
Lima anggota Belati Merah melesat ke arah Lembah Manah dengan senjata belati. Pemuda itu diserang dari berbagai sisi dan dari segala arah oleh lima anggota itu. Namun, gerakan Lembah Manah cukup gesit ketika pertarungan jarak dekat.
Dalam waktu sekejap saja, lima anggota Belati Merah dapat dilumpuhkan dengan luka patah tulang. Ketua Belati Merah semakin geram, melihat anak buahnya dengan mudah dikalahkan oleh pemuda yang menurutnya hanya memiliki ilmu kanuragan tingkat Andhap saja.
“Kurang ajar!” Ketua Belati Merah melompat ke awang-awang dan menghujam Lembah Manah dengan dua belati pada tangan kanan dan kirinya.
Jika tidak berguling ke samping, mungkin Lembah Manah terkena sayatan belati milik Ketua Belati Merah. Pertarungan tak terhindarkan, keduanya sama baiknya dalam pertarungan jarak dekat.
Meski hanya dengan tangan kosong, tetapi Lembah Manah mampu menghindari setiap serangan Ketua Belati Merah. Lembah Manah salto ke belakang dan berhasil menjaga jarak agar lebih jauh dengan Ketua Belati Merah.
Belum juga pemuda itu mendarat dengan sempurna, lima belati melesat ke arahnya dengan cepat. Dengan mengaktifkan Gerbang Kegelapan, kedua tangan Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam dan menangkis lima serangan belati.
Cukup lama mereka berdua saling bertukar serangan, beradu puluhan jurus, pukulan dan tendangan. Dari semua serangan yang dilepaskan Ketua Belati Merah, tidak ada satu pun yang berhasil melukai Lembah Manah.
Begitu juga sebaliknya, sembari bertahan dan menghindar, sesekali Lembah Manah menyerang Ketua Belati Merah. Namun, serangannya juga tak ada satu pun yang dapat melukai lawannya.
“Bocah kurang ajar!” geram Ketua Belati Merah.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah melihat celah terbuka pada bagian bawah Ketua Belati Merah. Satu pukulan mendarat pada perut Ketua Belati Merah, hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang.
Saat lawannya lengah, Lembah Manah melesat ke sudut lain dari tempat pertarungan ini, pemuda itu memanfaatkan pepohonan besar di sekitarnya untuk melakukan strategi bertarung.
“Keluarlah hoi bocah kurang a—aahhkk!”
Perkataan Ketua Belati Merah berubah menjadi teriakan kesakitan ketika satu tendangan mendarat pada wajahnya. Kembali Lembah Manah lenyap dari pandangan lawannya, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam berpindah-pindah tempat.
Ketua Belati Merah melompat dan melayang di udara untuk beberapa saat. Tangan kanannya mengangkat ke atas dengan mata belati terbalik—di bawah pergelangan tangannya. Pada saat itu juga cahaya merah berkumpul pada bilah belatinya dan membentuk pola lingkaran di depannya.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, tangan kanannya menghujam ke bawah diikuti ratusan belati melesat tak tentu arah, keluar dari pola lingkaran yang dibuatnya. Serangannya mengandung tenaga dalam yang besar, hingga beberapa pohon besar yang terkena sayatan belatinya tumbang seketika.
Ini adalah teknik yang sulit dipelajari. Biasanya seorang pendekar mengalirkan tenaga dalam pada senjatanya, lalu melemparkan energi tenaga dalam itu dari senjatanya.
Namun, berbeda dengan Ketua Belati Merah. Pria itu mengalirkan tenaga dalam pada banyak belati dan melemparkan beserta belati itu. Bukan hanya sekadar energi tenaga dalam saja yang terlempar.
Pada sisi lain, Lembah Manah yang sudah mengaktifkan Gerbang Kehidupan hanya menunggu momentum yang tepat untuk menyerang.
Sembari membungkukkan badannya, pemuda itu menginjak dahan pohon besar dan melesat cepat dengan menangkis belati yang menderu ke berbagai arah menggunakan kedua tangan, bahkan kedua kakinya.
Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada dada kiri Ketua Belati Merah, yang membuatnya melambung tinggi ke atas awang-awang. Lembah Manah tak membiarkan lawannya dapat bernapas lega. Dengan gerakan cepatnya, pemuda itu sudah menghadang di belakang Ketua Belati Merah.
Gawat! Pemuda itu berniat mengakhiri dalam satu serangan.
