
Pramasala mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang dan melesat ke arah Kartika yang tengah memasang kuda-kuda. Keduanya pun saling beradu pedang dengan gerakan yang lincah.
Saat Kartika menebas, Pramasala menangkis dan apabila Pramasala yang menebas, Kartika juga dengan mudah menangkis serangan Pramasala. Benturan pedang membuat percikan api yang disambut teriakan penonton.
“Keduanya memiliki teknik dasar berpedang yang bagus!” lirih Ki Lugut Salari dari tempat duduknya.
Cukup lama mereka berdua saling bertukar jurus, dan saling jual-beli serangan. Permainan pedang keduanya juga sangat mumpuni, meski pedang milik Kartika terkesan lebih tipis dari pada pedang Pramasala yang tebal, tetapi gadis itu mampu menguasai pedangnya dengan baik.
“Gadis itu pasti kalah!” ucap salah satu penonton yang selalu mengomentari jalannya pertandingan.
“Kartika, kamu pasti menang!” teriak penonton yang menjagokan Kartika.
Sepuluh menit mereka beradu jurus pedang, diiringi percikan-percikan api yang terlihat seperti kembang api.
Hingga pada akhirnya, Kartika tak mampu menahan jurus pedang Pramasala yang dialiri tenaga dalam. Kartika bertahan mundur hingga keluar dari pembatas arena. Sang pengadil menghentikan pertarungan dan menyatakan kalau pemenangnya adalah Pramasala.
“Pemenangnya Pramasala dari Perguruan Ular Putih!” seru Patih Ragas yang diiringi tepuk tangan meriah dari penonton.
“Huh, aku tak mengira, asyik bertahan, tak sadar keluar arena. Ya ampun!” keluh Kartika sembari duduk di lantai luar arena dan memegangi kepala dengan kedua tangannya.
“Bagus Pramasala, tak sia-sia aku mengajarimu!” lirih Ki Lugut Salari dari bangku penonton.
Pramasala melambaikan tangan pada penonton dan membungkukkan badannya pada sang raja, lalu kembali ke tempat duduknya yang disambut senyuman Ki Lugut Salari.
***
Sementara itu, Lembah Manah masih saja berjalan menuju arena pertandingan. Karena dari tempatnya menginap menuju arena pertandingan, jaraknya tidak dekat. Pemuda itu sengaja berlama-lama untuk menikmati suasana ibukota kerajaan.
Tanpa terasa matahari sudah sedikit meninggi, pemuda itu masih saja menikmati suasana ibukota dengan berjalan-jalan santai. Setelah melewati sebuah pasar, pemuda itu berhenti sejenak untuk sekadar beristirahat.
Melihat-lihat ramai pedagang yang menjajakan beraneka dagangannya, Lembah Manah sedikit tertarik dengan kedai makan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya di depannya mempersilakan masuk pada kedai makanan yang tengah dilihatnya.
__ADS_1
Karena penginapan tidak menyediakan makanan, Lembah Manah menerima tawaran pria itu. Tak ada salahnya mengisi perut kosong, sebelum mengikuti pertandingan yang mungkin sangat menguras tenaga.
Pria pelayan kedai itu sepertinya penasaran dengan Lembah Manah, karena baru kali ini melihatnya di dalam ibukota kerajaan.
"Silakan masuk anak muda, mau pesan apa?” tanya pria pelayan kedai itu.
"Apakah kedai paman menyediakan anu, emm, tumis kangkung?” Lembah Manah bertanya tentang makanan kesukaannya.
"Apakah mau ditambah dengan daging ayam?" Kembali pria pelayan kedai bertanya kepada Lembah Manah.
"Emm, boleh paman, saya pesan paha ayam!” jawab Lembah Manah lagi.
"Baiklah saya segera kembali,” ucap pria pelayan kedai tersebut dan berlalu meninggalkan Lembah Manah.
Tak menunggu lama, Lembah Manah menyantap makanan yang dipesan dengan lahapnya, karena sedari pagi dirinya memang belum makan. Pria pelayan kedai itu sepertinya masih penasaran dengan kedatangan Lembah Manah.
Sesekali dia melihat ke arah Lembah Manah yang tengah melahap makanannya, tetapi jika Lembah Manah menoleh ke arah si pria pelayan kedai itu, pria pelayan kedai itu langsung memalingkan pandangan ke arah yang lainnya.
