
“Lewat sini!” ucap Wulan yang menunjukkan jalan menuju penjara bawah tanah, diikuti Lembah Manah dan Nata.
Sampai juga mereka di penjara bawah tanah, mereka terkejut melihat para prajurit dan raja dimasukkan dalam tahanan yang begitu sempit.
Jika biasanya satu penjara diisi lima orang, kali ini Garu Langit mengisinya dengan lima belas orang. Bukan main sesaknya berada di dalam penjara itu.
“Byakta!” seru Nata memeriksa jeruji penjara. “Sebentar Lembah, biar kuperiksa apakah ada belenggu pada jeruji penjara itu!”
“Hmm, sepertinya aman!” lanjut Nata.
Matahari telah tampak dari timur, rupanya waktu berlalu begitu cepat. Segera Lembah Manah membebaskan raja dan para prajurit, tak lupa Patih Ragas yang tengah bersiap merebut kembali kerajaan dari para pengkhianat itu.
Menuju gudang senjata! Ya, hal pertama setelah keluar dari penjara bawah tanah adalah menuju gudang senjata untuk memilih senjata dan melakukan serangan balasan ke prajurit Garu Langit.
Wanapati dan rombongannya telah menghabisi prajurit di pelataran halaman istana. Beberapa pentolan prajurit juga dibuat kesakitan oleh Jayadipa dan Ni Luh.
Sementara itu, Lembah Manah dan para tahanan yang telah dibebaskan hendak memasuki istana. Namun, sebelum mereka memasuki istana, Garu Langit dan para pentolannya yang lain telah menghadang mereka.
“Oh, rupanya bala bantuan telah datang!” seru Garu Langit tersenyum sinis.
“Condro Mowo! Bawa pasukanmu untuk meringkus raja dan lainnya. Sementara pemuda itu biar aku yang urus!” lanjut Garu Langit seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Lembah Manah.
“Hmm, apa tidak salah. Justru kaulah yang harus menyerah!” balas Lembah Manah.
“Emm, Yang Mulia, Tuan Putri, sebaiknya Anda bergabung bersama Wanapati. Berlindunglah di belakang formasi yang telah dibuatnya!” Lembah Manah memberi instruksi kepada Raja Brahma dan para petinggi kerajaan.
“Biarkan hamba, Nata dan Anda Patih Ragas, apakah sudah siap menghajar tikus-tikus ini!” lanjut Lembah Manah.
“Itu bukan masalah!” sahut Nata menggertakkan jemarinya.
“Prajurit! Bawa raja dan tuan putri menuju rombongan Wanapati!” perintah Patih Ragas yang langsung diiyakan para prajurit yang baru saja terlepas dari penjara bawah tanah.
Raja dan Wulan dikawal oleh prajurit itu dan hendak menuju rombongan Wanapati. Sementara Lembah Manah, Nata dan Patih Ragas menghadapi Garu Langit dan beberapa pentolannya.
__ADS_1
Namun, apa yang terjadi? Wulan menghentikan langkahnya karena dihadang Condro Mowo.
“Prajurit! Bawa ayahku keluar, biar aku menghadapi Condro Mowo!” perintah Wulan yang langsung dilaksanakan para prajuritnya.
Nata menggunakan teknik istimewa miliknya—Wesaran, yang membuat beberapa prajurit bawahan Garu Langit terpental karena pusaran tenaga dalam yang begitu kuat. Patih Ragas dengan tinjunya juga berhasil melumpuhkan beberapa prajurit.
“Kau telah terpojok, menyerahlah!” ucap Lembah Manah yang tidak diindahkan oleh Garu Langit.
Garu Langit melesat ke arah Lembah Manah, kedua tangannya dialiri tenaga dalam berwarna putih. Gerakannya sangat cepat, hingga Lembah Manah dibuat kesulitan menghindari pukulannya.
Melihat celah, Lembah Manah melepaskan pukulan dengan tangan kanannya yang membuat Garu Langit mundur beberapa langkah.
Garu Langit memasang kuda-kuda dan mengambil tongkat yang diikatkan dipunggungnya. Pria berambut panjang itu melesat ke arah Lembah Manah dengan mengaliri tenaga dalam pada tongkatnya, kembali Lembah Manah hanya menghindari serangan Garu Langit.
“Sial! Gerakannya sangat cepat!” lirih pemuda itu.
“Hahaha, apa kau terkejut dengan Tongkat Pengantar Kematian milikku!” sahut Garu Langit tertawa mendongakkan kepalanya.
