KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Cambuk Api (3)


__ADS_3

“Aku tak akan melepaskanmu, Lokadenta!” Kartala turun dari panggung dan pergi dari tempat itu sesaat setelah meneguk arak dari kendi labunya. “Tunggu saja hari keruntuhanmu!”


Kartala, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun yang gemar meminum arak ini adalah seorang pendekar yang selalu memberantas kejahatan. Karena berasal dari Gua Lawa yang berada di wilayah utara—Bunga Merah, pria itu pun dijuluki Pemabuk Dari Gua Lawa.


Sebenarnya, jika Kartala mau, dia bisa saja dengan mudah mengalahkan Lokadenta. Namun, pria tua itu masih menghormati Empu Tulak sebagai teman semasa mudanya. Pria tua itu pun berniat mengunjungi kediaman Empu Tulak dan meninggalkan perkumpulan itu.


“Lokadenta!” Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun melompat ke atas panggung dengan membawa pedang pendek ditangan kanan dan kirinya. “Aku, Selo Giri menentang kebijakanmu!”


“Jangan tetua!” Seorang murid berusaha menghentikan Selo Giri, tetapi tidak digubris oleh pria pembawa dua pedang itu.


“Ohh, rupanya salah satu tetua Perguruan Ular Putih!” sahut Lokadenta menggulung cambuk ditangan kanannya. “Majulah!”


Selo Giri adalah seorang tetua dari Perguruan Ular Putih yang masuk wilayah Bunga Biru di pesisir pantai selatan Kadipaten Lembah Bunga. Perguruan Ular Putih sendiri, adalah salah satu perguruan yang menyangga keamanan Kadipaten Lembah Bunga.


Selo Giri melesat dengan menebaskan pedang pendeknya, bergantian tangan kanan dan kiri. Lokadenta hanya menghindari serangan dengan bergerak ke belakang sembari memperlebar jarak dengan Selo Giri.


Pria berkepala plontos itu mengayunkan cambuknya, menurutnya serangan menggunakan tenaga dalam akan menimbulkan daya hancur yang dahsyat. Namun, perkiraan Lokadenta salah, Selo Giri mampu menghindar dengan berguling ke samping.


Belum juga berdiri dengan sempurna, ujung cambuk melilit pedang di tangan kirinya. Lokadenta menarik cambuknya, hingga pedang milik Selo Giri terlempar.


Kembali Lokadenta mengayunkan cambuknya. Kali ini mengincar pedang ditangan kanan Selo Giri.


Setelah kedua pedang Selo Giro terlempar, pria itu terkena cambuk yang menyala ujungnya tepat di bagian dadanya. Luka robek dan terbakar membuat pria itu mengembuskan napas terakhirnya.


“Siapa lagi yang berani melawanku!” geram Lokadenta menggulung cambuk pada tangan kanannya.


Tidak ada jawaban dari para pendekar itu yang menandakan mereka setuju untuk menjadi pengikut Lokadenta.


“Brajah Geni, pergilah ke wilayah barat, Bunga Kuning. Pimpin anak buahmu!” seru Lokadenta kepada pendekar aliran hitam yang bertubuh tinggi dan besar.

__ADS_1


“Brajah Geni siap menjalankan perintah!” Brajah Geni dan beberapa bawahannya menuju wilayah barat Kadipaten Lembah Bunga.


“Kau! Sayekti! Bawa anak buahmu ke wilayah Bunga Biru. Lakukan seperti apa yang aku perintahkan pada Karang Wilis!” ucap Lokadenta pada seorang pria yang memakai pakaian berwarna hitam dengan pedang terselip pada pinggangnya.


“Sayekti siap menerima perintah!” sahut Sayekti.


“Darma Jaya! Wilayah Bunga Hijau ini milikmu. Lakukan seperti apa yang aku perintahkan pada Karang Wilis!” Lokadenta menunjuk seorang pendekar aliran putih.


“Kau—!”


“Jika kau membantah, kau akan mati!” sela Lokadenta memotong perkataan Darma Jaya. “Sisanya ikut aku ke pusat kadipaten. Kita rebut Joglo Kadipaten Lembah Bunga!”


Demikian Lokadenta memberi perintah kepada seluruh pendekar yang ada di Kadipaten Lembah Bunga ini. Sepertinya pria itu benar-benar ingin menguasai kadipaten.


***


“Pelayan! Berikan aku arak terbaik!” seru Kartala sesaat setelah memasuki sebuah kedai makan di tepi Sungai Sabayu.


“Baik tuan, saya segera kembali!” sahut pria berkumis yang menjadi pelayan kedai makan itu.


