KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Undangan Raja


__ADS_3

Raja Brahma berdiri di tepi pelataran dan memanggil Giandra dan Barani untuk bergabung bersama Lembah Manah di depan singgasananya.


“Lembah Manah, Giandra, Barani, aku merekomendasikan kalian untuk mengikuti Pertandingan Besar yang diadakan di Kerajaan Indra Pura tiga bulan lagi. Apa kalian bersedia?” seru Raja Brahma dengan tersenyum.


“Kami bersedia Yang Mulia!” jawab mereka bersamaan.


Giandra dan Barani pamit untuk undur diri, mereka kembali duduk pada bangku peserta dan bergabung dengan temannya yang lain.


“Terima kasih para hadirin yang telah menyaksikan pertandingan dari awal hingga akhir. Tahun ini Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni yang keluar sebagai juara!” seru Patih Ragas.


“Kami berharap tahun-tahun berikutnya pertandingan ini semakin ramai dan semakin banyak peserta yang berpartisipasi. Saya mewakili pihak kerajaan mengucapkan terima kasih!” lanjut patih berbadan kekar itu.


Lembah Manah kembali meraih Tombak Kyai Pleret dengan tangan kanannya dan berkata kepada dua temannya, “Wanapati, Ni Luh, emm, apa kalian tidak apa-apa, jika tombak ini kuberikan pada Jayadipa. Sepertinya dia tak memiliki senjata apa pun!”


“Tidak masalah, lagi pula kapak ini sudah cukup untukku,” jawab Wanapati dengan menunjuk kapaknya yang diselipkan pada pinggang kirinya.


“Terserah kau saja Lembah,” jawab Ni Luh tersenyum.


Lembah Manah memberikan Tombak Kyai Pleret kepada Jayadipa, karena sedari awal kedatangannya pemuda itu tak melihat Jayadipa memegang senjata meski tak mengikuti pertandingan.


Sepertinya tombak itu berjodoh dengan Jayadipa, terlihat saat Jayadipa menggenggam dengan tangan kanannya, Tombak Kyai Pleret bergetar dan kembali tenang setelah Jayadipa memutarkan tombak tersebut.


“Terima kasih Lembah, tapi bagaimana cara untuk menyimpan tombak sepanjang ini?” ucap Jayadipa mengerutkan keningnya.


“Emm, tunggu sebentar—!”


Lembah Manah memejamkan mata dan mencoba berkomunikasi dengan Naga Maruta tentang bagaimana cara menyimpan tombak itu. Benar saja, pemuda itu mendapat bisikan di dalam relung kepalanya, jika Jayadipa ingin menyimpan Tombak Kyai Pleret, sama seperti ketika Lembah Manah menyimpan Pedang Naga Maruta.


Yaitu dengan menggenggam ke atas lalu menyebut nama Pleret sebanyak tiga kali. Dan jika Jayadipa ingin memanggilnya, ritualnya juga sama seperti saat menyimpannya.

__ADS_1


Jayadipa mengangguk pertanda mengerti apa yang Lembah Manah ajarkan, lalu pemuda itu mempraktikkan apa yang Lembah Manah minta untuk menyimpan tombak itu.


Para penonton meninggalkan area pertandingan dengan tertib, mereka sangat terhibur atas pertandingan final yang menegangkan. Nawang, Sati dan Ibu Suci terlihat telah keluar dari pintu area pertandingan, mereka berencana untuk langsung pulang. Tak kecuali Mara dan ibunya, mereka juga terlihat meninggalkan area pertandingan untuk kembali ke rumahnya.


***


Malam pun tiba, Lembah Manah beserta rombongan telah bersiap dari pondokannya untuk memenuhi undangan makan malam raja. Lembah Manah tampak berbeda dari biasanya, pemuda itu terlihat lebih tampan, mungkin karena pakaian yang baru dibelinya sepulang dari area pertandingan siang tadi.


Wanapati dan Jayadipa tak kalah rapi, mereka berdua juga turut mencoba pakaian barunya. Ni Luh tampak anggun dengan balutan pakaian serba putih, yang juga baru dibelinya sepulang dari area pertandingan.


Mereka menuju istana yang jaraknya kurang lebih setengah kilometer dari pondokan yang sudah disediakan oleh prajurit kerajaan. Terlihat Patih Ragas menyambut mereka berempat di depan gerbang istana. Lalu mengantarnya menuju ruang makan keluarga kerajaan.


Lembah Manah sangat kagum melihat kemegahan istana kerajaan, dinding-dinding yang penuh dengan ukiran, tiap pintu yang dipasang tirai dan juga lantai yang dilapisi karpet, dan sepertinya alas kaki mereka tak pantas untuk menginjak, karena terlalu kotor.


