
Hari ini adalah hari dimana Lembah Manah berangkat menuju Kerajaan Indra Pura untuk mengikuti Pertandingan Besar. Pemuda itu bangun lebih awal guna mempersiapkan apa saja yang akan dibawanya.
“Sepertinya cukup!” lirihnya memperhatikan barang bawaannya.
Ki Tunggul memperhatikan muridnya yang tengah bersiap-siap. Pria itu kagum dengan sosok Lembah Manah yang dengan rapi menata semua barang bawaannya sendiri. Berbeda dengan Wanapati yang dibantu dengan Jayadipa dan Nata untuk menata barang bawaannya.
Ki Tunggul berpindah menuju kamar Wanapati. Didapati pemuda itu tengah bersiap-siap dengan dibantu Jayadipa dan Nata.
Seperti yang sudah dibicarakan dalam pertemuan, pihak perguruan membawa beberapa utusan untuk bersiaga pada gelaran Pertandingan Besar, guna menekan pergerakan Ki Badra. Rencananya, Ki Tunggul mengirim Sesepuh Anggada, Jayadipa dan Nata. Sedangkan Wanapati mendampingi Lembah Manah dalam Pertandingan Besar.
“Aku berharap, rencana kita berhasil!” ucap Ki Tunggul sesaat setelah mereka berkumpul di halaman perguruan.
Mendengar ucapan Ki Tunggul, Lembah Manah dan Wanapati saling menatap, selang beberapa detik kemudian mereka menganggukkan kepalanya secara bersamaan mengiyakan pendapat gurunya.
Ni Luh tampak cemberut menjelang keberangkatan teman-temannya, terutama melepas kepergian Lembah Manah. Tentu saja gadis itu akan berpisah untuk sementara waktu dengan pemuda pujaan hatinya. Dengan keberaniannya, Ni Luh mencoba untuk mendekati Lembah Manah dan duduk di samping pemuda itu.
“Lembah! Aku berharap kau kembali dengan selamat!” ucap Ni Luh lirih.
“I-iya Ni Luh. Emm, aku pasti kembali dengan selamat. Aku janji akan kembali untukmu!” sahut Lembah Manah.
DEG
Seketika ucapan Lembah Manah membuat Ni Luh salah tingkah, wajahnya merah merona, tetapi gadis itu menyembunyikan dengan cara menundukkan kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba Lembah Manah berkata demikian. Atau mungkin pemuda itu sengaja menenangkan hati Ni Luh, dengan mendengar perkataan itu, pastinya Ni Luh menjadi sedikit tenang.
“Sudahlah Ni Luh, kamu jangan khawatir. Kita pasti kembali dengan selamat!” timpal Wanapati meyakinkan temannya.
Setelah bercengkerama cukup lama, Lembah Manah dan Wanapati berangkat terlebih dahulu. Rencananya, Sesepuh Anggada, Jayadipa dan Nata akan menyusul tiga hari kemudian. Dan akan menyusup dalam rombongan penonton.
“Guru! Kami berangkat!” seru Wanapati membungkukkan badannya diikuti Lembah Manah.
Jika berjalan, mereka akan tiba di Ibukota Kerajaan Indra Pura dalam empat puluh hari. Namun, jika bergerak dengan meringankan tubuh, akan tiba dalam beberapa hari saja, tetapi energi mereka akan terkuras habis, dan akan berpengaruh pada penampilannya dalam pertandingan, jadi mereka memilih untuk berjalan, karena waktu pertandingan masih cukup lama.
__ADS_1
Tujuan mereka yang pertama adalah Ibukota Kerajaan Sokapura. Menurut kabar yang beredar, sepertinya Wulan juga ikut dalam Pertandingan Besar. Karena tuan putri tersebut masuk dalam peringkat empat pada Pertandingan Pendekar Muda Kerajaan beberapa bulan yang lalu.
Berjalan ke arah barat, melewati jalan tanah berbatu ciri khas pedesaan dengan kanan dan kiri pohon besar yang membuat suasana menjadi sejuk. Diiringi kicau burung kutilang yang melakukan ritual siangnya.
***
“Selamat datang kembali Wanapati, Lembah!” ucap Patih Ragas menyambut kedatangan mereka berdua ketika sampai istana kerajaan.
“Bagaimana kabar Anda, patih?” sahut Wanapati.
“Seperti yang kalian lihat. Aku tampak sehat bukan!” jawab Patih Ragas.
Mereka berdua diantar Patih Ragas menuju ruang khusus tamu yang telah di siapkan oleh pihak istana. Lembah Manah masih saja tampak terkesima meski telah beberapa kali memasuki istana Raja Brahma.
“Hormat kami Yang Mulia!” seru Wanapati dan Lembah Manah membungkukkan badannya bersamaan.