Ketika tengah menikmati araknya, tiba-tiba Kartala dikejutkan dengan kedatangan Darma Jaya. Namun, Darma Jaya tidak menyadari jika pria pemabuk itu berada satu kedai dengannya. Itu karena Kartala duduk pada bangku paling pojok dan terhalang kain penyekat bilik.


Kartala hanya mendengar pembicaraan Darma Jaya dengan anak buahnya. Sepertinya Darma Jaya tak sejalan dengan Lokadenta, pria berpedang itu adalah seorang pendekar aliran putih, bagaimana mungkin menyakiti rakyat kecil yang seharusnya dia lindungi?


Meski ingin melawan, tetapi apa daya, pria itu pasti kalah dengan cambuk pusaka milik Lokadenta.


“Ikutlah bersamaku Darma Jaya!” Terdengar suara berat dari sudut bilik yang ternyata itu adalah Kartala.


“Siapa di sana!” sahut Darma Jaya yang bersiap mencabut pedangnya, tetapi dibatalkannya karena melihat sosok yang keluar dari kain penyekat bilik itu adalah Kartala—pria yang dia hormati. “Ohh, Sesepuh Kartala!”

__ADS_1


Kartala duduk bergabung dengan Darma Jaya dan menjelaskan bahwa, mereka akan melakukan perlawanan dengan menghimpun kekuatan dari pendekar tersisa yang tak menghadiri undangan Lokadenta. Dengan meminta izin terlebih dahulu kepada Empu Tulak sebagai guru dari Lokadenta.


Mendengar bujukan dari Kartala, akhirnya Darma Jaya bergabung dan meninggalkan wilayah Bunga Hijau yang masih dipegang oleh salah satu petinggi kadipaten.


Kartala juga bercerita bahwa dia bisa saja mengalahkan Lokadenta dengan mudah, tetapi pria tua itu merasa tidak enak hati dengan Empu Tulak. Bagaimanapun juga, Empu Tulak yang merawat Lokadenta yang sebenarnya adalah orang baik.


“Baiklah sesepuh, aku dan anak buahku akan bergabung dengan sesepuh!” ucap Darma Jaya dengan senyum penuh harapan.


Kartala, Darma Jaya dan para bawahannya meninggalkan kedai makan dan menuju kediaman Empu Tulak.


***


Sementara itu di pondokannya, keadaan Empu Tulak semakin membaik. Luka dari cambuk pusaka miliknya telah mengering dan hanya menunggu pemulihan, karena efek dari panas api yang dihasilkan pusaka itu sampai menembus tulangnya.


Selama itu pula Lembah Manah yang merawat Empu Tulak. Pemuda itu juga sedikit mewarisi keahlian Empu Tulak dalam membuat senjata. Terbukti dalam beberapa hari saja, Lembah Manah telah berhasil menyelesaikan pesanan dari salah satu pelanggan Empu Tulak.


“Sepertinya kau berbakat menjadi pandai besi, Lembah!” Empu Tulak memuji Lembah Manah yang tengah menempa sebuah belati dan terhenti sejenak karena ucapan pria tua itu.


“Ahh, kakek empu bisa saja!” sahut Lembah Manah sembari menyelupkan belati itu pada sebuah cawan berisi air hingga terdengar suara ‘cis’ dan menoleh ke arah Empu Tulak. “Emm, ini semua juga berkat bimbingan dari kakek empu!”


Lembah Manah mencoba membuat belati, sebelumnya pemuda itu hanya membuat pedang dan kapak pesanan dari pelanggan Empu Tulak. Kali ini, Lembah Manah bereksperimen untuk membuat belati.


Ketika tengah asyik bercengkerama, mereka berdua dikejutkan oleh kedatangan rombongan Kartala. Segera Empu Tulak menemui teman lamanya itu dan mempersilakan duduk di teras pondokannya.


“Ada angin apa, si pemabuk mengunjungi pria tua ini!” seru Empu Tulak memeluk Kartala.


“Hahaha, apa hanya ini kemampuanmu empu bodoh!” ejek Kartala melihat luka di dada teman lamanya itu. “Melawan murid sendiri sampai kewalahan, hahaha!”


Sedari dulu Kartala selalu berbicara apa adanya dan terkesan blak-blakan kepada Empu Tulak. Karena sedari muda, kedua pria tua itu selalu bersama dalam membasmi kejahatan. Bedanya adalah, Kartala yang sangat gila terhadap arak, sementara Empu Tulak selalu terobsesi menciptakan sebuah senjata.

__ADS_1


__ADS_2