Satu pukulan telapak tangan terbuka, lagi-lagi mendarat pada tubuh Ketua Belati Merah. Kali ini mengarah bagian dagu yang membuatnya jatuh tersungkur ke bawah dan menghantam pohon besar dengan mulutnya mengeluarkan darah.
“Orang sepertimu pantas mendapatkannya!” lirih Lembah Manah, sesaat setelah mendarat pada permukaan tanah.
BUM
Tiba-tiba sekelebat cahaya putih terang menghantam pohon yang telah tumbang di samping kiri Lembah Manah hingga membuat pohon itu hancur berhamburan. Sial! Ada apa lagi.
Satu masalah selesai, timbul masalah baru. Panji Giri datang dengan beberapa bawahannya. Belum juga Lembah Manah memasang kuda-kuda, belasan bawahan Panji Giri menyerang pemuda itu.
Masih dengan tangan kosong, Lembah Manah menghindari setiap tebasan pedang yang mengarah ke tubuhnya. Dengan fisik dan stamina yang masih terjaga, pemuda itu seperti tak punya lelah.
Kadang hanya menghindari tebasan pedang, dan sesekali mengarahkan beberapa pukulan kepada lawan-lawannya.
__ADS_1
Lembah Manah berhasil menjaga jarak dari belasan bawahan Panji Giri agar sedikit menjauh. Dengan Gerbang Kehidupan yang masih aktif, setiap gerakan dari pemuda itu yang terlihat hanya sekelebat bayangan hitam melesat zig-zag.
Belasan bawahan Panji Giri jatuh terkapar dengan berbagai luka patah tulang. Ada yang patah tulang tangan, patah tulang kaki, bahkan ada yang patah kedua tangan dan kakinya, tetapi tidak sampai membunuhnya.
“Kurang ajar! Tangkap keparat itu!” geram Panji Giri memerintahkan anak buahnya yang tersisa.
Kali ini para bawahan Panji Giri membawa senjata berupa belati, sisa-sisa dari Kelompok Belati Merah. Meski kalah jumlah, tetapi Lembah Manah tak menunjukkan rasa takut. Bahkan pemuda itu sempat tersenyum ketika menyambut lawannya datang. Entah senyum hinaan atau memang dirinya yang murah senyum.
Tujuh bawahan Panji Giri dapat dilumpuhkan dengan berbagai luka patah tulang. Kini hanya tinggal empat bawahan yang mungkin ilmu kanuragannya lebih tinggi dari anggota sebelumnya, dan seorang Panji Giri.
Dari tiga orang itu, seorang yang melesat pertama memakai senjata berupa pedang. Menyerang Lembah Manah dengan satu tebasan yang mengeluarkan cahaya putih terang. Dengan mudah Lembah Manah menghindar berguling ke samping kiri.
Belum juga berdiri dengan sempurna, serangan datang lagi menghujani pemuda itu. Lima cahaya putih terang melesat ke arah Lembah Manah, kali ini lebih cepat dari serangan yang pertama.
Dengan pandangan yang lebih tajam, Lembah Manah mampu melihat setiap serangan yang melesat ke arahnya. Mudah saja pemuda itu menghindari lima tebasan yang datang dengan beberapa jeda, lalu menginjak tanah sebagai alas lompatan dan melesat ke arah pria berpedang.
Lembah Manah sedikit membungkukkan badan dengan kedua tangan menyilang di depan wajahnya.
Setelah serangan terakhir berhasil dipatahkan, dengan kecepatannya, pemuda itu mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka tepat di dada kiri pria berpedang.
Darah keluar dari mulut pria berpedang, sesaat setelah jatuh terguling dan tubuhnya terhenti ketika menghantam pohon besar. Satu lawannya pingsan, kini tinggal tiga pria di hadapannya.
“Kurang ajar!” Panji Giri bertambah geram melihat salah satu bawahannya yang paling kuat telah tumbang. “Kalian! bunuh keparat ini!”
Dua pria bawahan tersisa bersenjatakan belati merah. Keduanya sangat mahir dalam serangan jarak dekat, gerakannya juga lincah dan tak terduga. Namun, kecepatan dua pria itu tak lebih cepat dari gerakan Lembah Manah.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, pemuda itu mampu mengimbangi dua pria bersenjatakan belati. Satu tebasan hampir mengenai perut pemuda itu, jika tidak menarik tubuhnya ke belakang dan salto menghindari tebasan berikutnya.
__ADS_1