KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (19)


__ADS_3

Namun, apa yang terjadi? Sesaat setelah kepulan asap debu menghilang, Eyang Angkoro Murko masih berdiri di dalam cekungan seperti kawah kecil tempatnya terjatuh.


Eyang Angkoro Murko melangkah pelan dan keluar dari cekungan selebar tiga depa itu.


Sungguh mengerikan kekuatan pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat Tawang ini. Ditambah lagi, Keris Memolo berada ditangan Eyang Angkoro Murko, yang membuat Pemimpin Lowo Abang itu sulit dikalahkan.


“Kau yang membuatku tak bisa bergerak!” seru Eyang Angkoro Murko menatap Ki Rogojambang. “Kaulah yang akan mati pertama!”


Setelah berkata demikian, Keris Memolo berpindah ke tangan kiri, lalu Eyang Angkoro Murko bergerak cepat ke arah Ki Rogojambang.


Tidak ada yang menyadari, pemimpin Lowo Abang itu telah berdiri di belakang Ki Rogojambang dan mendaratkan satu pukulan dengan tangan kanannya.


Tiba-tiba saja pergerakan Eyang Angkoro Murko lebih cepat dari sebelumnya, hingga membuat pendekar aliran putih semakin waspada dan memasang kuda-kuda.


“Sejak kapan kau—!”


BUGH


Satu pukulan mendarat pada wajah Ki Rogojambang ketika hendak menoleh ke belakang. Pemimpin Perguruan Anggrek Hitam itu terlempar ke samping kiri dan jatuh terguling beberapa kali. Tubuhnya berhenti berguling setelah menabrak tumpukan jasad prajurit bawahan Tirta Banyu.


Bergerak dengan cepat, tiba-tiba Eyang Angkoro Murko telah berada di depan Patih Ragas. Satu tendangan mendarat pada dagu patih berbadan kekar itu dan membuatnya terlempar beberapa depa ke belakang.


Pedang Pethit Sawa terlepas dari genggaman, dan lebih sialnya, pedang itu berhasil ditangkap oleh Eyang Angkoro Murko sembari melesat ke arah Patih Ragas yang jatuh telungkup. Eyang Angkoro Murko mengangkat Pedang Pethit Sawa setinggi mungkin, hendak melepaskan tebasan pada Patih Ragas.


Tepat satu depa sebelum mata Pedang Pethit Sawa mendarat pada tubuh Patih Ragas, sekelebat bayangan hitam menyerobot tubuh Eyang Angkoro Murko dan dihempaskan pada sudut lain tembok pagar istana.


Asap debu mengepul akibat tubuh Eyang Angkoro Murko yang menghantam tembok pagar istana. Bayangan hitam itu menampakkan wujudnya dan berdiri di samping Patih Ragas.


“Te—terima kasih, Lembah!” ucap Patih Ragas terbata-bata. “Sepertinya, musuh semakin kuat. Dia bukan manusia!”

__ADS_1


Beberapa saat setelah kepulan asap debu menghilang, terlihat Eyang Angkoro Murko kembali bangkit dan berdiri. Dikibaskan tangan kanannya untuk membersihkan jubah yang sedikit berdebu.


“Apa kalian sudah selesai!” ucap Eyang Angkoro Murko menyunggingkan senyum sinisnya. “Bagaimanapun juga, kalian tidak bisa mengalahkanku!”


“Sial! Dia benar-benar bukan manusia!” seru Lembah Manah yang kembali membuka Gerbang Kehidupan.


Seluruh tubuh Lembah Manah diselimuti oleh aura tenaga dalam berwarna hitam. Pemuda itu melesat dengan memanfaatkan permukaan tanah sebagai alas pijakan, hingga terbentuk cekungan jejak kaki setelah Lembah Manah berpindah tempat.


Lembah Manah muncul dari samping kanan Eyang Angkoro Murko dan mendaratkan satu pukulan pada wajahnya. Eyang Angkoro Murko hanya terhuyung, dan menolehkan kepalanya ke kiri.


Pemuda itu kembali lenyap dari hadapan lawannya dan berpindah ke sisi lain untuk mengacaukan konsentrasi Eyang Angkoro Murko. Lembah Manah memanfaatkan puing reruntuhan tembok pagar istana sebagai alas pijakan dan kembali menyerang Eyang Angkoro Murko.


Kali ini Lembah Manah muncul dari depan dan langsung mendaratkan beberapa pukulan merah wajah Eyang Angkoro Murko.


Pada awalnya, satu pukulan berhasil mendarat, tetapi beberapa pukulan berikutnya, Eyang Angkoro Murko berhasil menangkis serangan Lembah Manah.


