
“Apa!” sahut Lembah Manah terkejut dengan jurus milik Wanapati. “Sekarang kau lihat yang ini, Wanapati!”
“Bola Alam Semesta!”
Lembah Manah bergerak zig-zag maju ke depan, dengan bola bening sebesar buah kelapa di dalam cengkeraman tangan kanannya. Pemuda itu, mengincar perut lawannya dan membuat sepuluh pendekar terkapar dengan luka seperti tergores ratusan pisau.
Itu adalah energi alam yang mengandung unsur angin dan dipadatkan menjadi bola bening tembus pandang yang kini sebesar buah kelapa.
“Apa! Jurus apalagi! Dasar kau ini!” umpat Wanapati membelalakkan matanya.
“Kau memang penuh kejutan Lembah!” seru Jayadipa yang juga bertarung tak jauh dari Lembah Manah.
“Aku hampir tak percaya kau punya jurus itu!” sahut Nata sesaat setelah melemparkan lawannya dengan Wesaran miliknya.
Setelah sebagian besar pendekar berhasil dilumpuhkan di pelataran halaman Keraton Agung Sejagat, sebagian lainnya lebih memilih masuk ke pondokan pemimpin mereka. Berharap mendapat perlindungan dari sang pemimpin yang lebih kuat.
Tentu saja masalah di tempat ini belum selesai, yang mereka hadapi baru pendekar dengan ilmu kanuragan di bawah tingkat Madyo. Tak lama berselang, ada lima belas pendekar dengan ilmu kanuragan tingkat Madyo tahap awal keluar dari pondokan, di belakangnya ada tiga pendekar selevel lebih tinggi.
Dan dua orang pemuda berdiri paling belakang membawa pedang, mungkin pemuda berusia dua puluh lima tahun itu adalah ketua kelompoknya.
“Patih Ragas!” seru pemuda yang paling belakang dan bergerak maju ke depan. “Sebenarnya aku tak ingin berurusan denganmu, tapi apa boleh buat, kau sendiri yang datang ke tempat ini!”
“Kau!” sahut Patih Ragas terkejut melihat pimpinan Keraton Agung Sejagat. “Bukankah kau Siligundi!”
“Rupanya kau masih mengingatku, hahaha!” Siligundi tertawa lepas dan menoleh ke arah rekannya. “Tatak Hadiningrat, mari kita bersenang-senang!”
Pemuda itu bernama Siligundi, salah satu dari bawahan Ki Badra yang ditugaskan untuk membangun markas di Pulau Menjangan.
Siligundi bersama rekannya Tatak Hadiningrat melakukan perampokan di berbagai tempat dan mengirimkan hasil rampokan mereka melalui jalur laut ke Pulau Api—markas Ki Badra.
__ADS_1
Terjadilah pertempuran di pelataran halaman Keraton Agung Sejagat, sesaat setelah Siligundi memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Tanpa ragu lagi, Lembah Manah langsung melawan dua pendekar tingkat Madyo tahap awal.
Patih Ragas dan ketiga bawahannya tak tinggal diam, mereka berempat melawan empat pendekar lainnya.
Sementara Wanapati, Jayadipa, Nata dan Wulan masing-masing melawan satu pendekar tingkat Madyo. Kali ini mereka mendapat lawan yang berat, karena ilmu kanuragan musuhnya berada beberapa tingkat di atas mereka.
Tampak rombongan Araka, Sekar dan Tiga Bunga Bersaudara juga menghadapi lima pendekar musuh yang ilmu kanuragannya sedikit di atas mereka.
“Gerbang Kehidupan terbukalah!”
Tubuh Lembah Manah berselimut aura tenaga dalam berwarna hitam, pemuda itu melesat ke arah dua lawannya. Dengan gerakan zig-zag yang tak dapat dilihat oleh mata biasa, satu lawan telah terkena pukulan di bagian dadanya dan jatuh terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.
“Badai Angin!”
Satu lawan Lembah Manah mengeluarkan jurusnya, kekuatannya begitu besar hingga pemuda itu bergeser beberapa langkah ke belakang. Namun, sesaat setelah Badai Angin berlalu, Lembah Manah melesat dengan menghentakkan kakinya ke tanah sebagai pijakan.
Pemuda itu menghujani lawannya dengan pukulan bergantian tangan kanan dan kiri, tepat pada perutnya. Tubuh pendekar itu jatuh terkapar dengan mulut mengeluarkan darah, sesaat setelah Lembah Manah mendaratkan satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka tepat mengenai dagu lawannya.
