KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perguruan Tombak Putih


__ADS_3

Puspa Ayu hanya menganggukkan kepala sesaat setelah melepaskan pelukannya dari Lembah Manah, pertanda menyetujui rencana pemuda itu.


Sebelum malam menjelang, Lembah Manah membuat perapian dan mencari ikan dengan tombak yang baru saja dibuat seadanya. Meski sedikit tumpul, tetapi pemuda itu tetap saja menggunakannya untuk mencari ikan.


Tidak banyak ikan yang didapat Lembah Manah, karena malam juga keburu datang.


“Kemana tujuanmu setelah keluar dari hutan ini?” seru Puspa Ayu memecah keheningan, karena sedari matahari terbenam, mereka berdua hanya sibuk memilah ikan bakar di depan perapian.


“Tujuanku ke pusat kerajaan, untuk mengikuti pertandingan antar pendekar muda!” sahut Lembah Manah dengan mulut penuh daging ikan bakar.


Puspa Ayu tertawa kecil melihat tingkah Lembah Manah yang menurutnya berbeda dari kebanyakan pemuda yang seusianya. Menurut gadis itu, Lembah Manah adalah sosok yang baik, rendah hati dan juga berpikiran dewasa meski usianya masih belia.


“Apa yang kau tertawakan?” seru Lembah Manah yang sedari tadi merasa diperhatikan dan ditertawakan oleh Puspa Ayu.


“Tidak ada!” kilah Puspa Ayu sembari mengunyah makanannya. “Kau hanya lucu saja!”


“Ha! Apanya yang lucu Puspa!”


“Tidak, tidak ada!”


Perkataan Puspa Ayu membuat wajah Lembah Manah memerah, jika saja siang hari pemuda itu pasti akan merasa sangat malu.


“Bagaimana kau bisa ditangkap oleh Durgabahu?” Lembah Manah bertanya sembari mengorek-ngorek bara perapian.


“Sebenarnya—!”


Puspa Ayu menceritakan bagaimana dia bisa ditangkap oleh Durgabahu. Sebenarnya, Puspa Ayu adalah murid Perguruan Tombak Putih yang ada di wilayah Kadipaten Kabaman.


Namun, gadis itu belum menceritakan kepada Lembah Manah bahwa dia seorang murid perguruan bela diri. Hanya mengaku sebagai seorang pendekar saja.


Puspa Ayu melakukan misi mencari keberadaan makhluk penunggu Alas Mentaok dan memburu makhluk itu bersama dengan kedua temannya. Karena akan dibuka jalan tembus yang menghubungkan Desa Kabangun dan Desa Wirakan.


Dengan pertimbangan agar memudahkan akses jalan kedua desa tersebut dan tidak terlalu jauh jika memutar jalur. Puspa Ayu memang bertemu dengan Durgabahu, tetapi dua temannya langsung meninggalkan gadis itu.

__ADS_1


Meski memiliki ilmu kanuragan, tetapi gadis itu tak mampu menghadapi Durgabahu sendirian dan disekap oleh makhluk itu bersama tawanan yang lain.


“Ohh, jadi begitu! Sudah berapa lama kau disekap di gua ini?” seru Lembah Manah mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Enam purnama!” sahut Puspa Ayu mengepalkan tangannya. “Awas saja kalau bertemu mereka berdua. Pasti aku cabik-cabik muka mereka!”


Puspa Ayu mengutuk perbuatan kedua temannya yang memilih kabur ketika bertemu Durgabahu dan berniat untuk membuat perhitungan dengan kedua temannya itu setelah keluar dari Alas Mentaok.


Namun, hal itu dicegah oleh Lembah Manah, menurutnya balas dendam itu tidak baik dan hanya akan menyiksa diri sendiri.


Hari berganti malam, suara jangkrik menjadi pertanda bahwa makhluk malam itu telah memperingatkan makhluk siang untuk beristirahat. Puspa Ayu yang sudah terbiasa tidur di dalam gua juga terlihat telah menutup kedua matanya.


Sementara Lembah Manah merebahkan tubuhnya di depan mulut gua tepat di bawah pohon rambutan.


***


Pagi menjelang, matahari samar-samar mengintip dari balik rimbunnya daun-daun pepohonan. Puspa Ayu tampak masih terlelap dalam tidurnya. Namun, hidung gadis itu bergerak-gerak seperti menghirup sesuatu.


“Selamat pagi tuan putri!” seru Lembah Manah dari depan mulut gua.


Di depan gadis itu sudah ada beberapa ikan bakar dan buah-buahan lainnya. Ya, Lembah Manah terjaga ketika langit timur mulai semburat jingga.


