KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (11)


__ADS_3

“Kakek empu, aku membawa beberapa amunisi sesuai apa yang kakek empu perintahkan!” ucap seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun menaiki kereta kuda memberi amunisi buatannya kepada Empu Tulak.


Tunggu, siapa bocah ini? Mengapa sangat dekat dengan Empu Tulak? Dia adalah asisten dari Empu Tulak. Bocah yang memberitahu Lembah Manah dan Wulan, perihal keberangkatan Empu Tulak dan para pendekar dari Kadipaten Lembah Bunga menuju ibukota kerajaan.


“Semuanya, menghindar!” teriak Empu Tulak, diikuti lima meriam peledak meluncurkan amunisi yang melesat cepat ke arah istana.


BOOM BOOM BOOM


Ledakan demi ledakan menghujani istana kerajaan, membuat Ki Badra dan para bawahannya menjauh dari bangunan itu. Mereka menuju sisi kiri istana yang terlindung dari tembok tinggi menyerupai benteng pertahanan.


Asap debu mengepul tinggi, membuat jarak pandang menjadi terbatas. Kembali Empu Tulak meminta para pendekar aliran putih untuk menarik diri dari medan perang.


“Sekarang, ini bagianku!” seru Lembah Manah yang memiliki pandangan lebih tajam dari pendekar biasa.


Lembah Manah melesat cepat ke arah kepulan asap debu yang masih menyelimuti medan perang. Dengan mudah, pemuda itu mendaratkan pukulan pada prajurit bawahan Tirta Banyu. Tidak tanggung-tanggung, setiap Lembah Manah melewati prajurit lawan, selalu ada tangan atau kaki yang patah tulang.


“Aahhkk!” Mereka mulai saling menikam, dikira lawan, ternyata kawan.


Teriakan demi teriakan menggema di dalam debu tebal. Itu adalah perbuatan Lembah Manah yang menyerang organ vital lawan-lawannya.


Tak hanya dari aliran hitam, para pendekar dari aliran putih yang belum sempat menarik diri, juga kehilangan pandangan di dalam medan perang. Solusi terbaik adalah, berlari sebisa mungkin dan berkumpul bersama Empu Tulak di barisan belakang.


Dari sekian banyak pendekar yang berada di medan perang, mungkin hanya Lembah Manah yang paling banyak menghabisi para prajurit bawahan Tirta Banyu. Pemuda itu layaknya mimpi buruk bagi para pendekar aliran hitam.


Dengan teriakan kesakitan, Lembah Manah menurunkan mental lawan, lalu kembali menyerang ketika lawan ciut nyalinya.


“Jangan, tolong ampuni aku!” Berteriak salah seorang pendekar aliran hitam ketika merasakan pergelangan tangannya yang patah.


Setelah melumpuhkan satu lawannya, Lembah Manah kembali melesat dan menyerang pendekar aliran hitam lainnya. Menghindari serangan tiba-tiba di dalam kepulan debu, itu sangat sulit dilakukan. Dan itu adalah poin kemenangan Lembah Manah.

__ADS_1


“Bagus bocah!” seru Empu Tulak di barisan paling belakang mendengar teriakan kesakitan dari para pendekar aliran hitam. “Habisi mereka semua, Lembah!"


“Wesaran!” Tiba-tiba bulatan tenaga dalam berwarna putih menghempaskan lima prajurit bawahan Tirta Banyu. “Hoi Lembah, ajak aku bersenang-senang!”


“Nata!” sahut Lembah Manah seraya menyerang lawan di depannya. “Emm, terima kasih!”


Benar, jangan lupakan Nata dengan mata istimewanya. Meski medan perang berselimut debu tebal, tetapi Nata masih bisa melihat dengan jelas menggunakan Mata Byakta miliknya.


Dengan melancarkan Tinju Delapan Mata Angin, Nata menghancurkan seluruh titik meridian lawannya, hingga mungkin mereka tak mampu lagi membangkitkan tenaga dalamnya.


Untuk saat ini, tujuan mereka berdua hanya satu, yaitu melumpuhkan musuh sebanyak mungkin, selama debu masih menyelimuti medan perang.


Dari jauh, yang terlihat hanya kelebatan cahaya hitam dan putih berpindah-pindah tempat di dalam kepulan debu itu.


Mungkin sudah ada seratus lebih prajurit bawahan Tirta Banyu yang menjadi korban Lembah Manah dan Nata di dalam debu tebal itu. Dan semua yang mereka berdua lumpuhkan, tidak ada yang tewas. Hanya memberi luka dalam, ataupun mematahkan tulang pada anggota tubuhnya.


