
Tingkatan ilmu kanuragan Wanapati berada pada tingkat Andhap tahap akhir, sama halnya dengan Ni Luh. Dan aturan dalam pertandingan mengharuskan setiap peserta memiliki ilmu kanuragan tahap Andhap tingkat awal, hingga ilmu kanuragan tingkat Madyo tahap awal.
“Dua hari lagi, aku akan melepas kalian untuk menuju kerajaan!” seru Ki Tunggul kepada Wanapati dan Ni Luh. “Perjalanan menuju kerajaan memakan waktu yang tidak sebentar jika hanya berjalan kaki. Jadi masih ada waktu beberapa hari untuk kalian beristirahat di dalam kerajaan!”
“Baik guru, kami mengerti!” tegas Wanapati.
Ni Luh hanya tersenyum melihat Wanapati yang penuh semangat mengikuti pertandingan di kerajaan. Namun, gadis itu berharap Lembah Manah juga bisa ikut dengan mereka berdua.
Apalagi setelah mendengar berita bahwa Lembah Manah jatuh dalam Jurang Pengarip-Arip, gadis itu merasa sangat kehilangan.
Di seluruh Negeri Yava, ada tiga kerajaan besar yang saling berdampingan. Pertama adalah Kerajaan Sokapura—tempat dimana Lembah Manah tinggal. Kedua, ada Kerajaan Tanjung Pura yang wilayahnya paling luas dari tiga kerajaan itu dan berada di sebelah barat Kerajaan Sokapura.
Dan kerajaan yang ketiga, adalah Kerajaan Indra Pura, letaknya berada di sebelah selatan Kerajaan Tanjung Pura.
Pertandingan antar pendekar muda di kerajaan diadakan setiap setahun satu kali, dengan hadiah yang sangat menggiurkan dan berbeda setiap tahunnya.
Di dalam satu kerajaan, ada beberapa kadipaten yang memiliki perguruan dan mengirimkan beberapa murid terbaiknya untuk mengikuti pertandingan itu. Dan tentu saja setiap pendekar muda berhak mengikuti pertandingan ini, selama masih memiliki ilmu kanuragan tingkat Andhap, hingga tingkat Madyo tahap awal.
Dari pertandingan ini, akan diambil tiga pendekar muda yang menjadi juara. Dan tiga pemuda itu akan berpartisipasi dalam Pertandingan Besar, yang mempertemukan para pendekar muda di seluruh Negeri Yava yang tersebar di tiga kerajaan.
Pertandingan Besar ini, juga diadakan setiap setahun sekali, dengan tuan rumah salah satu dari tiga kerajaan itu dan bergantian dalam setiap penyelenggaraannya.
Kebetulan untuk tahun ini, Pertandingan Besar hanya selisih beberapa bulan saja dari penyelenggaraan pertandingan di kerajaan. Kali ini Kerajaan Indra Pura bertindak sebagai tuan rumah Pertandingan Besar.
Pagi ini semua murid perguruan berkumpul di halaman untuk menerima arahan dari Ki Tunggul.
“Baiklah, aku akan memanggil murid yang terpilih mewakili perguruan pada pertandingan di kerajaan!” seru Ki Tunggul berdiri di depan para muridnya. “Wanapati, Ni Luh, kalian berdua yang akan berangkat. Aku harap kalian membawa harum nama perguruan!”
“Lakukan yang terbaik. Untuk kamu Ni Luh, jangan sampai kamu terluka dan jangan memaksakan diri!” lanjut Ki Tunggul sedikit khawatir dengan kemampuan Ni Luh.
“Jayadipa, kau juga ikut ke kerajaan. Tugasmu mengarahkan kedua temanmu, kau akan menjadi pendamping Wanapati dan Ni Luh!” lanjut Ki Tunggul lagi.
__ADS_1
“Baik guru!” jawab Jayadipa.
Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh berangkat menuju kerajaan untuk mengikuti pertandingan antar pendekar muda. Mereka harus berjalan beberapa hari ke arah barat, melewati beberapa kadipaten dan barulah mereka sampai di kerajaan.
Kembali ke Lorong Alam Lelembut...
Lembah Manah, Nawang dan Sati bergegas memasuki portal itu tanpa memedulikan Semoro Bumi yang tengah sekarat. Tubuh mereka bertiga seakan tersedot oleh pusaran air dalam waktu beberapa detik.
Kembali Lembah Manah mendapati warna hijau pada lorong yang ke lima. Langit, pepohonan dan rumput semuanya berwarna hijau. Namun, pemuda itu tak perlu lagi repot-repot mencari penunggu lorong ke lima ini, karena di depan mereka telah berdiri makhluk hijau setinggi lima meter.
Matanya berwarna merah, memiliki taring yang keluar dari mulutnya sebelah atas. Dan hanya memakai celana tanpa memakai baju.
“Aku Buto Ijo telah melihat kehebatanmu dari Kaca Benggala ini!” ucap Buto Ijo menunjukkan sebuah kaca berukuran sepuluh kali dua puluh sentimeter.
