KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Gulungan


__ADS_3

Kalian berdua adalah murid yang tersisa dari perguruan ini. Apa jadinya jika perguruan ini hancur!” lirih Ki Rangga Sabekti memegangi dadanya sembari batuk kecil.


“Tapi guru—!”


“Lepaskan muridku dan kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan!” sela Ki Rangga Sabekti memotong perkataan Lintang Sakethip.


Pertukaran pun dilakukan kedua belah pihak. Ki Rangga Sabekti mendapatkan Lintang Sakethip dan Kanigara mendapatkan Kitab Bulan milik Perguruan Bulan Sabit.


“Hoi Sambara! Kakakmu adalah orang baik, dia selalu bercerita tentangmu padaku, tapi tidak dengan orang lain, hahaha!” ucap Kanigara dan berlalu pergi meninggalkan perguruan.


Tak berselang lama Layung Semirat datang hendak menyampaikan pesan dari ayahnya kepada Ki Rangga Sabekti. Namun, ketika sampai pada pintu gerbang perguruan, pemuda itu terkejut melihat kerusakan bangunan perguruan dan banyak jasad murid perguruan yang tergeletak di pelataran halaman.


“Ki, apa yang terjadi Ki? Sambara? Lintang?”


Banyak pertanyaan yang dilemparkan Layung Semirat dan membutuhkan jawaban, tetapi yang dia dapat hanya tangisan dari ketiga penghuni perguruan. Layung Semirat semakin bingung dan sejenak menenangkan Ki Rangga Sabekti.


Setelah sedikit tenang, Ki Rangga Sabekti menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dari kedatangan dua orang asing, hingga Kitab Bulan telah jatuh ke salah satu bawahan Ki Badra.


“Tidak mungkin!” geram Layung Semirat mengepalkan tangan kanannya.


Layung Semirat menyampaikan pesan ayahnya tentang rencana sebelum pertemuan para petinggi di Perguruan Tombak Putih dan segera pamit untuk kembali melapor kepada ayahnya.


“Ki, apa rencana Ki Rangga selanjutnya?” selidik Layung Semirat.


“Aku akan memperbaiki semua ini dan aku pasti akan datang ke pertandingan besar untuk berjaga-jaga!” jawab Ki Rangga Sabekti sembari batuk kecil.


“Baiklah Ki, Layung mohon undur diri!” sahut Layung Semirat dan berlalu dari Perguruan Bulan Sabit.


Ki Rangga Sabekti dan kedua muridnya masih trauma atas apa yang baru saja terjadi. Hanya tangisan dan lamunan yang menghinggapi hingga siang hari.


Sambara masih saja menangisi jasad kakaknya, tetapi Lintang Sakethip menenangkan meski Sambara tak membutuhkan itu. Sambara berusaha untuk mencerna ucapan dari Indurasmi sebelum tewas.


“Lebih baik kita semayamkan mereka dengan layak, sebelum hari menjelang petang!” ucap Ki Rangga Sabekti disela tangisannya.

__ADS_1


“Baik guru!” jawab Lintang Sakethip dan menoleh ke arah Sambara. “Sambara! Apa kau mau seperti ini terus. Arwah kakakmu tidak akan tenang. Bangunlah dan makamkan jasad kakak Indurasmi dengan layak!”


Akhirnya Sambara menuruti apa yang dikatakan Lintang Sakethip, memakamkan jasad Indurasmi dengan layak dan jasad murid yang lainnya. Ki Rangga Sabekti berencana ingin memperbaiki perguruan terlebih dahulu dan bersiap menghadiri Pertandingan Besar.


***


Hari berganti pagi, seperti biasa, Lembah Manah bangun lebih awal dan membantu Mbok Pani menyiapkan sarapan untuk para murid perguruan. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menyapu halaman dan membersihkan diri.


Terlihat para murid tengah memasuki aula pembelajaran, setelah itu barulah Lembah Manah berjalan paling belakang.


“Lembah!” seru Ki Tunggul memanggil pemuda itu ketika hendak memasuki aula pembelajaran. “Kemarilah! Aku ada tugas untukmu!”


Lembah Manah berbalik badan dan mengikuti Ki Tunggul untuk menuju pondokannya. Di dalam pondokan, Ki Tunggul duduk pada sebuah kursi yang di depannya juga ada sebuah meja yang tidak terlalu besar berisi tumpukan kertas permohonan bantuan.


Entah bantuan apa, yang jelas ada beberapa tumpukan di meja Ki Tunggul. Jika permohonan bantuan telah selesai dan berhasil, kertas itu ditumpuk menjadi satu pada bagian kanan meja. Sedangkan permohonan bantuan yang belum terlaksana, menumpuk di meja sebelah kiri.


“Pergilah ke pusat kadipaten!” seru Ki Tunggul sesaat setelah Lembah Manah berdiri di depan mejanya. “Berikan gulungan ini kepada Adipati Wirayuda!”


“Baik guru, Lembah bersedia!” sahut pemuda itu menyilangkan tangan di depan dada dan membungkukkan badannya. “Dengan siapa Lembah ke pusat kadipaten, Guru?”


“Baik guru, Lembah Manah mohon undur diri!”


