
“Aku adalah Bandini dan pria itu adalah kakakku, Bagiri!” ucap wanita berdada besar itu sembari menunjuk pria bertopeng yang masih bertarung dengan Araka.
Tanpa Bandini sadari, dalam waktu beberapa saat saja tangan kanan Lembah Manah telah menyerap energi alam dan memadatkan sebuah bulatan seperti bola bening tembus pandang sebesar buah jeruk.
“Apa ini guru, kecil sekali!” protes Lembah Manah.
“Ini baru tahap awal! Coba saja, jika keberuntungan di pihakmu, kau akan menang!” jawab Ki Gendon.
Bandini melesat ke arah Lembah Manah dengan kecepatan penuh, tangan kanannya dialiri tenaga dalam berwarna hitam. Satu langkah Bandini sebelum menyentuh tubuh Lembah Manah, pemuda itu mengarahkan tangannya ke depan dan beradu dengan tangan kanan Bandini.
WUSH!
Terjadi gelombang kejut yang membuat rumput sekitar mereka berdua bergetar karena efek dua tangan beradu. Bola bening di tangan kanan Lembah Manah seperti menyerap aura tenaga dalam berwarna hitam milik Bandini.
Energi alam yang dipadatkan itu berputar mengoyak telapak tangan wanita berdada besar itu, dan membuat luka seperti tergores ratusan pisau.
“Aahhkk!” teriak Bandini yang merasakan sakit teramat sangat pada telapak tangan kanannya. “Bagaimana mungkin kau—!”
“Aku sendiri saja juga terkejut!” sahut Lembah Manah tersenyum.
Bandini jatuh bersimpuh, tangan kirinya memegangi telapak tangan kanannya yang terus mengeluarkan darah. Sepertinya wanita itu telah menyerah dan perlahan memilih untuk duduk di dekat semak-semak sembari menghentikan pendarahan dengan tenaga dalamnya.
Menyadari wanita berdada besar tengah menahan sakitnya, Lembah Manah menyapukan pandangan ke arah Araka yang masih kesulitan menghadapi pria bertopeng alias Bagiri.
Dalam beberapa waktu saja, Araka telah menerima lima pukulan di bagian perutnya.
Satu tebasan pedang mengeluarkan cahaya berwarna putih melesat cepat, tetapi dipatahkan dengan pedang milik Bagiri yang membuat serangan Araka lenyap tak berbekas. Bagiri menendang perut Araka, hingga pemuda itu jatuh beberapa langkah kebelakang dengan mulut mengeluarkan darah.
Bagiri melangkah mendekati Araka, lalu mengangkat pedangnya untuk mengakhiri pertarungan.
“Sayang sekali! Pemuda sepertimu harus ma—!”
BLASH
__ADS_1
Perkataan Bagiri terhenti, saat Lembah Manah menendang kepalanya dari belakang dan membuat pria bertopeng itu jatuh tersungkur. Araka berlari dan berkumpul bersama rombongan Wulan, serta Tiga Bunga Bersaudara yang keadaannya mulai membaik.
“Tampaknya kami telah meremehkan kalian!” seru Bagiri merasa geram.
Lembah Manah memasang kuda-kuda dengan mengepalkan tangan kanannya ke depan. Sesaat kemudian, Bagiri melesat dengan menebaskan pedangnya mengarah pada pemuda itu. Namun, Lembah Manah masih bisa menghindar sembari salto ke samping.
Serangan datang bertubi-tubi, Lembah Manah hanya menghindar dan berusaha menyerap energi alam di sekitarnya. Cukup lama pemuda itu menghindari serangan Bagiri yang semakin lama malah semakin cepat.
Bagiri mundur beberapa langkah dan memperlebar jarak dengan Lembah Manah. Pria bertopeng itu melemparkan pedangnya ke atas dan seketika itu pula, pedang Bagiri melayang di atas kepalanya dan menjadi lima pedang yang bersiap menikam Lembah Manah.
Tangan kanannya ke depan mengisyaratkan kelima pedangnya menyerang pemuda di hadapannya. Lima pedang itu melesat cepat, yang membuat Lembah Manah harus berhenti menyerap energi alam dan menghindari serangan pedang itu.
Lima pedang kembali ke atas kepala Bagiri, setelah serangan pertama gagal.
“Hahaha! Apa kau mulai ketakutan anak muda?” seru Bagiri tertawa lepas.
“Aku harus membuka gerbang kedua untuk menangkis pedangnya. Baiklah!” lirih Lembah Manah mendapat rencana. “Gerbang kedua, terbukalah!”
