
Mereka bertiga mendekati Patih Ragas dan membawanya ke perapian. Di depan perapian, Lembah Manah memeriksa luka Patih Ragas yang menurutnya tidak mengandung racun, dan hanya diberi ramuan pemulihan tenaga, agar keadaannya segera membaik.
“Terima kasih Lembah!” seru Patih Ragas.
“Sebaiknya patih beristirahat di gerobak belakang!” sahut Lembah Manah yang diiyakan oleh Patih Ragas.
Namun, tidak dengan Wulan, gadis itu duduk mendekati Lembah Manah yang tengah mengorek bara api perapian. Di samping pemuda itu, ada Wanapati yang merebahkan tubuhnya.
“Kenapa malah mengikutiku!” seru Lembah Manah menyadari Wulan duduk di sampingnya.
“Aku belum mengantuk!” sahut Wulan sembari mendekatkan duduknya dengan Lembah Manah. “Aku kedinginan!”
Lembah Manah beranjak dari duduknya dan hendak mengambil jubah cadangan yang berada di bagian belakang kereta kuda. Namun, Wulan menghentikan tindakannya dengan meraih tangan kanan Lembah Manah.
“Kau mau kemana?” tanya Wulan yang masih memegangi tangan kanan Lembah Manah.
“Emm, aku ingin mengambil jubah cadangan untuk Anda, Tuan Putri!” sahut Lembah Manah menatap wajah Wulan. “Bukankah Anda kedinginan?”
Wulan hanya tertegun menatap wajah kepolosan Lembah Manah lalu tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, ‘bodoh kau Lembah, aku hanya ingin dipeluk olehmu, bukan jubah cadangan’.
“Emm, kenapa Tuan Putri tersenyum?” ucap Lembah Manah keheranan. “Wajah Anda memerah!”
“Ohh, tidak ada apa-apa!”
Malam semakin larut, membuat hawa juga semakin dingin. Mereka berempat terlelap berselimut kabut tipis Pegunungan Mahendra.
Wulan di dalam kereta kuda, Patih Ragas di gerobak belakang kereta, dan Wanapati serta Lembah Manah di depan perapian.
***
Pagi harinya, mereka berempat melanjutkan perjalanan. Masih melewati jalan tanah dan sedikit berbatu dengan kemiringan yang semakin curam. Patih Ragas masih tetap fokus mengendalikan dua kudanya, Wulan di dalam kereta menguping pembicaraan Lembah Manah dan Wanapati di gerobak belakang.
Sepertinya kedua pemuda itu membicarakan tentang perempuan. Ahh, untuk saat ini Lembah Manah juga tak akan mengerti tentang hal seperti itu, pemuda itu hanya masih fokus untuk menghentikan pergerakan Ki Badra.
__ADS_1
Ketika matahari setinggi satu tombak, mereka bertemu pertigaan. Ada papan petunjuk yang bertuliskan jika ke kanan menuju Puncak Mahendra, dan jika lurus akan menuju ibukota kerajaan. Tentu saja, mengambil jalan yang lurus untuk menuju Kerajaan Indra Pura.
“Patih, kita berada dimana?” ucap Lembah Manah membuka matanya.
“Sebentar lagi kita melewati Jalur Punggungan Naga!” sahut Patih Ragas menjelaskan. “Tempat dimana para perampok bebas beraksi!”
Ada sebuah papan dengan tulisan ‘Jalur Punggungan Naga’, yang tertempel pada pohon jati tepat sebelum memasuki daerah itu. Di bawah papan tulisan banyak berhiaskan tulang hewan dan ada juga tengkorak manusia.
Jalur Punggungan Naga hanya bisa dilalui oleh satu kereta kuda saja, setiap seratus langkah, ada sepetak tanah datar yang berguna untuk simpangan lawan arah.
Jalur ini masuk ke dalam wilayah Kerajaan Indra Pura dan masih dalam area kaki Pegunungan Mahendra, yang berada di sisi selatan. Di jalur ini sedikit ada kehidupan, tetapi pihak kerajaan tidak mau berurusan dengan orang-orang di tempat ini.
“Aku tak menyangka, ada tempat seperti ini di Indra Pura!” seru Lembah Manah berdiri di gerobak belakang kereta kuda.
“Di tempat ini tidak ada hukum, aliran hitam dan putih menjadi satu, dan juga!” Ucapan Patih Ragas terhenti, lalu menoleh ke arah Lembah Manah. “Orang-orang di tempat ini sulit diatur!”
Dua kuda yang menarik kereta meringkik sesaat sebelum memasuki jalur itu. Entah kenapa kuda itu meringkik, yang pasti jalur itu sangat menakutkan.