“Apa! Tongkat Pengantar Kematian. Itu kan salah satu pusaka kerajaan. Apakah dia mencurinya dari Raja Brahma!” lirih Lembah Manah lagi.
“Apa! Pukulan Tapak Harimau!”
“Ya benar. Apa kau takut!”
Kembali Lembah Manah melesat, ke arah Garu Langit. Berbeda dengan gerakan pertama, gerakan yang kedua jurus ini adalah berguling ke arah lawan dan serangannya mengarah bagian bawah yang merupakan pusat dari kuda-kuda.
Lagi-lagi, Garu Langit menahan serangan Lembah Manah dengan mudah. Kecepatan permainan tongkatnya tak kalah dengan serangan Tapak Harimau milik Lembah Manah.
Melihat ada celah, Garu Langit memukul Lembah Manah tepat di bagian perut yang membuatnya terlempar beberapa langkah dan jatuh terkapar. Tak ingin berlama-lama lagi Lembah Manah bangkit dan menggunakan Gerbang Pertama.
“Gerbang Kegelapan! Terbukalah!”
Kedua tangan Lembah Manah diselimuti oleh aura tenaga dalam berwarna hitam dan membuat Garu Langit sedikit gemetar karena tekanan itu. Tak menunggu lama, Lembah Manah melesat ke arah Garu Langit yang telah siap menahan serangannya.
__ADS_1
“Tongkat Pengantar Kematian!”
Garu Langit menebaskan tongkatnya yang dibarengi dengan keluarnya cahaya berwarna putih melesat ke arah Lembah Manah. Keduanya bertabrakan—tubuh Lembah Manah dan cahaya putih milik Garu Langit, hingga menimbulkan ledakan dan asap debu mengepul dan getaran itu menarik perhatian semua prajurit yang tengah bertarung.
Tubuh Lembah Manah tetap melesat, sesaat setelah kepulan asap menghilang. Garu Langit yang mulai kehabisan stamina tak mampu membendung laju lawannya yang begitu cepat.
Pemuda itu mendaratkan satu pukulan tepat pada perut Garu Langit yang membuat pria itu terlempar beberapa langkah dan berhenti setelah tubuhnya menabrak tembok istana dengan darah keluar dari mulutnya.
Di sisi lain, Wulan masih kesulitan menghadapi Condro Mowo. Tanpa kipas beracunnya, Wulan seperti tak punya kekuatan, walaupun ilmu kanuragannya berada pada tingkat Andhap tahap akhir. Nata yang telah menghabisi lawannya, dengan segera menghampiri Wulan.
“Tuan Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya Nata yang hanya dibalas anggukan kepala Wulan.
“Jangan hanya berani dengan perempuan, lawanmu itu aku!” seru Nata berdiri di depan Wulan dengan Mata Byakta yang telah aktif.
Tanpa sepatah kata pun Condro Mowo melesat ke arah Nata dengan aura tenaga dalam berwarna kuning pada kedua tangannya.
“Wesaran!”
Nata berputar dengan lingkaran tenaga dalam yang melindungi tubuhnya. Condro Mowo terlempar beberapa langkah dan hendak berdiri kembali memasang kuda-kuda.
“Sial! Aku kira Trah Mirsa hanya tinggal cerita, ternyata aku berhadapan langsung dengan salah satu keturunannya!” umpat Condro Mowo yang mulai gemetar melihat jurus milik Nata.
Lagi-lagi Condro Mowo melesat ke arah Nata, tetapi tiga langkah sebelum dia mendaratkan serangan pada tubuh Nata, pemuda Trah Mirsa itu telah mengaktifkan jurusnya—Tinju Delapan Mata Angin.
“Sayang sekali, kau telah masuk ke dalam jangkauan seranganku!” seru Nata yang akan menggunakan jurus jarak dekat yang mematikan.
“Empat pukulan!” Nata menghajar perut Condro Mowo.
“Enam belas pukulan!” Pukulan berpindah ke bagian wajah dan menjalar bagian tangan.
“Tiga puluh dua pukulan!” Nata menghajar bagian perut ke bawah hingga bagian kaki lawannya.
“Enam puluh empat pukulan!” Kembali ke bagian perut dengan kecepatan dua kali lipat.
__ADS_1
“Seratus dua puluh delapan pukulan!” Nata menghajar habis Condro Mowo dan satu pukulan terakhir Nata daratkan pada dagu dengan telapak tangan terbuka seperti mendorong sebuah beban yang sangat berat.