“Baiklah anak muda, aku tak akan membiarkanmu lewat!” lanjut Buto Ijo sembari melenyapkan kaca itu dari genggamannya.
“Emm, Nawang, Sati, kalian bersembunyilah di balik pohon itu!” pinta Lembah Manah dengan menunjukkan sebuah pohon besar dan langsung diiyakan kedua temannya.
Semula, Lembah Manah hanya menyilangkan kedua tangannya ke depan. Namun, lama-kelamaan tubuh pemuda itu sedikit terdorong ke belakang dan masih bisa menahan tangan Buto Ijo. Meski bertubuh besar, tetapi gerakan Buto Ijo sangat gesit.
“Hmm, apa hanya ini kemampuanmu!” seru Buto Ijo tersenyum sinis.
Lembah Manah menggunakan jurusnya, terlihat dari kedua tangannya yang mulai diselimuti cahaya berwarna biru. Dengan aktivasi kanuragan tingkat Madyo tahap akhir, kemungkinan mampu mengimbangi kekuatan Buto Ijo.
Makhluk hijau itu sedikit kaget dan melayangkan pukulan tangan kirinya mengarah pada bagian perut Lembah Manah. Dengan gerakan cepat, Lembah Manah menghindar melompat ke belakang.
Buto Ijo terus mengejar Lembah Manah, mereka beradu pukulan hingga beberapa kali dan jual-beli serangan hingga beberapa jurus.
Karena saking cepatnya gerakan mereka bertukar jurus, hingga yang terlihat hanya dua bayangan saja—hijau milik Buto Ijo dan biru milik Lembah Manah. Kedua cahaya itu mengitari hamparan rerumputan tempat mereka bertarung.
Pada satu kesempatan, Lembah Manah membuka gerbang yang pertama dengan aktivasi kanuragan tingkat Madyo tahap akhir.
__ADS_1
“Gerbang Kegelapan, terbukalah!” seru Lembah Manah hingga membuat Buto Ijo tercengang.
Dengan aura tenaga dalam berwarna hitam yang menyelimuti kedua tangannya, Lembah Manah menyerang terlebih dahulu. Pemuda itu melesat cepat ke arah Buto Ijo yang tak menyadari kecepatan lawannya meningkat dua kali lipat, hingga terkena satu pukulan tepat di perutnya.
Buto Ijo terhuyung ke belakang, Lembah Manah menghujaninya dengan beberapa pukulan bergantian tangan kanan dan kiri.
Asap mengepul membubung tinggi karena efek kecepatan pukulan Lembah Manah, pemuda itu yakin Buto Ijo terkapar akibat pukulannya.
Namun, apa yang terjadi? Buto Ijo masih berdiri tegak, makhluk hijau itu tampak baik-baik saja tanpa luka pada tubuhnya. Lembah Manah terkejut melihat musuhnya tak terluka sedikit pun meski telah menghujani banyak pukulan.
“Apa! Bagaimana kau tak terluka sedikit pun?” seru Lembah Manah keheranan.
“Hahaha! Itu mudah saja bagiku, anak muda!” sahut Buto Ijo tertawa keras.
Rupanya, saat Lembah Manah tengah melancarkan pukulannya, tanpa pemuda itu sadari, Buto Ijo melapisi seluruh tubuhnya dengan cairan berwarna hijau yang keluar dari pori-pori kulit seluruh tubuhnya.
Entah cairan itu mengandung apa, yang pasti tubuh Buto Ijo terlindungi dari serangan Lembah Manah. Meski dihujani banyak pukulan, Buto Ijo tak merasakan efek apa pun, dan perlahan kini cairan berwarna hijau itu menghilang melalui pori-pori tiap bagian tubuhnya.
“Makhluk apa ini, bahkan pukulanku tak melukainya sama sekali!” lirih Lembah Manah berbicara sendiri.
“Apa kau sudah menyerah? Kini giliranku menyerang!” seru Buto Ijo.
Buto Ijo melesat cepat ke arah Lembah Manah dan mengarahkan tangan kanannya yang telah dilapisi tenaga dalam untuk mengincar wajah lawannya. Lembah Manah kembali menangkis dengan kedua tangan yang disilangkan di depan wajahnya.
Namun, Lembah Manah sedikit terdorong ke belakang, kembali Buto Ijo menyerang dengan tangan kirinya mengarah bagian bawah tubuh Lembah Manah. Pemuda itu lengah dan tak bisa menghindari pukulan Buto Ijo.
Satu pukulan mendarat pada perut Lembah Manah, hingga membuatnya terlempar beberapa langkah ke belakang dan jatuh terlentang di atas hamparan rumput hijau.
“Kak Lembah!” teriak Sati yang mencoba berlari mendekati Lembah Manah.
“Jangan Sati, itu terlalu berbahaya,” seru Nawang mencegah Sati.
__ADS_1