
Lembah Manah memeluk Jayadipa dengan erat, tangis kembali pecah dalam pelukannya. Kini pemuda itu menyadari, jika dirinya benar-benar pemuda yang payah dalam memahami perasaan perempuan.
“Sampai kapan kau akan seperti ini, Lembah!” ucap Nata menyela ketiga temannya. “Ni Luh ingin kau menjadi seperti Lembah Manah yang dulu. Bukankah kau telah berjanji untuk selalu melindungi yang lemah dan menghentikan keberingasan Ki Badra!”
Lembah Manah melepaskan pelukannya dari tubuh Jayadipa. Pemuda itu menatap Nata, lalu memeluk temannya yang paling kecil itu.
“Pulanglah! Aku akan menyusul kalian!” pinta Lembah Manah pada tiga temannya. “Aku akan menyelesaikan urusanku sebentar!”
Sepertinya pemuda itu telah menguasai tubuhnya kembali. Wanapati, Jayadipa dan Nata kembali ke perguruan karena hari menjelang siang. Perlahan, tiga pemuda itu meninggalkan Lembah Manah sendiri dan tampaknya mereka percaya bahwa Lembah Manah telah dapat mengendalikan dirinya.
“Lembah muridku!”
Terdengar suara yang tak asing oleh Lembah Manah.
“Guru Gendon!” sahut Lembah Manah menyadari Ki Gendon berada di dekatnya dalam wujud roh.
“Semakin dewasa seharusnya kau semakin peka terhadap perasaan wanita dan harus tahu apa itu cinta!” ucap Ki Gendon yang membuat wajah pemuda itu memerah. “Bahkan Ni Luh rela mati demi cintanya yang dalam untukmu!”
Sejenak Ki Gendon menatap wajah Lembah Manah dan melanjutkan ucapannya, “lihatlah di luar sana, banyak gadis menyukaimu. Pilihlah salah satu dan buktikan bahwa lelaki sejati hanya setia pada satu perempuan, bukan yang mempermainkan perasaannya!”
“Terima kasih guru!” sahut Lembah Manah dengan sedikit senyuman di wajahnya. "Lembah mengerti!”
“Biasanya, setiap jalan yang kau lalui begitu mulus, hingga kau mendapatkan apa yang kau inginkan!” seru Ki Gendon yang membuat Lembah Manah terpaku. “Kali ini kau mendapat sandungan karena kepergian Ni Luh. Kau harus bangkit Lembah!”
“Maafkan Lembah guru!” sahut pemuda itu.
“Aku akan menghilang dalam waktu yang cukup lama!” tutup Ki Gendon yang perlahan mulai menghilang dari hadapan Lembah Manah.
Sepertinya hanya Ki Gendon yang bisa membuat Lembah Manah tersenyum. Pemuda itu mengusap air mata yang mulai mengering di kedua pipinya, lalu beranjak pulang menuju perguruan.
Sesampainya di perguruan, Lembah Manah dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya diam terpaku. Seluruh peserta Pertandingan Besar tengah berkumpul di halaman perguruan, mereka hendak menjenguk keadaan Lembah Manah atau sekadar berbelasungkawa dan berterima kasih kepada Lembah Manah atas keberaniannya membantu pihak Indra Pura, meskipun mereka kalah telak.
Perlahan Lembah Manah memasuki perguruan dengan wajah yang suram. Kembali air mata menetes dari sudut matanya melihat kepedulian para pendekar-pendekar beraliran putih itu. Satu per satu Lembah Manah menyalami atau bahkan memeluk para pendekar itu.
“Te-terima kasih, saudara sau-saudara sekalian!” seru Lembah Manah terbata-bata.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba saja Patih Ragas dan Wulan datang dengan menunggang kuda. Terlihat luka sayatan pada lengan kiri Patih Ragas, tetapi tak dihiraukan oleh patih berbadan kekar itu.
Mereka berdua baru saja kabur dari istana karena serangan Ki Badra dan para pendekar bawahannya. Ya, Ki Badra berencana menggunakan istana Sokapura sebagai pusat pemerintahannya.
Lembah Manah menyambut Wulan yang berjalan terhuyung, lalu mempersilakan tuan putri itu duduk pada gubuk di dekat pintu masuk perguruan.
Wulan terkejut melihat keadaan Lembah Manah yang begitu payah. Tuan putri itu hendak bertanya, tetapi mengurungkan niatnya karena dia sudah tahu jawabannya, kepergian Ni Luh.
“Maaf saudara sekalian, Ki Badra telah berhasil merebut istana!” seru Patih Ragas dengan napas terengah-engah. “Mereka menjadikan istana Sokapura sebagai pusat pemerintahan!”
“Apa!” sahut mereka bersamaan.
Semua terkejut mendengar perkataan Patih Ragas. Mereka saling bergeming lirih dengan orang-orang di sampingnya dan saling tatap satu sama lain.
