
“Bocah itu, memang penuh kejutan!” ucap Jayadipa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau hebat Lembah!” lirih Ni Luh tersenyum.
Raja Brahma tampak terbangun dari singgasananya, melihat jurus Lembah Manah yang membuatnya menelan ludah. Tak kecuali Wulan, gadis itu semakin kagum dengan kehebatan pemuda yang mengalahkannya pada babak empat besar.
Giandra melepaskan energi petir di tangannya ke arah Lembah Manah, bergantian kanan dan kiri dari jarak dua puluh langkah. Dengan mudah Lembah Manah menangkisnya, juga dengan kepalan tangan kanan dan kirinya.
Giandra kembali terkejut, serangannya ditangkis dengan mudah oleh lawannya. Bukan tanpa alasan Lembah Manah dapat menangkis serangan Giandra. Penjelasannya mudah saja, karena Gerbang Kedua, hingga seluruh tubuh pemuda itu telah diselimuti tenaga dalam berwarna hitam.
Penglihatan dan pendengaran Lembah Manah juga semakin tajam, meski tinju petir Giandra melesat dengan cepat, dia dapat menangkis dengan mudah. Tanpa ragu lagi Giandra mengerahkan semua kemampuannya, kini pemuda kekar itu memakai jurus terakhir yang dimilikinya.
“Petir Hitam!” seru Giandra menebaskan tangan kanannya ke arah Lembah Manah, dan diikuti dengan kilatan petir berwarna hitam dari tangan tersebut.
Lembah Manah menerima serangan petir hitam Giandra dengan tangan kanannya. Lalu bergerak mundur beberapa langkah sembari memutarkan tubuhnya dan mengarahkan petir hitam Giandra dengan tangan kirinya ke arah langit.
DYAR
Terjadi ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh area pertandingan. Langit sekitar arena menjadi gelap, akibat kepulan asap efek ledakan. Seluruh penonton menutup mata karena silau cahaya yang keluar dari ledakan itu.
Raja Brahma tampak beranjak dari singgasananya melihat gerangan apa yang terjadi di atas langit. Namun, cahaya silau membuatnya menutup mata dengan tangan kanannya.
“Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan berlutut di hadapan orang yang mampu menangkis petir hitamku!” ucap Giandra sembari melangkah mendekati Lembah Manah dan berlutut di hadapannya.
Petir hitam Giandra adalah jurus turun-temurun dari gurunya—Ki Selo Aji, sebagai pengasuh di Perguruan Bambu Wulung. Giandra mewarisi dan memodifikasi dengan caranya sendiri, yaitu menambahkan sedikit energi alam yang dia serap dari sekitarnya.
Bahkan saat latihan uji tanding, tanpa sengaja pemuda kekar itu membunuh gurunya sendiri dengan petir hitamnya. Namun, peristiwa itu ditutupi oleh pihak Perguruan Bambu Wulung dengan memalsukan wafatnya Ki Selo Aji karena tersambar petir saat berlatih di halaman perguruan ketika hujan lebat.
Giandra menghilangkan energi petir dari seluruh tubuhnya, lalu dia bangkit mendekati Lembah Manah dan berdiri di samping kirinya. Tanpa ada yang menduga, Giandra menggenggam pergelangan tangan kiri Lembah Manah dan mengangkatnya ke atas tinggi-tinggi.
__ADS_1
“Pengadil! Aku menyerah. Pemuda inilah juara yang sebenarnya!” teriak Giandra dengan menampakkan raut wajah yang gembira.
Semua penonton terkejut mendengar keputusan Giandra, padahal sejak awal pertarungan, dia tampak lebih dominan dan hampir memenangkan pertandingan itu. Namun, di sisi lain Giandra telah berjanji pada dirinya sendiri, dan janji seorang pendekar harus ditepati.
“Aku tidak menyangka akan ada orang yang mampu menangkis petir hitamku!” seru Giandra tertawa menatap wajah Lembah Manah.
Lembah Manah hanya terdiam menuruti keinginan Giandra yang memegangi tangan kirinya.
“Apa! Aku tidak percaya Giandra menyerah begitu saja!” ujar Gantala tertunduk lesu.
“Dasar Giandra!” ucap Ki Pethuk Cemeng menutupi muka dengan telapak tangan kanannya.
Ki Pethuk Cemeng dan Gantala dibuat heran atas keputusan Giandra, tetapi menurutnya itu adalah sikap kesatria seorang Giandra yang dengan gagah menepati janjinya sendiri di depan orang banyak.
