KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Alas Mentaok


__ADS_3

Lembah Manah menghabiskan beberapa makanan yang ditawarkan pedagang itu sembari duduk pada sebuah gubuk yang memang disediakan untuk istirahat bagi warga yang berada di pasar.


Paman pedagang itu masih penasaran dengan kedatangan Lembah Manah. Sesekali melihat ke arah pemuda itu, tetapi jika Lembah Manah menoleh ke arah si paman pedagang, pedagang itu langsung memalingkan pandangan ke arah yang lainnya.


"Kalau anak muda ini mau ke pusat kerajaan, lebih baik pilih jalan yang memutar saja!” seru paman pedagang itu memberitahu Lembah Manah. “Jangan melewati Alas Mentaok. Meski waktunya lebih lama, tapi setidaknya aman dari gangguan, daripada lewat hutan itu!”


"Memangnya kenapa paman, ada apa di Alas Mentaok?” Lembah Manah berhenti mengunyah makanannya dan mengerutkan kening.


"Sudah, pokoknya jangan lewat Alas Mentaok!” Paman pedagang itu bergidik membayangkan kengerian Alas Mentaok. “Ada makhluk yang suka memakan manusia, siapa pun yang masuk ke hutan itu, belum pernah ada yang keluar dengan selamat!”


Alas Mentaok, begitu warga desa menyebutnya. Tidak ada yang berani memasuki hutan yang luas itu, meskipun ada, itu hanya sebatas bagian luarnya saja. Tidak sampai jauh ke dalam jantung hutan.


Beberapa warga mungkin hanya mencari kayu bakar atau sekadar berburu hewan, madu ataupun buah-buahan di sekitar hutan itu.


Bukan tanpa alasan para warga tidak berani memasuki hutan lebih dalam lagi. Menurut penuturan sesepuh desa, konon ada makhluk sebangsa siluman yang menjadi penunggu di dalam Alas Mentaok.


Entah dimangsa atau dijadikan tawanan oleh makhluk siluman itu, yang jelas para warga tidak ada yang berani masuk lebih dalam lagi ke Alas Mentaok. Hutan ini juga menjadi perbatasan, antara Desa Wirakan di timur, dan Desa Kabangun di sebelah barat.


Pernah ada seorang warga desa yang nekat memasuki hutan lebih dalam lagi untuk berburu babi hutan. Namun, tidak ada kabar lagi mengenai warga itu, kemungkinan telah dimangsa oleh makhluk penunggu Alas Mentaok.


Lembah Manah semakin penasaran dengan apa yang dimaksud paman pedagang itu. Apakah memang benar-benar ada, atau hanya sebuah cerita belaka?


Pemuda itu seperti tidak percaya, apa mungkin di dunia persilatan masih ada makhluk seperti itu? Setelah membayar semua makanan dari paman pedagang, Lembah Manah memohon pamit untuk melanjutkan perjalanan.


Lembah Manah berpikir sejenak untuk memilih jalur mana yang akan dilalui. Jika memilih jalan yang memutar, akan semakin lama untuk sampai pusat kerajaan. Dan jika melewati Alas Mentaok, akan cepat sampai tujuan, tetapi konsekuensinya harus bertemu dengan makhluk yang diceritakan paman pedagang sewaktu di pasar.


Akhirnya pemuda itu memilih jalan terdekat, yaitu melewati Alas Mentaok. Hutan dengan pepohonan yang rapat dan rimbun, saking rimbunnya, sinar matahari tak dapat menyinari rerumputan dan tanah di dalamnya.


Lembah Manah masuk ke dalam hutan, melewati jalan yang hampir tertutup semak belukar, dengan kanan kiri pepohonan besar dan rimbun. Semakin dalam masuk ke hutan, hawa semakin dingin, matahari hanya samar-samar menyinari.

__ADS_1


Pohon semakin rimbun dan jalan semakin tertutup semak belukar, membuat pemuda itu harus menyibakkan semak-semak untuk membuat jalan kembali terlihat.


Ketika sampai pada sepetak hamparan rerumputan, Lembah Manah berhenti sejenak untuk beristirahat. Pemuda itu melihat-lihat ke atas, menyapukan pandangan ke arah pepohonan. Khawatir jika makhluk yang diceritakan itu memang ada.


Dan ternyata benar, Lembah Manah seperti diikuti sesosok makhluk misterius. Makhluk itu sudah berdiri di atas dahan yang besar, tepat di depan Lembah Manah.


"Hoi anak muda, beraninya kau memasuki hutan milikku ini tanpa izin!” seru makhluk itu menatap Lembah Manah. “Siapa kau ini dan ada perlu apa datang ke sini?”