“Pencuri, pencuri, pencuri, tolong hentikan anak berbaju hitam itu, pencuri!” Terdengar teriakan dari seorang wanita paruh baya yang berlari di depan kedai tempat Lembah Manah makan.
“Dimana pencurinya Bi?” tanya Lembah Manah pada wanita itu.
“Itu nak, lari ke arah lorong itu memakai baju hitam!” jawab wanita itu dengan menunjukkan arah lari pencuri itu.
Lembah Manah berlari mengejar pencuri yang menuju sebuah lorong di antara beberapa rumah yang megah, dengan menambahkan sedikit kanuragannya, tentu mudah untuk menemukan pencuri itu.
Tak perlu waktu lama, Lembah Manah berhasil menangkap sang pencuri. Diikatnya tangan anak itu ke belakang oleh Lembah Manah. Anak itu menundukkan kepalanya dan menangis memohon ampun pada Lembah Manah.
“Ampun kak, ampuni Rama!” seru anak itu.
“Cepat kembalikan apa yang kau curi dari ibu itu!” perintah Lembah Manah.
__ADS_1
“Sini kembalikan, masih kecil sudah mencuri. Bagaimana besar nanti. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam tiga hari terakhir,” gerutu sang ibu yang berhasil menyusul Lembah Manah diikuti beberapa pria di belakang ibu itu.
Anak itu mengeluarkan beberapa potong singkong rebus dari saku bajunya bagian dalam yang dicuri dari lapak dagangan ibu itu.
'Ya ampun, hanya beberapa potong singkong sampai teriak-teriak seperti itu', gumam Lembah Manah dalam hati, yang menurutnya perilaku ibu itu sangat berlebihan pada seorang anak kecil yang hanya mencuri beberapa potong singkong rebus saja.
“Emm, begini saja, Bibi. Singkong ini saya yang bayar, dan semua masalah selesai. Bagaimana?” ucap Lembah Manah pada ibu itu yang masih mengomel dengan ucapan-ucapan yang tak seharusnya ditujukan pada anak seusia sepuluh tahun.
“Baiklah, semuanya tiga keping koin emas!” seru ibu itu dengan nada yang kasar dan memajukan bibirnya.
Lembah Manah memberikan ibu itu beberapa keping koin emas yang didapatkan selama perjalanan menuju pusat kerajaan. Lalu melepaskan tali ikatan yang masih mengekang anak kecil itu.
“Lha, begitu kan beres, semuanya bubar!” ucap ibu itu dengan melangkah kembali ke lapak dagangannya diikuti beberapa pria yang turut mengejar Rama.
Lembah Manah mengajak Rama untuk duduk di sebuah gubuk tepi jalan yang digunakan sebagai tempat peristirahatan penduduk ibukota kerajaan.
“Rama, kenapa kamu sampai mencuri makanan ibu itu. Emm, kan mencuri itu tidak baik!” ucap Lembah Manah mencoba menasihati Rama.
“Rama mau memberikan singkong ini buat ibu. Kasihan ibu belum makan dari pagi,” jawab Rama yang menceritakan keadaan ibunya.
Ibu Rama tengah sakit dan hanya berbaring di tempat tidur sejak beberapa hari terakhir. Rama mencari makan dengan mencuri dari lapak pedagang pasar yang lalai mengawasi dagangannya.
“Memangnya rumah Rama di mana? Emm, coba kak Lembah diantar kesana?” ucap Lembah Manah yang hendak melihat keadaan ibu Rama.
Rama mengajak Lembah Manah ke rumahnya, letaknya tidak jauh dari pasar. Dengan berjalan sepuluh menit, mereka sudah sampai pada rumah Rama.
“Ini kak rumah Rama!” seru Rama sembari masuk ke rumahnya dan langsung menuju ke kamar ibunya.
Lembah Manah mengikuti di belakang Rama masuk ke kamar ibunya dan duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur ibu Rama. Rama menjelaskan pada ibunya bahwa Lembah Manah yang telah membayar semua makanan yang dia bawa.
“Terima kasih nak Lembah, maaf kalau Rama merepotkan!” ucap ibu Rama dengan sedikit batuk.
__ADS_1
“Iya Bibi, sudah sewajarnya kita saling membantu. Emm, Bibi sakit apa? Suami Bibi kemana?” tanya Lembah Manah penasaran.
“Bibi tak tahu penyakit ini nak Lembah!” jawab ibu Rama sembari menjelaskan kalau sebulan yang lalu, setelah memakan singkong rebus pemberian orang tak dikenal, ibu Rama langsung jatuh sakit.