KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keraton Agung Sejagat (10)


__ADS_3

Dengan gerakan yang tidak terlalu cepat, pendekar tangan kosong itu menyerang Lembah Manah menggunakan dua tangannya yang keras.


Tubuh Lembah Manah melayang ke atas, mendapat satu pukulan lawannya. Belum sampai mendarat, tubuh pemuda itu kembali menerima Tinju Besi dari pendekar tangan kosong. Lembah Manah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.


Lembah Manah mencoba bangkit, tetapi pendekar itu segera melesat ke arah pemuda itu dengan menghujani pukulan bertubi-tubi—bergantian tangan kanan dan kiri yang keras seperti dilapisi besi.


“Lembah!” teriak Wulan khawatir akan keadaan Lembah Manah. “Bagaimana ini, patih!”


“Biarkan saja, Tuan Putri. Aku percaya pada pemuda itu!” sahut Patih Ragas yakin jika Lembah Manah baik-baik saja. “Sebentar lagi pasti juga akan membuat kejutan!”


“Lembah!” lirih Sekar melihat keadaan Lembah Manah dan hendak berlari mendekati pemuda itu, tetapi dicegah oleh Araka.


“Jangan Sekar, itu berbahaya!” sahut Araka memegangi tangan Sekar. “Aku yakin Lembah akan baik-baik saja!”


Di sudut lain, Jayadipa tak berkata apa pun, pemuda itu yakin bahwa Lembah Manah akan menggunakan jurus anehnya lagi.


Namun, sesaat setelah pendekar tangan kosong itu menghentikan serangannya, tampak pendekar itu terkejut melihat tubuh Lembah Manah dilapisi cairan berwarna hijau. Ya, pemuda itu mengaktifkan jurus milik Buto Ijo—Batu Kecubung Hijau.


Meski tubuh Lembah Manah dihujani Tinju Besi, tetapi pemuda itu tak merasakan efek apa pun mengingat Tinju Besi berasal dari tenaga dalam. Tak seperti serangan Eyang Rahpati yang mampu menembus cairan hijau milik Lembah Manah. Itu dikarenakan mengandung energi alam.


“Apa! Bagaimana kau—!”


“Ya, seperti yang kau lihat!” ucap Lembah Manah memotong perkataan lawannya yang membelalakkan mata. “Gerbang Kehidupan! Terbukalah!”


“Lihatlah, patih!” seru Wulan yang menyaksikan pertarungan Lembah Manah dari kejauhan.


“Benar, Tuan Putri!” sahut Patih Ragas melipat kedua tangan di depan dadanya. “Lembah melapisi tubuhnya dengan jurus aneh!”


Cairan berwarna hijau perlahan menghilang memasuki pori-pori seluruh tubuh Lembah Manah, dan kini berganti dengan aura tenaga dalam berwarna hitam yang melapisi tubuhnya—efek penggunaan Gerbang Kedua.


“Bola Alam Semesta!”


Pemuda itu melesat ke arah pendekar tangan kosong dengan gerakan yang tak terlihat oleh mata lawannya. Tangan kanan Lembah Manah seperti mencengkeram bola bening tembus pandang yang padat sebesar buah jeruk.


Menyadari gerakannya lambat, pendekar tangan kosong hanya menyilangkan kedua tangannya di depan wajah dengan sedikit membungkuk.


BUK!

__ADS_1


Pendekar tangan kosong terlempar sepuluh langkah ke belakang, terguling, lalu terhenti setelah tubuhnya menghantam pilar salah satu pondokan pimpinannya. Serangan Lembah Manah tepat mengenai kedua lengannya, yang menimbulkan luka robek seperti tergores ratusan pisau.


***


“Kapak Pembelah Langit!”


Wanapati menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri, diikuti cahaya kuning melesat ke arah lawannya. Dengan satu tebasan pedang, serangan Wanapati dapat dipatahkan oleh lawannya.


“Apa hanya itu kemampuanmu, anak muda!” seru pendekar yang membawa pedang itu.


Wanapati melemparkan kapaknya, lalu tangan kanannya seperti mengendalikan kapak itu untuk menyerang lawannya.


Beberapa tebasan kapak Wanapati masih bisa ditangkis oleh lawannya. Kembali pemuda itu menarik kapaknya, dan dengan cepat kapak itu telah digenggamnya.


“Sial! Kuat sekali orang ini!” lirih Wanapati.


Wanapati melesat ke arah lawannya, menebaskan kapaknya dengan gerakan vertikal dari atas ke bawah, seperti membelah sesuatu di depannya. Namun, lagi-lagi serangannya dapat ditangkis dengan pedang milik lawannya, bahkan tak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


Melihat kawannya kesulitan, Jayadipa berinisiatif membantu Wanapati. Pemuda itu memutar Tombak Kyai Pleret dengan tangan kanannya, diikuti cahaya kuning melesat ke arah lawan Wanapati.