“Kau hebat Lembah!” teriak Wanapati.
“Anak itu, benar-benar selalu membuat kejutan, meski tingkahnya konyol tingkat akut!” ucap Jayadipa.
“Pemuda itu luar biasa!” seru salah satu penonton yang menjagokan Lembah Manah.
“Aduh, Giandra kenapa kau menyerah!” ucap penonton yang menjagokan Giandra.
“Pemenangnya Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas yang diikuti dengan tepuk tangan dan teriakan dari penonton.
Raja Brahma berdiri dari singgasananya dan bertepuk tangan, diikuti oleh para petinggi kerajaan. Namun, berbeda dengan Wulan, tuan putri itu melompat dan melayang lalu mendarat di depan Lembah Manah, dan memberi selamat atas kemenangan Lembah Manah dengan menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman.
“Aduh Wanapati, lagi-lagi ada seseorang yang marah nih!” ucap Jayadipa menggoda Ni Luh yang mukanya memancarkan rasa cemburu.
“Benarkah Jayadipa, apakah itu salah satu teman kita?” timpal Wanapati dengan tersenyum memandang Ni Luh.
__ADS_1
Melihat Lembah Manah dan Wulan bersalaman, Ni Luh hanya memeras ujung baju dengan kedua tangannya dan sesekali memalingkan pandangannya ke arah penonton.
“Selamat, Lembah Manah!” ucap Wulan.
“Terima kasih, emm, Tuan Putri!” sahut Lembah Manah tersenyum.
Lembah Manah dan Giandra memberi hormat pada Raja Brahma, dan sekali lagi, Giandra mengangkat tangan kiri Lembah Manah, lalu berputar empat arah menghadap ke penonton dengan senyum di bibirnya.
Lembah Manah diajak Patih Ragas untuk menuju pelataran yang lebih tinggi di area pertandingan. Diikuti dengan Wulan yang berjalan paling belakang.
Pelataran dengan meja kecil dekat singgasana Raja Brahma untuk penyerahan hadiah pertandingan. Hadiah diberikan langsung oleh Raja Brahma sendiri kepada pemenang pertandingan.
Ada beberapa hadiah utama dalam pertandingan tahun ini, yang pertama adalah Tombak Kyai Pleret. Tombak yang panjangnya hampir tiga depa dengan ujung bulat runcing berwarna kuning emas.
Tombak Kyai Pleret berasal dari lidah Naga Baru Kelinthing, yang merupakan warisan dari guru Raja Brahma.
Dan hadiah yang kedua adalah Batu Panca Warna, batu yang besarnya sama dengan genggaman tangan orang dewasa memiliki lima warna. Kelebihan batu itu adalah jika diserap oleh seseorang, orang itu mampu menyerap lima energi alam sekaligus.
Batu Panca Warna berasal dari Gunung Mahendra yang letaknya di perbatasan tiga kerajaan. Raja Brahma mendapat batu itu saat mendaki gunung itu, untuk menepi selama beberapa hari.
Lembah Manah menerima kedua hadiah tersebut langsung dari tangan sang raja dengan diiringi tepuk tangan dari para penonton. Dengan tersenyum bangga, pemuda itu menggenggam kedua hadiah dan mengangkat kedua tangannya untuk memperlihatkan kepada penonton yang disambut dengan teriakan dan tepuk tangan.
Lembah Manah menyimpan Batu Panca Warna ke dalam saku bajunya bagian dalam. Untuk Giandra, pemuda berbadan kekar itu mendapat beberapa koin emas, ekstrak penempaan tubuh dan juga pusaka siluman, untuk meningkatkan level ilmu kanuragannya.
“Emm, Yang Mulia, bolehkah hamba memanggil ketiga teman hamba kemari. Mereka tengah duduk di bangku peserta,” pinta Lembah Manah kepada Raja Brahma sembari menunjuk ke arah Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh.
“Ohh, silakan Lembah, panggil mereka kemari!” jawab raja.
Lembah Manah memanggil mereka bertiga dengan lambaian tangannya. Mereka bertiga pun berjalan menuju pelataran dekat singgasana raja dan langsung berdiri di belakang Lembah Manah.
__ADS_1
“Aku akan mengundang kalian makan malam di istana malam ini,” ucap Raja Brahma diiringi dengan senyumannya.
“Terima kasih Yang Mulia, ini adalah suatu kehormatan bagi kami!” jawab Wanapati.