WUSH


Namun, meski tidak terbunuh, tetapi mereka mendapat luka serius yang mungkin saja akan sembuh dalam waktu yang lama. Atau bahkan mendapat luka permanen dan tidak bisa disembuhkan. Terlepas dari itu semua, ini adalah perang, antara pendekar aliran hitam dan aliran putih.


Di sisi lain, para prajurit bawahan Tirta Banyu juga sadar akan keadaannya. Jika mereka ingin terus hidup, sebaiknya menarik diri dan keluar dari kepulan debu itu. Atau melarikan diri dari perang ini.


Perlahan, para prajurit bawahan Tirta Banyu mulai melepaskan senjata mereka. Para prajurit itu lebih memilih melarikan diri dan menjauh dari kepulan debu yang seakan tak mau menghilang. Nata hendak mengejar prajurit yang kabur itu, tetapi niatnya dihalangi oleh Lembah Manah.


“Biarkan mereka hidup!” ucap Lembah Manah memperingatkan Nata. “Mungkin saja mereka juga punya keluarga yang menunggu di rumah. Dan mereka hanya takut dengan pimpinan mereka!”


Jika ingin, tentu mudah saja bagi Lembah Manah untuk melumpuhkan para prajurit yang meninggalkan medan perang. Namun, pemuda itu memiliki alasan tersendiri untuk tidak mengejarnya.


Jika membunuh mereka yang telah menyerah, itu juga tidak berbeda jauh dengan mereka para pendekar aliran hitam.

__ADS_1


“Larilah! Tinggalkan senjata kalian dan jangan menoleh ke belakang!” teriak Lembah Manah dengan napas terengah-engah.


Itu bukanlah sebuah ancaman, melainkan suatu perintah dari Lembah Manah yang membiarkan para prajurit bawahan Tirta Banyu melarikan diri dari medan perang. Agar mereka juga tak menjadi korban pimpinan mereka sendiri yang mungkin saja tidak akan mengampuni mereka yang melarikan diri.


Sebagian dari mereka lebih memilih menjadi pecundang, daripada harus terbunuh oleh pimpinan mereka sendiri.


“Kalian! Jangan jadi pecundang, kembali! Bunuh Kusumawijaya!” teriak Tirta Banyu dari atas benteng pertahanan istana.


Beberapa saat berlalu, angin berembus pelan menghapus kepulan asap debu di medan perang. Terlihat wajah-wajah para prajurit bawahan Tirta Banyu meringis kesakitan, tetapi mereka masih hidup.


Berbeda dari kebanyakan pertarungan yang telah dialami Ki Badra ataupun Tirta Banyu. Di mana setiap pertarungan, akan terjadi pertumpahan darah, ataupun kematian. Namun, ini berbeda, sebagian prajurit mereka menderita luka patah tulang dan sebagian lagi kehilangan ilmu kanuragannya.


Dan sepertinya baru kali ini Ki Badra menyaksikan itu semua, hingga membuat semua anggota Lowo Abang berkumpul menjadi satu.


Ki Badra menatap dua pemuda yang berdiri di tengah-tengah bawahannya yang telah dilumpuhkan. Namun, pria tua itu lebih memandangi seluruh tubuh Lembah Manah dari atas ke bawah.


“Anak ini, berbeda dari yang lain!” lirih Ki Badra lalu menoleh ke belakang dan kembali berkata, “serang anak itu!”


Kanigara, Yugala dan Ki Badra melesat ke arah Lembah Manah dan Nata dengan mendaratkan beberapa jurus tingkat tinggi yang mereka miliki. Diikuti para pendekar bawahan mereka yang tersisa, hendak melakukan serangan penghabisan.


Namun, tentu saja para pendekar aliran putih tidak akan membiarkan musuh leluasa bergerak.


“Apakah kita hanya akan diam sa—!”


“Serang!”


Empu Tulak hendak berkata, tetapi para pendekar aliran putih memotong ucapannya dan melesat memasuki medan perang, tempat di mana Lembah Manah dan Nata menghadapi kawanan Ki Badra.


Terlihat Tatar Pakujiwo—putra dari Tirta Banyu melesat menghabisi para prajurit Sokapura yang berpihak kepada Raja Brahma. Tentu saja pemuda itu membela ayahnya sendiri untuk mendapat kekuasaan di wilayah Kerajaan Indra Pura.

__ADS_1


Di belakang pemuda itu, ternyata ada Panji Gobang, salah satu peserta Pertandingan Besar yang berpihak kepada Tirta Banyu, dengan iming-iming kekuasaan di tempat asalnya. Rupanya para pendekar muda juga telah terpecah menjadi dua.


__ADS_2