Patih Ragas memutuskan untuk berhenti di sebuah rumah makan, karena kuda mereka mungkin saja perlu beristirahat. Rumah makan itu tidak terlalu besar, tetapi sangat ramai pengunjung.
“Tidak ada barang bagus di tempat ini!” seru Patih Ragas sesaat setelah turun dari kereta kuda.
Patih Ragas memasuki rumah makan diikuti Wulan, Lembah Manah dan Wanapati. Patih berbadan kekar itu memilih meja yang paling pojok dan terlihat lebih bersih dari meja yang lainnya.
“Sepertinya ada tamu kerajaan sebelah datang ke tempat ini!” seru seorang pria tua di belakang tempat duduk rombongan Lembah Manah, berpakaian lusuh dengan rambut memutih. “Patih ragas!”
Patih Ragas hanya melemparkan senyum ke arah pria tua yang tak dikenalnya tersebut.
“Seperti yang orang bicarakan, pendiam!” lanjut pria tua itu lagi, lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari rumah makan itu. “Hati-hatilah dalam Pertandingan Besar, patih!”
Patih Ragas menyusul pria tua itu keluar dari rumah makan, diikuti Lembah Manah di belakangnya, tetapi setelah keluar dari rumah makan, pria tua itu telah menghilang.
“Siapa dia, patih?” ucap Lembah Manah mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Entahlah, aku juga tak mengenalnya!” sahut Patih Ragas.
Mereka kembali memasuki rumah makan untuk menikmati makan siangnya.
Siang ini tidak terjadi apa-apa di rumah makan, hanya beberapa pendekar aliran hitam yang singgah untuk sekadar beristirahat. Meski datang bersama rombongan, tetapi pendekar aliran hitam itu tak berani berbuat onar, karena juga tak sedikit pendekar aliran putih yang juga singgah di tempat itu.
***
Hari beranjak sore, setelah kereta kuda berjalan melewati Jalur Punggungan Naga, Patih Ragas memutuskan untuk beristirahat dan mencari penginapan. Tidak seperti sebuah penginapan yang ada di pusat kadipaten, penginapan di sekitar jalur ini hanya menyediakan beberapa kamar saja.
Patih Ragas memesan dua kamar, satu untuk dirinya bersama Lembah Manah dan Wanapati. Lalu satu kamar di sebelah, untuk Wulan.
Menjelang malam, Lembah Manah keluar dari penginapan itu untuk sekadar berjalan-jalan dan mencari hawa segar. Lampu-lampu pelita dan obor rumah-rumah di pusat kadipaten tampak kerlap-kerlip jika dilihat dari halaman penginapan itu. Karena penginapan masih berada di dataran tinggi.
“Hei Lembah!” seru Wulan menepuk pundak Lembah Manah dari belakang. “Sendirian saja. Boleh aku temani?”
Tanpa menunggu jawaban dari Lembah Manah, Wulan juga akan menemani pemuda itu.
“Tuan putri!” sahut Lembah Manah menoleh ke arah gadis itu. “Anda belum tidur?”
“Belum mengantuk, lagian aku ingin berduaan bersamamu!” jawab Wulan tersenyum.
Mereka duduk pada sebuah gubuk yang disediakan penginapan kepada para pengunjungnya untuk tempat bersantai. Ada sebuah lentera yang digantung tepat di tengah-tengah tiang pada gubuk itu sebagai penerangan.
Wulan mendekatkan duduknya pada Lembah Manah. Gadis itu menceritakan apa yang terjadi ketika mereka berdua di hutan saat mencari markas Keraton Agung Sejagat. Wajah gadis itu sedikit memerah karena menahan malu saat ingin mencium Lembah Manah waktu itu.
Namun, Lembah Manah hanya tersenyum sembari mengacak-acak rambut Wulan dan berkata, “awas ya Tuan Putri. Untung saja, emm, ada keributan di padang rumput, kalau tidak—?”
Lembah Manah teringat, mereka membantu Tiga Bunga Bersaudara bersama Sekar dan Araka ketika bermalam di padang rumput tepi hutan. Pemuda itu tak melanjutkan perkataannya dan membuat Wulan semakin penasaran dengan Lembah Manah.
“Hei, kau merusak rambutku!” sahut Wulan manja. “Kalau tidak, kenapa Lembah?” lanjut Wulan masih penasaran.
“Kalau tidak, emm, pasti Tuan Putri sudah menciumku bukan!” Lembah Manah tersenyum menatap Wulan.
__ADS_1
“Sudahlah, lupakan. Lebih baik Tuan Putri istirahat, ini sudah terlalu malam untuk seorang gadis!” pinta Lembah Manah yang langsung diiyakan oleh Wulan.