KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Empat Besar (3)


__ADS_3

Dan satu pisau pipih terakhir yang meluncur, Lembah Manah menendang dengan kaki kanannya yang telah dialiri tenaga dalam berwarna hijau efek dari Batu Kecubung Hijau. Pisau itu melesat lebih cepat tiga kali lipat dari kibasan Wulan.


SRET


Wulan tak bisa menghindari pisaunya sendiri, lengan kirinya terkena serangan yang telah dikembalikan dengan tendangan kaki kanan Lembah Manah.


Wulan melangkah mundur pelan, gadis bercadar itu terhuyung saat racun dari pisau pipihnya mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Wulan merasakan tubuhnya tak bisa bergerak, dan berlutut memegangi luka dengan tangan kanannya.


Terlihat Raja Brahma khawatir akan keadaan putrinya, beliau berdiri dari singgasananya, tetapi untuk mendekati Wulan, beliau tidak berani karena takut jika rahasia putrinya terbongkar.


Penonton bersorak dan bertepuk tangan, lagi-lagi mereka menyaksikan pertarungan yang menghibur.


“Pemuda itu benar-benar hebat, jurus mabuknya luar biasa,” ucap salah satu penonton.


“Aku tak menyangka, Lembah bisa melangkah sejauh ini,” seru Jayadipa berbicara sendiri.


“Lembah! Kamu pasti menang!” ujar Nawang memberi dukungan.


Lembah Manah tidak langsung mengarahkan pedangnya pada leher Wulan, tetapi pemuda itu sengaja ingin bermain-main dan menggoda Wulan terlebih dahulu. Lembah Manah melangkah mendekati Wulan dan membuka kedua matanya yang mulai kembali pulih, walaupun dengan sedikit menyipitkannya.


Ternyata Serbuk Sari milik Wulan hanya bertahan selama tiga puluh menit.


“Emm, nona muda bolehkah aku membuka penutup wajahmu, hehehe,” ucap Lembah Manah kepada Wulan.


Wulan yang tak bisa menggerakkan tubuhnya, hanya bisa pasrah ketika tangan kanan Lembah Manah membuka kain penutup wajahnya.


“Jangan! Jangan lakukan itu!” seru Wulan terbata-bata.


Dibukalah cadar itu, hingga terlihat wajah cantik dari balik kain hitam yang menutupinya. Lembah Manah teringat wajah Wulan saat membuntutinya mengunjungi pria tua di sebuah rumah kecil yang dikelilingi pohon rimbun di tepi luar kerajaan.


Dan pria tua itu memberi bungkusan kepada Wulan, saat itu malam hari setelah putaran pertama selesai, jadi Lembah Manah tak tahu apa isi bungkusan itu.


“Hoi nona muda, bukankah kau berhutang lima keping emas kepada pria tua malam itu,” ucap Lembah Manah berbisik di dekat telinga Wulan.

__ADS_1


Wulan tampak kaget, wajahnya memerah. Gadis itu tak mengira mengapa malam itu ada yang membuntutinya? Sedangkan dirinya tak merasakan adanya kanuragan seseorang disekitarnya. Dan memastikan tak ada seorang pun kecuali dirinya dan pria tua itu.


“Bagaimana kau bisa tahu!" jawab Wulan dengan nada marah.


Namun Lembah Manah hanya tersenyum dan mundur beberapa langkah hingga membuat wajah Wulan terlihat oleh seisi area pertarungan.


“Apa!”


Para penonton berteriak bersamaan, setelah melihat wajah dari balik kain penutup muka milik Wulan. Wajah yang tidak asing baginya.


“Itu kan Tuan Putri,” teriak salah satu penonton.


“Tuan Putri dari Yang Mulia Raja Brahma!” teriak penonton lainnya.


“Maaf Tuan Putri, hamba tidak bisa mencegahnya!” seru Patih Ragas sembari berlutut menghadap Wulan yang diikuti beberapa prajurit yang berjaga di tepi arena pertarungan.


Lembah Manah semakin tidak mengerti dengan keadaannya saat itu, pemuda itu hanya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia juga ikut berlutut sembari meminta maaf kepada Wulan, tetapi Patih Ragas belum juga menentukan siapa pemenangnya.


“Emm, maafkan hamba Tuan Putri,” ucap Lembah Manah sembari berlutut dan menjatuhkan pedangnya. “Apakah Tuan Putri punya penawarnya, emm, dimana sekarang? Akan saya ambilkan!”


Lembah Manah mencoba untuk memeriksa keadaan Wulan, pemuda itu memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan kiri Wulan lalu memeriksanya.


