KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Pertandingan Besar (1)


__ADS_3

Hingga tiba waktu yang ditunggu-tunggu para pendekar muda seluruh Negeri Yava dimulai, Pertandingan Besar. Tak seperti Pertandingan Kerajaan, Pertandingan Besar lebih ramai dan dihadiri penonton dari tiga kerajaan. Dengan pendekar yang terpilih, pastinya Pertandingan Besar akan lebih menghibur.


Tepat di samping sebelah kanan istana kerajaan, arena pertarungan telah siap. Dengan kapasitas lebih dari seribu bangku penonton, ditambah seratus bangku para petinggi kerajaan, dan tentunya bangku untuk peserta. Arena tersebut berbentuk bulat, dengan bangku penonton yang semakin tinggi ke belakang.


Para peserta memasuki area pertandingan dan duduk pada bangku yang telah disiapkan. Patih Ragas dan Wanapati duduk di belakang Lembah Manah dan Wulan. Bersanding dengan para pendamping dari peserta yang lain.


Terlihat Ki Pethuk Cemeng bersanding dengan Ki Sabdo Bujono, duduk di samping Patih Ragas dan Wanapati. Kedua pemimpin sesepuh perguruan itu bertindak sebagai pendamping Giandra dari Perguruan Bambu Wulung dan Barani dari Perguruan Pedang Putih.


Tanpa diketahui oleh pihak kerajaan, Ki Pethuk Cemeng membawa tiga muridnya untuk menyusup membaur bersama penonton—yang salah satunya adalah Gantala, berada di blok timur. Sedangkan Ki Sabdo Bujono membawa lima muridnya membaur dengan penonton, salah satunya adalah Rahmawati berada di blok selatan.


Sementara Ki Lugut Salari duduk agak jauh dari kelompok Patih Ragas, dengan membawa lima muridnya—yang salah satunya adalah Pranayuda, berada di blok barat. Sedangkan Ki Jaladara juga membawa lima muridnya, termasuk Tiga Bunga Bersaudara, berada di blok utara.


Sesepuh Anggada duduk paling pojok, tak disangka Ni Luh juga ikut dan duduk di samping Sesepuh Anggada. Sementara Jayadipa dan Nata membaur bersama para penonton—berada di pojok belakang atas. Semua murid perguruan dari wilayah Sokapura berpencar di beberapa penjuru.


Dari Kerajaan Indra Pura, Ki Rangga Sabekti juga duduk di belakang Lintang Sakethip dan Sambara. Mereka membawa lima murid barunya berpencar membaur menjadi satu dengan penonton. Sedangkan Ki Purbowono duduk di belakang Lingga, mereka membawa lima murid ditambah Galih dan Galuh yang menjadi satu dengan penonton.


Dari Kerajaan Tanjung Pura, Ki Rogojambang duduk di belakang Bergas Lukito. Mereka membawa lima murid perguruan yang berpencar di luar arena pertandingan dan menyamar menjadi pedagang.


Terlihat Ki Bayu Maruto duduk di belakang Puspo Baskoro dan Ranti Lemini. Mereka membawa lima muridnya yang berbaur menjadi satu dengan penonton.


Tampaknya mereka ingin menekan pergerakan Ki Badra dengan pengawasan yang ketat.


Para prajurit berjaga di dalam maupun di luar area pertandingan, tak lupa bagian medis juga tengah bersiap di tepi arena.


Tampak Raja Perwita Agung duduk pada singgasana paling depan, diikuti dua putranya Tirta Banyu—ayah dari Tatar Pakujiwo. Dan putra keduanya—Kusumawijaya.


“Hadirin sekalian!” Seorang pria bertubuh besar kira-kira berusia empat puluhan tahun menenangkan seisi arena. Dialah Patih Sobo Lepen. “Segera kita mulai Pertandingan Besar!”


“Para peserta diharapkan mengambil nomor undian!” ucap Patih Sobo Lepen seraya menunjuk sebuah kotak berisi nomor undian di depan para juri. “Dan silakan duduk pada bangku yang sesuai dengan nomor undian kalian!”

__ADS_1


Semua peserta duduk di bangku yang sudah tertera nomor urut dari satu hingga enam belas.


Dari nomor satu, ada Putri Nastiti, cucu Raja Perwita Agung sekaligus putri dari Kusumawijaya.


Bangku nomor dua ada Sangga Buana, putra dari Patih Sobo Lepen.


Di tempat ketiga, Roko Wulung—cucu dari Patih Ragani, seorang patih lainnya lagi dari Indra Pura.


