
Sepertinya mereka berdua terlihat semakin akrab. Walaupun Lembah Manah terkesan sedikit cuek, tetapi Wulan menutupinya dengan terus berusaha agar pemuda itu memperhatikannya.
Wulan gadis yang cantik, ramah, baik dan periang, juga putri seorang raja, tetapi hanya dianggap biasa saja oleh Lembah Manah.
Dasar kau Kacung Kampret!
Keduanya beristirahat sejenak di tepi padang rumput dan duduk di sebuah batu besar. Sisi utara Desa Kedhung Wuni memang jarang penduduk, bahkan masih terdapat hutan yang sangat rapat.
Penduduk hanya menempati pesisir utara, memanjang dari arah barat perbatasan dengan Desa Kedhung Kayang, dan ke timur hingga pesisir pantai timur Desa Kedhung Wuni.
Hari beranjak petang, matahari mulai kembali ke peraduannya. Seakan tak ingin melewatkan matahari terbenam, Wulan berdiri di atas batu besar itu dan membuka matanya lebar-lebar menyaksikan langit jingga yang sesaat lagi berubah menjadi gelap.
“Indah sekali! Sangat jarang aku melihat pemandangan seperti ini!” seru Wulan merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan.
Padahal dalam hatinya, ‘menikmati matahari terbenam bersama pemuda pujaan hati, betapa bahagianya hatiku!’
Mereka masih saja beristirahat di tepi padang rumput sembari menyantap beberapa camilan yang dibawa Wulan sesaat sebelum keluar istana.
“Jika malam ini kita melewati Hutan Rakyat ke arah utara, besok sore kita akan sampai Dermaga Bemini!” ucap Wulan memecah keheningan.
“Aku tidak mau bergerak di malam hari. Emm, itu terlalu berbahaya!” sahut Lembah Manah yang tampak seperti menggumam karena mulutnya penuh makanan.
“Lalu! Apa rencanamu?” selidik Wulan penasaran.
“Anu, kita bergerak besok pagi. Lagi pula aku juga sudah lelah!” kilah Lembah Manah.
“Lalu—!”
“Ya, kita bermalam di tempat ini!” seru Lembah Manah tegas.
__ADS_1
“Apa!” Wulan membelalakkan matanya.
Sebenarnya Lembah Manah masih bisa bergerak, bahkan sampai tujuh hari ke depan, tetapi pemuda itu mempertimbangkan keadaan Wulan yang telah kelelahan karena terlalu lama menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Semakin malam, suara jangkrik terdengar semakin merdu, menandakan agar makhluk siang segera beristirahat dan berganti dengan makhluk malam yang melakukan kegiatannya.
Wulan tampak begitu kelelahan setelah bergerak seharian penuh. Lembah Manah berencana bermalam di tepi padang rumput ini, dengan berlindung dibalik semak belukar dan membuat gubuk sederhana dari ranting kering.
“Emm, kita akan bermalam di sini!” ucap Lembah Manah sesaat setelah selesai membuat gubuk yang terlihat lebih mirip dengan sarang babi hutan. “Tuan putri tidur saja di dalam sini, aku akan membuat perapian, agar tidak ada hewan buas mendekat!”
Wulan hanya mengangguk pelan menyetujui permintaan Lembah Manah. Wajah tuan putri itu tampak kepayahan, jika saja perjalanan dilanjutkan, bukan tidak mungkin Wulan akan pingsan dan tentu saja malah merepotkan Lembah Manah.
Sementara itu, setelah membuat perapian, Lembah Manah mencoba untuk mencari hewan buruan dengan tombak yang baru saja dibuatnya. Meski telah memakan camilan, tetapi tentu saja perut pemuda itu masih memberontak untuk malam ini.
“Aku tidak bisa tidur seperti ini. Aku takut, kau jangan jauh-jauh dariku!” pinta Wulan kepada Lembah Manah yang tengah membakar seekor kelinci.
“Anu, pamali, tuan putri tidur saja sendiri!” sahut Lembah Manah menjauh dari Wulan.
Malam mendekati dini hari, suara jangkrik kini diiringi dengan suara burung hantu. Wulan keluar dari gubuk yang dibuat Lembah Manah, gadis itu melihat perapian yang hanya menyisakan baranya saja.
