
Pagi menyapa, suara burung kutilang seperti biasa menjadi irama yang mengiringi Lembah Manah menyapu halaman perguruan. Digerakkannya sapu lidi itu sembari mengalirkan tenaga dalam, agar sedikit membantu pekerjaannya.
“Coba dari dulu aku punya ilmu kanuragan, pasti halaman ini bersih dengan cepat!” ucapnya lirih.
“Lembah, ikutlah masuk ke aula pembelajaran. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan!” perintah Ki Tunggul.
“Baik guru, segera setelah selesai menyapu, Lembah masuk aula!” sahut Lembah Manah sembari mempercepat gerakannya agar cepat selesai.
Segera setelah selesai menyapu halaman, Lembah Manah memasuki aula pembelajaran paling belakang. Pemuda itu duduk paling belakang bersebelahan dengan Wanapati.
“Ada yang aku bicarakan. Ini mengenai Ki Badra yang telah melakukan pergerakan. Mungkin kalian sudah ada yang mendengar. Dan mungkin ada juga yang belum mengerti!” ucap Ki Tunggul menjelaskan.
“Beberapa saat yang lalu, putraku telah kembali dan membawa surat dari Perguruan Bulan Sabit. Telik Sandi mereka mengetahui, kalau Ki Badra akan bergerak saat pertandingan besar nanti!” lanjutnya.
“Setelah melakukan uji tanding dengan kalian, aku sedikit lega. Karena aku mengetahui kekuatan kalian, tapi itu belum cukup untuk melawan Ki Badra dan para pengikutnya. Aku berencana untuk melakukan pertemuan dengan para petinggi kadipaten, ataupun para pengasuh perguruan!”
“Benarkah Layung Semirat telah kembali, lalu dimana dia guru?” sahut Wanapati terkejut.
“Dia telah pergi untuk membawa surat balasanku ke Perguruan Bulan Sabit!” sahut Ki Tunggul.
Layung Semirat adalah anak laki-laki dari Ki Tunggul. Pemuda itu jarang berada di perguruan karena selalu berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari informasi dimana keberadaan Ki Badra. Atau sering disebut dengan Telik Sandi perguruan.
“Lalu, dimana guru akan melakukan pertemuan dengan para pengasuh perguruan. Sedangkan dari segi lokasi, kita sangat berjauhan!” ucap Wanapati menyela penjelasan Ki Tunggul.
“Kita sudah setuju, beberapa waktu yang lalu aku juga mengirim surat kepada para petinggi kadipaten dan pengasuh perguruan. Tempat yang menjadi pertemuan adalah Perguruan Tombak Putih. Karena perguruan itu lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau dari mana pun!”
“Aku akan mengajak Lembah Manah dan Nata,” lanjut Ki Tunggul.
“Baik guru, kami mengerti!”
“Selama aku pergi, Sesepuh Anggada akan mengambil alih perguruan!” seru Ki Tunggul.
“Baik guru!”
***
Tibalah Ki Tunggul di Perguruan Tombak Putih, mereka bertiga disambut oleh Tiga Bunga Bersaudara—Kenanga, Kanthil, Cempaka dan tentu saja pemimpin Perguruan Tombak Putih, Ki Jaladara.
__ADS_1
Tampak para petinggi kadipaten dan juga para pengasuh perguruan telah sampai terlebih dahulu, sebelum mereka bertiga.
“Maafkan aku Ki, aku sedikit terlambat!” ucap Ki Tunggul menghormati Jaladara selaku tuan rumah pertemuan itu.
“Mirip dengan ayahmu, selalu datang terlambat, hahaha,” jawab Ki Jaladara dengan tawa kerasnya.
“Hei Lembah bagaimana kabarmu?” tanya Kenanga mengagetkan pemuda itu.
“Seperti yang kau lihat, aku tampak sehat bukan. Emm, apakah kalian sudah meminta maaf kepada guru kalian tentang tragedi Bukit Pinus?” ucap Lembah Manah yang seketika mengheningkan suasana.
Kenanga, Kanthil dan Cempaka hanya saling pandang, tak tahu harus menjawab apa. Tampaknya mereka bertiga sangat bersalah, hingga tak menemukan jawaban terbaik untuk pertanyaan Lembah Manah.
“Ahh, kalian ini. Anak muda masih labil, belum tahu mana yang benar, dan mana yang salah. Aku sudah memaafkan ketiga muridku yang nakal ini!” jawab Ki Jaladara mencairkan suasana.
Semua utusan saling sapa dan berbincang satu sama lain yang membuat suasana semakin akrab. Hingga pertemuan dimulai, para petinggi dan pengasuh perguruan duduk saling berhadapan di depan meja tepat di aula pertemuan Perguruan Tombak Putih.
Mereka saling berdiskusi tentang bagaimana solusi untuk mencegah jatuhnya lima pusaka ke tangan Ki Badra.
Ki Pethuk Cemeng dari Perguruan Bambu Wulung, Ki Lugut Salari dari Perguruan Ular Putih, Eyang Balakosa dari Perguruan Pedang Putih dan Ki Wirayuda selaku Pemimpin Kadipaten Purwaraja. Semua setuju dengan usulan Ki Jaladara yang telah dibicarakan terlebih dahulu dengan Ki Tunggul.