Berikutnya ada Giandra, lalu Wulan, Lintang, Ranti dan beberapa peserta hingga Lembah Manah mendapat nomor terakhir.


“Peraturannya mudah!” seru Patih Sobo Lepen. “Gunakan segala kemampuan kalian. Keluar dari arena dianggap kalah. Jika salah satu dari kalian tak bisa melanjutkan pertarungan, aku berhak menghentikan pertarungan, tak boleh saling membunuh!”


“Aku akan memanggil nomor kalian!” lanjut Patih Sobo Lepen seraya mengangkat kedua tangannya ke kanan dan ke kiri setinggi dadanya. Lalu muncullah perisai tembus pandang di tepi arena, untuk antisipasi serangan yang mengarah ke penonton.


“Dimulai dari nomor enam belas, melawan nomor sembilan!” teriak Patih Sobo Lepen.


Menyadari jika dirinya nomor enam belas, Lembah Manah beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah pelan pemuda itu memperhatikan keriuhan seisi arena.


Dari sudut lain, seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan nomor sembilan, memasuki arena dengan meringankan tubuhnya. Pemuda itu membawa pedang yang diselipkan pada pinggangnya, memakai pakaian serba putih bergambar kepala gajah pada punggungnya.


“Aku Narendra dari Perguruan Rumput Gajah!” ucap pemuda itu.


Lembah Manah juga memperkenalkan diri dan menyebutkan asal perguruannya. Narendra memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir, jika menyerap Batu Alam Mulia tentu pemuda itu memasuki tingkat Bantolo.


“Mulai!” teriak Patih Sobo Lepen.


Tanpa memasang kuda-kuda, Lembah Manah melesat dengan memaksimalkan energi alam pada kedua telapak kakinya ke arah Narendra yang masih berdiri tegak.


Dengan satu pukulan telapak tangan terbuka, Lembah Manah daratkan pada bahu kiri Narendra tanpa menggunakan tenaga dalam. Narendra terlempar jauh ke belakang hingga keluar arena.

__ADS_1


“Pemenangnya Lembah Manah dari Perguruan Jiwa Suci!” teriak Patih Sobo Lepen.


“Apa!” seru salah satu penonton membelalakkan matanya. “Cepat sekali pemuda itu!”


“Bagaimana mungkin!” sahut penonton yang lain.


“Bagus Lembah! Penampilan pertama langsung berhasil!” ucap Wanapati.


Lembah Manah kembali ke tempat duduknya dengan tersenyum ke arah penonton. Sementara Narendra mendapat perawatan dari petugas medis yang telah bersiaga di tepi arena.


“Siapa bocah ini!” seru salah satu pimpinan perguruan yang belum pernah mendengar nama Lembah Manah.


Biasanya Perguruan Jiwa Suci tak pernah mengirimkan muridnya dalam Pertandingan Besar karena selalu kalah pada pertandingan pendekar muda di kerajaan. Namun kali ini, Lembah Manah memutus anggapan itu dan membuat penonton terkejut dengan penampilannya.


Dalam pertarungannya terdahulu, Lembah Manah telah beberapa kali menyerap energi alam, tetapi pemuda itu hanya masih bisa menyerap energi angin. Padahal, Batu Pancawarna mampu menghasilkan empat energi lainnya, yaitu api, air, tanah, lalu petir.


Kelima energi alam itu kemungkinan masih bisa bervariasi, tinggal Lembah Manah saja yang akan menyerap energi apa di sekitarnya.


Pertarungan selanjutnya tidak begitu menegangkan, peserta nomor lima belas melawan nomor sepuluh yang ternyata adalah Pangeran Tatar Pakujiwo, tetapi kalah telak. Sepertinya pangeran itu boleh juga.


“Nomor satu, melawan nomor lima!” seru Patih Sobo Lepen.


“Giliran Anda, tuan putri!” lirih Patih Ragas di belakang Wulan.


Nastiti nomor satu, gadis itu naik ke arena dengan meringankan tubuhnya, di sudut lain Wulan yang nomor lima tampak hanya berjalan kaki memasuki arena pertarungan.


Sepertinya pertarungan kali ini mempertemukan dua keturunan raja. Nastiti, putri dari Kusumawijaya yang merupakan putra kedua Raja Perwita Agung dan Wulan yang merupakan putri dari Raja Brahma.


“Mulai!” teriak Patih Sobo Lepen.

__ADS_1


Mereka berdua hanya saling pandang dari jarak sepuluh langkah. Niat hati ingin meraba kekuatan lawan, tetapi keduanya saling terpaku dan belum melakukan satu gerakan apapun.


__ADS_2