KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Penginapan


__ADS_3

Wulan meninggalkan Lembah Manah dan menuju kamarnya. Sepanjang jalan menuju kamar, gadis itu masih teringat kejadian di tepi hutan yang membuatnya semakin kagum dengan pemuda itu.


“Kau memang berbeda dari yang lain!” lirih Wulan sembari tersenyum.


Tak berselang lama, Lembah Manah juga beranjak dari duduknya dan menuju kamar penginapan. Namun, ketika sampai di halaman kamarnya, pemuda itu melihat enam sosok berpakaian hitam mengendap-endap di atap kamarnya.


“Siapa mereka?” lirih Lembah Manah membenamkan tubuhnya dibalik tanaman bunga. “Ada yang tidak beres!”


Salah satu sosok berpakaian hitam itu mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya bagian dalam. Benda aneh yang berbentuk bulat berwarna hitam sebesar kelereng.


Sebelum dilemparkan ke dalam kamar Patih Ragas, bola itu terlebih dahulu dihantam dengan satu ketukan telapak tangan.


“Gawat! Itu bom asap!” lirih Lembah Manah.


Bom asap bisa membuat seorang pendekar menjadi tidur lelap jika menghirupnya. Cara kerja bom asap ini adalah melemahkan kekebalan tubuh.


Jadi, meski seorang pendekar memiliki tenaga dalam yang besar, tetapi jika menghirup asap ini tetap saja akan terlelap dan tidak bisa dicegah oleh tenaga dalam itu sendiri.


Pendekar yang bisa bertahan dari bom asap mungkin saja pendekar yang memiliki kekebalan tubuh yang baik. Namun, yang mereka incar adalah Patih Ragas, pria yang kekebalan tubuhnya mulai menurun, tak seperti Lembah Manah yang masih muda.


Asap mengepul di dalam kamar Patih Ragas. Menyadari ada yang tidak beres, patih berbadan kekar itu mengambil pedangnya dan hendak keluar kamar diikuti Wanapati mengekor di belakangnya.


“Kurang ajar! Mereka bermain licik!” geram Patih Ragas sembari berjalan keluar kamarnya. “Tutup hidung dan mulutmu, Wanapati!”


Di dalam kamar sebelah, Wulan hendak keluar, tetapi apa daya, gadis itu telah menghirup asap dan berjalan sempoyongan.


“Tolong jaga tuan putri!” pinta Patih Ragas kepada Wanapati.


Patih Ragas kembali ke kamarnya untuk memastikan keberadaan Lembah Manah. Namun, sesaat setelah memasuki kamarnya, Patih Ragas tak menjumpai Lembah Manah.

__ADS_1


“Sial! Dimana bocah itu!” geram Patih Ragas menutup hidung dengan lengan kirinya. “Apakah mereka mengincar Pedang Pethit Sawa ini?”


Dalam kekalutannya, Patih Ragas masih berpikir tentang senjata miliknya. Bagaimana tidak? Pedang itu adalah salah satu pusaka yang mungkin saja diincar oleh banyak pendekar aliran hitam.


Patih Ragas kembali meninggalkan kamarnya dan hendak menyusul Wanapati dan Wulan.


Namun, ketika sampai di teras kamarnya, Patih Ragas melihat Wanapati dikeroyok oleh dua orang berpakaian hitam.


Semula, pemuda pembawa kapak itu mampu mengimbangi dua lawannya, tetapi karena telah menghirup bom asap dan menggendong Wulan, Wanapati dapat dilumpuhkan oleh salah satu dari dua pria bercadar itu. Setelah melumpuhkan Wanapati, keduanya kabur dengan membawa Wulan.


“Kurang ajar!” geram Patih Ragas mengibaskan tangan kanan di depan wajahnya berharap asap beracun segera menghilang. “Kembalikan Tuan Putri!”


Ketika Patih Ragas hendak mengejar Wulan, tiba-tiba puluhan anak panah melesat ke arahnya. Dengan Pedang Pethit Sawa, patih berbadan kekar itu menangkis setiap anak panah yang meluncur dengan gerakan memutar. Tak berhenti sampai di situ, lagi-lagi, puluhan anak panah datang menghujaninya.


Rupanya tak hanya enam sosok berpakaian hitam yang menyerang Patih Ragas, tetapi ada puluhan sosok hitam yang mengepung patih berbadan kekar itu.


Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, tentu bukan masalah bagi Patih Ragas untuk menangkis, bahkan memotong puluhan anak panah yang menyerangnya.


Dalam beberapa gerakan jurusnya, terlihat Patih Ragas sesekali memegang dada kirinya, karena efek dari bom asap yang telah terhirup. Ya, patih berbadan kekar itu sedikit kesulitan mengatur napasnya karena kekebalan tubuhnya yang sudah mulai menurun.