“Aku juga melihat Pangeran Tirta Banyu dan Pangeran Tatar Pakujiwo bersama mereka!” tegas Patih Ragas.
“Lalu bagaimana keadaan raja?” tanya Ki Tunggul.
“Ayah dalam bahaya!” sahut Wulan menyela pembicaraan seraya meneteskan air matanya. “Mungkin mereka akan mengeksekusi ayah!”
“Apa!” Lembah Manah membelalakkan matanya setelah membaca isi dalam gulungan itu.
“Ada apa Lembah?” Semua bertanya mengenai isi gulungan itu.
“Hukuman mati untuk Pangeran Kusumawijaya, Raja Brahma dan Raja Kertanegara bersama para petinggi tiga kerajaan!”
Sontak, kabar berita itu membuat Nastiti berteriak histeris. Gadis itu ingin segera pergi dari tempat itu dan berusaha untuk menyelamatkan ayahnya. Namun, Roko Wulung menghalangi niat tersebut.
“Aku ingin menyelamatkan ayah!” seru Nastiti menangis.
“Tidak! Kau harus tetap di sini!” cegah Roko Wulung menggenggam tangan kiri Nastiti.
“Hentikan!” bentak Patih Ragas menengahi keributan kecil itu. “Semua pasti khawatir akan keadaan ini. Hukuman masih sepuluh hari, kita masih punya waktu untuk mengumpulkan kekuatan!”
“Baiklah, aku akan pergi!” seru Lembah Manah hendak keluar dari perguruan.
__ADS_1
“Kau mau kemana, Lembah!” cegah Wanapati khawatir karena keadaan Lembah Manah belum stabil. “Lebih baik tetap tinggal di perguruan!”
“Emm, aku akan memanggil bala bantuan!” sahut Lembah Manah tersenyum. “Tenanglah Wanapati, aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkan aku!”
Lembah Manah keluar dari pintu gerbang perguruan dan berjalan ke arah barat sembari berkata, “kita akan bertemu di Kadipaten Kotaraja!”
“Baiklah aku juga akan pergi untuk memeriksa Sokapura!” seru Layung Semirat dan berlalu meninggalkan perkumpulan itu.
“Wulan—!” Ucapan Nastiti terhenti ketika gadis itu melihat Wulan mengekor di belakang Lembah Manah.
“Tuan Putri ingin mendampingi Lembah Manah!” sahut Patih Ragas memberitahu niat Wulan kepada Nastiti.
***
Sementara itu di istana Kerajaan Sokapura, Ki Badra memenjarakan Raja Brahma beserta para petingginya. Pangeran Kusumawijaya bersama para petingginya dan Raja Kertanegara beserta para petingginya di dalam penjara bawah tanah. Tubuhnya penuh luka akibat lecutan cambuk dari para pengikut Ki Badra.
Setelah empat Kitab Pusaka diserahkan kepada dirinya, Ki Badra menyimpan rapi di dalam sebuah ruangan khusus yang tak boleh dikunjungi siapa pun selain dirinya sendiri.
“Kumpulkan orang-orang yang menentangku!” seru Ki Badra duduk di singgasana Raja Brahma. “Dan kumpulkan orang-orang yang setia padaku. Agar melihat betapa kejamnya diriku pada mereka yang berani melawanku!”
“Siap laksanakan!” sahut Bayu Amerta.
Tidak menunggu waktu lama, Bayu Amerta beserta pendekar bawahannya mengumpulkan semua yang setia kepada Raja Brahma. Mereka dikumpulkan di halaman istana untuk di eksekusi, dengan disaksikan oleh rakyat kerajaan yang mungkin masih setia kepada Raja Brahma.
“Sisihkan hasil panen untuk kerajaan, tetapkan pajak yang tinggi!” teriak Ki Badra di depan rakyat Sokapura. “Satu lagi! Siapa pun yang menentangku akan berakhir seperti ini!”
Ki Badra memenggal kepala seorang petani tua dengan tangan yang terikat ke belakang. Petani itu salah satu rakyat yang setia kepada Raja Brahma dan tidak mau tunduk dengan ketentuan-ketentuan Ki Badra.
Semua rakyat yang hadir tampak ketakutan melihat kepala menggelinding di depan mereka. Seorang ibu menutup mata putri kecilnya dengan telapak tangan, agar tak melihat kengerian itu. Namun, tetap saja, Ki Badra tidak akan berhenti sampai di sini.
“Hidup Ki Badra!”
“Hidup Ki Badra!”
Teriakan-teriakan itu menggema di halaman istana yang penuh dengan darah. Dalam sepuluh tahun terakhir, mungkin ini adalah pemandangan yang paling mencekam. Karena sedari dulu, Kerajaan Sokapura hidup dalam damai dan kemakmuran.
__ADS_1