KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keraton Agung Sejagat (8)


__ADS_3

“Itu perintah dari guru, Lembah!” seru Wanapati, lalu menoleh ke arah Tiga Bunga Bersaudara yang tengah memakan ikan hasil tangkapan Lembah Manah. “Hei, kenapa kalian bertiga juga ada di tempat ini?”


“Lembah, siapa mereka berdua?” lanjut Wanapati penasaran memperhatikan Araka dan Sekar yang duduk tak jauh dari Tiga Bunga Bersaudara.


“Ceritanya panjang. Emm, bahkan saking panjangnya, sehari tak akan selesai aku ceritakan, hahaha!” sahut Lembah Manah tertawa.


Lembah Manah menjelaskan secara garis besarnya saja mengenai Tiga Bunga Bersaudara bisa bersama dirinya, dan juga tentang Araka dan Sekar.


***


Beberapa saat berlalu, mereka sampai di Pulau Menjangan. Mereka bergegas menyisir sepanjang pinggiran pantai, sesekali memasuki hutan pantai dengan vegetasi yang sangat rapat.


Setelah melewati daerah luas dan rata, mereka menemukan istana megah milik Keraton Agung Sejagat yang diapit dua bukit kecil dengan banyak pondokan di dalam pagar luas terbuat dari papan kayu berjajar memanjang.


“Akhirnya ketemu juga!” seru Wanapati yang bergerak di depan.


Di kompleks istana itu terlihat beberapa pendekar yang berjaga di pintu gerbang. Mungkin ada sepuluh atau lebih, pendekar yang sama levelnya dengan ketiga pendekar yang Lembah Manah kalahkan kemarin malam.


Lembah Manah terdiam sejenak, tidak mungkin mereka langsung menyergap ke dalam markas musuh. Itu sama saja mengantarkan nyawa, mengingat banyak pendekar dengan ilmu kanuragan tingkat Inggil di dalamnya. Pemuda itu tidak mau mengorbankan rombongannya.


Mereka bersembunyi di balik bukit kecil sembari mengamati keadaan bangunan musuh dari kejauhan. Terlihat dua pendekar tengah berpatroli dan mendekati semak-semak tempat persembunyian mereka.


Lembah manah membenamkan tubuhnya lebih dalam lagi di balik semak-semak. Diikuti dengan rombongan Araka, Wanapati dan Patih Ragas.


“Kenapa Bagiri dan Bandini belum juga kembali?” ucap salah satu pendekar yang berpatroli itu bertanya kepada rekannya. “Apa yang mereka lakukan? Seharusnya mereka telah kembali!”


“Apa mereka telah tertangkap pasukan kerajaan!” sahut rekannya. “Ahh, tidak mungkin. Ilmu kanuragannya sangat tinggi, mereka sulit dikalahkan!”


Dua pendekar aliran hitam itu berbicara panjang lebar mengenai ketiga temannya yang tak juga kembali. Kemungkinan dua pendekar itu akan segera melapor kepada pimpinan mereka. Menyadari musuh telah menjauh, rombongan Lembah Manah sedikit lega.


“Byakta!”


Mata milik Nata berubah menjadi putih dan melihat sekitar markas musuh dengan jurus istimewanya itu.

__ADS_1


“Aman! Tak ada belenggu atau semacamnya di pagar itu!” ujar Nata lalu mengubah matanya kembali normal seperti semula.


“Jadi mereka bersembunyi di tempat ini!” seru Wanapati menganggukkan kepalanya. “Pantas saja seluruh kerajaan tidak mengetahuinya!”


Lembah Manah tahu pasti apa yang diucapkan Wanapati. Dan benar saja, setelah mengakhiri ucapannya, Wanapati melesat cepat ke arah markas musuh.


“Hoi! Wanapati!” geram Lembah Manah. “Huh! Selalu bertindak seenaknya!”


Disusul Jayadipa, Nata, Tiga Bunga Bersaudara dan barulah Patih Ragas bersama tiga bawahannya. Berbeda dengan Lembah Manah, pemuda itu masih memikirkan cara jika rencana mereka gagal. Sementara Wulan masih memperhatikan Lembah Manah yang sedikit gelisah.


Rombongan Araka juga masih terdiam menunggu perintah dari Lembah Manah.


“Ahh! Mau bagaimana lagi!” seru Lembah Manah melesat diikuti rombongan Araka dan terakhir disusul Wulan paling belakang.


“Hei Lembah! Tunggu aku!” gerutu Wulan ketika tahu pemuda itu didekati oleh Sekar.


Dalam sekali serang, Lembah Manah telah mengalahkan satu pendekar tingkat Madyo dengan Ajian Tapak Harimau yang melapisi kedua telapak tangannya dengan tenaga dalam berwarna biru.