Tubuh pemuda itu diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam yang membuat Bagiri mengernyitkan keningnya. Kembali Bagiri mengarahkan tangan kanannya ke depan diikuti lima pedang melesat ke arah Lembah Manah.
Lima pedang milik Bagiri tertancap rapi pada tanah di hamparan rerumputan yang membuat pria bertopeng itu terkejut. Tangan kanannya seolah mengisyaratkan untuk menarik pedang itu, tetapi sia-sia saja, pedang milik Bagiri menancap terlalu dalam dan sulit dicabut meski menggunakan tenaga dalamnya.
“Sial! Kenapa tidak mau tercabut!” seru Bagiri keheranan.
Tanpa ragu lagi, Lembah Manah melesat ke arah Bagiri dan menghujani dengan pukulan bergantian tangan kanan dan kiri pada bagian perutnya.
“Sekarang, apa kau mau menyerah?” seru Lembah Manah yang tak mendapat jawaban dari Bagiri.
Satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka, Lembah Manah daratkan pada dada sebelah kiri Bagiri.
Pria bertopeng itu jatuh terguling ke belakang dan tubuhnya terhenti setelah terkena bilah pedangnya sendiri yang menancap pada tanah, hingga membuatnya tewas seketika.
Wulan menghampiri Lembah Manah yang berdiri dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Bandini yang tadinya meringis kesakitan, kini melesat dari belakang Lembah Manah. Wanita berdada besar itu menggunakan tangan kirinya untuk mengeluarkan Tapak Iblis dan berniat menghabisi pemuda itu dalam satu serangan.
Namun, belum sempat Bandini menyentuh tubuh Lembah Manah, dengan sigap Wulan mengibaskan kipas bajanya untuk menyerang wanita berdada besar itu. Bandini tewas dengan satu pisau pipih yang bersarang pada lehernya.
“Lembah! Aku telah membunuh dua orang!” Wulan menangis ketika tanpa sengaja memeluk tubuh Lembah Manah.
Namun, pemuda itu tak mampu lagi berkata-kata dan hanya membiarkan tubuhnya dipeluk oleh tuan putri itu.
Beberapa saat berlalu hening, tanpa ada sepatah kata dari mereka berdua. Araka yang telah menguasai tubuhnya, perlahan bangkit dan berkumpul bersama Sekar dan Tiga Bunga Bersaudara.
“Apa tuan putri sudah lega!” seru Lembah Manah memecah keheningan.
Namun, tidak mendapat jawaban dari gadis yang tengah memeluknya.
“Aku susah bernapas!” lanjut pemuda itu.
Wulan melepaskan pelukannya, matanya memerah, sisa-sisa air mata masih membasahi pipinya yang halus. Sesaat setelah melihat wajah Lembah Manah, wajah Wulan memerah dan tersenyum menahan malu.
Lembah Manah mengusap air mata yang masih membasahi pipi Wulan dengan kedua tangannya. Jelas perlakuan seperti itu membuat gadis mana pun akan menaruh hati dengan pemuda itu.
Namun, Lembah Manah hanya menganggap itu sebagai tindakan yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki.
“Kemungkinan markas mereka memiliki pendekar yang lebih hebat dari tiga orang ini!” seru Araka mengagetkan Lembah Manah dan Wulan. “Apakah kita akan meminta bantuan?”
“Sepertinya tidak perlu!” sahut Lembah Manah menoleh ke arah rombongan Araka. “Emm, Patih Ragas segera bergerak bersama para murid Jiwa Suci!”
Mereka bertujuh menghempaskan punggungnya ke hamparan rumput. Tampak wajah mereka benar-benar kacau, setelah menghadapi para bawahan Ki Badra.
Wulan meminum ramuan pemulihan tenaga sesaat setelah diberi Lembah Manah, agar tubuhnya kembali pulih. Sementara Lembah Manah hanya terlentang memandang ke atas.
“Lembah! Apa rencana kita sekarang?” seru Wulan duduk bersila. “Apa kita akan tetap ke sana?”
Lembah Manah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Pemuda itu terdiam sejenak dan berpikir akan rencana selanjutnya.
__ADS_1
“Kita akan bergerak, setelah matahari terbit!” jawab Lembah Manah seraya memandang wajah Wulan.
Semula Wulan tampak ragu, tuan putri itu tidak yakin bisa mendampingi Lembah Manah. Namun, setelah bertemu rombongan Araka, pada akhirnya Wulan memilih untuk melanjutkan perjalanan dan berharap bertemu rombongan Patih Ragas.