kecil itu terpental ke segala arah, lalu padam dan menghilang dengan sendirinya. Kemamang bertambah geram, lagi-lagi serangannya dengan mudah dipatahkan oleh Lembah Manah.


“Boleh juga kemampuanmu anak muda!” seru Kemamang memuji Lembah Manah. “Tapi, apakah kau bisa menangkis serangan terakhirku ini!”

__ADS_1


__ADS_2