Serangan Jayadipa dapat dipatahkan dengan satu tebasan pedang pendekar itu. Di samping Jayadipa—Wanapati melihat celah pertahanan lawannya terbuka, pemuda itu melempar kapaknya dengan tenaga dalam.


Luka robek pada perut pendekar itu membuatnya jatuh terhuyung dengan darah yang mengalir dari luka menganga. Kembali Wanapati menangkap kapaknya, sesaat setelah berputar di belakang lawannya


Dan apa yang terjadi? Lagi-lagi pemuda itu mual serasa ingin muntah, melihat usus lawannya sedikit keluar dari luka yang dibuatnya.


“Ahh dasar kau ini! Tak seperti semangatmu yang berapi-api!” ejek Lembah Manah pada Wanapati.


***


“Wesaran!”


Nata menggunakan jurusnya untuk melempar pendekar ketiga—yang juga pendekar tangan kosong. Pemuda itu berputar dengan kecepatan tinggi, tubuhnya seperti berada di dalam bola besar. Dan bola besar itu adalah tenaga dalam yang dikeluarkan oleh Nata.


Pendekar tangan kosong itu terlempar beberapa langkah dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Kembali berdiri! Pendekar itu mengangkat tangan kanannya dan sebuah golok telah berada dalam genggamannya.

__ADS_1


“Matilah kau bocah!” seru pendekar itu mengibas-ngibaskan goloknya.


Ternyata pendekar tangan kosong itu memiliki sebuah golok. Perlahan pendekar aliran hitam itu mulai bertarung dengan serius.


Sebuah tendangan mendarat di perut Nata, pemuda itu terguling beberapa langkah dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Perlahan Nata berdiri dari keterpurukannya, memasang kuda-kuda dan matanya memutih dengan otot-otot yang tegang di sekitar pelipisnya.


“Aku tak akan menyerah begitu saja!” lirih pemuda itu.


Pendekar aliran hitam itu menebaskan goloknya, tetapi kali ini mengaliri tenaga dalam dengan jumlah besar. Warna jingga menyelimuti golok pria itu, dalam satu tebasan, cahaya jingga melesat ke arah Nata.


Menyadari lawannya menggunakan jurus yang lebih kuat dari sebelumnya, Nata menangkis serangan itu dengan teknik Wesaran miliknya.


WUSH!


Cahaya jingga bertabrakan dengan Wesaran milik Nata yang berwarna putih—menimbulkan gelombang kejut dan membuat debu asap beterbangan. Kali ini tubuh Nata terpukul mundur beberapa langkah dengan menciptakan alur pada tanah tempatnya berpijak.


Apa! Pemuda itu masih berdiri.


Dengan sekali hentakan, Nata memanfaatkan tanah sebagai pijakan untuk melesat ke arah pria bersenjata golok itu. Satu pukulan mendarat di perut yang membuat pendekar aliran hitam itu terhuyung bergeser dari tempatnya, tetapi karena tubuhnya yang kekar, dia masih berdiri.


Untuk menggunakan Pukulan Delapan Mata Angin, Nata harus memperpendek jarak dengan pendekar golok itu. Namun, itu sangat berbahaya, mengingat tenaga dalam lawannya yang begitu besar.


Melihat pergerakan Nata yang kembali mendekatinya dengan gerakan zig-zag, pendekar itu menebaskan goloknya ke segala arah. Dia merasa telah mengenai Nata, tetapi serangannya justru membuat pondokan di sekitarnya hancur di beberapa bagian.


DYAR DYAR DYAR


Suara ledakan berasal dari cahaya jingga yang melesat dari golok pendekar aliran hitam itu karena serangannya meleset. Bukan mengarah ke Nata, tetapi malah mengenai pondokannya dan beberapa pagar yang terbuat dari kayu juga hancur berantakan.


“Sial! Bertarunglah secara jantan!” seru pendekar aliran hitam itu.


“Baiklah! Aku akan menerima seranganmu!” sahut Nata memancing lawannya agar mendekat.


Dari arah depan, pendekar golok itu melesat setelah memanfaatkan tanah sebagai alas pijakan. Namun, bukannya bersiap menangkis serangan, Nata malah tersenyum ke arah pendekar itu.


“Kau dalam jarak serangku!” geram Nata sesaat setelah lawannya berada dalam jarak tiga langkah di depannya.


“Apa! Bagaimana mung—!” Perkataan pendekar itu terhenti setelah satu pukulan mendarat di perutnya.

__ADS_1


“Pukulan Delapan Mata Angin!” lanjut Nata menggunakan jurusnya.


__ADS_2