Lembah Manah salto ke belakang untuk menjaga jarak dengan Eyang Angkoro Murko. Belum juga berdiri dengan sempurna, sekelebat cahaya hijau bergerak secara horizontal mengandung tenaga dalam sangat besar.


Berhasil! Serangan itu hancur tak berbekas. Sedetik kemudian, Lembah Manah mendarat ke permukaan tanah dan memasang kuda-kuda.


“Kau memang mirip dengan Andhap Asor, anak muda!” seru Eyang Angkoro Murko memandangi Lembah Manah. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”


“Namaku Lembah Manah!”


Sembari mengulur waktu, Lembah Manah menyerap energi alam yang ada di sekitarnya. Satu bola bening sebesar buah delima telah berada dalam genggaman Lembah Manah. Dengan memadatkan energi angin pada kedua telapak kakinya, pemuda itu melesat ke arah Eyang Angkoro Murko.


Senada dengan Lembah Manah, kali ini Eyang Angkoro Murko juga melesat dengan Keris Memolo terhunus ke depan.


DYAR

__ADS_1


Terjadi ledakan akibat dua serangan beradu yang menimbulkan asap debu berhamburan. Gelombang kejut bertekanan tinggi, membuat kerikil di sekitar pertarungan mereka terlempar tak tentu arah.


Bahkan, Lembah Manah terlempar beberapa depa ke belakang, tetapi berhasil menguasai tubuhnya dan mengambil kuda-kuda.


Sementara itu, Eyang Angkoro Murko hanya berdiri tanpa memasang kuda-kuda. Keris Memolo masih berada ditangan kanannya.


Tanpa disadari oleh Eyang Angkoro Murko, Ki Rogojambang telah melancarkan jurusnya dari jarak dua puluh langkah. Pemimpin Perguruan Anggrek Hitam itu memukul tanah di depannya, lalu muncullah gelombang kejut melesat cepat ke arah Eyang Angkoro Murko.


Dari dalam tanah di sekitar Eyang Angkoro Murko, muncul bongkahan batu yang perlahan menjalar dari kaki, menuju ke atas hingga menutupi seluruh tubuh Eyang Angkoro Murko. Ini adalah kesempatan bagus untuk menyerang.


Dengan cepat, Lembah Manah mendaratkan satu energi bola bening sebesar buah delima, pada bagian dada Eyang Angkoro Murko yang telah diselimuti bongkahan batu. Pemuda itu telah menyerap energi alam dan memadatkan pada cengkeraman tangan kanannya.


Saat itu juga Ki Rogojambang mengendurkan jurusnya, hingga membuat Eyang Angkoro Murko terlempar beberapa depa ke belakang. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Patih Ragas untuk menyerang menggunakan Pedang Pethit Sawa yang tergeletak tak jauh dari dirinya.


Patih Ragas melesat cepat dan meraih Pedang Pethit Sawa. Dengan mengaliri tenaga dalam yang berwarna putih, Patih Ragas menebaskan pedangnya dan berhasil membuat luka robek pada dada Eyang Angkoro Murko.


Darah muncrat dari luka sayatan, hingga mengenai baju Patih Ragas. Eyang Angkoro Murko terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan raut muka yang datar tanpa sedikit pun merasakan sakit.


Saking dalamnya luka yang diberikan tebasan pedang Patih Ragas, hingga terlihat tulang rusuk milik Eyang Angkoro Murko. Namun, selang beberapa saat, muncul asap tipis dari luka sayatan itu, setelah lima embusan napas, asap tipis itu menghilang, diikuti bekas luka tebasan pedang kembali pulih.


“Sial! Orang ini sangat kuat!” lirih Patih Ragas dengan napas terengah-engah.


“Baiklah! Aku tidak akan menahan diri lagi!” ucap Eyang Angkoro Murko.


Setelah berkata demikian, perlahan cahaya hijau menyelimuti Keris Memolo yang digenggam dan ditempelkan pada dahi Eyang Angkoro Murko.


Lalu, pemimpin Lowo Abang itu melepaskan Keris Memolo yang berubah menjadi cahaya hijau dan melayang setinggi satu depa tepat di depannya.


Eyang Angkoro Murko merentangkan kedua tangannya, diikuti cahaya hijau itu masuk melalui mulutnya yang menganga.

__ADS_1


Mata Eyang Angkoro Murko terbelalak, tetapi tidak terdengar suara apa pun dari dalam mulutnya. Setelah seluruh cahaya hijau itu memasuki tubuh eyang Angkoro Murko, seluruh tubuh pemimpin Lowo Abang itu berwarna hijau.


“Ini benar-benar gila! Dia bersekutu dengan siluman!” ucap Lembah Manah memandangi perubahan wujud Eyang Angkoro Murko.


__ADS_2