
Patih Ragas memegangi dada kirinya sesaat setelah bangkit dari keterpurukannya. Patih berbadan kekar itu melompat ke awang-awang, lalu memutar tubuhnya diikuti satu tebasan mengeluarkan cahaya berwarna biru terang melesat secara horizontal ke arah Rambak Selah.
Dengan tongkat yang masih berselimut cahaya kemerahan, Rambak Selah menangkis serangan Patih Ragas. Namun, tanpa disadari oleh Rambak Selah, Patih Ragas telah melewati tubuh petinggi Lowo Abang itu dengan mendaratkan satu tebasan pedangnya.
“Tunggu! Sejak kapan kau—!”
Perkataan Rambak Selah terhenti ketika perutnya sebelah kiri mengeluarkan darah. Petinggi Lowo Abang itu melihat lukanya sendiri yang menganga, lalu menoleh ke arah Patih Ragas yang telah mendaratkan satu kepalan tinju pada wajahnya.
Rambak Selah terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah. Tubuhnya berhenti berguling setelah menghantam tiang pada teras penginapan.
Sebenarnya, itu adalah siasat dari Patih Ragas. Serangan pertama hanya untuk mengalihkan perhatian Rambak Selah agar menghalaunya.
Pancingan Patih Ragas berhasil, Rambak Selah menangkis serangan pertama, lalu dirinya melesat cepat ke arah Rambak Selah dan mendaratkan satu tebasan pedang tanpa disadari oleh petinggi Lowo Abang itu sendiri.
“Kurang ajar!” teriak Rambak Selah yang dibantu berdiri oleh dua orang bawahannya. “Cepat, rebut pedang itu! Sekarang!”
Beberapa bawahan Rambak Selah yang tersisa, menyerang Patih Ragas secara bersamaan. Sementara Rambak Selah mencoba menghentikan pendarahan pada lukanya dengan tenaga dalam yang dimilikinya.
“Tidak akan kubiarkan!” Tiba-tiba sekelebat cahaya hitam melesat ke arah para bawahan Rambak Selah.
Ya, Lembah Manah melumpuhkan lima lawannya dengan berbagai macam luka patah tulang. Pemuda itu baru saja menghabisi para bawahan Rambak Selah dari sisi yang lainnya.
Tanpa menampakkan wujudnya, pemuda itu datang dari berbagai sisi dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.
“Istirahatlah, patih!” seru Lembah Manah sesaat setelah berdiri di depan Patih Ragas.
“Jadi ternyata kau bocah!” geram Rambak Selah untuk pertama kali melihat Lembah Manah yang menampakkan diri dari sekelebatan cahaya hitam. “Yang selama ini menghabisi para bawahanku!”
“Kini tinggal kau seorang pak tua!” sahut Lembah Manah menatap Rambak Selah. “Jadi menyerahlah!”
“Hahaha, mana mungkin aku menyerah dari bocah seperti—aahhkk!”
__ADS_1
Perkataan Rambak Selah berubah menjadi teriakan kesakitan setelah Lembah Manah melesat dan mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka pada perut petinggi Lowo Abang itu, hingga membuatnya terlempar beberapa langkah ke belakang.
“Cepat sekali, bagaimana mungkin!” Rambak Selah bangkit dari keterpurukannya dan masih terpaku pada jurus Lembah Manah. ”Baiklah! aku tidak akan menahan diri lagi, bocah!”
Rambak Selah melompat ke awang-awang dan memutar tongkat dengan tangan kanannya. Lima kali tebasan tongkat Rambak Selah diikuti lima cahaya kemerahan melesat vertikal ke arah Lembah Manah.
Pemuda itu bergerak zig-zag menyambut serangan lawannya. Dengan mengaktifkan Gerbang Kegelapan, Lembah Manah menangkis setiap serangan Rambak Selah yang mengandung tenaga dalam sangat besar.
Lima serangan berhasil ditangkis Lembah Manah, tetapi pemuda itu masih melesat ke awang-awang hendak menyerang Rambak Selah.
“Apa! Tidak mungkin!” Rambak Selah membelalakkan matanya.
Menyadari berada dalam tekanan, petinggi Lowo Abang itu menahan serangan Lembah Manah dengan tongkat yang disilangkan di depan tubuhnya.
BUM
Dua jurus beradu menciptakan gelombang kejut bertekanan sedang yang menimbulkan cahaya terang di atas ketinggian. Tubuh Rambak Selah terpental semakin tinggi ke awang-awang dengan posisi telentang.