“Aku mendengar, Badra akan mengambil lima kitab dari lima perguruan. Setidaknya satu pusaka masih aman di tempatmu, Tunggul!” ucap Ki Pethuk Cemeng sembari mengelus-elus berewoknya.
“Baguslah, kalau begitu aku setuju dengan usulanmu Ki Jaladara. Bagaimana dengan Anda, Eyang Balakosa?” seru Ki Lugut Salari mengangkat satu alisnya.
“Tampaknya aku juga setuju dengan kalian!” sahut Eyang Balakosa.
Sementara itu, para pendamping yang menemani para petinggi, menunggu di luar aula, mereka duduk di bangku yang telah disediakan oleh Perguruan Tombak Putih dan saling bercerita satu sama lain. Menikmati suasana siang yang sangat asri, karena di bagian depan perguruan ada dua pohon beringin besar yang berdaun rimbun.
“Lembah, dimana pemuda yang membawa kapak itu. Apakah dia tidak ikut denganmu?” tanya Kenanga yang sengaja duduk dengan rombongan Lembah Manah.
“Maksudmu Wanapati!” sahut Lembah Manah yang disambut senyum dan anggukan kepala dari Kenanga. “Dia memilih tinggal di perguruan untuk memulihkan tubuhnya!”
“Setelah pulang dari kerajaan, tampaknya dia kehabisan tenaga dalamnya!” lanjutnya sembari menggaruk kepalanya.
“Dia juga terluka di bagian lengan, karena terkena jurus lawannya!” imbuh Nata menimpali.
“Benarkah! Apakah dia baik-baik saja?” selidik Kenanga dengan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
“Hei Kenanga, tampaknya kau menyukai pemuda pembawa kapak itu. Setelah tragedi Bukit Pinus kau selalu membicarakannya!” sela Kanthil sembari tersenyum yang disambut dengan rona wajah memerah dari Kenanga.
“Lalu siapa pemuda yang bersamamu itu, Lembah?” tanya Kanthil memajukan wajahnya ke arah Nata.
“Oh, ini teman seperguruan, namanya Nata!” jawab Lembah Manah.
Nata mengulurkan tangan hendak bersalaman dengan Kanthil, tetapi, tanpa diduga, tangan Cempaka terlebih dahulu menyalami tangan Nata.
“Aku Cempaka, adik paling kecil dari Tiga Bunga Bersaudara!” ucap Cempaka meraih tangan Nata dan memandangi wajah Nata beberapa saat.
“Hei Cempaka, lepaskan tanganmu itu!” geram Kanthil yang disambut dengan tawa mereka berlima.
Semakin lama obrolan mereka berlima semakin akrab, mulai dari suasana saat pertandingan, tingkah Lembah Manah yang konyol, hingga membicarakan tentang guru mereka.
“Bagaimana sikap Ki Jaladara setelah kalian pulang dari Bukit Pinus?” selidik Lembah Manah kepada Kenanga, karena gadis itu yang paling tua dan paling sering berbicara.
“Oh, guru kami! Benar apa yang dikatakan Wanapati. Guru memaafkan kami, selama kami tidak berbuat kesalahan lagi!” jawab Kenanga.
“Ngomong-ngomong, aku tak melihat Puspa Ayu. Dimana dia?” seru Lembah Manah mengerutkan keningnya.
“Nona muda Puspa Ayu menjalankan misi bersama Tetua Kadaka!” sahut Kenanga menjelaskan. “Mereka berdua pergi ke Desa Wirakan, sepertinya terjadi perampokan di desa itu!”
“Oh, aku harap mereka mampu mengatasinya!” tutup Lembah Manah menganggukkan kepalanya.
Tanpa terasa pertemuan para petinggi telah berakhir, dengan hasil saat pertandingan besar nanti mereka bersiap di sekitar area pertandingan walaupun dijaga prajurit kerajaan.
Semua perwakilan telah undur diri, hingga saatnya rombongan Ki Tunggul hendak pamit untuk kembali ke perguruan.
“Ki, kami mohon pamit. Semoga pertandingan besar nanti rencana kita berhasil!” ucap Ki Tunggul.
“Baiklah Tunggul. Berhati-hatilah dalam perjalananmu. Sebenarnya aku masih ingin berbincang-bincang denganmu lebih lama lagi, terutama dengan muridmu yang satu ini!” sahut Ki Jaladara sembari menunjuk ke arah Lembah Manah. “Tapi sayangnya waktu berlalu begitu cepat!”
“Baiklah Ki, kami mohon undur diri!” jawab Ki Tunggul sembari melangkahkan kakinya keluar dari pintu gerbang Perguruan Tombak Putih, diikuti Lembah Manah dan Nata di belakangnya.
“Lembah! Sampaikan salamku pada Wanapati!” ucap Kenanga tersenyum dan melambaikan tangannya yang dijawab acungan jempol tangan kanan Lembah Manah.
“Nata! Hati-hati di jalan!” teriak Kanthil dan Cempaka bersamaan.
__ADS_1
“Tunggul, sepertinya muridmu telah mencuri sesuatu dari perguruanku, hahaha!” tutup Ki Jaladara yang tahu bahwa ketiga muridnya menyukai murid Ki Tunggul.
“Hmm, dasar kalian anak muda!” lirih Ki Jaladara sembari memasuki perguruan.