“Hormat kalian aku terima. Silakan duduk, Wanapati, Lembah. Bagaimana kabar kalian?” sahut raja.
Lalu mereka bercengkerama selama beberapa waktu sembari menjalin keakraban antara raja dan rakyatnya. Wulan juga bergabung bersama mereka, tak lupa sang ratu juga telah sembuh dari penyakitnya beberapa waktu yang lalu.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Wanapati dan Lembah Manah berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini ditambah dengan Wulan sebagai peserta tambahan dan Patih Ragas yang akan menjadi kusir kereta kuda.
Apa! Kereta kuda! Ya benar, Wanapati dan Lembah diberi fasilitas langsung oleh sang raja berupa kereta kuda, untuk perjalanan mereka.
“Aku punya sesuatu untuk Anda, tuan putri!” ucap Lembah Manah sembari mengeluarkan potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam.
“Apa ini Lembah!” sahut Wulan menyambut pemberian Lembah Manah.
“Itu racun!” jawab Lembah Manah tegas.
“Apa!” Semua terkejut dengan perkataan Lembah Manah yang keluar begitu saja.
__ADS_1
“Hoi! Bocah Gendeng, apa kau sudah gila!” timpal Wanapati.
“Itu racun untuk senjata kipas tuan putri!” kilah Lembah Manah menggaruk kepalanya. “Racun itu hanya membuat lawan tak bergerak selama beberapa saat. Tak seperti milik Ki Jalmo yang berbahaya!”
Semua lega mendengar penjelasan Lembah Manah. Mereka mengira, racun itu untuk Wulan agar meminumnya.
Memangnya Lembah Manah sudah gila! Gadis secantik tuan putri disuruh meminum racun! Wkwkwk.
Mereka berangkat menuju Kerajaan Indra Pura, dengan diantar Raja Brahma sampai pintu gerbang istana.
Menaiki kereta kuda, tentunya sangat menghemat tenaga dan juga lebih cepat sampai ketimbang berjalan kaki. Lembah Manah dan Wanapati menaiki gerobak di belakang kereta kuda, sedangkan Wulan berada di dalam.
Jalan yang dilalui semakin menanjak dengan kanan kiri pepohonan rimbun. Namun, tak ada rumah penduduk di sekitar tempat ini.
“Kita akan memasuki Pegunungan Mahendra sisi punggungan selatan!” seru Patih Ragas sembari membuka tirai pada kereta kuda. “Waspadalah! Daerah ini rawan perampokan!”
Lembah Manah memperhatikan sebuah papan tulisan yang menempel pada pohon bertuliskan ‘selamat datang di Pegunungan Mahendra punggungan selatan’. Di sekitar papan tulisan itu berhiaskan ukiran berbentuk naga yang kemungkinan itu adalah Naga Baru Kelinting, penghuni Pegunungan Mahendra.
Pegunungan Mahendra sendiri merupakan pegunungan yang berada di tengah Daratan Yava. Membentang dari utara ke selatan dengan ketinggian bervariasi. Pada sebuah puncaknya, terdapat petilasan yang diyakini Petilasan Naga Baru Kelinting—penjaga Puncak Mahendra.
Pada bagian timur, Pegunungan Mahendra masuk dalam wilayah Kerajaan Sokapura. Di sisi selatan dan barat, masuk dalam Kerajaan Indra Pura. Sedangkan pada sisi utara juga barat, masuk dalam wilayah Kerajaan Tanjung Pura.
Orang biasa ataupun pedagang, tidak ada yang berani melewati jalur ini. Mereka takut jika perjalanan mereka dihadang perampok, atau bahkan siluman. Mereka lebih memilih jalur lain meski memutar lebih jauh.
Hari menjelang sore, mereka memutuskan untuk beristirahat dan membuat perkemahan serta mencari kayu bakar untuk membuat perapian sebelum malam datang. Mereka menemukan sebuah tempat yang datar dan tertutup oleh semak-semak, juga sedikit menjauh dari jalur utama.
Malam pun tiba, Lembah Manah yang telah berburu kelinci segera mengolah hewan mungil itu di depan perapian. Dengan didampingi Wulan, gadis itu tak sedetik pun melepaskan pandangannya ke arah Lembah Manah.
“Aku juga masih ingat kelinci panggang di perjalanan menuju Dermaga Bemini!” seru Wulan tersenyum.
Lembah Manah salah tingkah, karena di sini ada Wanapati. Khawatir jika temannya akan bercerita kepada Ni Luh, Lembah Manah menghentikan perkataan Wulan dengan menaruh jari telunjuk di depan bibirnya sendiri, sembari melirikkan mata ke Wanapati tanpa menolehkan kepalanya.
__ADS_1
“Ohh!” Wulan tak jadi melanjutkan ceritanya.