Lembah Manah tak membiarkan Rambak Selah bernapas lega. Tiba-tiba pemuda itu telah berada di atas tubuh Rambak Selah dan bersiap melancarkan serangan selanjutnya. Dengan pukulan telapak tangan terbuka, Lembah Manah mengincar perut Rambak Selah.
BUM
Jika siang hari, mungkin butuh beberapa saat agar debu itu tersapu oleh angin.
Lembah Manah berdiri di depan Patih Ragas yang tengah terbatuk akibat efek serangan Rambak Selah. Pemuda itu menyapukan pandangan ke tempat dimana Rambak Selah terjatuh. Menurutnya, tak semudah itu Rambak Selah tewas hanya dalam satu serangan saja.
Apa yang dipikirkan Lembah Manah tidak salah. Dengan baju yang terkoyak dan darah yang masih menetes dari sudut bibirnya, Rambak Selah melompat ke salah satu bagian atap penginapan yang masih utuh.
“Tunggu saja. Aku pasti mendapatkan pedang pusaka milikmu, patih!” ucap Rambak Selah dengan memegangi perutnya.
Setelah berkata demikian, tongkat yang digenggamnya kembali menjadi pendek dan dimasukkannya ke dalam saku baju bagian dalam. Rambak Selah melompat dan menghilang dalam rimbunnya pepohonan belakang penginapan.
__ADS_1
Lembah Manah hendak mengejar Rambak Selah, tetapi Patih Ragas mencegah pemuda itu.
“Lebih baik kita obati luka ini terlebih dahulu!” ucap Patih Ragas sembari berdiri dan memegangi dada kirinya. “Dimana kau menyembunyikan Tuan Putri?”
“Astaga! Aku lupa!” Lembah Manah memegangi kepala dengan kedua tangannya, lalu melesat ke atap penginapan hendak menjemput Wulan.
“Dasar bocah gendeng! Uhuk, uhuk!” seru Patih Ragas sembari terbatuk kecil.
***
Malam harinya, Patih Ragas dan Lembah Manah tak tertidur sedetik pun. Mereka khawatir jika Rambak Selah akan kembali menyerang dengan membawa para anak buahnya yang lain.
Berbeda dengan Wulan, sepertinya gadis itu tidur dengan nyenyak akibat efek dari bom asap yang dihirupnya. Sementara Wanapati juga terlelap di depan kamar penginapannya setelah menghirup bom asap, ditambah serangan bawahan Rambak Selah.
“Aku tak tega melihat Tuan Putri menderita!” ucap Patih Ragas kepada Lembah Manah. “Biarkan dia tidur di pangkuanmu, Lembah!”
Mendengar perkataan Patih Ragas, Lembah Manah menuruti apa yang dipinta patih berbadan kekar itu. Wulan tertidur dalam pangkuan Lembah Manah, kepala gadis itu berada di lutut Lembah Manah. Sedangkan kepala pemuda itu bersandar pada tiang teras penginapan dan hanya duduk di lantai.
Patih Ragas mengambil selimut dari dalam kamarnya yang hancur sebagian, dan diberikan kepada Wulan dan Lembah Manah. Lalu meminta izin menemui pemilik penginapan untuk mengganti kerugian kerusakan penginapan itu.
Sepertinya, luka yang diterima Patih Ragas tidak terlalu parah. Jika tidak menangkis dengan tenaga dalamnya, mungkin saja nyawa Patih Ragas tak tertolong menerima serangan Rambak Selah.
“Semoga kau baik-baik saja, patih!” lirih Lembah Manah memandangi punggung Patih Ragas menghilang dari pandangannya.
***
Keesokan harinya, keadaan Patih Ragas sedikit membaik berkat penyembuhan dengan tenaga dalamnya. Namun, staminanya terkuras habis karena efek penyembuhan itu.
Lembah Manah memberi ramuan pemulihan tubuh dan juga ekstrak penempaan tenaga dalam kepada Patih Ragas. Pemuda itu masih menyimpan beberapa ekstrak penempaan tenaga dalam yang didapat dari markas Keraton Agung Sejagat.
“Lembah, apa yang terjadi!” Wulan terbangun mengucek mata dengan kedua tangannya mendapati Patih Ragas dan Lembah Manah duduk mengapitnya.
__ADS_1
“Patih, kenapa denganmu, patih?” Wulan hendak memeriksa tubuh Patih Ragas, tetapi patih berbadan kekar itu menepis tangan Wulan.
“Hamba baik-baik saja Tuan Putri, nanti juga sembuh!” sahut Patih Ragas yang masih memegangi dada kirinya.