Lalu menyapu pandangan ke arah Lembah Manah yang tidur di bawah pohon besar dengan posisi duduk.
Wulan memberanikan diri melangkah mendekati Lembah Manah, tuan putri itu melambaikan tangannya di depan wajah Lembah Manah, tetapi tidak ada respons dari pemuda itu.
“Rupanya kau sudah terlelap!” lirih Wulan tersenyum.
Gadis itu memandangi wajah Lembah Manah yang tampak jelas karena malam ini bulan bersinar sangat terang. Tak bosan-bosannya gadis itu memandangi wajah Lembah Manah.
“Jika diperhatikan, kau tampan juga,” ucap Wulan memandangi wajah Lembah Manah. “Meski terkesan cuek, tetapi kau masih memiliki norma dan akal budi yang baik, tak seperti anak petinggi kerajaan yang selalu mendekati dan menggodaku!”
__ADS_1
Pada satu kesempatan tiba-tiba saja perlahan Wulan mendekatkan wajahnya pada wajah Lembah Manah yang tengah tertidur lelap. Ini pertama kalinya bagi Wulan, entah kenapa gadis itu merasa ada gejolak di dalam dirinya, Wulan ingin menahannya, tetapi hatinya tidak.
Meski merasa sedikit cemas, tetapi Wulan memberanikan diri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lembah Manah. Namun, tiba-tiba pemuda itu membuka matanya, karena merasa ada seseorang yang tengah bertarung.
“Tuan putri!” seru Lembah Manah yang membuat Wulan mengurungkan niatnya.
Wajah Wulan memerah menahan malu, jika saja siang hari maka akan tampak jelas raut muka tuan putri itu.
“Emm, aku mendengar suara pertarungan!” lanjut Lembah Manah berdiri dan menyapukan pandangan ke sekelilingnya.
Bara api telah padam seluruhnya, yang tampak hanya remang-remang cahaya bulan yang jika ada sekelebat orang bergerak, maka akan tetap terlihat dengan mata biasa.
Satu cahaya merah melesat cepat mengenai pohon tempat Lembah Manah tidur. Jika pemuda itu tidak melompat ke samping, tentu saja mereka berdua terkena serangan itu.
Lembah Manah meraih tubuh Wulan, lalu menggendong tuan putri itu menjauh dari tepi padang rumput dan memasuki hutan yang sebelumnya telah mereka lewati. Lembah Manah bersembunyi dari balik pohon besar bersama Wulan yang masih saja memandangi wajah pemuda itu.
“Emm, aku akan memeriksanya!” seru Lembah Manah beranjak meninggalkan Wulan. “Tetaplah di sini Tuan Putri!”
Tiga cahaya merah melesat sesaat setelah Lembah Manah keluar meninggalkan persembunyian Wulan, dan membuat pohon itu hancur setelah terkena tebasan merah yang kemungkinan salah sasaran dari suara pertarungan yang di dengar Lembah Manah.
Wulan hanya tertegun melihat Lembah Manah, entah apa yang ada di dalam pikiran tuan putri itu, dalam keadaan genting seperti ini malah bisa-bisanya beranggapan yang tidak-tidak saja.
“Gerbang kedua, terbukalah!”
Tubuh Lembah Manah berselimut aura tenaga dalam berwarna hitam. Pemuda itu melesat cepat dan bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai suara pertarungan di tengah padang rumput yang menjadi sumber serangan yang mengarah kepadanya.
Seorang pria memakai topeng bersenjata dua pedang, tengah berjibaku melawan tiga orang perempuan. Dan di sudut lain, juga seorang pria bertopeng menggenggam pedang pada tangan kanannya melawan dua orang, laki-laki dan perempuan.
Lembah Manah masih saja memperhatikan kedua kubu itu bertarung. Terkadang tiga orang perempuan semakin terpojok dengan pria bertopeng. Kadang pula melihat dengan saksama dua pendekar pada kubu pertarungan yang lainnya lagi.
__ADS_1
“Tidak salah lagi!” seru Lembah Manah teringat perkataan Eyang Balakosa dari Perguruan Pedang Putih. “Mereka adalah Tiga Bunga Bersaudara bersama, Araka dan juga Sekar!”