KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (7)


__ADS_3

Lembah Manah telah menghabisi para prajurit bawahan Tirta Banyu yang mencoba untuk mengejar Raja Brahma dan keluarga kerajaan lainnya. Sepertinya pemuda itu bisa bergerak ke sisi lain untuk membantu para pendekar aliran putih yang terdesak.


Dengan hanya meninggalkan beberapa prajurit Sokapura, keluarga kerajaan menuju bukit kecil yang agak jauh dari medan perang.


Dari kejauhan, pemuda itu melihat Ki Rogojambang baru saja terkena satu serangan dari lawannya. Lembah Manah tidak begitu jelas mengenai lawan Ki Rogojambang dari kejauhan karena menggunakan cadar penutup wajah.


Sembari melesat ke arah pertarungan Ki Rogojambang, Lembah Manah mendaratkan beberapa pukulan pada prajurit bawahan Tirta Banyu yang menghalangi jalannya. Pemuda itu mengincar organ vital dari lawannya, tanpa menghilangkan nyawanya.


Dengan membuka gerbang kedua, kecepatan pemuda itu tak bisa dilihat oleh mata biasa. Teriakan kesakitan menggema di seluruh langit Sokapura, ketika Lembah Manah mendaratkan serangan.


Itulah salah satu poin keunggulan untuk menurunkan mental lawannya. Dengan mendengar teriakan kesakitan, mental lawan akan semakin menciut dan akan mengganggu konsentrasinya dalam bertarung.


“Kurang ajar!” seru salah satu pendekar aliran hitam bawahan Ki Badra yang membawa pedang hendak menebas Lembah Manah.


Namun, sedetik kemudian perkataannya terhenti dan berubah menjadi teriakan kesakitan ketika satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada dagunya. Pendekar itu terlempar ke belakang dan menabrak beberapa prajurit bawahan Tirta Banyu, sepertinya pendekar itu pingsan.


Kembali Lembah Manah melesat ke arah yang lain untuk mendekat ke pertarungan Ki Rogojambang. Lagi-lagi pemuda itu mendaratkan pukulan pada prajurit bawahan Tirta Banyu yang tengah bertarung dengan para pendekar aliran putih.


“Terima kasih, pendekar!” ucap salah satu pendekar yang memakai ikat kepala berwarna putih menyadari dirinya diselamatkan oleh Lembah Manah. Hampir saja pendekar itu terkena sayatan pedang pada tubuhnya, jika saja Lembah Manah tidak menghalau serangan pendekar bawahan Ki Badra.


Tiga Bunga Bersaudara juga masih berjibaku dengan para prajurit bawahan Tirta Banyu. Tak jauh dari mereka bertiga, ada Puspa Ayu dan Kadaka yang bekerja sama menghadapi lima pendekar bawahan Ki Badra.


Sesuai dengan nama perguruan tempat mereka menimba ilmu, senjata yang mereka gunakan adalah tombak berwarna putih.


Satu tebasan pedang hampir mendarat pada wajah Kenanga. Beruntung Lembah Manah datang dan melepaskan satu pukulan telapak tangan terbuka pada lawan Kenanga. Gadis itu sedikit lengah, karena kalah dalam jumlah.


“Lembah!” ucap Kenanga membelalakkan matanya.


“Berhati-hatilah, Kenanga!” sahut Lembah Manah dan berlalu meninggalkan pertarungan Kenanga. “Aku tak ingin Tiga Bunga Bersaudara hanya tinggal dua ataupun tinggal satu!”

__ADS_1


Mendengar suara Lembah Manah, Puspa Ayu menoleh ke arah pemuda itu. Namun, hanya sekelebat bayangan hitam saja yang lewat di samping gadis itu.


“Ahh, aku belum sempat melihatnya!” ucap Puspa Ayu seraya menghindari serangan lawannya.


Lembah Manah melesat ke arah yang lainnya lagi, sepertinya pemuda itu hanya menjadi peran pembantu dalam pertarungan kali ini. Namun, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu dan datang di saat yang sangat tepat, karena kecepatannya di atas rata-rata.


Kini Lembah Manah telah sampai pada tempat yang menjadi ajang pertarungan Ki Rogojambang dan Kagendra. Pemuda itu membelalakkan matanya ketika menyadari yang menjadi lawan Ki Rogojambang adalah Kagendra—rekan dari Hadyan yang telah berhasil dikalahkannya.


“Kau—!” Perkataan Lembah Manah terhenti dan beralih menatap Ki Rogojambang yang telah mendapat beberapa luka pada bagian wajahnya. “Anda baik-baik saja, Ki!”


“Hati-hati, Lembah!” ucap Ki Rogojambang memegangi dadanya. “Dia mirip dengan Hadyan, tidak bisa mati. Pantas saja mereka menjadi rekan!”


“Apa!” sahut Lembah Manah terkejut.