Patih Ragas berhenti sejenak, lalu menyapukan pandangan ke arah sosok hitam yang menyerangnya dari segala sisi. Patih berbadan kekar itu tak melihat Lembah Manah diantara kumpulan sosok hitam itu, yang menandakan pemuda itu masih aman.


Sementara itu, di sisi lain, Lembah Manah masih bersembunyi di atas dahan pohon besar yang tak jauh dari penginapan. Untuk sementara, pemuda itu tak melakukan pergerakan.


Bukan tanpa alasan Lembah Manah masih berdiam diri, pemuda itu mengamati dan mengukur kekuatan orang-orang yang menyerang rombongannya.


“Hahaha! Lumayan juga kau, patih!”


Tiba-tiba seorang pria tua muncul di samping salah satu anak buahnya yang menggendong Wulan. Pria bercadar itu meletakkan Wulan dari gendongannya ke permukaan tanah.

__ADS_1


“Kurang ajar!” geram Patih Ragas menunjuk ke arah pria tua itu. “Siapa kau? Beraninya bermain licik!”


“Dan kau!” lanjut Patih Ragas menunjuk salah satu pria bercadar dengan penuh amarah. “Kembalikan Tuan Putri!”


“Ha! Kau ingin tahu siapa aku!” sahut pria tua itu menunjuk ke arah mukanya sendiri. “Aku adalah Rambak Selah!”


“Apa!” Patih Ragas terkejut membelalakkan matanya.


Patih Ragas tertegun sejenak mendengar nama pria tua yang dijumpainya di rumah makan siang tadi ternyata adalah salah satu petinggi Organisasi Lowo Abang. Organisasi itu adalah organisasi kriminal bentukan Ki Badra yang bertujuan untuk melancarkan rencananya menguasai Negeri Yava.


Dalam susuan organisasi itu, ada lima petinggi yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Salah satunya adalah Rambak Selah, pria tua berambut putih yang memakai ikat kepala berwarna hitam dengan gambar kelelawar berwarna merah berlatar awan putih.


“Untuk apa Lowo Abang  menyerangku?” seru Patih Ragas keheranan.


“Tujuanku hanya satu!” sahut pria tua itu yang tak lain adalah Rambak Selah. “Serahkan Pedang Pethit Sawa itu!”


“Mana mungkin aku menyerahkan pedang pusaka ini!” geram Patih Ragas seraya memandangi pedang yang digenggam pada tangan kanannya.


“Dasar, patih bodoh!” Rambak Selah mengarahkan pandangannya pada Wulan yang tergeletak di sampingnya. “Tuan Putrimu dalam bahaya, kau malah tak peduli!”


Perlahan, tangan kanan Rambak Selah diangkat ke atas, diikuti cahaya kemerahan menyelimuti telapak tangannya. Ya, Rambak Selah mengancam Patih Ragas dengan menyerang Wulan agar menyerahkan Pedang Pethit Sawa.


Namun, sejengkal sebelum tangan kanan Rambak Selah mengenai tubuh Wulan, tiba-tiba sekelebat cahaya hitam melintas di depan Rambak Selah. Diikuti Wulan yang juga lenyap dari hadapan pria tua petinggi Lowo Abang itu.


“Datang di saat yang tepat!” lirih Patih Ragas tersenyum ke arah Rambak Selah, ketika menyadari Lembah Manah yang membawa tubuh Wulan. “Dasar bocah gendeng, kau membuatku khawatir!”


Ya, Lembah Manah menggunakan Tiga Gerbang Kehidupan untuk melesat meraih tubuh Wulan. Kemudian pemuda itu membawa Wulan ke tempat yang lebih aman dari tempat itu yang mungkin sebentar lagi akan menjadi arena pertarungan.


“Keparat!” geram Rambak Selah menyapukan pandangan ke sekitarnya sesaat setelah jurusnya hanya mengenai tanah. “Siapa yang melakukan ini. Beraninya bermain licik!”

__ADS_1


“Hoi! Bukankah kau sendiri yang licik. Beraninya menggunakan bom asap!” Terdengar suara teriakan, diikuti sekelebat cahaya hitam melesat cepat menyerang para pendekar yang membawa panah.


Lima sosok hitam pembawa panah berhasil dilumpuhkan Lembah Manah dengan aneka macam cedera. Lalu pemuda itu kembali menghilang ke sudut lain, tanpa menunjukkan wujudnya. Tentu tindakan Lembah Manah membuat Rambak Selah sedikit khawatir.


__ADS_2