“Maafkan hamba Tuan Putri, emm, bolehkah hamba melihat leher Anda Tuan Putri,” ucap Lembah Manah.


Wulan mengiyakan perintah Lembah Manah untuk memeriksa lehernya, terlihat warna hitam kebiruan melingkar pada leher Wulan, persis seperti kasus Ibu Mara dan Ni Luh. Itu adalah Racun Belenggu Hitam.


Segera Lembah Manah meminta Patih Ragas mengambil tempayan berisi air. Seperti Ibu Mara dan Ni Luh, Lembah Manah mengeluarkan semua racun dari lengan kiri Wulan. Terlihat tempayan berisi air yang jernih berubah menjadi hitam bercampur darah Wulan.


“Minumlah Tuan Putri. Emm, ini adalah ramuan pemulihan tubuh!” ucap Lembah Manah sembari memberikan potongan ruas bambu yang diambil dari saku bajunya bagian dalam.


Lembah Manah mengarahkan potongan ruas bambu itu pada bibir Wulan, lalu meminumkannya kepada Wulan.


“Ehem, ehem, Wanapati, sepertinya ada seseorang yang cemburu lagi nih!” seru  Jayadipa di bangku penonton yang melihat raut muka Ni Luh seperti kesal kepada Lembah Manah dan memeras ujung bajunya sendiri.

__ADS_1


“Benarkah Jayadipa, hahaha!” sahut Wanapati sembari tertawa.


Beberapa saat kemudian, tubuh Wulan bisa digerakkan kembali seperti semula. Namun, tanpa diduga, Wulan malah menyerang Lembah Manah dengan kipas bajanya tepat mengenai lengan kiri pemuda itu.


Semua penonton terkejut dengan kelakuan Wulan, bukannya berterima kasih malah kembali menyerang Lembah Manah yang sudah mengobatinya.


“Apa-apaan Tuan Putri!” teriak salah satu penonton.


“Itu kecurangan!” teriak penonton yang lain.


Tak kecuali rombongan Wanapati, mereka tak mengira Wulan tega melakukan hal seperti itu kepada Lembah Manah hingga membuat mereka geram.


“Hahaha!” Wulan tertawa penuh kemenangan. “Bukankah Patih Ragas belum mengumumkan siapa pemenangnya, jadi aku belum kalah!”


Semua penonton kecewa dengan tindakan Wulan yang hanya mementingkan kemenangan. Ada yang bergeming, ada yang berbicara pelan satu sama lain dan ada yang hanya menggelengkan kepalanya.


“Hu!” tampak beberapa rombongan penonton yang protes bersamaan.


“Cukup Wulan! Kau sudah kalah, bahkan kau sudah diobati oleh pemuda itu!” seru Raja Brahma yang kesal dengan kelakuan putrinya. “Bukannya berterima kasih, kau malah kembali menyerangnya. Itu bukanlah sikap kesatria!”


Suasana menjadi hening, Wulan yang berdiri membelakangi Lembah Manah tak menyadari jika sebelum racun itu menyebar, Lembah Manah telah meminum ramuan penawar racun pada potongan ruas bambu yang diambil dari saku bajunya bagian dalam. Hingga membuat pemuda itu tak terkena efek dari racun belenggu hitam milik Wulan.


Dengan senyum di bibirnya Lembah Manah berniat untuk kembali menggoda Wulan.


“Gerbang Pertama, terbukalah!” teriak Lembah Manah diikuti dengan aura tenaga dalam berwarna hitam yang melapisi kedua tangannya.


Mendengar suara itu, Wulan berbalik ke belakang. Namun terlambat, Lembah Manah telah melesat dengan kecepatan penuh dan menggendong Wulan ke tepi arena.


Pemuda itu mendarat tepat selangkah sebelum garis pembatas, sembari tersenyum pemuda itu menjatuhkan Wulan keluar garis pembatas arena pertarungan.


“Pemenangnya Lembah Manah dari Desa Kedhung Wuni!” teriak Patih Ragas yang diikuti tepuk tangan dan teriakan dari penonton.


Lembah Manah hanya tersenyum melihat wajah Wulan yang memerah malu bercampur kesal, lalu membungkukkan badannya ke Raja Brahma dan berputar melambaikan tangannya ke arah penonton diiringi dengan teriakan dan tepuk tangan meriah.

__ADS_1


Pemuda itu disambut teman-temannya saat kembali ke bangku peserta.


“Babak final akan dilaksanakan besok pagi, terima kasih untuk para hadirin sekalian. Bagi para peserta, silakan menempati penginapan yang telah kami sediakan!” seru Patih Ragas menutup babak empat besar.


__ADS_2