Pemuda itu mencari ikan dengan tombak yang kemarin dibuatnya dan mencari beberapa buah-buahan hutan yang tak jauh dari gua tempatnya bermalam.


“Apa semua ini kau yang membuatnya Lembah?” seru Puspa Ayu kegirangan.


“Bukan, Durgabahu memberinya khusus untuk perempuan cantik yang tidur di dalam gua!” sahut Lembah Manah menggoda Puspa Ayu.


Sesaat kemudian wajah gadis itu berubah menjadi suram dan berjalan sedikit ke bagian gua yang dalam, lalu keluar membawa pedangnya dan menghunuskan pedang ke arah Lembah Manah.


“Ampun tuan putri hamba tidak berani!” ucap Lembah Manah sembari tertawa dan mengambil salah satu ikan bakar di dekatnya. “Kalau tidak mau, biar aku saja yang makan!”


Puspa Ayu menyapukan pandangan ke sekitarnya, menurutnya tidak mungkin Durgabahu membawa makanan sebanyak itu. Lagi pula, makanan yang dibawa Durgabahu biasanya hanya berupa buah-buahan saja.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makanannya dan membersihkan badan, mereka berdua hendak mencari jalan keluar dan segera menuju Desa Kabangun—tempat Puspa Ayu tinggal.


Masih dengan pepohonan yang rapat, kanan kiri semak belukar yang membuat Lembah Manah menebaskan pedang yang dipinjam dari Puspa Ayu.


Sesekali melihat babi hutan yang berlari bersama beberapa anak-anaknya yang membuntuti induknya. Tak jarang mereka berdua juga melihat sarang lebah madu, yang madunya menetes dari sarang di atas pohon hingga ke permukaan tanah di bawahnya.


Beberapa saat berlalu, mereka dikejutkan dengan dua ekor harimau loreng yang tengah memperebutkan daerah kekuasaannya masing-masing. Namun, mereka berdua tidak ikut campur, selama tidak membahayakan perjalanan mereka.


“Mungkin karena itulah Durgabahu melindungi hutan ini dari orang-orang tamak!” seru Lembah Manah sesaat setelah beristirahat pada sebuah batu besar. “Agar keseimbangan alam ini tetap terjaga. Ayo kita lanjut!”


Matahari tepat di atas kepala, sedikit mengintip dari rimbunnya pepohonan besar Alas Mentaok ini. Kembali Lembah Manah memutuskan untuk beristirahat sejenak pada sebuah hamparan rerumputan yang tidak terlalu luas.


“Makanlah! Kau pasti lapar!” Lembah Manah memberikan buah-buahan sisa sarapan kepada Puspa Ayu.


Mereka berdua menikmati hidangan siang itu seadanya. Meski tak membuat perut kenyang, tetapi setidaknya bisa menunda lapar.


Tak lama setelah berjalan diantara lebatnya pohon pakis, mereka mendaki sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Kali ini, Puspa Ayu berjalan di depan dan ingin segera sampai di puncak bukit itu.


“Akhirnya!” seru Puspa Ayu sembari tersenyum melihat ke arah barat.


“Apa yang kau lihat!” Lembah Manah menyusul ke puncak bukit dan berdiri di samping Puspa Ayu.


“Itu adalah Desa Kabangun. Dan di sebelah barat adalah ibukota Kadipaten Kabaman!” sahut Puspa Ayu menunjuk sebuah desa yang terlihat dari puncak bukit itu.


Satu jam menuruni bukit, mereka telah memasuki pemukiman warga Desa Kabangun. Tampak beberapa warga membawa seikat kayu bakar di atas kepala mereka. Para warga tersenyum menyapa mereka berdua.


“Ayo ke rumahku!” pinta Puspa Ayu menggandeng tangan Lembah Manah.


Pemuda itu terkejut karena tangannya di gandeng Puspa Ayu dan hanya menuruti permintaan teman barunya itu. Setelah melewati pinggiran desa, mereka memasuki pusat desa yang tampak ramai warga berlalu-lalang melakukan aktivitasnya.


“Per-gu-ru-an Tom-bak Pu-tih!” Lembah Manah mengeja tulisan pada atap depan gapura masuk sebuah perguruan. “Kenapa kita pergi ke tempat ini?”


“Sudah ikut saja!” sahut Puspa Ayu dengan wajah penuh amarah menggandeng, bukan, kali ini sedikit menarik tangan kanan Lembah Manah dengan tangan kiri gadis itu.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, Puspa Ayu mendekati beberapa murid perguruan yang tengah latih tanding di pelataran halaman.


__ADS_2