KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Serangan Mendadak (4)


__ADS_3

“Apa kalian siap!” seru Sambara memperingatkan peserta lainnya yang telah sembuh.


Puspo Baskoro, Bergas Lukito dan Panji Gobang saling tatap, kemudian menganggukkan kepalanya bersamaan. Keempat pendekar muda itu melesat ke arah kerumunan pendekar bawahan Bayu Amerta.


Puspo Baskoro menebaskan pedangnya, diikuti cahaya hijau melesat vertikal dan membuat beberapa pendekar bawahan Bayu Amerta mengalami luka dalam yang cukup parah.


Dengan tendangannya, Bergas Lukito membuat tiga pendekar dengan ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap awal mengembuskan napas terakhirnya.


Sambara sedikit kesulitan menghadapi lima pendekar bawahan Bayu Amerta. Namun, dengan kegigihannya, pemuda itu berhasil mengalahkan lawannya menggunakan kekuatan sinar dari matanya.


Sedangkan Panji Gobang, berhasil mengalahkan tiga pendekar tingkat Inggil tahap awal dengan tebasan pedang yang membuat tangan lawannya terpisah dari tubuhnya.


***


Patih Sobo Lepen melesat ke arah Bayu Amerta. Dengan tebasan pedangnya, membuat Bayu Amerta sedikit mundur ke belakang karena tenaga dalam Patih Sobo Lepen yang begitu besar. Dua senjata beradu dan membuat titik-titik api keluar dari pedang mereka.


Beberapa saat berlalu, mereka bertukar puluhan jurus, saling jual beli serangan. Tendangan dan pukulan tak lepas dari permainan pedang. Pada satu kesempatan, Bayu Amerta menebas lengan kiri Patih Sobo Lepen yang terbuka dari pertahanannya.


Sembari berputar ke belakang menjauhi Bayu Amerta, Patih Sobo Lepen meringis kesakitan akibat luka sayatan yang diterimanya. Bayu Amerta melemparkan pedangnya ke atas, lalu muncul beberapa pedang yang sama melayang di samping pemuda berbadan kecil itu.


Beberapa pedang melesat ke arah Patih Sobo Lepen, tetapi masih bisa ditangkis dengan menebaskan pedangnya. Serangan kedua melesat lebih cepat dari serangan pertama. Lagi-lagi patih itu dapat menangkis dengan mudah.


Belum juga menguasai dirinya sendiri, Patih Sobo Lepen dikejutkan serangan dari pedang utama yang meluncur deras. Tebasan pedangnya tak mampu membendung serangan Bayu Amerta.


SRET


Jika tidak bergeser ke samping kiri, patih itu kehilangan lengan kanannya. Beruntung hanya luka gores, tetapi mampu membuatnya meringis kesakitan.


“Menyerahlah kalian!” seru Bayu Amerta dengan sinisnya.


“Tidak mungkin kami menyerah!” sahut Patih Sobo Lepen kembali berdiri.


Namun, tiba-tiba datang aura tenaga dalam yang begitu mengerikan. Disertai angin yang berembus tak karuan, membawa mendung kelabu.


Kekuatan mengerikan itu datang dari arah utara menuju istana Indra Pura. Semua yang tengah bertarung berhenti dan menatap pada satu arah.

__ADS_1


“Kekuatan apa ini!” seru salah satu prajurit kerajaan sembari membungkukkan badannya.


“Aura tenaga dalam yang mengerikan!” sahut prajurit yang lain.


“Kalian tak mungkin menang melawan orang itu!” teriak Bayu Amerta seraya menunjuk ke arah sosok yang datang dari arah utara itu.


“Semuanya! Mundur!” teriak Agni Ageng yang diikuti para pendekar bawahannya.


Sosok pria misterius melayang setinggi lima pohon kelapa dengan baju serba hitam. Jaraknya ada sekitar seratus langkah dari istana.


Pria misterius itu mengarahkan telapak tangan kanannya menuju istana dan berencana menghancurkan dalam sekali serang.


“Matilah kalian!” teriak pria misterius itu diikuti sebuah bulatan bola bening yang mengandung tenaga dalam mengarah istana.


Sosok pria misterius itu adalah Ki Badra yang beberapa saat yang lalu menerima usulan rencana dari Pangeran Tirta Banyu, untuk menyerang saat Pertandingan Besar berlangsung.


Energi bola bening itu terlepas dari tangan Ki Badra. Semakin menuju istana, semakin membesar, hingga membuat para prajurit menundukkan badannya menahan laju bola energi itu.


Setelah melepaskan satu serangan bola energi, Ki Badra menghilang diikuti Agni Ageng dan Bayu Amerta, serta seluruh pendekar bawahannya.


