KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Final (1)


__ADS_3

“Para hadirin, selamat datang kembali pada pertandingan antar pendekar muda. Pagi yang sangat ditunggu-tunggu oleh Anda sekalian, karena babak final sebentar lagi dimulai. Untuk itu beri tepuk tangan yang meriah untuk menyambut kedua peserta!” seru Patih Ragas yang diikuti dengan tepuk tangan dan teriakan dari para penonton.


Babak final segera dimulai, penonton semakin berjejal memasuki area pertandingan. Mereka sangat antusias melihat jagoan mereka sebentar lagi bertarung.


Lembah Manah dan rombongannya sudah berada di tempat duduk peserta. Para peserta yang telah gugur juga tampak menyaksikan babak yang telah ditunggu-tunggu.


Raja Brahma duduk di singgasananya didampingi para petinggi dan prajurit kerajaan, tak lupa Putri Wulan juga berada di sebelah raja.


“Juara pertandingan tahun lalu adalah Barani dari Perguruan Pedang Putih, dan telah gugur di babak delapan besar,” ucap Patih Ragas.


“Dan babak final kali ini adalah dua pendatang baru yang sama sekali belum pernah mengikuti pertandingan ini. Kita sambut, Giandra dari Perguruan Bambu Wulung dan Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” lanjut Patih Ragas.


Lembah Manah maju ke arena pertarungan dengan langkah pelan, pemuda itu mendapat suntikan semangat dari teman-temannya.


“Kamu pasti menang Lembah!” ucap Jayadipa.


“Jika kalah, akan aku jitak kepalamu!” seru Wanapati.


“Jangan sampai kalah, hati-hati dengan jurus petirnya!” sahut Ni Luh.


Nawang, Sati dan Mara juga memberi dukungan pada sosok yang sangat baik hati menurut mereka.


Dari sudut seberang, Giandra maju ke arena pertarungan dan mendapat dukungan dari teman-temannya.


“Jangan sampai kalah, Giandra!” ucap Gantala.


“Orang itu punya banyak variasi jurus. Dia juga ahli racun dan pengobatan, kau harus berhati-hati!” seru Ki Pethuk Cemeng mengingatkan Giandra.


Mereka mendapat tepuk tangan dan teriakan yang meriah dari penonton yang menjagokan mereka.


“Lembah Manah kamu pasti menang!” teriak salah satu penonton yang menjagokan Lembah Manah.


“Giandra, kamu juaranya!” sahut penonton lainnya yang menjagokan Giandra.

__ADS_1


Patih Ragas kembali membacakan aturan pertandingan, lalu mendekati mereka berdua dan berdiri di tengahnya. Kedua peserta saling membungkukkan badan dan memberi hormat kepada raja.


“Mulai!” teriak Patih Ragas.


Giandra berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu sembari meraba-raba kekuatan Lembah Manah. Pemuda berbadan kekar itu melesat ke arah Lembah Manah dengan melancarkan pukulan tangan kanannya.


Lembah Manah hanya mendongakkan kepala sembari menjatuhkan badannya ke belakang, lalu menendang perut Giandra dengan kaki kanannya.


Giandra tetap berdiri tak merasakan efek tendangan Lembah Manah, hingga membuat si kacung kampret tercengang. Kini berganti kaki kiri Lembah Manah melancarkan tendangannya, dan lagi-lagi Giandra berdiri kokoh dengan senyum sinis di bibirnya.


Lembah Manah melompat salto ke belakang yang diikuti serangan Giandra, Lembah Manah terhempas beberapa langkah setelah terkena pukulan tangan kanan Giandra pada bagian perutnya.


Belum juga Lembah Manah berdiri sempurna, Giandra kembali melesat dan melancarkan pukulan dengan tangan kanannya. Kali ini Lembah Manah tak mampu menghindar, pemuda itu kembali terhempas terkena di bagian perutnya.


Lembah Manah terbaring beberapa saat, hingga membuat semua penonton kaget. Pemuda itu tak menyangka jika Giandra yang berbadan kekar, mampu bergerak dengan cepat, bahkan hampir sama dengan kecepatan Barani.


“Ci luk ba!” seru Lembah Manah tertawa sembari berdiri dengan menutup muka menggunakan telapak tangannya, lalu kembali membukanya, hingga mengundang tawa seisi area pertandingan.


“Dasar, bocah gendeng!” umpat Jayadipa.


“Aku khawatir, kamu malah bercanda!” seru Ni Luh memasang wajah kesal.