"Sebelumnya, saya mohon maaf, saya hanya menumpang lewat. Dan saya hendak pergi ke desa sebelah!” sahut Lembah Manah dengan nada sopan.


"Kau tahu, ini adalah Alas Mentaok! Siapa pun yang memasuki hutan ini, tidak bisa keluar dengan selamat!” Makhluk itu memperlihatkan cakar pada kedua tangannya.


"Emm, saya tidak tahu tentang hal itu, jadi maafkan saya, tolong izinkan saya lewat!” pinta Lembah Manah sembari berjalan lebih dekat pada makhluk itu.


"Tidak bisa! Siapa pun yang telah mengusik Durgabahu, dia akan mati!” seru makhluk itu.


Makhluk hitam dengan tubuh dipenuhi bulu-bulu halus. Mempunyai kuku tajam pada kedua tangannya. Ada dua taring yang keluar dari mulutnya bagian atas.


SLAP


Durgabahu melompat dan menyerang Lembah Manah dengan cakar di tangan kanannya, menebas dari kanan ke kiri. Lembah Manah masih sempat menghindar, melompat dan berputar ke kanan dengan gesit, lalu memasang kuda-kuda.


“Emm, kenapa mirip dengan Gandarwa!” lirih Lembah Manah kembali mengingat pertarungannya dengan Gandarwa di dalam Lorong Alam Lelembut.


Tepat perkiraan Lembah Manah, makhluk itu maju dengan melompat dan menghunjamkan cakar tangan kanannya. Lembah Manah masih mampu menangkis serangan dengan tangan kirinya.


Kembali Durgabahu menghunjamkan tangan kirinya, dengan gerakan dari kiri ke kanan mencoba mengincar wajah Lembah Manah.


Lembah Manah melompat ke belakang untuk memperlebar jarak dengan lawannya. Kembali pemuda itu mengambil ancang-ancang, mencoba menyerang dengan pukulan tangan kanannya, tetapi Durgabahu dapat menghindar dengan mudah.

__ADS_1


Cukup lama mereka berdua saling serang, bertukar beberapa pukulan dan tendangan. Pada satu kesempatan, Lembah Manah kembali menjauh dari Durgabahu dan menggunakan Ajian Tapak Harimau.


Durgabahu melesat ke arah Lembah Manah dengan cakar panjang pada tangan kanannya. Makhluk aneh itu mendaratkan serangan pada lengan kiri Lembah Manah.


“Apa!” Durgabahu terkejut, serangannya seperti tak mengenai sasaran. Padahal, menurut perkiraannya, tebasan cakarnya pasti melukai lengan kiri pemuda itu.


“Kurang ajar!” umpat Durgabahu sembari melompat ke belakang.


Dengan memanfaatkan tanah sebagai pijakan, pemuda itu melesat ke arah Durgabahu. Satu pukulan tepat mengenai dada Durgabahu, makhluk itu terhuyung kebelakang beberapa langkah. Lembah Manah menjauh dari hadapan Durgabahu.


“Keparat!” teriak Durgabahu mendongakkan kepalanya.


“Emm, tolong biarkan aku lewat!” seru Lembah Manah memprovokasi Durgabahu.


Setelah berkata demikian, Lembah Manah datang dari arah depan Durgabahu dengan mendaratkan satu tendangan kaki kanan pada wajah Durgabahu. Makhluk itu terhuyung ke belakang dan tubuhnya terhenti setelah menghantam pohon besar.


Dengan cepat, Lembah Manah mendaratkan beberapa pukulan pada perut Durgabahu. Satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, Lembah Manah daratkan pada dagu Durgabahu. Makhluk itu jatuh tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah.


“Ampun pendekar!” pinta Durgabahu sembari menundukkan badan dan memegangi perutnya.


Namun, belum sempat Lembah Manah menjawab perkataan Durgabahu, dengan licik makhluk itu melepaskan satu tebasan dengan cakar tajam pada tangan kirinya.


Lembah Manah yang sudah hafal dengan sikap lawan-lawannya—meminta ampun, tetapi kembali menyerang secara mendadak, masih saja menggunakan Ajian Tapak Harimau miliknya.


Cakar Durgabahu hampir mengenai wajah Lembah Manah, tetapi pemuda itu mampu menghindar dengan menarik kepalanya ke belakang.


“Dikasih hati, meminta jantung!”


Lembah Manah mendaratkan beberapa pukulan pada perut Durgabahu. Dan satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, lagi-lagi Lembah Manah daratkan pada dagu Durgabahu.

__ADS_1


__ADS_2