Pemuda itu bergegas meninggalkan perguruan dan bergerak cepat untuk menuju ke barat. Tujuan yang pertama adalah Desa Lapan Aji, lalu bergerak sedikit ke utara melewati Desa Kedhung Kayang, hingga memasuki Desa Seribu Embun tepat di pusat kadipaten.


Satu hari bergerak cepat, keesokan harinya Lembah Manah sampai di pusat kadipaten yang masuk dalam wilayah Desa Seribu Embun. Pemuda itu berencana untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin dan kembali ke perguruan.


Akhirnya, setelah tiga jam berjalan, Lembah Manah sampai juga di Joglo Kadipaten sebagai rumah tugas dari Adipati Wirayuda. Pemuda itu memasuki pintu gerbang yang dijaga beberapa abdi dalem kadipaten.


“Paman, bolehkah saya bertemu dengan Adipati Wirayuda?” seru pemuda itu mendapati penjaga pintu gerbang hendak memeriksanya. “Emm, ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada beliau!”


“Anak muda, dari mana kau berasal!” sahut salah satu penjaga yang mungkin lupa bahwa Lembah Manah pernah berkunjung ke tempat itu.


Lembah Manah mengeluarkan gulungan yang dibawanya dengan segel berupa tali putih yang menandakan pemuda itu adalah utusan sebuah perguruan.

__ADS_1


“Saya mendapat tugas dari Ki Tunggul untuk menyerahkan gulungan ini kepada adipati!” Lembah Manah meyakinkan penjaga itu.


“Jangan coba-coba membohongi kami, anak muda!” geram salah satu penjaga menaruh curiga pada Lembah Manah, karena dilihat dari pakaiannya, pemuda itu tidak menggunakan identitas sebuah perguruan.


Lembah Manah menghela napas dan mengeluarkan sebuah sobekan kain kecil yang bertuliskan Perguruan Jiwa Suci lalu berkata kepada penjaga yang sedikit mempersulitnya itu, “aku tidak berbohong paman!”


“Baiklah! Aku akan mengantarmu ke pondokan adipati!” tutup penjaga itu setelah mengetahui jika pemuda di depannya itu benar-benar utusan sebuah perguruan.


Setelah melewati beberapa kompleks pendopo, Lembah Manah sampai pada sebuah pondokan yang tidak terlalu besar sebagai tempat tugas Adipati Wirayuda. Pemuda itu diarahkan oleh penjaga pintu gerbang untuk menemui adipati.


Terlihat pria berbadan tegap tengah duduk pada sebuah kursi. Di depannya ada sebuah meja besar dengan banyak tumpukan kertas yang entah apa Lembah Manah sendiri juga tidak tahu apa isinya. Yang pasti, itu adalah berkas-berkas penting.


“Mohon maaf, Adipati. Ada tamu dari Perguruan Jiwa Suci ingin bertemu!” seru penjaga pintu gerbang kepada adipati.


“Lembah Manah!” seru adipati membelalakkan mata dan tertawa. “Bagaimana kabarmu? Masuklah!”


“Lembah Manah menghadap!” ucap pemuda itu menyilangkan tangan di depan dada dan membungkukkan badannya. “Kabar Lembah baik, Ki. Semoga kabar Ki Wirayuda juga baik-baik saja!”


Langsung saja Lembah Manah memberikan gulungan itu kepada adipati. Terlihat adipati itu tengah membaca isi dari gulungan yang Lembah Manah sendiri juga tidak tahu apa itu isinya.


Beberapa saat setelah membaca gulungan itu, adipati menyimpan gulungan dan mengambil satu gulungan kosong untuk membalas isi gulungan dari Ki Tunggul. Sementara itu Lembah Manah berdiri sedikit menjauh dari meja adipati.


“Aku telah membaca isi gulungan ini. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Lembah!” seru adipati kembali menyimpan gulungan yang diberikan Lembah Manah. “Ohh iya, selamat atas keberhasilanmu menjuarai pertandingan di kerajaan, Lembah!”


“Terima kasih, Ki. Ini semua juga berkat dukungan Ki Wirayuda kepada Lembah!” sahut pemuda itu merendah.


Ki Wirayuda hendak mengajak Lembah Manah untuk menuju pondokan jamuan makan. Namun, pemuda itu menolak secara halus, dengan dalih ingin segera kembali ke perguruan, untuk melaksanakan tugas yang lainnya.


“Baiklah, Lembah, aku juga tidak memaksa!” ucap Ki Wirayuda menyerah dengan kegigihan Lembah Manah. “Tolong berikan ini kepada gurumu!” lanjut adipati menyerahkan gulungan balasan dengan segel tali berwarna kuning yang menandakan dari petinggi kadipaten.


“Ingat! Hanya gurumu yang boleh mengetahui isinya!” tutup Ki Wirayuda.


“Baiklah, Ki, Lembah mohon undur diri!” sahut pemuda itu menerima gulungan dari Adipati Wirayuda dan menyilangkan tangan kanan di depan dada, lalu membungkukkan badan sebelum keluar dari pondokan adipati itu.

__ADS_1


Lembah Manah beranjak dari Joglo Kadipaten dan segera pulang ke perguruan. Jika melesat meringankan tubuh, kemungkinan esok hari pemuda itu sampai di perguruan.


__ADS_2