“Jangan berpikir kau dapat menyentuh Tuan Putri!” seru Lembah Manah yang telah berada di depan Wulan. “Apa Anda baik-baik saja, Tuan Putri?”
“Lembah!” sahut Wulan tersenyum lega. “Tidak begitu buruk!”
Di sisi lain, Wanapati tidak begitu kesulitan menghadapi lawannya, setelah beberapa saat saling bertukar jurus, pemuda itu berhasil menebas salah satu lengan lawannya hingga tanggal dengan Kapak Pembelah Langit miliknya.
Lagi-lagi Wanapati sedikit mual karena melihat darah keluar dari lengan lawannya. Meski dari awal terlihat menggebu-gebu, nyatanya pemuda itu masih sedikit mual ketika melihat darah lawannya dari jarak dekat.
“Ahh payah kau Wanapati. Dimana jiwa kesatriamu yang selalu berapi-api!” seru Lembah Manah meledek kawannya.
“Hoek! Hoek!” Wanapati masih saja berkutat dengan rasa mualnya. “Awas kau, hoek. Kacung Kampret, hoek!”
__ADS_1
Jayadipa memutar tombaknya dengan tangan kanan di atas kepalanya, sesekali menghunuskan ke depan ke arah lawannya. Pemuda itu semakin lincah dengan permainan tombaknya.
Dalam satu kesempatan, Jayadipa melihat pertahanan lawan yang terbuka. Pemuda itu menusuk perut lawannya, hingga membuat pendekar tingkat Madyo itu jatuh terkapar dengan darah keluar dari lukanya.
Tak seperti Wanapati, Jayadipa masih bisa menahan rasa mualnya meski melihat darah lawannya. Pemuda itu menyapu pandangan ke sekitarnya, dan menemukan bawahan Patih Ragas kesulitan menghadapi lawannya. Segera Jayadipa melesat ke arah salah satu bawahan Patih Ragas.
“Paman! Kau baik-baik saja!” seru Jayadipa berdiri di depan bawahan Patih Ragas.
“Aku tidak apa-apa, anak muda!” sahut bawahan Patih Ragas.
Tak menunggu waktu lama, Jayadipa berhasil mengalahkan lawan dari bawahan Patih Ragas, diikuti kedua bawahan lainnya, dan juga Patih Ragas berhasil melumpuhkan lawannya. Patih berbadan kekar itu membunuh lawannya dengan luka tebasan di bagian perutnya.
Nata tampak begitu mudah mengalahkan lawannya. Dengan Pukulan Delapan Mata Angin, pemuda itu menghancurkan titik meridian lawannya tanpa mengeluarkan darah, tetapi seluruh organ dalam lawannya rusak dan tak berfungsi dengan baik.
Kenanga, Kanthil dan Cempaka sedikit kesulitan menghadapi tiga lawannya. Namun, beberapa saat kemudian, mereka bertiga berhasil menebas lawannya dengan berbagai luka yang tidak ringan.
Araka dan Sekar juga tidak kesulitan menghadapi dua bawahan Siligundi. Dengan permainan pedangnya, Sekar berhasil menghunuskan pedang pada perut lawannya. Sedangkan Araka, melumpuhkan lawannya dengan luka pada lehernya.
Lima belas pendekar tingkat Madyo tahap awal telah dikalahkan oleh mereka. Kini tinggal lima yang tersisa, yaitu tiga pendekar tingkat Madyo tahap menengah yang mungkin bawahan terakhir dari Siligundi.
Siligundi yang kekuatannya belum terukur karena membawa salah satu senjata yang paling banyak dicari dalam dunia persilatan—Pedang Pethit Sawa. Dan rekannya yang bernama Tatak Hadiningrat berada pada tingkat Inggil tahap awal.
Seorang pendekar maju dan memilih Lembah Manah sebagai lawannya, karena sedari awal pendekar itu memperhatikan Lembah Manah yang bertarung dengan tangan kosong.
Seorang pendekar yang berdiri di tengah memilih Wanapati sebagai lawannya dan seorang pendekar paling kanan menatap ke arah Nata.
Segera Lembah Manah melesat untuk menyambut pendekar tangan kosong itu, pemuda itu mengaliri kedua tangannya dengan tenaga dalam berwarna biru. Dengan gerakan cepat, Lembah Manah meraih wajah lawannya, tetapi pendekar tangan kosong itu meraih tangan Lembah Manah dan menghempaskan pemuda itu ke samping yang membuatnya jatuh terkapar.
“Apa!” seru Lembah Manah membelalakkan matanya. “Tinju Besi!”
__ADS_1
“Apakah kau terkejut anak muda!” sahut pendekar itu.