Lembah Manah menyerap energi alam dan menciptakan bola bening sebesar buah jeruk pada telapak tangan kanannya. Dengan memadatkan energi angin pada kakinya, Lembah Manah melesat dan mendaratkan satu serangan tepat mengenai perut Kagendra.


Kagendra terlempar beberapa langkah ke belakang, tubuhnya berhenti berguling setelah menghantam pagar tembok istana.


“Pancasona!”


“Tiga detik! Ini bahkan lebih kuat dari Hadyan yang memiliki jeda lima detik!” lirih Lembah Manah setelah menghitung jeda waktu Kagendra untuk bangkit dari kematiannya yang sementara.


Lembah Manah berpikir sejenak dan mengatur strategi. Menurutnya, tidak mungkin Kagendra akan kalah dengan cara digantung seperti Hadyan. Lagi pula, tidak ada pohon besar di pelataran halaman istana.


Pemuda itu duduk bersila dan memejamkan matanya. Sementara Kagendra bersiaga dan memperhatikan tingkah laku pemuda di depannya yang menurutnya sedikit aneh dan berbeda dari kebanyakan lawan yang dihadapinya.


“Guru!” lirih Lembah Manah mencoba untuk berkomunikasi dengan Ki Gendon. “Orang ini hampir sama dengan lawan Lembah, ketika bertarung di Perguruan Anggrek Hitam!”


Beberapa saat kemudian, terdengar suara di dalam relung kepala Lembah Manah dan berkata, “penggal kepalanya dan pisahkan dari tubuhnya!”

__ADS_1


Setelah suara itu menghilang, Lembah Manah membuka mata seakan tak percaya. Dirinya tidak tega jika harus menghilangkan nyawa seseorang. Sesuai dengan pesan Begawan Narmada ketika dirinya hendak meninggalkan Gunung Sundara.


Namun, di sisi lain, akan lebih banyak korban berjatuhan, jika Kagendra tidak dihentikan. Dengan keabadiannya, tentu Kagendra akan semakin merajalela.


Lembah Manah punya rencana, pemuda itu mendekati Ki Rogojambang yang masih mengatur napasnya yang sedikit sesak.


“Ki, bisakah Anda memanggil pengguna pedang dan seorang pemanah!” ucap Lembah Manah sedikit berbisik di telinga Ki Rogojambang.


Ki Rogojambang hanya menganggukkan kepalanya setelah mengetahui rencana Lembah Manah. Setelah menyampaikan maksudnya, Lembah Manah melesat cepat ke arah Kagendra dan menyerang dengan beberapa jurusnya.


Dengan gerakan pasti, Kagendra menghindari setiap serangan Lembah Manah sembari melangkah ke belakang. Meski cenderung pelan dalam menghindar, tetapi Kagendra mampu membaca serangan Lembah Manah dengan baik.


Lembah Manah salto ke belakang dan mengambil jeda untuk menyerap energi alam. Beberapa saat kemudian, pemuda itu telah menciptakan bola bening sebesar buah delima pada cengkeraman tangan kanannya.


Dengan memadatkan energi angin pada dua kakinya, Lembah Manah melesat dan mendaratkan satu pukulan pada perut Kagendra.


“Sekarang, Ki!” ucap Lembah Manah memberi kode kepada Ki Rogojambang, lalu melesat menaiki pagar tembok istana.


Kagendra terlempar beberapa langkah ke belakang. Saat tubuh pria bercadar itu melayang, Ki Rogojambang memukul tanah, diikuti gelombang kejut mengandung tenaga dalam meluncur ke arah Kagendra.


Batu memanjang muncul di bawah tubuh Kagendra yang seketika mengunci kedua kakinya. Dengan cepat, salah seorang pendekar berpedang melesat dan menebas kepala Kagendra dengan pedangnya. Sesuai apa yang telah direncanakan Lembah Manah.


Sesaat setelah kepala Kagendra terpisah dari tubuhnya, seorang pemanah membidik dan melepaskan anak panah dari busurnya tepat mengenai kepala pria bercadar itu dan menancap pada salah satu tiang menara pengintai.


“Tamatlah kau, penganut jurus aneh!” maki pendekar pemanah itu.


Dengan gerakan tangannya, Ki Rogojambang seakan menyelimuti tubuh Kagendra dengan batu yang sebelumnya telah mengunci kedua kaki pria bercadar itu. Perlahan, seluruh tubuh Kagendra tertutup oleh batu keras, sepertinya Kagendra telah tewas.


Ya, setelah menyampaikan rencananya kepada Ki Rogojambang, serangan Lembah Manah hanya untuk mengalihkan perhatian Kagendra, agar ketika Ki Rogojambang memanggil pendekar pedang dan pemanah tidak diketahui oleh Kagendra.

__ADS_1


Dan ketika Lembah Manah mendaratkan satu serangan pada perut Kagendra, mereka melancarkan rencananya dengan diberi isyarat oleh Lembah Manah. Sepertinya rencana pemuda itu berhasil.


__ADS_2