Sampailah pada salah satu ruangan yang tidak begitu luas, dengan meja makan di tengah-tengah ruangan itu dan beberapa kursi yang telah disiapkan untuk mereka berempat dan mungkin keluarga kerajaan juga ikut bergabung dengan mereka.


“Selamat datang Lembah Manah!” seru seorang pria duduk di kursi paling ujung yang tak lain adalah Raja Brahma Wijaya.


“Terima kasih Yang Mulia Raja Brahma!” sahut Lembah Manah membungkukkan badan diikuti ketiga temannya.


Setelah saling sapa, tak menunggu lama lagi, Raja Brahma mempersilakan Lembah Manah dan teman-temannya untuk menikmati hidangan malam mereka. Obrolan hangat tak terlewatkan sembari gurauan kecil di tengah-tengah mereka.


“Ohh iya Lembah, apakah perempuan cantik di sampingmu itu adalah kekasihmu?” tanya raja kepada Lembah Manah.


“Uhuk, uhuk, uhuk!” Lembah Manah kaget hingga batuk karena mulutnya penuh dengan makanan mendengar pertanyaan dari Raja Brahma. Pemuda itu tak menyangka, jika raja ingin tahu lebih dalam mengenai dirinya.


Ni Luh menyembunyikan mukanya yang memerah menahan malu atas perkataan raja. Lalu menutup senyumnya dengan telapak tangan kanannya.


Wanapati dan Jayadipa hanya tertawa, karena mereka telah mengetahui kalau diam-diam Ni Luh menaruh hati kepada Lembah Manah dan tak berani mengungkapkannya. Tak seperti Nawang yang selalu menempel jika bertemu dengan Lembah Manah dan terkesan blak-blakan menyukai pemuda konyol itu.

__ADS_1


“Bu—bu, bukan Yang Mulia, emm, anu. Ini Ni Luh teman saya!” jawab Lembah Manah terbata-bata sembari menoleh ke arah Ni Luh.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Lembah Manah, sepertinya Wulan sedikit lega. Karena diam-diam gadis itu juga semakin tertarik dengan pemuda konyol tersebut.


“Benar Yang Mulia, Ni Luh adalah kekasih Lembah, hahaha!” timpal Jayadipa menggoda temannya.


“Bahkan bulan depan mereka segera menikah Yang Mulia, hahaha!” imbuh Wanapati sembari tertawa dan menoleh ke arah Lembah Manah dan Ni Luh.


Wulan menoleh ke arah Lembah Manah yang gugup menjawab pertanyaan raja, gadis itu tersenyum setelah mengetahui bahwa Lembah Manah memang bukan kekasih Ni Luh. Sepertinya masih ada tempat untuknya, pikir Wulan.


“Hahaha, kalian ini memang sangat cocok!” ucap raja dengan tertawa lepas. “Lembah, apa rencana kalian selanjutnya?”


“Emm, kami berencana—!”


Lembah Manah menjelaskan kepada raja, jika dirinya berencana ingin kembali ke desa secepat mungkin. Lalu berangkat ke Kerajaan Indra Pura untuk mengikuti Pertandingan Besar.


“Lalu, bagaimana dengan kalian bertiga?” ucap raja menoleh ke arah Wanapati, Jayadipa dan Ni Luh.


“Kami ingin kembali ke perguruan Yang Mulia!” sahut Wanapati.


“Baiklah jika itu mau kalian, tapi aku berharap pada kalian untuk tinggal disini lebih lama lagi,” ucap raja.


“Emm, terima kasih atas kebaikan Yang Mulia,” jawab Lembah Manah tersenyum.


Namun, Lembah Manah merasa aneh dengan raja dan putrinya, seharusnya mereka bertiga bersama satu perempuan lagi yang tak lain adalah istri Raja Brahma. Lembah Manah memberanikan diri untuk bertanya kepada raja tentang keberadaan istri raja.


“Emm, maaf Yang Mulia, hamba tidak melihat Yang Mulia Ratu. Ke manakah beliau?” tanya Lembah Manah kepada Raja Brahma.


“Istriku—!”

__ADS_1


Raja menceritakan, bahwa istrinya tengah sakit dan tidak bisa beranjak dari ranjangnya. Tubuhnya lemas, seperti tak punya tenaga. Beliau merasa kedinginan meski suhu di sekitarnya panas dan tak ada satu pun tabib yang mengetahui penyakitnya.


“Bolehkah hamba memeriksa Yang Mulia Ratu!” seru Lembah Manah menawarkan diri.


__ADS_2