Patih Sobo Lepen hendak mencegah serangan itu, tetapi dari jarak sepuluh langkah serangan itu melewati dirinya, patih itu tak kuat menahan tekanan serangan dan membuat tubuhnya terlempar lalu tertimpa reruntuhan tembok pagar istana.


Eyang Balakosa keluar dari dalam istana dan segera membuat perisai pelindung dari tenaga dalamnya.


“Eyang, jangan eyang!” teriak Kenanga yang berdiri dari kejauhan.


Nastiti hendak berlari menuju istana, mungkin gadis itu ingin menyelamatkan ayahnya dan juga kakeknya jika mampu. Namun, Lembah Manah mencegah Nastiti agar tak mendekat menuju arah serangan.


Dengan kecepatannya, Lembah Manah dan Barani melesat lalu menyerobot tubuh teman-temannya agar menjauh dari area pertempuran itu.


Mereka berlindung dibalik reruntuhan tembok pagar istana pada sisi yang telah hancur.


Patih Ragas hanya berdiri memasang badannya di depan Wulan, untuk melindungi tuan putri itu. Dengan tenaga dalam yang besar, Patih Ragas membuat tameng pelindung yang menyelimuti tubuhnya dan Wulan.


“Serangan ini, sangat kuat!” lirih Patih Ragas memejamkan matanya.

__ADS_1


“Aku takut, patih!” sahut Wulan menunduk di belakang Patih Ragas.


Jayadipa dan beberapa pendekar yang lain masuk ke dalam Wesaran milik Nata. Perisai dari tenaga dalam itu membentuk bulatan besar yang mungkin bisa menahan serangan bola energi itu.


Setelah sedikit tenang, Nastiti mendekati Sangga Buana dengan jarak yang jauh dari arah serangan. Para prajurit Indra Pura lari berhamburan menyelamatkan diri.


Roko Wulung sepertinya hanya pasrah menerima serangan itu. Pemuda berbadan tinggi besar itu memasang tubuhnya dengan berdiri tegak.


“Sepertinya hidupku akan berakhir di tempat ini!” lirihnya seraya memejamkan mata. “Kakek, maafkan cucumu yang tak berguna ini!” lanjutnya seraya membayangkan kakeknya—Patih Ragani tersenyum di relung kepalanya.


Namun, tiba-tiba seseorang dengan lari yang sangat cepat menyambar tubuh Roko Wulung. Layung Semirat, ya, pemuda dengan lari yang sangat cepat itu membawa tubuh Roko Wulung agar bergabung dengan Nastiti dan Sangga Buana yang hanya menyaksikan serangan itu dari kejauhan di atas bukit kecil.


Layung Semirat kembali melesat menuju medan pertempuran, lalu meraih Ranti Lemini dan peserta pertandingan yang lain untuk dibawa ke bukit kecil tempat dimana Nastiti dan Sangga Buana berlindung.


“Ni Luh! Dimana Ni Luh!” teriak Wanapati dari dalam Wesaran Nata. “Lembah! Dimana Ni Luh! Cepat cari Ni Luh!” lanjutnya memperingatkan Lembah Manah.


Menyadari teriakan dari temannya, Lembah Manah melesat ke arah dimana Ni Luh memulihkan tubuhnya—di atas menara pengintai dekat istana.


Semua orang khawatir melihat tindakan nekat Lembah Manah mendekati arah serangan yang mungkin sudah tak ada lagi para prajurit dan pendekar di medan pertempuran itu.


DYAR


Kepulan debu asap membubung tinggi sesaat setelah serangan bola energi menghantam istana. Semua yang berada di atas bukit kecil dapat merasakan getaran yang begitu dahsyat.


Mereka tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi setelah serangan itu? Mungkin mereka tak sanggup untuk melihatnya.


***


Beberapa waktu berlalu, perlahan angin menyapu kepulan debu asap yang menyelimuti sekitar istana dan medan pertempuran. Sedikit demi sedikit mulai terlihat reruntuhan istana, ternyata masih banyak prajurit yang tewas karena terkena serangan itu.


Dengan mengandalkan kecepatannya, Layung Semirat dan Barani memeriksa seluruh medan pertempuran dan sekitar istana. Para pendekar yang selamat juga mendekati istana dan mencari dimana Lembah Manah berada.


“Patih! Patih! Apa Anda baik-baik saja!” seru Wanapati menggerak-gerakkan tubuh Patih Ragas.


“Uhuk, Wanapati. Sepertinya aku hanya menderita luka ringan!” sahut Patih Ragas membuka matanya sembari batuk kecil. “Tapi sepertinya luka Tuan Putri cukup parah. Bawalah bersama yang lain!”

__ADS_1


__ADS_2