Wulan tak tinggal diam, dengan kipasnya yang masih ada sedikit bercak darah, tuan putri itu mengibaskan pisau pipih yang mengenai tiga musuh sekaligus. Wulan seakan ingin menunjukkan kehebatannya di depan Lembah Manah.


Sepanjang pertarungan dengan musuhnya, Wulan mengumpat tak jelas kepada Lembah Manah. Mungkin karena pemuda itu tak peka sama sekali dengan perasaan perempuan.


Di sisi lain, dengan permainan pedangnya, Sekar berhasil mengalahkan tiga musuh sekaligus. Jurus Pedang Putih bertumpu pada tenaga dalam dan kelincahan, Sekar sangat menguasainya dengan baik dan seakan menunjukkan kehebatannya di depan Lembah Manah.


Patih Ragas berdiri di tengah halaman kompleks markas itu, yang membuat seluruh penghuni markas itu terkejut.


“Kalian membangun basis di wilayah kerajaan tanpa izin. Akan kuhancurkan kalian!” seru Patih Ragas.


“Apa! Kenapa Patih Ragas bisa tahu!” ucap salah satu pendekar pada beberapa rombongan temannya.


“Tempat ini sangat rahasia, tapi kenapa—!” sahut pendekar yang lainnya tak mampu melanjutkan perkataannya.


“Cepat laporkan pada pemimpin!” teriak salah satu pendekar diikuti bawahannya yang hendak berlari menuju pondokan pemimpinnya.

__ADS_1


Namun, belum juga kedua pendekar itu beranjak dari tempatnya, sebuah kapak menggores lengan kedua pendekar itu.


“Aahhkk!” teriakan kesakitan kedua pendekar itu merasa lengannya hampir patah.


“Hehehe, maaf kalau kapakku melesat ke arah kalian!” seru Wanapati lalu menangkap kapaknya kembali setelah berputar di depan kedua pendekar itu.


“Haa! Rupanya kau sudah menguasai kapakmu!” sahut Lembah Manah terkejut melihat Wanapati mengendalikan kapaknya dengan baik.


Mendengar suara ribut di tengah pelataran markasnya, tampaknya membuat pemimpin Keraton Agung Sejagat keluar dari pondokannya.


Akhirnya pertarungan tak terhindarkan, dengan pelataran halaman menjadi pusatnya.


Lembah Manah menggunakan Gerbang Kehidupan yang membuat tubuhnya kini diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Gerakannya begitu cepat, hingga pendekar tingkat Madyo sekalipun tak mampu menghindari serangannya.


Pemuda itu melumpuhkan lawannya, hanya dengan mematahkan setiap tulang pergelangan tangan atau telapak kakinya, dan tak sampai menghilangkan nyawa lawannya.


Berbeda dengan Wanapati yang menggunakan kapaknya, pemuda itu melumpuhkan lawan dengan luka gores yang serius. Sedangkan Wulan, dengan kipas bajanya mengincar titik vital lawannya.


Dengan kerja sama yang solid, Tiga Bunga Bersaudara berhasil memojokkan lima lawan sekaligus. Meski musuh mereka adalah laki-laki, tetapi mereka dapat melumpuhkannya dengan mudah. Dari ketiganya, Kenanga yang paling menonjol dan seakan menunjukkan kehebatannya di depan Wanapati.


Araka dan Sekar juga mengalahkan lawannya dengan Jurus Pedang Putih miliknya. Pedang milik Araka dialiri tenaga dalam berwarna putih, hingga membuat tebasannya semakin tajam dan begitu cepat.


Sedangkan Sekar, seolah menunjukkan kehebatan bermain pedangnya di depan Lembah Manah.


Nata menggunakan Wesaran untuk menyingkirkan lawannya. Kadang mata pemuda itu menjadi putih untuk mengincar titik meridian lawannya dengan Pukulan Delapan Mata Angin.


Jayadipa yang menggenggam Tombak Kyai Pleret melumpuhkan lawannya dengan pukulan yang mengarah pada kepala, sesekali menusukkan ujung tombak itu pada lengan ataupun lutut lawannya.


Dan rombongan Patih Ragas, dengan pedang mereka, sesekali membunuh lawannya. Memang, patih berbadan kekar itu sangat tegas dalam mengambil pilihan. Begitu juga dengan ketiga bawahannya, permainan pedangnya tak jauh berbeda dengan Patih Ragas.


“Hoi Lembah!” seru Wanapati yang berdiri tak jauh dari kawannya itu. “Perhatikan jurusku ini. Kau pasti terkejut!”


“Kapak Pembelah Langit!”

__ADS_1


Wanapati menebaskan kapaknya dari kanan ke kiri yang diikuti cahaya berwarna kuning melesat ke arah beberapa lawannya, hingga membuat lima orang pendekar jatuh terkapar dengan darah keluar dari mulutnya.


__ADS_2