Lembah Manah sengaja membuat Giandra marah dengan gurauan anehnya, agar serangan Giandra tak beraturan. Dan benar saja, Giandra melesat melancarkan pukulan tangan kanannya, kali ini Lembah Manah menghindar dengan mudah, karena telah membaca pola serangan Giandra.


Jika Giandra memukul dengan tangan kiri, Lembah Manah menangkis dengan tangan kanan. Jual-beli pukulan terjadi selama beberapa waktu, yang terlihat hanya bayangan hitam beradu karena kecepatan gerakannya melebihi rata-rata.


Hingga akhirnya Lembah Manah memukul lengan kanan bagian dalam Giandra dengan tangan kanannya, dan membuat adu pukul terhenti.


Giandra terjatuh beberapa langkah di depan Lembah Manah sembari melangkah mundur pelan untuk mengambil kuda-kuda.


Sebelum terjatuh, Lembah Manah sengaja menekan aktivasi kanuragannya pada tingkat Andhap tahap akhir. Itu membuatnya kesulitan menahan pukulan Giandra yang kanuragannya berada pada tingkat Madyo tahap awal.


Kini Lembah Manah menaikkan pada tingkat Madyo tahap awal agar sama dengan Giandra. Meski sebenarnya dia berada pada tingkat Madyo tahap akhir, tetapi Lembah Manah taat pada peraturan pertandingan yang mengharuskan setiap peserta memiliki ilmu kanuragan antara tingkat Andhap tahap awal, hingga tingkat Madyo tahap awal.

__ADS_1


“Energi Petir!”


Seru Giandra yang tengah kembali berdiri, dan kini seluruh tubuhnya dilapisi oleh energi petir yang menyerupai kilatan. Lembah Manah menaikkan satu alisnya dan tersenyum, karena melihat Giandra termakan gurauan anehnya.


Kini pemuda itu harus menerima amarah dari Giandra. Lembah Manah mengambil kuda-kuda dengan tangan kanannya mengepal condong ke depan.


Giandra melesat dengan kecepatan penuh yang membuat Lembah Manah kaget dan tak bisa menghindari pukulan tangan kanan Giandra. Pemuda itu terhempas beberapa langkah terkena bagian perutnya karena efek pukulan petir Giandra.


Tubuhnya seakan tak bisa digerakkan, seperti tersengat listrik yang membuat tenaga dalamnya turun drastis.


“Sekarang kau tak akan bisa menggunakan kanuraganmu. Tenaga dalammu telah habis karena pukulan petirku, hahaha!” seru Giandra tersenyum sombong.


“Apa!” seru Lembah Manah terheran.


Benar perkataan Giandra, Lembah Manah tak merasakan tenaga dalam yang mengalir dalam tubuhnya. Beberapa kali dia mencoba mengaktivasi tenaga dalamnya, tetapi tak merasakan hawa hangat di dalam tubuhnya.


Giandra yang sudah di atas angin tersenyum dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, seakan dialah pemenangnya.


“Giandra! Kamulah juaranya!” teriak salah satu penonton yang menjagokan Giandra.


“Lembah, kamu harus bangkit!” teriak penonton lainnya yang menjagokan Lembah Manah.


Pada kubu Giandra, terlihat senyuman lebar dari teman-teman dan para penonton yang mendukungnya. Sementara pada kubu Lembah Manah, yang terlihat hanya kegelisahan seakan ini sudah selesai.


Sejenak, dirinya teringat bahwa tubuhnya sangat istimewa. Ya, Lembah Manah punya dua titik pusat tenaga dalam, dan kali ini pemuda itu hendak mengaktivasi titik pusat tulang belakang bagian atas.


Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Lembah Manah duduk bersila dan memejamkan matanya untuk mengaktivasi pusat tenaga dalam yang kedua.


“Hmm, sebentar lagi kau pasti akan terkejut!” lirih Lembah Manah pada Giandra dengan sedikit tersenyum.


Giandra masih saja berdiri menghadap penonton dan sesekali melirik ke arah Lembah Manah yang duduk bersila. Giandra belum menyadari jika Lembah Manah tengah mengaktivasi titik pusat tenaga dalamnya yang kedua.


“Gerbang Kedua! Terbukalah!” seru Lembah Manah diikuti dengan keluarnya tenaga dalam berwarna hitam yang menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


Kini Lembah Manah telah mengaktivasi titik pusat tenaga dalam keduanya dengan kanuragan tingkat Madyo tahap awal yang membuat tubuhnya diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Giandra terkejut membelalakkan matanya, seakan tak percaya apa yang dilihatnya.


“Apa!” seru Wanapati menelan ludah.


__ADS_2